
"Vin, kenapa menangis??"
tanyaku sembari mendekat dan mengangkat dagu manis itu llu menyeka air mata yang mengalir malu-malu, namun Vina hanya menggeleng.
"Aku tau, ini salah Vin... ini mungkin terlambat.. tapi setidaknya Aku lega.. Aku lega bisa menyatakan ini pada kamu,"
Dalam hati yang paling dalam, ada rasa bersalah yang meronta,, namun kenapa sulit untuk Aku menguasai diri yang seharusnya bisa menahan hasrat kerinduanku pada istri orang.
Vina semakin terisak, melangkah menjauhiku, namun baru saja kaki bening itu menapak, tiba-tiba tubuhnya terhuyung, dengan cepat kutangkap tubuh indah itu, sungguh Aku tak rela jika sampai ia jatuh tersungkur mengenai lantai kasar tersebut.
"Kamu tak apa-apa?" kugenggam erat tangannya dan menuntunnya untuk duduk di bangku.
"Jangan menangis.., Aku tau ini berat.. "
Kutatap Mata yang mulai sembab itu,
"Aku menyesal, tak menyatakan ini sejak lalu... dan ketika Aku tau kamu sudah bersamanya,, rasa penyesalan itu semakin dalam, tapi Aku belajar untuk menerima kenyataan, jika memang Dialah yang terbaik buat kamu bukan Aku"
"Kamu yang jahat Dir!!!"
Vina tiba-tiba berdiri menatapku dengan raut muka penuh emosi membuat Aku tercengang dan ikut berdiri.
"Maksud kamu??"
"Kamu yang menghilang begitu saja setelah hari itu!!"
Jawab Vina berapi-api.
"Vina... Aku..."
Belum selesai ucapanku, tiba-tiba saja,
"Ssttt, Aku belum selesai!! Kamu bukan hilang! tapi menghilangkan diri!!
Kamu lupa, Kamu pernah meminta Aku untuk selalu mengingat kamu!! tidak melupakan kamu!!! Semua Aku lakukan Dir!! bahkan sampai kemarin sebelum Aku mendapatkan media untuk berkomunikasi sama kamu Aku masih terus mengingat kamu!!! tapi kamu???!"
cerocos Vina,
"Vin..."
Namun isyarat untuk Diam yang Vina lakukan dengan membentang telapak tangannya tepat didepan wajahku, sontak membuat Aku kembali diam.
"Bahkan bertahun-tahun Aku menunggu kabar dari kamu,, menunggu dan berharap suatu saat kamu datang menemui Aku,, tapi itu tidak pernah terjadi!!
Kamu tau Dir,, kubuang Maluku, kusingkirkan Egoku bahkan kujatuhkan harga diriku demi mengirimi kamu surat,, bukan sekali!!! bahkan sampai 2 kali!!! tak ada satupun yang kamu balas!!!
Sampai pada akhirnya Aku sadar bahwa kamu memang sudah melupakan Aku ketika kudapatkan kabar jika kamu sudah menikah dan punya anak!!"
Astaga,,, Apa yamg diucapkan Vina,, surat apa yang Dia maksud,, sungguh semua yang ia katakan membuat kepalaku pusing.
"Vin, kamu ngomong apa?? semua ucapan kamu sama sekali Aku ga paham, surat??! surat apa?! Menikah?? Anak?? sama sekali Aku gak ngerti!! Dan kamu bilang Aku gak berusaha nemuin kamu?? kamu lupa?? ketika kita bertemu di halte hari itu??
Kamu harus tau Vin, hampir setiap hari Aku menunggu kamu disana, tak pernah kita jumpa,, dan hari itu..Aku malah menyaksikan kemesraan kamu dan Agung didepan mata!!"
Hal yang sebenarnya sudah ingin kulupakan,, tapi harus kujelaskan,,
Huufftt.... Aku menghela nafas dan membalik tubuhku membelakangi Vina.
"Ya!! surat yang kutitipkan pada Tari waktu kita masih kelas 3 SMA,"
Lanjut Vina.
Deg!! Jantungku seolah berhenti sejenak mendengarnya, mungkinkah Tari sejahat itu?
__ADS_1
Pikirku.
"Aku sama sekali tak pernah tau surat itu Vin, sumpah demi Tuhan, Aku tak pernah menerima surat dari kamu!!"
Vina menatapku sesaat lalu kembali duduk, begitupun dengan Aku.
"Sepertinya, antara kita terlalu banyak kesalah pahaman selama ini,, kamu tenang dulu,, kita bicarakan ini baik-baik"
"Jika tentang surat yang tak pernah kamu terima,, lalu bagaimana dengan perempuan yang selalu bersama kamu saat SMA?"
Lanjut Vina lagi.
"Perempuan?? perempuan yang mana??, Aku sama sekali tak pernah dekat dengan perempuan selama SMA, Aku tak punya waktu untuk itu"
"Baik,, untuk itu Aku bisa terima semua jawaban dan alasan-alasan kamu, tapi satu hal yang tak bisa kamu pungkiri saat ini adalah status kamu yang sudah menjadi suami sekaligus Ayah dari anak-anak kamu!"
