
Sepanjang sisa jam pelajaran Aku tak bisa mengikutinya dengan baik, mood ku sudah berantakan.
Terlintas di benakku untuk mendatangi Vina dan bilang Aku menyukainya,, dan sekarang hatiku sedang terbakar cemburu melihat kedekatannya dengan Agung,, tapi apa mungkin Aku berani untuk sejujur itu?
Tidak! Aku tidak punya nyali untuk itu!!
Ahh.. sudahlah,, untuk apa Aku pusing memikirkan hal yang mungkin saja tak pernah terlintas di pikiran Vina sendiri.
Lima belas menit menjelang pulang,,
Guru biologi kami lebih dulu meninggalkan ruangan dengan berpesan silahkan pulang ketika bel pulang berbunyi.
Keanehan terjadi dengan sikap Vina, seolah sengaja memancing emosiku.
Sengaja melintas di depanku dan melengos membuang muka,, rasanya geram sekali melihat tingkahnya,, ingin rasanya kutarik lengan itu dan bilang,, Aku cinta kamu,, tapi Aku tak mungkin senekat itu.
"Nin,,pulang ini..mau temenin Aku bentar gak?"
ujar Vina dengan suara keras, membuatku menajamkan pendengaranku.
"Apaan sich Vin,,gak usah pake teriak kali.. Aku gak budek!"
Jawab Nina melotot kaget.
"Aku deg-degan Nin,, nanti pulang sekolah,,kak Agung mau ketemu sama aku di halte.."
Lagi-lagi suara keras Vina membuat hatiku berdenyut, Apa lagi ini Tuhan??
masih belum puaskah Vina membuat hatiku panas.
"Kenapa sich ni anak,,panas kali ya??"
Ujar Nina yang lantas menempelkan tangan nya pada dahi Vina.
Sekilas Vina menolehku, hal itu membuatku semakin yakin jika Vina sengaja melakukan ini untuk memancing emosiku.
"Apa Nin,,gak bisa???"
"Yahhhh...Ninn.. Aku mesti gimana dong??"
"Ya udah dech...gak apa,,kira-kira Kak Agung mau ngomong apa ya Nin,"
Vina masih dengan ocehan anehnya sementara Nina hanya melongok memperhatikan Vina sembari menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berceletuk,
"Kak Agung mau bilang..kamu kumat..hahahaha.."
Teeeetttt....teeettt...teeettttt
Bel pulang berbunyi,,
Semua siswa berhamburan keluar kelas, tapi Vina, masih duduk merapikan buku-buku yang ada di meja dan menyusun nya di dalam tas, seolah sengaja berlama-lama.
Aku sengaja menghadang Vina di pintu kelas ketika kulihat Vina berjalan kearah pintu.
"Permisi.. Aku mau lewat."
Ujarnya,
kulirik sinis wajahnya, rasanya tak tahan lagi ingin ku utarakan kekesalanku,, namun sayangnya belum sempat Aku membuka mulut,
Vina telah lebih dulu berlari menjauh.
Sekilas Aku melihat Agung berdiri di ujung anak tangga, hatiku tergerak untuk menuju balkon melihat Vina dan ternyata benar, Agung tengah menanti Vina untuk pulang berdua, perih sekali rasanya hatiku melihat tawa mereka.
Terlebih ketika Vina menoleh kearahku sembari meledek dengan mengacungkan jari kelingkingnya kearahku.
Ini tak bisa dibiarkan,, Aku sudah tak tahan lagi dengan sikap aneh Vina yang membuatku hampir gila dibuatnya.
Segera Aku berlari menuruni tangga untuk mengejar Vina dan Agung.
Namun begitu tiba di halte, Aku malah melihat Agung meninggalkan Vina dan berbalik kembali ke dalam sekolah.
__ADS_1
Aku yang bingung segera mendekati Vina.
Tanpa basa basi, ku cengkram erat pergelangan tangannya,
"Awwww,, sakiiiitt...!"
Pekiknya kaget,, lalu menatap mataku kesal.
"Apaan sich...lepas gak?"
Hardiknya sembari berusaha menarik tangan yang masih berada di cengkramanku.
kuhempas tangannya kasar,
Sempat terlintas di benakku betapa kasarnya Aku, namun mengingat kesalnya Aku pada sikap Vina membuatku merasa ini sah kulakukan.
"Berhenti bersikap Aneh di depan ku!!"
Tegasku pada Vina yang melongok dengan netra mata yang terbuka lebar.
"Aneh?? Aneh yang gimana tuh maksudnya."
Tanya Vina.
