
"Dicuekin?? kapan??"
Entah itu jawaban sesungguhnya atau hanya sekadar basa basi Aku tak tahu pasti.
"Ah.. udah gak usah dibahas...! Bikin malu aja!"
Aku lalu terdiam.
"Aku serius nanya! dan Aku mau minta maaf kalau kamu be-te nya gara-gara salaman waktu itu"
Vina tersenyum,
Ya Tuhan... senyum itu, hatiku bergetar hebat, ditambah sorot matanya yang terkesan sedang ingin bermanja-manja membuat Aku benar-benar tak tahan, ingin sekali Aku berteriak hingga jingkrak-jingkrak sebagai bentuk selebrasi,
"Ihh senyum ituu!!! "
Aku menarik rambutnya lembut.
"Lah... kenapa?"
"Senyum kamu jelek!! ngeledek!!!"
Cepat-cepat Aku berdiri membelakangi Vina, untuk menetralkan kembali jantungku yang degubannya sudah tak karuan sebelum menjadi semakin parah atau bahkan mungkin bisa rontok.
"Hahhahahha..... !!!"
Apa-apaan, Vina malah terpingkal-pingkal, disaat Aku sedang berjuang menahan diri untuk bisa tenang dari gempuran pesonanya.
Akan tetapi tunggu dulu...
Melihat Dia tertawa lepas seperti sekarang membuatku lega, setidaknya Dia tidak lagi bersedih memikirkan cinta pertamanya yang belum jelas dimana juntrungannya.
"Alhamdulillah..."
Aku refleks mengusap muka dengan kedua telapak tangan.
"Kenapa??"
Vina nampak keheranan
"Aku senang deh, kamu udah gak sedih lagi, udah bisa ketawa lagi"
mendengar ucapanku, Vina tertunduk dan salah tingkah
Semua gelagatnya semakin membuat ia nampak menggemaskan.
"Ya udah.. gak usah malu-malu gitu, balik kelas yuk"
Ajakku.
"Iihh... siapa yang malu?? biasa aja!!!"
Vina lalu mengangguk dan jalan bersisian bahu denganku menuju kelas.
Sesampainya dikelas,
"Cieee... ciee..... udah baikannn"
Goda Nina saat menjadi orang pertama yang menyaksikan Aku dan Vina masuk kelas beriringan.
Elza dengan cepat berjalan kearah Vina yang baru saja tiba di depan bangku.
"Vin, beneran kamu berantem sama Daniel? dan sekarang udah baikan?"
Tanyanya dengan mata yang serius.
Sekilas Aku menoleh dan menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Vina.
"Hemmmm.... Gak ada yang berantem sayang...., cuma salah paham"
Mendengar jawaban Vina, Elza kini berbalik arah mendekatiku yang baru saja duduk.
"Kamu udah bisa senyum??"
Tanya Elza mendekatkan wajahnya padaku, sangat dekat hingga nyaris saja hidung mancungnya menempel pada mukaku.
Seketika matanya dan matakupun bertemu, sepasang mata bulat dengan bulu mata lentik itu terlihat begitu bening dan indah. Anehnya Aku baru menyadarinya pagi ini.
"Za.... apaan sihh... gak usah deket-deket gitu!! ntar kecium, Aku pulak yang salah!!"
Aku yang kaget, refleks mendorong jidat Elza agar segera menjauh dari wajahku sebelum muncul perasaan aneh-aneh lagi.
"Awwww... Danieeellll!!! Kasar banget sih lu jadi cowokk!! sakit tau!! kalau leher Aku kecengklak gimana??!"
Elza menggerutu jengkel sembari memegangi lehernya yang sakit.
"Lagian, siapa suruh dekat-dekatin kepala ke muka Aku!"
__ADS_1
"Akukan cuma mau nanya, kamu gak ngambek lagi??"
Kali ini Elza bertanya dengan jarak satu meter.
"Iya enggak!! ntar pulang Aku antar!!"
"Yeeeayyy..... "
Seru Elza kegirangan,
Melihatnya seperti sekarang membuat Aku tanpa sadar tersenyum.
