Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 169 Dirga ngambek!!


__ADS_3

"Vin, jika suatu saat kita ditakdirkan kembali berpisah,, kamu lebih memilih berpisah karena apa?"


Pertanyaan Dirga membuatku menolehnya cepat.


"Pertanyaan model apa sih? kok gitu?"


"Yaa.. cuma iseng aja,, cuma ya.. harus dijawab.."


"Aku gak mau!! pokoknya kita gak boleh pisah lagi,, dan Aku gak mau itu terjadi!!"


Dirga merangkul bahuku.


"Sama,, Aku juga seperti itu... Aku sungguh tak ingin lagi berpisah dari kamu Vin,, Aku ingin bersama kamu selamanya.. sampai nanti kita sama-sama menyaksikan anak-anak kita tumbuh dewasa dan kita menua bersama"


Aku mendongakkan kepala menatap wajah sendu Dirga yang pandangannya terlempar jauh entah apa yang tengah ia perhatikan.


Menyadari Aku sedang menatapnya, Dirga mengalihkan pandangannya menatapku lalu mengecup keningku.


"Aku menyayangi kamu Vin, tapi jika suatu saat perpisahan itu terjadi Aku berharap, hanya maut yang menjadi takdir perpisahan antara kita"


Mata Dirga berkaca-kaca.


"Dir... udah ya,, jangan ngomong gitu... Aku takut,, semua tak akan terjadi... kita akan bersama hingga tua ya..."


Aku memegang pipi Dirga dan mengelusnya.


Dirga tersenyum dan mengangguk.


Tak lama saling diam untuk meresapi romansa cinta yang tengah terajut,


"Eh.. Vin,, rencana kalo kita dah nikah,, kamu mau punya anak berapa?"


Dirga kembali ceria dan mengajakku bercanda.


"Aku mau.... yang buaaanyaaakkkkkk..hahhhh"


"Jangan donk.... "


sela Dirga.


"Loh... kenapa??"


Tanyaku bingung.


"Aku gak mau kamu terlalu capek, dan gak punya waktu untuk diri kamu sendiri..."


"Terus,, kalau kamu maunya berapa?"


"Aku pengen anak kembar aja,, cewek sama cowok"


Jawab Dirga sembari mengelus kepalaku lembut.


"Kenapa?"


Tanyaku lagi.


"Biar kamunya gak perlu berkali-kali merasakan sakitnya melahirkan, cukup satu kali aja... tapi kita udah bisa dapat sepasang.. hehehe... Tapi semuanya biar Tuhan yang mengatur,, kitakan cuma merancang,, tapi Tuhanlah yang menentukan."


Aku tercengang mendengar alasan yang dituturkan Dirga.


Aku memeluk erat tubuh Dirga,,


Merasakan cinta yang tulus dan begitu besar darinya untukku,, sampai-sampai ia tak tega melihat Aku merasakan sakitnya melahirkan hingga berkali-kali..


Ahh... Dirga ada-ada saja,,


Aku menggeleng sendiri.


Ngomong-ngomong soal melahirkan anak kembar, Aku jadi kembali mengingat Agung, bukankah dulu Dia begitu berambisi memiliki anak kembar dariku,


Hemmm... bagaimana kabarnya sekarang,,? apa Dia benar-benar sudah move on dan mendapatkan penggantiku?


"Hayooo.... melamun,, mikirin apa??!!"


Dirga mengagetkanku.


"Agung!!"


Dengan refleks Aku menjawab Dirga dengan menyebut nama itu, seketika wajah Dirga berubah, ia menurunkan tangannya dari bahuku, lalu memalingkan wajahnya dari hadapanku.


"Ehm... Dir, maaf... maaf Aku gak maksud... "


Ucapku gugup dan benar-benar takut Dirga salah paham.


Dirga menolehku, kemudian tersenyum getir.


"Kamu sedang memikirkannya, disaat kita sedang membicarakan tentang harapan masa depan kita?"


Tanya Dirga membuatku merasa tak enak hati.


"Dir... Aku...."


"Apa sekarang kamu sedang mengingatnya? Kamu merindukan Dia? apa kalian dulu juga sempat membicarakan hal ini,, maka dari itu saat ini kamu sedang mengingatnya?"


Cecar Dirga, lalu kembali membuang mukanya.


"Iya... Aku memang sedang mengingatnya,, bukan hanya mengingatnya saja,, bahkan Aku tengah memikirkannya"


Jawabku jujur.