"Kamu kenapa sih?? Marah?? Kesal?? Atau..."
Aku tak melanjutkan kalimatku.
"Atau apa??"
Sambung Vina cepat.
"Atau........ Ahhh udalah!! yang jelas berhenti memancing emosi ku titik!!"
lidahku terasa kelu untuk bilang bahwa Vina cemburu dan berusaha balas dendam.
Aku takut Vina menganggapku kepedean, Aku tak ingin malu.
Vina kembali membuat Aku bingung untuk menjawab.
"Pokok nya..Aku gak suka kamu terus-terusan nempelin Agung,,"
Mendengar kalimat itu, Vina terdiam sesaat.
lalu,
"Ehmm...terus,, kamu sama Salsa? sah - sah aja nempel kemana-mana,, udah kayak prangko."
Kalimat itu terdengar sangat pelan dari seseorang yang kini menunduk dihadapanku, entahlah.. apa mungkin saat ini Dia ingin berkata bahwa Diapun cemburu,, jika benar.. itu artinya Aku bukan sedang kepedean,, tapi...
Ahh... seketika hatiku kembali berdebar-debar.
"Ya sah donk,,emang kenapa??salah nya dimana?"
Pancingku.
Hal itu membuat Vina mengangkat kepalanya menatapku sesaat kemudian berbalik membelakangiku.
Tak lama, Vina kembali berbalik menghadapku tangannya menunjukku dengan wajah sedih dan kecewa.
"Kamu egois..."
Vina bergegas meninggalkanku.
Namun dengan cepat Aku menangkap lengan itu membuat langkahnya tertahan.
"Vin..tunggu.!! kamu kenapa sich??"
tanyaku.
"Egois gimana??"
__ADS_1
Sambungku.
"Aku kamu larang dekat Agung,, tapi kamu sama Salsa,, kamu bilang sah-sah aja,, apa namanya kalo bukan egois.??"
Ya Tuhan,, kalimat yang membuat hatiku berjingkrak kegirangan.
"Hahahahaha"
Tawaku akhirnya lepas, membuat Vina menatapku heran.
"Kenapa ketawa?? gak lucu tau!!"
hardiknya.
"Ternyata benar..... Kamu cemburu Aku dekat dengan Salsa.."
skak mat ku pada Vina membuat Vina gugup dan salah tingkah.
"Ichhhh...enak aja,, sorry ya..enggak tuh"
Vina menghindari tatapanku..
"Hehehe,, udah dech,, gengsi boleh,, tapi please.. untuk yang satu ini, harus terima kenyataan"
Dengan penuh rasa percaya diri Aku mengaitkan telunjukku pada telunjuk Vina.
"Udah ya musuhan nya...kita baikan"
Ujarku, sementara Vina masih terdiam.
"Vin...Salsa itu sepupu Aku,, rumah kita sebelahan...wajar dong, kalau kita pulang perginya bareng. Lagian dari kecil temanku ya Salsa..karena kita memang dekat"
Terangku pada Vina.
"Jadi...gimana nich..kita baikan??"
tanyaku lagi.
Vina mengangguk...lalu tersenyum malu-malu.
"Eh vin, waktu di perpus.. kamu ngikutin Aku ya?? terus kamu kesal banget ya ngeliat Aku sama Salsa.."
Godaku.
"Ehmm... udah dech...ngeledek terus ih.."
"Sumpah Vin,, Aku pada saat itu seeeeneeennggg... banget liat ekspresi kamu"
"Ehmmm bahasss teruuuss....."
"Cieee...pipi nya merah jambu.."
Godaku lagi semakin membuat Vina salah tingkah dan menutup mukanya dengan kedua tangannya.
Beberapa menit kemudian Bis sekolah datang.
"Ehmmm...ni bis nya datang,, Aku pulang ya"
Vina beranjak, lalu menaiki bis,
Aku yang sebenarnya masih ingin bersama hanya bisa melambaikan tangan, hingga Bis melaju membawa Vina menjauh dariku.
Senyumku terkembang lebar, perasaan amarah kesal dan cemburu seketika mereda berganti riak-riak kebahagiaan.
Perasaan yang belum pernah kurasakan kepada siapapun.
Ini yang pertama... dan ini karena Ervina.
Ingin sekali Aku berteriak bahwa Aku sedang jatuh cinta,, agar seisi dunia tau... bahwa Aku bahagia.
Aku yakin,, cinta ini bukan sekedar rasa suka tapi lebih dari itu,, ya... ini cinta,, dan Aku sedang menikmatinya.
__ADS_1
Bersambung***