Vina kembali menangis, lalu duduk beradu punggung denganku, ingin sekali Aku memeluknya,, dan bilang bahwa semua tidak benar,, namun itu tak kulakukan, kubiarkan saja Dia melepaskan semua emosinya dengan air mata.
Tak berapa lama,
"Kamu sudah selesai menangis??"
tanyaku ketika kurasa Vina sudah menguasai hatinya.
"Vina, sampai saat ini Aku masih sendiri, masih memikirkan kamu, masih mengingat kamu dan masih merindukan kamu!!"
Vina berbalik menolehku, kutatap mata sembab yang seolah meminta penjelasan lebih.
"Ya... Aku belum menikah!! apa lagi memiliki anak!"
"Aku... Aku tidak percaya!!!"
pekiknya.
Tegasku.
"Lalu... perempuan dan bayi yang kamu ajak berbelanja di baby shop beberapa waktu yang lalu? kemudian perempuan dan bayi yang bersama kamu di Mall 21 beberapa bulan yang lalu??"
Aku menarik nafas dan menghembuskannya kasar, lalu mengusap wajahku.
"Vina,, Kamu sepertinya perlu mendengar cerita hidupku lebih banyak lagi, agar kamu tau dan tidak salah paham"
Aku berdiri dan mengulurkan tangan pada Vina.
"Ayo,, ikut Aku... kita cari tempat ngobrol"
"Udah,, disini aja kalau mau ngejelasin!!"
tolak Vina dengan wajah kesal.
Tiba-tiba saja otakku berputar cepat mencari tak tik agar Vina mau ikut,
"Vina... Ayolah, ceritanya panjang.. tak mungkin aku ceritakan disini, ini sudah senja... kamu mau kita kemalaman disini? Pak Min juga mau pulang,, kasian Dia kelamaan nunggu, lagian apa kamu pernah dengar cerita hantu penunggu sekolah? serem kan kalo sampe Dia nemenin kita ngobrol disini"
Dan sepertinya ucapanku barusan manjur, terbukti Wajah Vina langsung berubah tegang.
"Iya.... iya.. ya udah, kita mau kemana?"
Sampai di depan pagar,
"Udah selesai napak tilasnya Bi?"
Tanya Pak Min begitu melihat kami berjalan keluar.
__ADS_1
"Sudah Pak Min, makasih banyak ya sudah diizinkan, kami pamit pulang."
pamitku, sembari mengedipkan mata pada Pak Min yang sudah bisa diajak kerjasama.
"Sama-sama... hati-hati Bi...."
"Ehm.. Dir, kok Pak Min manggil kami Abi sich??"
Tanya Vina setelah berada diatas motor.
"Oh.. itu... Karena di rumah Aku memang dipanggil Abi."
"Ehm... Vin, seriusan kamu gak Papa nich, Agung gak marah kamu belum pulang kerumah?"
Tanyaku pada Vina, walau bagaimanpun bahagianya Aku bisa bersama Vina tetap saja status Vina adalah Istri orang.
"Ayo jalan... ntar keburu gelap"
Jawaban Vina seolah menghindari dan sengaja mengalihkan.
Hampir setengah jam perjalanan,
Motor yang kami tunggangi sampai di tepi sebuah danau,
"Sini duduk Vin,"
Ajakku.
Setelah Vina duduk disampingku,
"Vin, kamu belum jawab.. Apa Agung tak marah sampai jam segini kamu belum ada dirumah?"
"Agung tak ada disini, Dia sedang di luar kota,"
Jawabnya mencoba menghindari tatapanku.
"Ehm... apa dia gak menelpon??"
Tanyaku lagi,
Vina menggeleng,
"Dia akan menelpon menjelang Aku tidur"
"Agung kerja apa Vin?"
Tanyaku berpura-pura tak mengetahui kesuksesan Agung.
"Dia pemilik kafe Milenial"
Aku memalingkan wajahku dari Vina.
"Sekarang, tolong jelasin ke Aku apa yang tadi belum tuntas kita bahas"
serang Vina.
"Oke,, setelah Ayah dan Ibuku meninggal,, Aku menetap dirumah Pamanku, disana Aku tinggal bersama 2 anak perempuan pamanku, usia mereka hampir sama denganku lebih tua Aku sedikit, Aku orangnya cukup tau diri, bersyukur diizinkan makan dan tempat tidur gratis, Aku tak ingin menambah beban Paman dengan biaya sekolahku, apalagi kedua anaknya juga sekolah sama sepertiku, meski ia adalah keluargaku sendiri, tapi Aku tak ingin menjadi beban.
Aku sekolah sambil bekerja, sampai tamat SMA, dan perempuan yang selalu bersamaku saat SMA hanya 2 orang itu, Syintia dan Bella anak Paman."
Vina diam tak berkomentar apa-apa,,
Bersambung***
__ADS_1