
Dihari-hari berikutnya, Aku tetap gencar mendekati Vina, meskipun sepertinya sampai saat ini belum ada tanda-tanda kalau Vina mau berteman dekat denganku, dan membuka hatinya menerima perasaanku.
Apa se anti itu Vina sama Aku, hingga setiap kali Aku mendekatinya selalu saja bersikap tak ramah denganku, bahkan kadang-kadang untuk sekedar membalas senyumku pun Vina terlihat enggan.
Aku tau,, seorang Dirga sudah merebut separuh hatinya, tapi apa tak ada kesempatan untukku mendapatkan setidaknya seperempat bagian lagi hatinya yang tersisa.
Sejak pagi, Aku belum melihat Vina sama sekali,, hingga jam istirahat tiba Aku berinisiatif membawakan sesuatu untuk Vina, segera Aku menuju kantin membeli roti coklat dan susu kemudian bergegas menuju kelas Vina.
Sampai di kelasnya, kulihat Vina sedang sendiri tengah sibuk merapikan mejanya, Aku berdiri sejenak kemudian tersenyum melihat indahnya makhluk ciptaan Tuhan yang kini berada didepanku.
Kemudian, melangkah pelan mendekatinya.
Ohhh,,pantesan..gak bawa ternyata"
Ujarnya pelan.
"Apa nya,,yang gak bawa??"
jawabku ketika telah berada di depan mejanya.
Vina mengangkat kepalanya dan sedikit terkejut, melihat kehadiranku yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya. Aku melemparkan senyum padanya, lagi-lagi Vina tak membalas senyum itu.
"Bekal Nina"
jawab Vina pelan.
"Oh,, ini Aku bawain buat kamu,,"
Aku menyodorkan Roti dan susu diatas meja nya.
"Ehm... Gak usah,, makasih,, jangan repot-repot"
tolaknya sembari menggeleng dan mendorong roti serta susu itu balik kearahku.
Meski tergores rasa kecewa, namun Aku takkan menyerah, Aku tetap tersenyum dan berusaha membujuknya.
"Ayolah,, gak baik nolak rezeki"
ujarku.
Terlihat Vina menoleh kearah Dirga,, tak lama setelah itu Dirga meninggalkan kelas.
Melihat Dirga pergi dengan wajah masam, Vina terlihat gelisah, kemudian beranjak dari kursinya dan bergegas ingin keluar,, dan Aku yakin bahwa Vina ingin menyusul Dirga.
"Ehmm,,makasih ya rotinya"
Ujar Vina sebelum pergi meninggalkanku dan mengambil roti serta susu pemberianku lalu masukkannya ke dalam tas,,
"Permisi ya,,"
ujarnya lalu berlari meninggalkan Aku yang masih mematung.
Beberapa detik terdiam, Aku bergegas keluar kelas mengejar Vina,
Aku menarik lengannya,
"Kamu kenapa Vin?? nyari siapa??"
tanyaku berpura-pura tidak tau.
Vina menarik lengannya dari tanganku, tak menghiraukan pertanyaanku dan kini berlari ke arah tangga dan menuruni nya dengan cepat,,
Aku masih mengikutinya,
Menyadari Aku membuntutinya, Vina berhenti,, kemudian berbalik ke arahku.
__ADS_1
"Please... Jangan ikuti Aku!!"
Hardiknya.
Mendengar suara yang sudah bercampur emosi, Aku memilih mengalah.
"Oke!"
Jawabku sembari mengangkat kedua tangan menyerah.
Aku membiarkan Vina berjalan cepat, sesekali terlihat ia berlari kesana kemari mencari Dirga, melihat itu rasanya sakit sekali hati ini.. sebegitu hebatnya Dirga hingga ia mampu membuat Vina sampai secemas ini mencarinya.
Aku melangkah lesu menuju kelas, memilih berdiri di depan pintu kelas sembari merenungi nasib yang selalu kalah bersaing dengan Seorang Dirga.
10 menit berlalu,
Mataku melihat Vina berjalan tertunduk menuju bangku taman, wajah cemasnya kini berganti dengan wajah kesal.
Aku terus memperhatikannya lalu memilih untuk menghampirinya.
"Kenapa sich..??"
Tanyaku yang sudah bersiap jika kehadiranku akan mendapatkan penolakan dari Vina lagi.
Vina menatapku agak lama, kemudian tersenyum, jujur hatiku bagai tersengat lebah kala mendapat senyuman itu.
"Ehmm.. Kak, bisa beliin Aku air mineral gak?"
pintanya padaku yang membuat mataku terbelalak tak percaya, ya Tuhan.. apa Aku tak salah dengar? Vina memanggilku Kakak!!
