Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 94 Sapu tangan


__ADS_3

Detik demi detik terus terlewati, jarum jam yang berputar kurasakan 3 kali lebih cepat dari biasanya.


menandakan bahwa Aku benar-benar menikmati kebersamaanku dengan Dirga yang terasa sangat singkat.


Tanpa terasa senja menyapa,


Pengunjung pun perlahan sepi, satu persatu berjalan keluar meninggalkan Hutan lindung seiring dengan pengumuman dari petugas penjaga yang terdengar melalui speaker, bahwa kawasan wisata akan ditutup dalam satu jam kedepan.


Aku dan Dirga beranjak dari tempat kami duduk, berjalan keluar meninggalkan kawasan hutan.


Dengan tangan saling berpegang erat, kami menuju lokasi parkiran.


Sampai di motor, Dirga memakaikan helm padaku, lalu diam menatap wajahku.


"Kenapa Dir?"


Tanyaku ketika Dirga tetap menatapku setelah beberapa detik selesai memakaikan helm.


"Gara-gara pakai helm,, rambut kamu jadi kusut dan berdebu... "


Jawabnya sembari memegang ujung rambutku.


"Ah... biasa aja Dir,, Aku suka kok naik motor.."


Aku tersenyum tulus,, dalam hatiku... Aku memang lebih suka naik motor berdua dengan Dirga Agar Aku bisa lebih dekat, merasakan hangatnya cinta ini.


"Makasih ya Vin... kamu memang terbaik"


pujinya.


"Ehm... kita mau kemana? langsung pulang atau kemana lagi??"


sambung Dirga,


Aku hanya mengangkat bahu.


"Ehm...Vin,, kita pulang aja ya... kamu pasti capek kan... ? besok kita lanjut lagi..."


"Ya udah emang besok kita mau kemana??"


Tanyaku,


"Belum tau sih,, tapi... yang jelas.. kita nikmatin kebersamaan kita yang hanya sesaat ini"


Mendengar itu, ada perasaan tersayat di dasar hatiku.


Diatas motor yang belum berjalan maju, Aku sudah melingkarkan tanganku di pinggang Dirga dan menyandarkan kepalaku di punggungnya.


Dirga memegang dan mengusap lembut lenganku yang berada di perutnya.


Dalam hitungan detik, motor melaju meninggalkan deretan pohon pinus yang sejuk dan asri, yang menjadi saksi kebersamaan kami hari ini yang penuh kehangatan cinta dan kebahagiaan.


Kami tiba di kafe,


Dirga mengantarku sampai di depan pintu mobil,


"Makasih untuk hari ini Vin..."


Ucapnya sebelum Aku masuk kedalam mobil.


Aku tersenyum memgangguk dan berbalik masuk kedalam mobil,


Dirga menutup pintu mobil, dan Aku menurunkan kaca mobil.


Mata kami kembali bertemu, mengisyaratkan rindu yang seakan tak ada habisnya.


Aku melambaikan tangan dan berlalu dari hadapannya.

__ADS_1


Sampai Dirumah, langit senja mulai berwarna jingga kecoklatan, burung-burung yang berterbangan mulai kembali pada sarangnya.


Turun dari mobil dengan hati berbunga-bunga.


Aku masuk kedalam rumah, setelah mengucapkan salam namun tak ada jawaban dari dalam., akhirnya Aku memilih berjalan ke belakang mencari keberadaan Mama.


Sayup-sayup terdengar suara orang mengobrol dari arah taman belakang rumahku.


Dengan hati bertanya-tanya Aku coba mencari tau dengan siapa Orang tuaku sedang mengobrol.


"Eh.... Kamu sudah pulang Vin, katanya malem..?"


Sapa Mama ketika matanya menyadari kemunculanku dari pintu belakang.


"Ehm... Iya Ma,, acaranya udah selesai..."


Jawabku salah tingkah begitu tau bahwa Mama sedang mengobrol bersama Tante Ruri, Mamanya Agung.


Aku melangkah mendekat dan menyalami calon mertuaku itu dan duduk diantara mereka.


"Tante sendiri??"


Tanyaku basa basi.


"Iya... tadi naik taksi,, Agung baru hari sabtu nanti pulangnya,, kamu udah tau kan?"


Ujar Tante Ruri.


"Iya Tante..."


Aku mengiyakan dan mengangguk.


"Ehm... Vin, itu ikat rambut kamu... kayak ya sapu tangan, itu sapu tangan siapa? punya kamu?? kok Mama baru lihat,, "


Celetuk Mama ketika tiba-tiba memperhatikan benda yang tengah mengikat rambutku.


Ujarku dalam hati, dengan ekspresi sedikit meringis gugup.


Terlebih ketika Tante Ruri turut memperhatikan benda yang tengah melekat di rambutku ini.


Siapapun orangnya pasti akan segera ngeh, kalau benda ini adalah sapu tangan Pria dewasa.


