
Menatap wajah ceria Vina, membuatku hanyut dalam lamunan, andai saja.. Vina bisa membuka sedikit hatinya membiarkan Aku masuk kedalamnya, mungkin Aku akan lebih bahagia dari saat ini,, sampai kapan Aku harus bersabar menahan segala rasa,, sedangkan Aku tau Vina teramat mencintai Dirgantara yang Dia sendiri tak tau perasaan Dirga terhadapnya, hanya karena merasa jika Dirgantara adalah cinta pertamanya, lalu bagaimana dengan hatiku? haruskah Aku memberitahu bahwa Dia adalah cinta pertamaku.
Selepas dari warung bakso, Aku mengantarnya pulang, sepanjang perjalanan pulang, kami hanya saling diam.
Tiba dirumah Vina,, tak ada yang berubah dari rumah ini sejak Aku berpamitan hari itu.
Kedatangan kami disambut Tante Yuni,
Vina berjalan lebih dulu, sementara Aku masih berada diatas motor, Tante Yuni menatapku bingung, sementara Vina senyum-senyum menatap kearahku.
"Siapa ya?? ehmmm..."
Tante Yuni terus menatapku, yang kini melepas helm dan berjalan mendekatinya.
"Owalahhh.... Ini Agung, Ya Allah... makin tinggi, gagah ya... "
Tante Yuni masih mengenaliku meski sempat lama berpikir, Aku segera menyalami Tante Yuni.
"Sehat Tante??"
"Alhamdulillah Gung, sehat... Masuk yuk duduk..."
"Makasih Tante..."
"Kapan datang? gimana Kabar Mama kamu? Ya allah jadi rindu sama Ruri...,"
Terlihat rasa rindu yang tulus tergurat di raut wajah Tante Yuni ketika mengingat Mama.
"Semalam Tante... kabar Mama sehat.. "
"Syukurlah... nginep sini ya Gung,"
tawar Tante Yuni padaku.
"Ehm... Maaf tante, Nanti aja Tante, lain kali kalau pulang kesini sama Mama aja, Agung gak enak..hehee"
Tolakku halus,
"Loh kenapa? Anggap aja rumah sendiri Gung, emangnya kamu tinggal dimana?"
Tanya Tante Yuni cepat.
"Agung kost di dekat bandara Tante"
"Ohh... Ya udah, Buruan ganti baju Vin, abis itu ajak Agung Makan siang"
Vina mengangguk dan beranjak meninggalkan Aku Dan Tante Yuni yang masih mengobrol diruang tamu.
Tak lama kemudian, Tante Yuni juga meninggalkanku.
Kini tinggal Aku sendiri, menunggu Vina yang tak kunjung keluar, entah mengapa lama sekali Vina berganti pakaian.
Membuang jenuh, Aku memainkan ponsel.
Setelah menunggu cukup lama, Vina Akhirnya keluar kembali ke keruang tamu menemuiku.
"Ayooo... lagi balas-balasan pesan sama yayangnya ya.....?
Ledek Vina begitu sampai di depanku.
"Ngapain balasan pesan, kalau mau ngomong ya ngomong aja, orangnya ada disini kok"
Celetukku membuat Vina kaget.
"Ada disini?? maksudnya???"
Tanyanya bingung.
"Iya... kan yayang nya kamu hehehhe"
selorohku sembari tertawa.
"Ihh.. garing Ah"
Vina cemberut.
"Vinn..... Makan sini.. udah Mama siapin!!"
Seru Tante Yuni dari arah dapur.
__ADS_1
"Oh... iya Maaaa......"
Jawab Vina, lalu memberi kode padaku untuk mengikutinya menuju dapur.
Dimeja makan,
Semangkuk besar sup ayam, tempe goreng tepung dan sambal tempe kacang tersedia.
Aku dan Vina, makan berdua di satu meja makan dirumah Vina, hal itu membuatku terbawa kembali kedalam dunia angan-anganku,
Seandainya Vina berjodoh denganku, alangkah bahagianya Aku, suasana seperti ini tentunya setiap hari akan Aku rasakan, duduk dan makan berdua dengannya seperti ini.
Aku menatap wajah anggun itu, seandainya Dia bisa merasakan getar ini,, betapa perasaan ini tak pernah berubah sejak pertama kali melihatnya dulu.
Tapi kenyataannya, dihati dan dipikirannya hanya ada Dirga.. Dirga dan Dirga,, mana sempat Dia memikirkan Aku apalagi sampai bisa merasakan getaran hatiku.
Hemm..
Aku menunduk lemas setiap kali mengingat Dirgantara.
Selepas makan, Aku dan Vina memilih duduk dan mengobrol di teras rumah dengan duduk lesehan dilantai.
Masing-masing kami sibuk memainkan ponsel.
"Eh.. Vin, gimana kabar teman SMP kamu yang dulu suka cemburu liat Aku ngintilin kamu, apa masih kontak?"
Kucoba memancing pertanyaan tentang Dirgantara, yang memang sudah agak lama tak kudengar perkembangan ceritanya tepatnya sejak Aku memutuskan untuk tidak menghubungi Vina beberapa bulan yang lalu.