Dirga menghela nafas, lalu mengusap wajahnya kasar kemudian berdiri.


"Kita pulang!!"


ujarnya, melangkah meninggalkanku tanpa membantuku untuk berdiri terlebih dahulu, menggandeng bahkan tanpa menolehku terlebih dahulu.


Hufft... Dasar Dirga!!!


Aku mendengus kesal kemudian berdiri dan berlari mengejarnya yang semakin menjauh.


"Dirga...! Dir...!! Tunggu!!!"


Pekikku sembari terus berlari.

__ADS_1


"Dirga!!! Tungguin!! Awww!!!"


Langkah Dirga terhenti dan menoleh kearahku yang jatuh terjerembab.


Aku meringis, kurasakan perih di kaki yang tersandung batu, tak cuma kaki tapi telapak tanganku juga terasa pedih, sempat Aku memeriksa ternyata benar.. kaki dan telapak tanganku berdarah.


Dirga mendekat, dan kini berjongkok dihadapanku.


Masih dengan wajah datar,


"Ngapain pake lari sih?!"


Ujarnya ketus.


Aku mengerucutkan bibirku menatap wajah Dirga sedikit kesal.


"Kamu nanya gitu?! Aku lari ya karena ngejar kamu!! Gimana sih!!"


"Gak perlu ngejar!! "


Ketusnya lagi,


Mendengar itu, Aku segera bangkit melupakan perih di kaki dan tanganku, lalu berjalan cepat meninggalkan Dirga.


"Vina mau kemana?!"


Pekiknya.


"Pulang!!!"


Jawabku tanpa menoleh.


"Vina!! Kamu luka!!"


Serunya lagi,


"Gak peduli!!!"


Sahutku tanpa berhenti.


"Kamu ngambek?!"


Tanyanya sembari mengejarku,


Aku menoleh sesaat kemudian kembali berjalan ke tepi jalan menunggu, berharap ada taxi yang lewat.


"Kamu lucu!! Harusnya Aku yang marah,, malah kamu yang ngambek kayak anak kecil!!"


ucapan Dirga semakin membuatku jengkel.


Aku berjalan mendekati Dirga, menatap wajahnya yang benar-benar membuatku kesal.


"Kamu bilang Aku kayak anak kecil!! Kamu yang kayak anak kecil,, kamu yang duluan ngambek!! marah gak jelas!! lari ninggalin Aku!!"


Aku menunjuk muka Dirga.


"Siapa yang lari? Aku gak lari kok.. Aku cuma pingin cepat-cepat pulang!!"


"Ohh... ya udah!! silahkan!! pulang sana!!"


"Ya!!!"


Aku melipat tangan di dada, membelakangi Dirga.


"Oke!!! Aku pulang!!"


Dirga melangkah meninggalkanku sendiri.


Aku menoleh sesaat.


"Astaga!! Dirga benar-benar meninggalkanku?"


Ujarku dalam hati.


Aku tak menyangka Dirga setega ini, bukannya membujukku tapi malah Dia berjalan dengan cepat menuju mobilnya.


Aku menghentakkan kaki kesal.


"Dasar!!! dari dulu gak pernah berubah!! uuhh.. kesallllll!!!!"


Gerutuku dalam hati.


"Ehmm... Dia pikir,, Aku gak bisa pulang sendiri? umur aja yang Tua,, tapi sikap sama sifat masih kayak bocah SMP!!"


umpatku geram.


Aku mengeluarkan ponsel berniat memesan Taxi online,, namun niat tersebut kuurungkan ketika dari kejauhan Aku melihat beberapa ojek sedang menuju kearahku.


Kuputuskan untuk naik ojek saja, selain lebih cepat sampai, Aku juga tak perlu menunggu lebih lama disini.


Segera kuhentikan ojek tersebut dan memintanya mengantarku untuk pulang kerumah.


Namun baru saja Aku duduk dan memasang helm, tiba-tiba..


"Vina!! Tunggu!!"


Dirga berlari kearahku,


"Jalan Pak!"


Ujarku pada Bapak ojek tersebut.


"Baik Mbak..."


Jawabnya.


"Stop!! berhenti Pak!! Vina turun!!"


Dirga menghadang di depan motor dan meminta Aku segera turun.


"Apa lagi sih Dir?! minggir,, Aku mau pulang!!"


