
Aku belum mengabari Vina tentang kepulanganku ke Kota ini, Aku berniat memberinya kejutan, setelah hampir tiga bulan tak pernah menghubunginya, bukan tanpa alasan, Aku sengaja tidak menghubunginya dengan harapan Vina akan sedikit merasa kehilangan dan perlahan rindu itu hadir dihatinya,, tapi itu hanyalah harapanku, kenyataannya seperti apa Aku tak pernah tau.
Sudah terlalu malam untuk menghubungi Vina, Aku takut mengganggu waktu istirahatnya, kuletakkan kembali ponselku mengurungkan niat untuk menelponnya.
Seperti apa Dia sekarang, Aku sering melihat wajahnya melalui media sosial miliknya bahkan ada beberapa foto yang sengaja kuambil dan kusimpan di dalam galeri ponselku, namun tentunya bertemu langsung akan lebih menyenangkan daripada sekedar memandang ponselnya, dan besok Aku kembali akan melihat senyum dan mendengar langsung suara lembutnya.
Aku memejamkan mata, tak sabar menunggu esok pagi.
......................
Pagi datang, Langit masih remang ketika Aku membuka pintu kamar, untuk menghirup udara pagi perdana sejak kedatanganku semalam.
Kulirik jam masih pukul setengah enam.
Ini masih terlalu pagi untuk menelpon Vina, Aku duduk memperhatikan jarum jam yang kian berputar, tepat pukul 6 pagi, kuputuskan untuk menelpon Vina, dan Aku tak akan mengatakan jika Aku sudah ada disini,, biarlah nanti siang ini akan menjadi kejutan untuknya,, Aku akan menjemputnya disekolah,, dan Aku ingin tau bagaimana reaksinya yang tiba-tiba melihat Aku ada di depan sekolahnya.
Nada panggilan tersambung, dan tak lama terdengar teleponku terangkat.
"Halooo, orang sombong!!"
Sapanya renyah disambung dengan tawa kecil yang membuat hatiku bergetar.
"Yah... Payah!! Baru juga ngangkat telpon langsung di sambut kata-kata gak enak, salam dulu kek!"
jawabku menggerutu.
"Iya deh... Assalamualaikum orang sombong!!!"
Candanya lagi.
"Ehmm... kamu apa kabar??"
"Baik dan makin cantik pastinya!"
Ujarnya sombong, namun Aku menyukai kesombongan itu.
"Hah.. mulai... Eh, gak sekolah?"
Tanyaku.
"Sekolah donk... ini mau berangkat, kenapa jarang telpon?"
Pertanyaan yang sebenarnya Aku tunggu, dan membuat Aku merasa jika Vina mungkin merasakan rindu, tapi entahlah.
"Iya.. Maaf ya, Aku sibuk, kenapa? rindu ya??"
Pancingku.
"Iya lah... Aku tu selalu rindu kamu!!!"
Ya Tuhan... Vina mengatakan itu,, benarkah Dia sedang berkata jujur? atau ini hanya sekedar basa basinya saja,, tapi yang jelas,, Aku bahagia benar-benar bahagia mendengarnya.
"Minggu depan kita ketemu ya..."
Aku berbohong,
"Hah... serius??! kamu gak lagi bercandakan??"
Suara Vina terdengar begitu terkejut.
"Enggak lah, Aku serius.. kuliahku sedang libur.. Aku Akan liburan satu minggu di sana,, dan Aku ingin menghabiskannya denganmu"
"Oke... iya, tau deh yang sekarang udah mahasiswa.."
Vina meledekku.
Setelah obrolan singkat itu, Vina mematikan sambungan telepon, dikarenakan ia akan berangkat kesekolah.
Aku tak sabar menunggu Siang, kurasakan jarum jam begitu lambat berputar.
Sedang debar-debar rindu terus menggetarkan dadaku,, membuat Aku tak henti tersenyum, membayangkan tak akan lama lagi Aku akan bertemu Vina sembari menatap berulang kali fotonya di ponselku.
1 jam sebelum jam pulang sekolah, Aku sudah meluncur ke sekolah Vina, tepat di depan gerbang sekolah Aku menunggunya dengan hati berdebar, dan detak jantung yang tak beraturan.
Aku terus melirik jam tanganku, memastikan berapa lama lagi Aku masih harus menunggunya.
