Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 183 Raja dan Ratu sehari


__ADS_3

Masih kurang 30 menit lagi menuju pukul 7, namun Mbak Ineke masih belum selesai memoles wajahku,, Sedang Aku sendiri belum tau bagaimana bentukan wajahku saat ini ditangan sang perias profesional.


Aku masih bersandar nyaman,


"Duh..cantik sekali,, duduk dulu ya... Aslinya udah cantik makin dipoles ya makin cantik..."


Komentar Mbak Ineke ketika menyuruhku untuk duduk tegap, Asistennya mulai menyasak rambutku untuk disanggul.


"Tinggal di rapikan lipstiknya, udah selesai,,,.. uuhh,, pengantin laki-lakinya pasti pangling"


Puji Mbak Ineke membuatku semakin penasaran dengan hasil riasan wajahku.


Dengan mengenakan pakaian pengantin adat Palembang berwarna merah dan gold ditambah dengan penuhnya hiasan kepala dengan warna emas yang berkilau.


Aku sudah selesai di dandani.


Meski pesta diadakan di hotel namun nuansa adat masih akan sangat kental terasa disetiap prosesi seluruh rangkaian acara yang akan berlangsung nanti.


Mbak Ineke membantuku berdiri dan menuntunku untuk berjalan kearah cermin.


Senyumku melebar ketika melihat pantulan diriku sendiri dicermin.


Aku seakan tak percaya melihat bayangan yang ada didepan cermin itu adalah diriku sendiri yang tengah mengenakan baju pengantin, begitu sangat memukau, dan nampak bagai putri kerajaan palembang pada jaman kesultanan, sungguh lega dan puas rasanya dengan hasil make up Mbak Ineke yang digadang-gadang sebagai MUA terbaik di kotaku


"Gimana,, Aku gak bohongkan.. Mbak Vina terlihat sangat cantik"


Puji Mbak Ineke.


Aku tersenyum dan tersipu.


"Makasih ya Mbak Ineke udah bikin Aku secantik ini"


Jawabku menggenggam tangan Mbak Ineke yang sudah berhasil menyulapku bak tuan putri.


Mama terlihat menitikkan air mata, Aku mendekati Mama perlahan,


"Kok Mama nangis?"


Tanyaku mengusap wajah Mama yang kini tersenyum.


"Mama terharu Sayang... gak terasa waktu begitu cepat berlalu, hari ini.. kamu sudah mau menikah dan akan segera menjadi seorang istri..."


Papa mendekatiku,


"Dan hari ini,, Papa adalah laki-laki pertama yang akan memuji kecantikan kamu sebagai pengantin, tanpa sadar putri kecil kami sudah dewasa, dan kini siap menikah..."


Aku terharu mendengar ucapan kedua orang tuaku.


"Tapi.. Vina akan tetap menjadi putri kecil Mama dan Papa.. sampai kapanpun"


Mama dan Papa mengangguk tersenyum kearahku.


"Sedewasa apapun kamu bagi kami... Vina tetaplah putri kecil kami Nak"


Suasana haru seketika menyelimuti ruang kamar hotel,


Tok.. Tok.. Tok..


Ketukan dari luar kamar, membuat Mama berjalan kearah Pintu dan membukanya.

__ADS_1


Nampak salah seorang dari panitia WO tersenyum manis menyambut kemunculan Mama.


"Selamat Pagi Ibu,, bagaimana apa pengantinnya sudah siap? akad nikah akan segera dimulai, apa sudah bisa turun sekarang?"


"Oh,, iya.. ini sudah selesai,, oke.. kita turun sekarang.. tunggu sebentar ya..."


Mama berjalan balik kearahku dan menuntunku keluar diikuti Papa yang kemudian menuntun tangan sebelahku, kemudian di ikuti Mbak Ineke dan tim nya dibelakangku.


Perasaan campur aduk berbaur didalam hatiku, tegang dan cemas yang paling mendominasi.


Kehadiranku disambut keluarga Papa di depan lift menuju ballroom tempat acara akan berlangsung.


Karpet merah berhiaskan aneka macam bunga menyambut kami, gerbang-gerbang rangkaian bunga berwarna putih di dekorasi semanis mungkin, dengan pilar-pilar gagah yang berhias lampu-lampu dengan cahaya yang hangat. Di depan sana, sebuah panggung besar sudah menyambutku, terbentang megah pelaminan panjang berwarna emas khas adat palembang yang tentunya dengan modifikasi sentuhan modern, dibuat begitu indah, meski masih kental dengan nuansa adat Palembang dengan dekorasi yang di dominasi berwarna merah, kuning dan emas khas kesultanan kerajaan palembang.


Disebuah meja putih nan suci, seseorang yang terlihat sangat gagah dengan pakaian bak sultan sedang menantikan kehadiranku,


senyum khasnya menyambut langkahku mendekatinya, matanya menyiratkan binar kekaguman menatapku tak berkedip.


