
Setelah hari itu, semua kembali berjalan normal, antara Aku dan Vina tak ada perkembangan..
Kami masih menjadi sepasang remaja yang selalu bersama-sama tanpa kejelasan,,
Meski seisi kelas, bahkan satu sekolah tau tentang kedekatan kami dan selalu menganggap kami best couple,, tetapi itu tak membuat hubungan kami menjadi pasti.
Waktu terus berjalan, hari-hari indah tanpa ikatan tetap begulir hingga detik ini, 3 tahun berlalu, sungguh terasa begitu cepat.
Bahkan kini, ketakukan sedang menguasai hatiku, risau yang kian membelenggu jiwa yang terasa kosong.
Aku takut setelah ini, Aku tak bisa lagi menatapnya,, terlebih ketika Ayah dan Ibuku menyidangku semalam, tentang bagaimana kelanjutan studiku.
Sejenak Aku bersandar dan mencoba mengenang percakapan semalam.
***
"Abi sayang,, Ayah minta maaf belum bisa menjadi Ayah yang baik untuk Abi"
mendengar kalimat itu, Aku menelan ludah, firasatku mengatakan sesuatu yang tidak baik sedang terjadi.
Aku mencoba bersikap tenang mendengarkan kelanjutan kalimat Ayah.
"Ekonomi kita sepertinya sulit untuk kembali stabil, Ayah dan Ibuk baru saja mendapat kabar buruk, Ayah dan Ibuk menjadi salah satu dari sekian ratus nama karyawan yang kena PHK, mau tidak mau Ayah dan Ibuk harus mencari pekerjaan yang lain,"
Mendengar itu, kerongkonganku terasa tercekat, pantas saja sudah 3 hari ini mereka ada dirumah menemaniku sarapan, makan siang dan makan malam..
Baru saja kebahagian ini kurasakan tapi malam ini Aku mendapati kenyataan bahwa mereka sedang kesusahan.
Aku menatap wajah Ayah dan Ibuku bergantian,
"Tapi kamu jangan khawatir, Ayah dan ibuk sudah mendapatkan tawaran kerja lagi"
Mendengar itu senyumku terkembang,
Secercah harapan hadir dihatiku.
"Dimana Yah?"
Tanyaku tak sabar.
"Diluar kota,,"
Deg!!
Seketika hatiku terasa terhempas jatuh terberai,,
didalam kota saja, Aku sangat jarang bertemu mereka,, bagaimana diluar kota?
"Bagaimana Abi Yah? apa Abi ikut pindah?"
Tanyaku dengan suara yang bergetar menahan tangis.
Dengan cepat Ibu memelukku,
"Maafkan kami Abi,, untuk saat ini.. Kami belum bisa mengajak Abi,, kerjaan Kami belum menetap tapi Ibuk janji.. hanya 2 tahun saja,, setelah itu,, Ibuk akan menjemput Abi,, dan kita akan sama-sama lagi"
__ADS_1
Air mataku tumpah.. hingga membasahi lengan baju Ibu.
"Abi sayang,, Ayah sama Ibuk, dalam dua tahun ini Akan terus berpindah-pindah tempat sampai masa kontrak habis dan penempatan wilayah, kamu harus mengerti ya... jadi 2 tahun ini, kamu tinggal dulu dirumah Paman Usman,, Ayah janji... ini hanya 2 tahun,, dan satu lagi,, Ayah sudah mendaftarkan Abi di SMA merdeka raya tempatnya tak jauh dari rumah Paman Usman..
Abi anak cowok, harus kuat.. gak boleh lemah,, gak boleh cengeng..ya.."
Berulang kali kecupan Ayah dan Ibu memenuhi seluruh bagian wajahku.
***
Ervina Delia, seorang gadis manis yang datang secara tiba-tiba dihatiku mengetuk dan kini menjeratku dalam sebuah perasaan yang tak pernah bisa kuungkapkan.
3 tahun bersamanya tanpa kutahu bagaimana sebenarnya perasaannya kepadaku.
terus menduga-duga sebuah rasa yang sama tanpa pernah berani untuk bertanya yang sesungguhnya.
Pagi ini di meja makan, kutatap Ayah dan ibuku yang sudah rapi,
"Abi,, ambil kelulusannya tak mesti bersama orang tuakan? soalnya Ayah sama Ibuk pagi ini harus tanda tangan kontrak"
Aku menelan ludah, lalu mengangguk pelan.