Bell Akhirnya berbunyi,
Aku menarik nafas dalam-dalam, kemudian menunduk menatap kaca spion motor memastikan penampilanku, mulai dari wajah hingga rambut yang harus terlihat sempurna didepan Vina, tak lupa Aku menyemprotkan kembali parfum yang sengaja kubawa didalam saku jaketku. Setelah merasa sempurna, Aku duduk tenang diatas sepeda motor menatap kearah gerbang sekolah,, tiba-tiba Aku mengingat sesuatu lalu segera meraba saku jaket yang sebelahnya,,
"Huffth... syukurlah tidak tertinggal,,"
Ujarku pelan,
sehari sebelum kesini, Aku sempat membelikan Vina gelang, hadiah pertama untuknya dari hasil keringatku.
Satu persatu siswa terlihat mulai keluar dari gerbang sekolah, Aku menatap tak berkedip, Aku takut jika Aku melewatkan Vina yang ternyata tak mengenaliku langsung, secara fisikku kini sudah sangat jauh berbeda dari sebelum Aku berangkat ke Samarinda, badan yang tumbuh menjulang serta sedikit berisi.
Dan... Ahh... Itu Dia...!!
Gadis manisku, berjalan anggun bersama teman disampingnya.
Tubuhnya juga sudah jauh berbeda dari saat terakhir ketemu, rambutnya hitam terurai panjang, tubuh yang ideal semakin cantik dengan balutan seragam SMA.
Jantungku semakin berdegup kencang, sebisanya Aku mencoba tenang, duduk santai menyilangkan kaki membuang ketegangan yang menyelimutiku.
Sungguh diluar dugaan, Vina ternyata segera mengenaliku dari jarak yang lumayan jauh, terlihat Dia tersenyum dan berlari menghampiriku.
__ADS_1
"Weiiii... Demi apa nich...?? Seorang Kakak Mahasiswa teronggok disini terdampar... Hahaha, ngapain mejeng di SMA? Tebar pesona sama cewek-cewek? cari gebetan ya?? hahaha..."
Tanpa canggung, Vina nyerocos didepan ku, hal itu membuat Aku tersenyum
"Terserah deh.. mau ngeledek gimana, yang penting... Kamu ikut, yuk buruan!!"
Jawabku yang masih deg-degan, lalu mencoba berani memegang lengannya dan menariknya lembut untuk segera naik keatas motor.
"Eiitttsss.... Tunggu dulu Bro... Nih.. kenalin dulu temanku"
Vina melepaskan genggaman tanganku lalu menunjuk temannya yang berdiri disampingnya.
Aku menatap seorang gadis disamping Vina yang terlihat sedikit didorong Vina untuk lebih dekat denganku..
Menatapnya, entah mengapa Hatiku seperti bergetar, beberapa detik mataku dan matanya bertemu, terasa ada yang berbeda, namun segera kualihkan pandanganku, tak ingin berlama-lama larut dalam perasaan aneh itu.
"Hai... Aku Agung..."
Kuulurkan tanganku sembari tersenyum.
"Ehm.. iya, Eng... Aku Tari. Ehm... Ya udah ya Vin, Aku duluan ya...."
Tari menyambut uluran tanganku dan menyebutkan dengan gugup namanya kemudian segera menarik tangannya dengan cepat, kemudian berlalu, dan entah mengapa Mataku seolah ada yang memandu untuk mengikuti arah kepergiannya dan tak berpaling sampai ia tiba diparkiran motor.
"Dia bawa motor sendiri ya??"
Tanyaku pada Vina,
"Iya,, kenapa tanya-tanya?"
jawab Vina dengan ekspresi penuh kecurigaan.
"Gak apa-apa, keren aja menurutku cewek kesekolah bawa motor sendiri, kesannya gak manja, gitu donk biar keren!!"
Jawabku yang memang beberapa saat tadi sempat mengagumi Tari.
"Ciee... cieee.. kesan pertama begitu menggoda ni mas bro??"
ledek Vina.
"Ih... apaan?? Bahasamu!!!"
Ya,, Aku akui kesan pertama yang kulihat dari sosok Tari sepertinya Dia perempuan mandiri, dan kuat.
Astaga!! ada apa denganku, sempat-sempatnya Aku menilai Tari yang baru saja kukenal beberapa menit yang lalu, bagaimana bisa Aku tau kepribadiannya.
Padahal selama ini, Aku tak pernah tertarik untuk tau tentang perempuan-perempuan disekitarku.
Tapi siang ini,, Ah.. sudahlah... itu tak penting!
batinku.
Vina kembali meledekku.
"Gak lah... Biasa aja, Bagi Mas Agung,, Vina tetap yang paling cantik.. hehe"
Aku kembali fokus pada Vina.
"Apa?? Mas Agung?? wkwkkw... sejak kapan jadi Mamas-Mamas??"
"Udah ah... jadi panjang, yuk naik!!"
Aku menyalakan motor, dan kami pun melaju.
Ditengah perjalanan, Aku sedikit menolehkan kepalaku dan berbicara sedikit keras pada Vina untuk mengajaknya makan Bakso.