"Hah.... Apa??! tumben manggil Kakak,, bisa kok.. tunggu ya,,"
Dengan semangat seribu kali lipat Aku menuju kantin membelikan Sebotol air mineral untuk Vina.
Aku menyerahkan botol air mineral pada Vina, lalu duduk di samping ku..
"Kamu kenapa cantik??"
"Gak papa"
Jawab Vina tersenyum.
Ya Tuhan... lagi-lagi Vina menatapku tersenyum,, hatiku benar-benar berjingkrak gembira suka cita.
Mimpikah ini??
"Nahh..gitukan makin cantik"
Pujiku kepada Vina.
Gara-gara kejadian ini, sepanjang jam pelajaran terakhir yang kupikirkan hanyalah panggilan Vina terhadapku tadi, sepanjang pelajaran juga yang kubayangkan hanyalah senyuman Vina, alhasil tak ada pelajaran yang masuk di otakku siang ini, semua ngeblenk gara-gara Nona manis Ervina Delia.
Begitupun saat jam pulang tiba, Aku rela berdiri bersandar di tiang samping tangga menentang panas matahari hanya untuk menunggu Vina.
Entahlah,, untuk pertama kali didalam hidupku ada seorang gadis yang membuatku benar-benar bertekuk lutut jatuh hati padanya..
Tuhan... inikah cinta pertama itu??
Batinku memegang dada.
Tak lama, seseorang yang kutunggu muncul, berjalan pelan menuruni anak tangga, sampai di anak tangga terakhir, matanya menatapku heran.
"Ngapain??"
Tanyanya padaku yang berdiri dengan tangan di dada,, bersandar pada tiang dengan senyum sumringah.
__ADS_1
"Nungguin Vina cantik"
jawabku sambil tersenyum.
Vina terdiam, terlihat seolah tengah berpikir,
tak lama kemudian senyumnya terkembang.
"Yuk,,pulang..!!"
Ajaknya padaku,
Sumpah demi apapun,, ini benar-benar seperti mimpi.. seorang Vina yang biasanya cuek, tak ramah dan terkesan galak sama Aku tiba- tiba bisa bersikap semanis ini,, lembut dan selalu tersenyum ketika berbicara denganku.
Apakah ini tandanya jika Vina mulai tertarik denganku?
Tanpa membuang waktu, Aku segera mengangguk,,lalu berjalan berdampingan dengannya,, kami melangkah pelan menyusuri koridor,, melewati halaman sekolah, lapangan dan meninggalkan gerbang.
Tak sengaja Aku menoleh kebelakang, lalu melihat keatas, Nampak Dirga tengah memperhatikan kami.
Mataku kembali memperhatikan Vina,
Apa Vina sengaja ingin membuat Dirga cemburu??
Pikiran itu tiba-tiba saja masuk kedalam otak, membuat hatiku gelisah, Aku tak ingin kecewa jika ternyata perlakuan Vina seperti ini hanya untuk membuat Dirga cemburu.
Tapi,, ah.. sudahlah,, Aku tak ingin membuang waktu memikirkan hal yang tak terlalu penting,, karena yang terpenting saat ini adalah kebersamaanku dengan Vina.
Sampai di halte tempat biasa anak-anak menunggu bis sekolah, Aku duduk disamping Vina.
Bis sekolah belum kelihatan, dan Aku berharap Bis akan sedikit terlambat agar Aku bisa lebih lama lagi bersama Vina.
"Ehm.. kalau mau pulang duluan,, pulang aja" Vina menatapku,, yang tak bisa berhenti memandangnya.
"Ah,, gak papa.. masih betah disini.. Aku tungguin kamu sampe bisnya datang ya"
jawabku sambil tetap senyum-senyum membuat Vina terlihat gelisah.
"Gung...!!"
Pekik Ridwan dari arah gerbang, kemudian berjalan mendekat.
Aku menghela nafas, ada saja gangguan ketika Aku sedang bahagia-bahagianya dengan Vina.
Ridwan datang mengacaukan kebersamaanku dengan Vina.. rasanya kesal sekali.
"Kamu dicari sama Pak Edi,, katanya mau nanyain tentang tanding Basket Minggu depan."
Aku tak bisa menolak,, dan terpaksa harus meninggalkan Vina untuk masuk kembali kedalam sekolah.
"Ehmm... Vin,, Aku masuk kesekolah dulu ya, maaf gak jadi nemenin kamu"
"Gak papa kok,,silahkan"
Ujarnya dengan senyuman.
Aku beranjak dari kursi halte dan berjalan masuk kembali kedalam sekolah menemui Pak Edi,
sungguh, Aku masih ingin bersama Vina,, menatap mata bulatnya, menatap rambut indahnya, dan menikmati senyuman manis itu lebih lama lagi.
Hmmm... tapi sayang,, harus selesai.
gerutuku dalam hati.
Bersambung***
__ADS_1