Hardikku.

__ADS_1


"Pulang sama Aku!! Ayo turun!!"


Dirga mencekal lenganku dan memaksaku turun,


kali ini tak ada pilihan lain kecuali mengikuti kemauan Dirga.


Aku terpaksa turun.


"Jadi gimana ini Mbak? jadi gak?!"


Seru Bapak Ojek.


"Maaf Pak,, gak jadi.. Nih buat bapak.. sekali lagi maaf ya"


Dirga memberikan selembar Uang kepada ojek tersebut lalu menarikku kearah mobilnya.


Dengan wajah masam, Aku mengikuti langkah itu dengan terpaksa.


"Aku minta Maaf!!"


Ujarnya singkat.


Aku tak menjawab,


"Vina,, Aku bilang Aku minta maaf!!"


Ulangnya lagi, kali ini dengan membalik badan menatapku.


"Untuk apa? bukannya tadi kamu bilang kamu gak salah?!"


Jawabku tanpa menatap matanya.


"Kapan Aku bilang kalau Aku gak salah,, bagian mana? Aku gak pernah bilang Aku gak salah kok!!"


Kilahnya.


"Kamu nyebelin!! tadi kamu sendiri yang bilang harusnya Kamu yang marah bukan Aku,, itu sama aja artinya kamu mau bilang kalau kamu gak salah!!"


jawabku sedikit berteriak.


"Ssttt... gak usah teriak-teriak!! masuk!!"


Dirga membuka pintu mobil dan menyuruhku masuk.


Aku menghembuskan nafas kasar, lalu menghempaskan diri diatas jok mobil.


Dirga masuk kedalam mobil kemudian mengambil box p3k.


"Kamu luka,, sini Aku obatin dulu"


Dirga meraih tanganku.


"Gak perlu!!"


Aku menarik tanganku cepat.


"Vina gak usah keras kepala kenapa sih?"


Dirga kembali meraih tanganku, menyapukan alkohol di telapak tanganku yang luka kemudian menempelkan plester.


"Coba lihat kakinya?"


Karena Merasa kesulitan untuk memeriksa kakiku, Dirga kembali turun dari mobil Dan membuka pintu mobil di sebelahku.


Hal yang sama pun Ia lakukan, mulai dari menyapukan alkohol dan menempelkan plester pada luka di kakiku.


Sementara Aku masih tetap diam dengan perasaan kesal.


"Kamu kenapa sih?! masih marah?! masih kesal?!"


Tanya Dirga ketika sudah kembali berada di dalam mobil.


"Mikir aja sendiri!!"


ketusku.


"Vina,, kamu maunya apa sih? Aku sudah minta maaf.. meskipun Aku gak tau bagian mana dari Aku yang salah!"


Dirga melengos.


Aku menatap Dirga,, rasanya ingin sekali Aku mencubit pipinya geram.


Kamu bilang kamu gak tau bagian mana kesalahan kamu??!"


"Ya!! bilang dimana letak kesalahanku sampai-sampai bikin kamu ngambek kayak gini!!"


"Kamu yang tiba-tiba ngambek gak jelas,, marah dan ninggalin Aku gitu aja,, terus kamu bilang itu gak salah!!"


bentakku.


Dirga terdiam.


"Lagian,, kamu yang mulai!!"


Jawabnya santai.


"Aku?"


Aku menunjuk diriku sendiri.


"Ya!! Kamu yang merusak momen!! kamu menghadirkan Agung disaat kita lagi ngomongin masa depan! kamu pikir Aku gak punya perasaan?"


Glek!!


Aku menelan ludah, tiba-tiba menyadari kekhilafanku.


"Jadi cuma gara-gara itu,, terus kamu lari ninggalin Aku tanpa memberi Aku kesempatan untuk menjelaskan? kenapa?! kenapa kamu seegois itu?"


"Kamu bilang CUMA?? dan Kamu nanya,, kenapa?? KARENA AKU CEMBURU VINA!! AKU CEMBURU!! harusnya kamu tau itu!!"


Pekik Dirga mencengkram setir.


wajahnya merah padam.

__ADS_1


Aku terperangah melihat ekspresi wajah Dirga,, ini untuk pertama kali Aku mendengar pengakuan cemburu secara langsung dari mulutnya begitu lantang terucap tanpa malu dan gengsi untuk mengakui seperti biasanya.


Bersambung***


__ADS_2