
Hampir 2 jam berada di lorong sepi rumah sakit, saling diam dan membisu.
Semua yang ada disini tengah sibuk dengan kecemasan dan fikirannya masing-masing, termasuk Aku yang sedari awal sibuk meminta kesehatan Ibuk kepada Tuhan.
Aku tak bisa membayangkan jika sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Ibuku malam ini.
Aku tak tau seperti apa hancurnya Aku, jika itu terjadi.
Aku melirik Ayah yang terdiam menunduk dengan mata basah.
Hanya sesekali terdengar desah nafas berat Ayah yang terasa seperti irama pilu.
Kegelisahan jelas terpancar dari wajah-wajah di sekitarku, cemas bahkan ketakutan hanya itulah yang Aku rasakan meski hati tetap berharap semua akan baik-baik saja,
Semua mata beralih pada pintu ruang ICU yang tiba-tiba terbuka, semua berlari menghampiri, dan mendekat.
Dokter dan beberapa perawat keluar dengan wajah sendu.
"Bagaimana kondisi Istri Saya Dok?"
Tanya Ayah dengan raut muka tegang.
Dokter menghela nafas,
"Maafkan kami,, semua sudah kami upayakan, tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain"
Mendengar itu, tangis semuanya pecah, bahkan teriak histeris Bik Umi sempat menggema menambah pilu suasana.
Seperti petir yang menyambar, seketika tubuhku lemas, gemetaran, hatiku terasa tertusuk benda runcing yang sangat tajam,, sakit sekali.
Paman Usman dan Bik Umi berlarian masuk, dan mendekati ranjang Ibuk, Aku yang linglung hanya berdiri diambang pintu menyaksikan tangis Bik Umi yang pecah, sementara Bella dan Cia memelukku.
Mataku beralih pada Ayah yang terdiam mematung bersandar pada dinding.
Perlahan Aku berjalan mendekati Ayah.
Matanya kosong, meski air matanya terus mengucur.
"Ayah.... Ayah... ada apa??"
Pekikku ketika terlihat Ayah memegangi dadanya membungkuk dan akhirnya tumbang.
BRUKK!!
__ADS_1
"Ayaaahhhhh.......!!!! Ayahhh... bangunnn Yahhh.... Bikkkk!! Pamannnnn...!!!"
Aku berteriak memanggil Paman Usman dan Bik Umi yang berada di dalam,
Bik Umi dan Paman Usman tergopoh-gopoh keluar.
"Ya Allah,, Abi... Ayahmu kenapa?? Dokter!!! Dokter!!!"
teriak Bik Umi memanggil Dokter.
Suasana yang tadinya pilu, berubah kembali tegang.
Setelah dicek,
Dokter menyatakan bahwa Ayah meninggal karena serangan jantung.
Langitku mendadak gelap, duniaku terasa runtuh dan harapanku hancur berantakan.
Dengan hati yang tak lagi berbentuk Aku duduk didepan jenazah kedua orang tuaku yang sudah terbujur kaku di tengah-tengah rumah Paman Usman setelah dibawa pulang dari rumah sakit untuk disemayamkan.
Tak ada air mata yang menetes dari mataku, hanya tatapan nanar dan kosong mengingat setelah hari ini Aku tak kan pernah lagi melihat dan memeluk kedua orang tuaku seumur hidupku.
Cia dan Bella duduk disebelahku, sesekali tangan mereka menggenggam jemariku, dan mengusap punggungku menguatkanku.
Bagaimana kelanjutan hidupku?
Bagaimana dengan masa depanku?
Bagaimana jika Aku rindu?
Bagaimana Aku harus hidup tanpa mereka lagi disisiku?
Aku merasakan pedih yang luar biasa mengiris hatiku.
Terlebih ketika melihat tubuh kedua orang tuaku yang mulai dikafani.
Bahkan ciuman terakhir yang kulabuhkan untuk kedua orang tuaku semakin membuat hatiku terasa diremas oleh ratusan duri tajam.
Sakit, ngilu, pedih bercampur jadi satu.
Aku merasakan tak lagi bisa menapak bumi, tubuhku ringan seperti melayang, Aku tak tau lagi harus bersikap seperti apa ketika menyaksikan kedua orang tuaku mulai dimasukan ke satu liang lahat dan mulai di timbun tanah basah.
Kurasakan kepalaku seperti berputar-putar, pandanganku mulai buram, gelap dan....
__ADS_1
"Abi.... Bi... Abi.. bangun Bi,, sadar Bii.... Bangun Nak...."
Perlahan kucoba untuk membuka mata, ketika sayup-sayup telingaku mendengar suara lembut bersamaan dengan sentuhan berulang diwajahku.
Terlihat Bik Umi menatapku sendu.
"Alhamdulillah...."
Seru Bik umi, sembari mengusap air matanya.
mataku mengamati ruangan dimana Aku terbaring, dalam beberapa detik akhirnya Aku tau bahwa Aku sedang ada di kamar, satu persatu kuperhatikan orang-orang yang tengah mengelilingiku.
Sempat Aku berfikir jika Aku baru saja mengalami mimpi buruk dan bersyukur akhirnya Aku terbangun.
Tapi.... kuperhatikan kembali mereka satu persatu, pakaian hitam dan kerudung hitam...Apa ini nyata? Apa ini bukan mimpi buruk?
lalu... itu artinya, Aku benar-benar menjadi Anak yatim piatu sekarang?
Aku mencoba mengingat apa yang terjadi padaku.
Ya... Aku pingsan saat pemakaman kedua orang tuaku,
Aku memalingkan wajahku, dan air mata ini akhirnya meleleh.
Sesak dan pedih mengungkungku dalam balut duka cita.
Ayah... Ibuk... Aku masih butuh kalian...
batinku ?
"Abi... sabarkan hatimu Nak,, kuatkan batinmu,, agar mereka tenang disana, Abi jangan khawatir,, Bibik, Paman dan semua yang ada disini semuanya menyayangi Abi"
Bik Umi membelai kepalaku.
"Iya Abi.... Aku sama Cia akan selalu ada buat Abi.."
Sambung Bella.
Aku diam tak menjawab sepatah katapun, rasanya masih berat lidah ini untuk berbicara.
Bahkan untuk berpikir saja rasanya Aku belum bisa.
semua terasa seperti mimpi, begitu cepat tanpa meninggalkan kesan dan pesan.
__ADS_1
Bersambung***