Akad nikah berlangsung khidmat,


Didepan semua keluarga besar, janji suci pernikahan itu terucap lantang, bahagia dan haru menyelimuti dua keluarga pagi ini.


Sah menyandang gelar istri dari seorang Dirgantara Abinata, seseorang yang selalu kuharapkan dalam setiap doaku,, kini harapan itu sudah menjadi nyata,


lega,, tentu saja itu yang tengah kami berdua rasakan.


Dirga menatapku begitupun Aku. membuat mata kami melekat dalam sebuah pandangan cinta yang begitu membara.


Ketika tangan kami di satukan dalam genggaman erat, sebuah kecupan kulabuhkan di punggung tangan seseorang yang kelak bersamaku mengarungi biduk rumah tangga yang baru saja kami bentangkan dan siap berlayar, Dirga mengecup keningku disambut tepuk tangan meriah dari dua keluarga besar yang berkumpul mengelilingi kami pagi ini.


Sungguh ini seperti mimpi, dan sungguh Aku tak ingin terbangun lagi.


Tamu-tamu mulai ramai berdatangan,


Kursi-kursi yang disediakan mulai penuh terisi, Aku dan Dirga sudah duduk bersanding di atas pelaminan megah bak Ratu dan Raja sehari yang siap menjadi pusat perhatian para tamu undangan yang hadir dengan senyum yang tak lepas dari bibir menyambut tamu yang datang untuk bersalaman.


Alunan musik mulai terdengar, lagu-lagu juga mulai mengalun lembut memanjakan telinga para tamu yang hadir.


Tak lupa tari-tarian khas Palembang pun mulai ditampilkan, salah satu yang paling berkesan adalah ketika Aku sendiri yang menarikan sebuah tarian wajib bagi pengantin perempuan yang biasa ditampilkan saat acara pernikahan adat, didepan pengantin laki-laki yakni tarian pagar pengantin.


Meski sempat deg-degan, namun senyum serta anggukan kecil nan manis dari seorang Dirga membuatku tampil begitu luwes dan penuh percaya diri.


Dari atas pelaminan, Aku menyoroti semua tamu yang hadir, ketika mataku mampu menangkap kehadiran Nina, Alif, twins beserta Ayumi dan Edgar, Aku juga melihat Kehadiran Diki dan istri, begitupun Agung dan Tari, tapi.. kemana Elza dan Daniel? Aku tak melihat mereka, meski berkali-kali Aku mengulang sorot pandanganku, Aku tetap tak bisa menemukan mereka diantara para Tamu yang hadir, tak mungkin mereka absen di pernikahanku.


Aku memandang Dirga, menyadari Aku sedang menatapnya Dirga menoleh kearahku dan tersenyum.


"Kenapa lirik-lirik? sabarrr... masih rameee"


candanya membuatku tersenyum malu.


"Ihh,, apaan pede!!"


Sahutku mencubit pinggangnya kecil.


"Dihh... genit, pake cubit-cubit"


Ledek Dirga lagi.


"Dir,, Aku serius mau nanya sini dekat-dekat"

__ADS_1


Ujarku, membuat Dirga buru-buru memasang wajah serius dan mendekatkan telinganya.


"Dir, Aku kok gak lihat Elza sama Daniel ya? Apa mereka gak datang?"


"Ah... datang kok,, ada mereka"


Jawab Dirga,


"Serius,, mereka ada disini? Dimana?"


Mataku berkeliling mencari keberadaan Elza dan Daniel.


"Tadi di situ,, di dekat Nina loh.. tapi kok,, sekarang gak ada ya?"


"Kamu serius,, tadi kamu beneran lihat mereka apa mungkin kamu salah lihat..?"


"Enggak,, beneran tadi Aku lihat,, malah Daniel sempat melambai.."


Perasaan tak enak seketika muncul dihatiku,, tapi sebisa mungkin harus kusembunyikan, Aku tak ingin merusak pestaku dengan pikiran macam-macam.


Menjelang sore,


Dirga sudah nampak sangat gelisah ketika satu persatu tamu mulai naik keatas pelaminan untuk bersalaman dan pamit pulang.


"Kamu kenapa gelisah?"


bisikku di telinga Dirga.


"Lamaaa... gak abis-abis!"


Jawab Dirga.


"Apa?"


Tanyaku bingung.


"Tamunya"


"Kenapa? kamu kebelet?"


tanyaku lagi,


Dirga mengangguk.


"Astaga,!! sabar ya,, masih bisa nahankan?"


jawabku menyentuh bahu Dirga.


"Nahan apa?"


Tanya Dirga senyum-senyum.


"Pipis,, kamu kebeletkan?"


Senyum Dirga makin lebar kemudian mendekatkan wajahnya pada telingaku,,


"Aku kebeletnya yang lain,,"


Mendengar itu Mataku terbelalak, seketika bulu romaku meremang.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2