"Ehm... iya Ma,, punya teman kantor tadi.. Vina


lupa bawa iket rambut,, "


Jawabku meski terdengar kurang masuk akal.


Mama dan Tante Ruri mendengarkan alasanku dengan wajah penuh curiga dan tanda tanya.


"Ehm... ya udah Ma,, Vina masuk kamar dulu mau bersih-bersih"


Pamitku yang di tanggapi dengan anggukan dari Mama dan Tante Ruri.


Dengan cepat kutinggalkan 2 perempuan paruh baya itu menuju kamar.


Sesampainya dikamar, Aku segera menutup dan mengunci kamar,


Aku bersandar pada pintu kamar yang terkunci rapat, jantungku berdegup, Aku menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan lega.


"Ya Tuhan... lagi-lagi Aku berbohong... "


Aku melepaskan sapu tangan Dirga dari rambutku, dan memandangi sapu tangan putih bergaris itu.


Berniat segera mandi, dan beristirahat Aku membawa serta sapu tangan tersebut untuk sekalian ku cuci.


Selepas Mandi,, Mama mengetuk pintu kamar ku pelan.

__ADS_1


"Vin... Tante Ruri mau pulang"


Ujar Mama dari luar kamar.


Aku yang baru saja akan memeriksa ponsel, meletakkan kembali ponselku di atas bantal lalu keluar kamar menemui Mama dan Tante Ruri.


"Vin, Tante pamit pulang ya..."


Ujar Tante Ruri yang sudah berdiri dari kursi.


"Tante pulang sama siapa? Biar Vina antar aja ya..."


Tawarku pada calon mertuaku tersebut.


"Ah,, tidak usah Vin, Tidak usah repot-repot"


Tolak Tante Ruri yang merangkul bahuku berjalan keluar.


"Gak repot kok Tante,, beneran biar Vina antar ya... "


Ujarku sedikit memaksa.


"Beneran gak usah Vin, Tante udah pesan Taksi,, nah tuh.. udah datang,,,"


Terlihat Taksi berhenti tak jauh dari Rumahku.


"Ohh... ya udah kalau gitu Tante... salam buat orang dirumah.. Tante hati-hati ya..."


"Iya makasih ya sayang,, Tante pulang dulu... Yun,, Aku pulang ya.... sampai ketemu di hari minggu nanti"


Pamit Tante Ruri meninggalkan Aku dan Mama setelah cupika cupiki.


Setelah taksi yang ditumpangi Tante Ruri berlalu dari pandangan kami, Aku dan Mama berjalan masuk.


"Ma,, sejak Vina kenal Tante Ruri, Vina gak pernah melihat Papanya Agung, Vina juga gak pernah mendengar cerita tentang Papanya Agung,,"


Tanyaku pada Mama.


"Masak sich sayang?? Emangnya Kamu ga pernah nanya sama Agung?"


Jawab Mama menolehku.


"Iya,, kadang pingin nanya... tapi pas ketemu malah lupa.."


Aku dan Mama menuju ruang keluarga dan sama-sama duduk di sofa melanjutkan obrolan.


"Iya,, Papanya Agung itu dulu seorang Tentara, Jadi pas Tante Ruri lagi hamil Agung,, suaminya ditugaskan ke daerah yang sedang konflik, berbulan-bulan lamanya, sampai hari dimana Tante Ruri sedang berjuang untuk melahirkan Agung, kabar buruk diterima oleh keluarga Tante Ruri jika Suaminya gugur di sana,, saat itu... Mama bisa merasakan betapa hancurnya hati Tante Ruri, dihari yang sama Dia mendapatkan kabar gembira bersamaan dengan kabar duka,, gembira dimana ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan sempurna, namun disaat yang bersamaan pula ia mendapatkan kabar jika laki-laki yang ia sayangi pergi untuk selamanya, meninggalakan Dia dan ketiga anaknya yang masih kecil, terutama Agung yang baru saja dia lahirkan.. dan kamu tau Vin, dari ketiga anaknya,, wajah Agung yang paling mewarisi wajah suami Tante Ruri"


Aku tercengang mendengarkan cerita Mama,


Aku tak menyangka, jika Agung sejak lahir tak pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah.


......................


Di dalam kamar,


Aku baru menyadari sesuatu,,ketika baru saja Aku berniat untuk beristirahat dan melihat ponselku masih tergeletak diatas bantal.


"Astaga,, sejak pagi tadikan Aku mematikan ponselku, dan sampai sekarang belum kunyalakan dan kuperiksa"


Ujarku pelan.


Dengan cepat kusambar ponsel malang itu, yang sejak pagi tak kusentuh.


Baru saja menyala,, puluhan getaran menghantam ponselku menandakan banyak sekali pesan yang masuk begitu juga pemberitahuan panggilan telpon yang mencoba menghubungi selama ponsel mati.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2