Aku sudah terbiasa sendiri,, bahkan setelah ini Aku harus lebih kuat lagi tanpa mereka.
Mau tak mau Aku harus terbiasa dewasa karena keadaan.
Setelah sarapan,
Dengan Bis, Aku berangkat menuju sekolah yang akan segera menjadi kenangan.
Sengaja berdiri di samping gerbang sekolah menanti kedatangan Vina.
Tak berapa lama, sebuah mobil berhenti dan seseorang yang kunantikan turun dari sana.
Mata kami bertaut, namun mulut tak saling menyapa, hanya seulas senyum dan anggukan kecil darinya yang seolah menjadi Isyarat bahwa rindu ini sudah sangat tak tertahan.
Andai ia tau, Akupun merasakan rindu yang sama, memerah dan merekah.
Menatap langkah Vina yang semakin menjauh membuatku memutuskan untuk menenangkan hatiku yang sedang kacau balau di tempat yang tenang dimana lagi kalau bukan perpustakaan.
Segala perasaan bercampur aduk, hingga tak bisa lagi kujelaskan dengan kata-kata bagaimana sebenarnya suasana hatiku saat ini.
Hampir 10 menit duduk di perpustakaan yang sepi.
Tiba-tiba,
"Hai... lagi serius nih?"
Suara sapaan dari seseorang yang selalu kurindukan.
Aku menutup buku yang kupegang lalu tersenyum menatap Vina.
"Tidak ada yang lebih serius dari ketika Aku menatap kamu"
Ujarku membuat wajah Vina merona.
__ADS_1
Dengan malu-malu, Vina memilih duduk disampingku.
"Vin, setelah ini kamu melanjutkan kemana?"
Tanyaku dalam hati berharap Vina menyebutkan nama sekolah yang disebutkan Ayah semalam, meski Aku tau hal itu sangat mustahil terjadi.
"Aku lanjut ke SMA Putra Bangsa, kamu?"
Dugaanku benar, tak mungkin Vina memilih SMA sejauh itu.
"Ehm.. berarti, kita gak sama-sama lagi"
Aku menghela nafas berat.
"Emangnya kamu melanjutkan kemana?"
tanya Vina menatapku serius.
"Orang tuaku sudah mendaftarkan Aku di SMA Merdeka Raya"
Jawabku tak bersemangat.
"Bukannya sekolah itu jauh banget ya dari rumah Kamu?"
Aku juga sudah menduga Vina akan berkata seperti itu.
"Iya Vin, setelah ini Aku akan tinggal di rumah saudaraku yang dekat dengan sekolah itu, karena orang tuaku dalam waktu dekat Akan pindah kerjaan"
"Ehm... kenapa kamu gak ikut pindah aja sekalian sama orang tua kamu?"
"Gak bisa, kerjaan orang tuaku tidak menetap akan sering berpindah tempat"
Seketika kebisuan membungkam kami,
Suasana hening, hanya detik demi detik jam dinding saja yang menjadi saksi kegelisahan hati kami pagi ini, masih banyak sebenarnya yang ini kubicarakan pada Vina, tapi sayang, panggilan dari pengeras suara menyadarkan kami dari kebisuan dan memaksa kami menyudahi kebersamaan.
"Eh..Dir, kayaknya udah mau mulai"
Vina beranjak dari sampingku.
"Ehm... Vin, tunggu....."
Aku mencekal lengan Vina untuk menghentikan langkahnya meninggalkanku.
Vina menoleh.
"Vin.. pulang nanti, Aku tunggu kamu disini lagi ya..."
pintaku.
Vina yang bingung hanya mengangguk lalu berjalan meninggalkanku yang masih duduk memegang buku.
Aku sedang merasa seperti tak punya semangat dan pegangan lagi, jika setelah ini Aku tak lagi bisa bertemu Vina, mungkin Selamanya akan berteman kesepian, kepindahan Caca saja sudah cukup membuatku kehilangan tempat berbagi cerita, dan Aku juga harus terima kenyataan bahwa Aku akan menelan rindu dalam waktu lama kepada kedua orang tuaku, dan kini Aku juga harus siap jika setelah hari ini, mungkin Vina hanya akan menjadi bagian masa laluku.
Aku tak tahu, apa Aku siap untuk itu..
__ADS_1
Bersambung***