Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 146 Sebelum kepergianku


__ADS_3

Kutatap Mata Vina yang nampak gelagap,


Aku tau saat ini ia tengah khawatir jika Aku melihat kejadian tadi, Aku memilih berpura-pura tak melihat apa-apa, meski sebetulnya Ada sedikit rasa panas dihati karena terbakar cemburu,, tapi ah.. sudahlah, lagian sepertinya Daniel tak mengakui perasaannya pada Vina, dan itu artinya semua akan baik-baik saja, dan ini membuktikan jika Dia seorang Pria baik yang tak mau dan tak akan merebut hati yang sudah dimiliki hati yang lain, jadi untuk apa Aku cemburu dan mempermasalahkan hal sesepele ini.


"Ya udah,, sini....teman-teman Aku pada mau kenalan.."


Kurangkul Vina dengan mesra menuju meja teman-temanku.


Tak lama setelah Vina bergabung dengan teman-temanku, Vina meminta izin kepadaku untuk kembali kepada teman-temannya,


dan Aku mengangguk mengizinkannya, mataku tertuju pada Daniel yang ternyata sudah berada kembali di antara mereka.


Aku terus saja memperhatikan Vina dan sekumpulan teman-temannya yang tengah mengobrol seru, namun tak lama sebuah kejadian sepertinya baru saja terjadi, entah apa yang membuat wajah-wajah mereka menjadi berubah, yang semula ceria penuh tawa, tiba-tiba berubah tegang,


Daniel beranjak dari kursinya, kemudian berjalan keluar meninggalkan Vina dan yang lainnya, membuat semua yang ditinggalkan terlihat bingung dan saling pandang.


Aku memutuskan untuk menemui Vina dan duduk bergabung dengan teman-temannya.


Begitu sampai di hadapan Vina,


"Loh sayang, itu Daniel kenapa? Dia mau kemana?"


Tanyaku sembari membelai kepala Vina lembut.


"Gak tau,, ngambek kayaknya"


jawab Vina


"Ihh... Bete!!!, Baperan banget sich dasar... Ababil!!! gitu aja ngambek,, marah!! padahalkan Dia sendiri yang memulai!! Sebel banget deh!!


Elza mengomel dengan wajah menekuk kesal.


Mendengar itu, Aku jadi mendapatkan ide bagus,


"Udah, mungkin Daniel lagi ada masalah, jadi buat Dia sensi, coba deh kamu susulin terus minta maaf,, "


Aku berharap Elza bisa mengambil hati Agung, syukur-syukur jika Agung dan Elza bisa saling menyadari jika mereka cocok dan siapa tau berjodoh,, pikirku.


Vina dan Nina mengangguk menyetujui usulanku.


Sejenak Elza terdiam, kemudian mengangguk dan bergegas menyusul Daniel keluar.


Acara selesai,


Satu persatu tamu-tamu kafe berpamitan, termasuk Nina dan keluarganya.


Elza sudah lebih dulu pulang tak lama setelah ia menyusul Daniel keluar.


"Vin, kami pamit ya... Aku doain, mudah-mudahan hubungan kalian langgeng sampai pelaminan ya,, Kak Agung, Aku titipkan Vina sama kakak, jangan sampe buat Vina sedih ya... kami pamit ya...."


Pesan Nina kepadaku, kemudian memeluk Vina.


"Aamiin makasih ya Nin... Dadah sayangg.... kapan-kapan main kerumah Aunty ya Twins.. belum puas soalnya main sama kalian disini,, ya sayang ya.... Ajak miminya... oke..."


Ujar Vina lalu mencium Bayi kembar Nina satu persatu, celoteh dan tawa khas Bayi memenuhi ruang kafe siang ini.


"Oke siap Moy, kalian juga hati-hati dijalan..


bye Twins... cepet gede ya,, biar ntar kalo Uncle ma Aunty nikah, Twins yang jadi pengiring pengantinnya..."


Candaku lalu mengusap lembut kepala Baby twins bergantian.


"Iya uncle..... siappp!!"


Nina menjawab mewakili Baby twins.


membuat tawa kami pecah.


Diam-diam ternyata Vina memperhatikanku, hal itu tentu saja membuatku sangat bahagia.


"Makasih ya Bro... dah nyempetin datang,"


Aku merangkul dan menepuk pundak suami Nina setelah berjabat tangan.

__ADS_1


"Sama-sama.. sukses ya buat kedepannya moga lancar tanpa hambatan"


Jawab Alif.


"Aamiin.... Aamiin...."


Aku dan Vina mengantar Nina, Alif dan Baby Twins sampai ke mobil.


Lambaian tangan kami mengiringi laju mobil meninggalkan pelataran kafe.


Setelah kafe sepi, hanya tersisa karyawan yang tengah sibuk berberes meja, kursi dan seluruh isi ruangan yang penuh dengan dekorasi.


"Sayang, Aku antar kamu pulang ya... "


Tawarku pada Vina.


Vina mengangguk.


Di perjalanan pulang,


"Kamu berangkat jam berapa?"


Tanyanya sekilas menoleh.


"Jam 3, Kamu doain Aku ya... Aku janji, kalau urusannya cepat selesai, gak nyampe 3 bulan Aku udah kembali... "


Balasku.


"Gak papa Gung, jangan terburu-buru nanti malah kamu gak konsentrasi"


Sanggah Vina.


"Abisnya, kamu candu!!.. Aku jadi gak bisa lama-lama pisah sama kamu, bawaannya rindu mulu!!"


jawabku sembari mengelus pipinya dengan siku telunjuk.


