
Hingga hampir setengah jam terdiam, tak ada tanda kata-kata yang menjadi harapanku terucap dari mulut Dirga, ia hanya diam menatap koridor perpustakaan yang mulai sepi.
"Dir... Apa kamu merasakan tak rela berpisah seperti Aku? kenapa kamu memilih diam dan tak mengungkapkan? Apa perasaan yang kamu rasakan 3 tahun ini terhadapku? bilang Dir,, Aku menunggu"
Ujarku dalam hati.
"Ehm... Vin, kami udah mau pulang?"
Pertanyaan Dirga membuatku semakin lesu.
"Ya... ini sudah terlalu siang, Aku takut Mama khawatir"
Jawabku masih berharap ada kalimat yang belum selesai diucapkan Dirga.
Aku menatap gelagat Dirga yang sedari tadi hanya menunduk.
10 menit berlalu,
"Dir.. Aku pulang ya..."
pamitku memecah sunyi.
Ada desah nafas panjang yang terdengar disertai anggukan berat dari Dirga.
Sungguh, ada rasa kesal bercampur sedih didalam hatiku dengan sikap Dirga,
Ternyata perasaan Dirga tak seperti yang Aku harapkan, Dia tak merasakan seperti yang Aku rasakan.
Aku beranjak dari bangku dan bersiap melangkah meninggalkannya.
Namun baru saja kakiku melangkah,
"Vin... tunggu!!"
Deg!!!
Jantungku berdegup bersamaan dengan langkahku yang terhenti.
Dirga menyusulku,
tangannya meraih lenganku dan membalikkan tubuhku menghadap kearahnya.
"Vin... Aku... Ehm... Aku..."
Dirga menghentikan ucapannya seolah ada ragu disana.
"Dir... Apa? Kamu mau ngomong apa?"
Tanyaku menatap lekat wajahnya yang menunduk.
"Aku.... Aku temenin kamu nunggu Bis ya...."
kalimat itu meluncur cepat.
"Hmmmm.... ternyata, kamu cuma mau ngomong itu Dir..."
__ADS_1
Batinku lagi.
Aku cuma mengangguk menanggapinya.
Aku dan Dirga berjalan berdampingan.
Harapanku ternyata tak menjadi kenyataan, Dirga sama sekali tak menyatakan perasaannya, sementara Aku... untuk bicara lebih dulu sepertinya terlalu gengsi.
Tiba-tiba, telapak tangan Dirga meraih jemariku dan menggenggamnya,
Aku tersentak dan sontak menoleh kearah Dirga, sementara Dirga tak memperdulikan tatapanku, ia tetap serius menatap jalan didepan tanpa expresi, tanpa suara dan basa basi.
"Ya ampun Dirga..... kamu benar-benar sulit ditebak, ada apa ini Dir... ??? sebenarnya seperti apa perasaan kamu terhadapku! kenapa diam saja jika kamu cinta? dibilang cuma anggap teman, kenapa perlakuanmu semanis ini!! Ahhh... menyebalkan!!!"
Gerutuku dalam hati.
Aku balas menggenggam jemarinya ketika kurasakan genggaman darinya semakin erat.
Meski dalam tanda tanya besar dan hati yang bimbang, senyumku tak bisa kusembunyikan, bagaimana tidak.. jika perlakuan serta tindakan dan sikap manis Dirga hadir diantara kebisuan kata-katanya.
Aku seperti tengah menikmati rasa yang diberi Dirga hingga tanpa kusadari genggaman tangan kami tak lepas hingga sampai di depan kantin dan dilihat oleh Nina.
"Nah... Hayooo, udah lengket aja tu tangan!! harus ada pajak nya nih.... "
Ledek Nina sontak membuat tangan kami saling menarik dan terlepas.
"Ih.. Nina...!!! Apaan sih.."
Ujarku malu-malu.
Tanya Nina lagi, kali ini membisik lebih dekat ketelingaku.
Aku menggeleng, menimbulkan kebingungan diwajah Nina.
"Loh... kok bisa?"
Tanyanya lagi yang dengan cepat segera kulayangkan cubitan di pinggangnya.
"Aawww... sakit Vin!!!"
Teriaknya sembari menggosok pinggangnya beberapa kali sambil mendengus.
Aku meninggalkan Nina dan Dirga menghampiri Penjaga kantin untuk membayar tagihan Nina.
Setelah beres,
"Yuk pulang..."
Ajakku pada Nina dan Dirga.
"Eh.. Viin, kamu masih hutang ya sama Aku!"
Bisik Nina.
"Hah..?! Hutang?? Hutang apalagi??"
__ADS_1
Tanyaku heran bercampur bingung.
"Hutang buat cerita apa yang terjadi!!"
cetus Nina.
Aku segera berkedip pada Nina memberi kode untuk diam.
Di halte Bis,
"Aku pulang duluan ya.....!!"
Pamit Nina.
Tinggal Aku dan Dirga.
Lagi-lagi kami cuma saling Diam.
Hingga Bis tujuan ke rumahku nampak dari kejauhan.
Aku bersiap untuk meninggalkan halte dan Dirga.
"Vina... Jika ini pertemuan terakhir kita, Aku berharap jangan lupakan Aku"
Kalimat yang sangat pelan itu terasa begitu sopan masuk ditelingaku.
Aku menoleh kearah Dirga.
Nampak Dirga mengulurkan tangannya padaku.
Aku menyambut tangan itu, sambil mengangguk.
"Ya... Aku janji, Aku akan selalu mengingat kamu!"
Jabatan tangan yang begitu erat, hangat dan membuat hati ini terasa damai.
"Vin... Aku.."
TIIINNNN...!!!
klakson Bis berdentin keras, membuat Dirga berhenti berkata dan tak melanjutkan ucapannya.
"Apa Dir?"
Tanyaku sedikit mendesak karena penasaran dengan kalimat Dirga yang terputus.
"Kamu cepat naik, Bisnya mau jalan!"
Dirga menyuruhku buru-buru masuk Bis.
Dengan perasaan bingung, Aku memutuskan untuk Meninggalkan Dirga.
Benar saja, tak lama setelah Aku masuk, Bis pun berjalan meninggalkan Gerbang sekolah, Dirga dan sejuta kenangan yang pernah ada disana.
Aku menatap Dirga lewat kaca jendela Bis, Dirga mengangkat tangannya dan melambai tanpa senyuman.
__ADS_1
Bersambung***