"Vin... Makan bakso yuk?"
Pekikku.
"Ah... Apaaa???"
Sepertinya Vina tak mendengarku.
"Makan Baksooo!!"
Ulangku lebih keras.
"Apaann??? mobil fusoo??"
Jawabnya membuatku ingin tertawa.
"Baksoooo... Baksooo, Mobil fuso lagi!!"
"Apa sih... Apaaaa??"
Sepertinya Vina memang tidak bisa mendengar teriakanku, dan sepertinya Aku memang harus berhenti sejenak.
Ciittttt....!!!
Kuhentikan motor secara mendadak.
"Kok berhenti??"
Tanyanya sembari mengangkat kaca helm yang ia pakai.
"Abisnya kamu budek kalo jalan!"
__ADS_1
seruku.
JEGLEK!!
Vina menutup kasar kaca helm yang tengah kupakai membuatku terkaget-kaget.
"Hahha.. Maaf.. Maaf...jangan marah donk..."
Ujarku sembari tertawa begitu melihat wajah cemberut Vina dibalik kaca helmnya.
"Lagian kamu, Aku bukannya budek, tapi beneran gak kedengeran, kan pakai helm ditutup, terus suara kamu dibawa angin"
Vina menyilangkan tangan di dada dengan wajah cemberut.
"Iya.. iya, Aku kan dah minta maaf, tadi Aku bilang makan Bakso, mau??"
Senyum Vina terkembang, menandakan Dia tak jadi ngambek.
"Oke, kita lanjut ya...."
Aku kembali menyalakan motor dan melaju.
Tiba di sebuah warung Bakso pinggir jalan, motorpun berhenti.
Dengan penuh percaya diri, Aku memberanikan diri menggandeng tangan Vina masuk.
Setelah memesan dua mangkok bakso dan 2 gelas es jeruk,
"Ehm... Kamu kapan sampai sih?
bukannya ditelpon kamu bilang minggu depan?"
Tanya Vina membuka obrolan.
"Sebenarnya dari semalam Aku sudah disini, sengaja mau kasih surprise sama kamu, berhasil gak?"
Aku balik bertanya, dan mataku tak melepaskan pandanganku dari wajahnya.
"Ehm... ya seperti yang kamu lihat, Aku sedikit kaget,, ingat ya cuma sedikit!"
Jawab Vina.
"Ya .. gak papa deh,, sedikit juga Aku terima"
Kami berdua saling pandang dan tertawa.
"Oh ya... nih, Aku sempat beliin kamu ini,, semoga kamu suka"
Aku mengeluarkan hadiah yang sudah kusiapkan dan menyerahkannya ke tangan Vina.
"Apa nih...?? duh, repot-repot kasih hadiah"
Vina menerimanya.
"Buka aja"
Vina menatapku sebelum akhirnya membuka kotak kecil itu.
"Suka gak?"
Vina terdiam sembari memandang gelang pemberianku.
Kuraih gelang tersebut lalu memakaikannya di tangan kanannya.
"Gimana? Bagus? Suka kan?"
Tanyaku penasaran.
Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Vina mengangguk.
Hal itu membuatku sangat lega.
"Makasih ya, harusnya kamu gak perlu repot- repot beliin Aku hadiah"
Ujarnya.
"Aku gak repot kok, malah senang, dari semalam Aku gak bisa tidur mau cepat-cepat ketemu Kamu"
Vina kembali menatap ku,
"Ehm... Ngomong-ngomong... itu motor punya siapa? Terus, disini kamu tinggal dimana?"
"Aku tinggal di kost-kostan di dekat Bandara, sewa satu minggu, terus motor itu juga nyewa satu minggu, buat antar jemput kamu"
"Tante Ruri apa kabar?"
"Mama sehat, beliau juga sering loh nanyain kamu, sama Aku... kamu juga dapat salam dari Mama"
"Ehm... Salam balik ya..."
Aku mengangguk.
Kami mengobrol banyak, kuceritakan semua tentangku selama 4 tahun belakangan ini, hanya saja ada yang tak bisa kuceritakan, tentang hati yang selalu merindu, tentang hati yang resah oleh cinta, dan tentang hati yang patah oleh cemburu.
Biarlah semua kusimpan rapat-rapat, Vina tak perlu tau, Aku tak ingin Vina tak nyaman seperti dulu dan memilih menjauh.
Aku bahagia, meski mencintainya dalam diam, bukan Aku tak punya nyali untuk mengungkapkan, hanya saja Aku tau.. dihatinya hanya Ada Dirga, sementara dihatiku hanya ada Vina.
__ADS_1
Bersambung***