"Ahh... mulaiii dehh, ngegombal!! Padahal dulu bisa aja tuh, bertahun-tahun malah"


"Ya beda lah sayang.... itukan dulu, waktu kamu masih jadi orang yang selalu Aku pinta sama Tuhan disetiap doa untuk di lembutkan hatinya, kalau sekarang, Tuhan sudah mengabulkan doaku menjadikan Kamu orang yang Akan selalu kucinta dan kujaga, jadi gak bisa ditinggal lama-lama"


"Jadi sekarang, Aku gak lagi di bawa dalam doa?!"


Celetuk Vina.


"Ya tetap donk... tapi doanya beda..."


"Apa bedanya,, emang sekarang doanya gimana??"


Cecar Vina lagi.


"Sekarang Doanya, semoga tetap bersama kamu sampai tua dan menutup mata, Aku juga meminta, semoga Aku sepenuhnya ada dihati kamu"


Kutoleh Vina dengan senyuman kecil.


Mendengar itu, Vina terdiam sesaat, terdengar ia menarik nafas dalam-dalam.


Lama tak bersuara, Aku kembali menoleh Vina dan ternyata Ia sedang melamun, seolah ada banyak beban yang tengah ia pikirkan, dan Aku tak tau seberat apa beban itu,


"Sayang.... Kamu melamun? kenapa, ada omonganku yang buat kamu gak nyaman ya??"


Kuraih tangannya dan mengecupnya lembut,


"Ehm.. Enggak, Aku cuma lagi mencerna omongan kamu tadi?"


Jawab Vina,


"Bagian yang mana?? tentang harapanku sepenuhnya dihati kamu ya??"


Aku mencoba menebak


Vina terkejut, dan dengan cepat menolehku.


"Gung..."

__ADS_1


Sapanya lirih.


"Gak papa sayang, kamu gak perlu maksain diri untuk cepat-cepat mencintai Aku, pelan-pelan saja... Aku paham, sulit bagi kamu membuang rasa yang terlanjur melekat kuat"


Kubelai kepalanya, mencoba memahami apa yang dikhawatirkan Vina, apalagi selama ini dihatinya hanya ada Dirgantara seorang, hal yang wajar menurutku jika saat ini Vina belum terbiasa dengan perasaannya terhadapku.


Namun Aku benar-benar terkejut ketika tak sengaja kulihat Vina menjatuhkan air matanya perlahan..


"Hei.... Vina, sayang... kok malah nangis??, udah,, jangan dipikirin, Aku gak papa kok,, udah ya...."


Kucabut beberapa helai tissue yang ada di mobil dan memberikannya pada Vina.


Vina menerimanya lalu menyeka pipi dan matanya.


"Makasih Gung, Kamu terlalu baik.. bahkan sangat baik,,"


Ujarnya, Aku hanya menoleh sekilas dan tersenyum.


"Udah,, jangan sedih lagi.. senyum donk... "


Hiburku.


Sampai dirumah Vina,


"Mau langsung, atau masuk dulu??"


tanyanya ketika hendak turun.


"Aku langsung aja ya sayang, takut terlambat.. ehmm.. salam sama Mama dan Papa ya.."


Mendengar itu, Vina mengangguk dan bergegas membuka handle pintu mobil.


"Ehm... Sayang,,"


Cegahku,


Aku mencekal lengannya, membuat Vina mengurungkan niat untuk keluar dari mobil.


"Iya... kenapa??"


"Ehm.... Kamu hati-hati ya kerjanya, jangan ngebut bawa mobilnya,, Aku pasti akan merindukan kamu,, Aku.... Sayang sama kamu, sayang.... banget"


Aku meletakkan tanganku di puncak kepalanya lalu membelai rambutnya dan tanganku berhenti di leher belakangnya, menariknya pelan agar lebih mendekat padaku,


Sebuah kecupan hangat mendarat di pucuk kepalanya, kemudian di dahinya, lalu dikedua matanya, kemudian Kutatap wajahnya dari jarak yang sangat dekat, hanya beberapa inchi saja, Aku menatap matanya sangat dalam.


"I love you... I love You... I love you... Vina,,"


Ujarku berkali-kali, sembari memiringkan kepala semakin mendekat ke wajah Vina.


Vina memejamkan matanya, membuatku yakin Bahwa Vina juga mendambakan kecupan dariku, dengan detak jantung seirama debaran hati yang terus bergejolak, kupagut mesra bibir manis itu, lama dan berirama, membuat darah naluri kelelakianku terus berdesir hebat, hangat dan penuh rasa cinta.


Setelah kecupan itu usai, nampak olehku Vina tersengal, begitupun Aku yang sedang berusaha mengatur nafasku agar kembali normal.


Aku masih memegang kedua belah pipi Vina dan menatapnya, senyumku kembali mengembang begitu melihat wajah Vina.


"Lipstik kamu berantakan,"


Kuusap lembut bibir yang baru saja memberikan Aku sensasi luar biasa itu dengan ibu jariku, merasa itu kurang membantu Aku mencabut tissue dan menyekanya.


Seketika wajah Vina bersemu merah jambu, ia menunduk kemudian mengambil alih tissue ditanganku serta mengarahkan kaca yang ada di mobil untuk melihat wajahnya.


"Udah rapi kok... udah cantik lagi..."


jawabku cepat, membuat Vina menjadi sedikit canggung dan salah tingkah.


"Aku masuk ya.... kamu hati-hati"


Ujarnya begitu kubukakan pintu mobil dan Vina turun.


"Siap...!! Aku pulang ya..."


Pamitku, setelah mobil siap melaju, dengan kaca mobil yang masih terbuka, kulambaikan tangan padanya,, gadis yang selalu membuatku tergila-gila.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2