Mendengar itu, Vina menatapku lalu memalingkan wajahnya.
"Siapa??"
Jawabnya.
"Pura-pura gak ingat atau emang udah dilupain....???!"
Sindirku membuat wajah Vina merona.
"Dirga??"
Jawabnya
"Nah... tuh masih inget,, Dir... gan... ta....ra...."
Sengaja Aku menggoda Vina dengan mengeja pelan nama Dirga.
"Gak kontak lagi,, tapi tadi disekolah, ternyata sahabat Aku tetanggaan sama Dirga, ya udah Aku kirim surat deh..."
Deg!!
jantungku terasa berhenti berdetak, hatiku terasa tertusuk perih sekali mendengar penuturan Vina barusan.
Itu artinya, komunikasi akan kembali tersambung antara Vina dan Dirga, dan itu artinya lagi semakin tak ada kesempatan Aku untuk mendapatkan hati Vina meski hanya secuil saja.
"Hah??? Apa??? Surat?? jaman dulu banget sih, emangnya teman kamu gak punya nomor telponnya, atau paling gak, ya... Akun medsosnya lah... masak iya Sidia gaptek, gak mungkinkan??!"
Aku mencoba menenangkan hatiku yang perlahan retak tak beraturan.
Mencoba tetap menjadi Agung sahabat terbaik Vina.
"Ya... emang gak punya, mau gimana lagi donk..."
Jawab Vina santai.
"Coba Aku cari"
Aku membuka sosial media, dan fokus pada layar ponsel mencari Akun Dirga.
"Coba... coba,, siapa nama lengkapnya?"
Tanyaku lagi dengan mata tak beralih dari layar ponsel.
Vina mendekat, membuat Aku berdebar.
"Dirgantara Abinata"
Jawabnya.
Ternyata benar, tak kutemukan Akun dengan nama tersebut.
__ADS_1
"Benerkan gak ada?"
Vina bertanya sembari menyenggol bahuku.
"Rasa-rasanya tak mungkin anak jaman sekarang gak main media sosial,"
Ujarku sembari menatap Vina.
"Iya sih..."
Vina mengangguk-angguk.
"Menurutku sih,, mungkin Dia pakai media sosial, Dia punya Akun tapi mungkin saja pakai nama lain, "
Aku menyampaikan pendapatku.
"Nama lain??"
Tanya Vina dan Aku mengangguk.
Setelah agak lama terdiam,
"Oh ya,, kamu sendiri gimana?"
Tanya Vina memiringkan kepalanya menatapku membuat Hatiku panas dingin menatap wajah manis itu, pikiranku melayang jauh, tak berani menatapnya lama-lama Aku segera memalingkan wajahku, dan sesekali hanya melirik nya saja.
"Gimana apanya,?? ya begini-begini aja"
Jawabku singkat, Aku masih deg-degan.
"Ih... ya gak gitu, maksud Aku tu, pacar!! mana fotonya mau lihat donk..."
Vina menadahkan tangan padaku dengan manja
"Ohhh.... Pacarrr, bilang yang jelas donk...tunggu!"
Aku membuka galeri ponselku lalu menyodorkannya pada Vina.
Vina merampas ponselku dengan cepat, tak lama ia mengembalikannya lagi padaku.
"Aahhh... curang!! Serius donkkk,!!"
dengan cemberut, Vina menepak bahuku kemudian tertawa begitupun Aku.
"Hahhah... yaa... gak percaya? gimana cantikkan??"
Aku memandang foto Vina dilayar ponselku.
"Lagian darimana dapetnya, nyolong dimana, dimedsosku ya... gak ijin lagi!!!"
Vina cemberut.
"Ngapain ijin, salah sendiri ngapain di pajang gak ada larangan buat orang ngesave!"
Kilahku.
Vina mendengus dan meyilangkan tangan didada.
waktu terasa begitu cepat berlalu,,
"Ehm.. Vin, besok kita nongkrong yuk.. tawarku sebelum meninggalkan rumahnya.
Vina mengangguk dan mengacungkan jempol tanda setuju.
Setelah berpamitan pada Tante Yuni Aku pulang ke kost-kostan dengan sepeda motor sewaanku.
Malam hari di kamar kost,
Mataku enggan terpejam, bayangan wajah Vina terus saja menggodaku, senyumnya tak bisa pergi dari otakku, bahkan suara lembutnya, tawa renyahnya semakin terngiang-ngiang ditelingaku.
Adakah Vina merasakan seperti yang kurasakan ini,, meski sekali saja dalam pikirannya,, pernahkah Aku terlintas dihatinya?
sesakit inikah bersabar dalam cinta?
Terus memandang wajahnya di ponselku lalu memutuskan untuk mengiriminya pesan-pesan manis,, namun sayang.. tak ada satupun yang ia balas.
Oh... Vina.... jangan bunuh Aku dengan cintamu!!
Ucapku lirih kemudian terpejam berharap bermimpi berjumpa dengannya.
__ADS_1
Bersambung***