Nina ikut bertepuk tangan, Vina juga tersenyum, Tapi Tari sibuk dengan buku diatas mejanya entah sedang mengerjakan apa.
......................
Teettttt.....!!
Akhirnya bel pulang sekolah tiba,
semua siswa berhamburan keluar.
Baru saja Aku melangkah keluar kelas, tiba-tiba saja langkahku terhenti, ketika kulihat Vina tertegun di depan kelas, seperti tengah ada yang dipikirkannya, dan benar saja Dia berbalik arah menahan Aku, Elza, Nina dan Tari.
"Ehmmm.... hampir saja Aku lupa, Ehhh... guysss.... bentar-bentar... jangan pulang dulu,"
"Waduhh... kenapa nih..."
Nina menatap bingung begitupun Elza, Tari dan Aku yang diam saling pandang heran.
"Gini, rencananya siang ini Aku sama Agung mau nonton, mau pada ikut gabung gak?? Kan seru tuh kalo rame-rame..."
Uhuk...!!! Uhukkk!!!
mendengar itu, mendadak Aku tersedak air liurku sendiri.
Mendengarku terbatuk-batuk, Vina melirik sesaat kemudian kembali berpaling.
Padahal Aku berharap Vina memberiku minum, menepuk-nepuk pundakku atau paling tidak bertanya apakah Aku baik-baik saja.
Ehmm... sungguh terlalu!
"Ahh... ntar malah kita ganggu quality time kalian?"
Elza mencolek Vina dan tersenyum genit.
Vina memainkan Mata pada Tari.
"Liat ntar ya Vin... nanti Aku kabarin"
Tari seperti tak berselera ikut.
"Kalau Aku yang penting ditraktir makan Aku mauuuuuu"
Jawab Nina sambil cengar cengir.
"Kamu Gimana??"
Vina berbalik menatapku dengan sorot mata tajam.
"Aku takut!!"
Jawabku singkat
"Takut? Takut apaan???"
"Takut jadi obat nyamuk!!"
"Huuuuu.... Dasar!!!!"
Sorakan kompak Nina dan Elza menyambutku.
"Ya udah, jam 3 kita ketemuan di 21 ya..."
tegas Vina sembari melambaikan tangan berlari meninggalkan kami, setelah nampak sebuah panggilan diponselnya yang entah dari siapa.
Tak lama setelah Vina berlalu, Tari menyusul begitupun dengan Nina.
Tinggal Aku dan Elza yang masih mematung.
"Niel... yuk pulang,, panasss!!!"
Elza menarik lenganku.
"Ntar duluuuu!!"
Aku menepis tangan Elza, dan berjalan mendekati gerbang sekolah.
__ADS_1
Aku ingin memastikan siapa yang baru saja menelpon Vina.
"Ehm... dugaanku benar, Si Agung!!"
gumamku.
Ahh... sebenarnya Aku benci pemandangan ini, dimana Agung berlaku manis pada Vina dengan memakaikan helm di kepala Vina sambil tertawa bersama.
Seketika dadaku terasa begitu panas.
"Heiii..... ngapain Luuuu!!! Ayoookkkk!!"
Elza kembali menarik lenganku.
Kali ini Aku menurutinya segera menuju parkiran dan pulang.
Sampai dirumah Elza,
"Niel,, bukain... susahhh!"
Elza mendekat dan menunjukkan pengait helmnya padaku.
"Dihhh... Buka sendiri!! gak usah manja!!"
Aku menolak namun tetap memperhatikan.
"Susah...!!! Tuh kan!!!"
Elza menarik-narik pengait Helm yang memang sudah sedikit berkarat.
"Ihh... nyusahin mulu hidup lu za,, sini Aku bantuin!!"
Membukakan Helm di kepala Elza mengingatkan Aku pada Vina dan Agung.
Andai... saja di depanku sekarang ini Vina,, ahh... mungkin hatiku akan berdebar.
Ehh... tapi, tunggu... tunggu.. kok hatiku beneran berdebar?!
Aku menelan ludah ketika kembali harus menatap mata bulat Elza sekali lagi dengan jarak yang dekat.
Buru-buru kubuang pandanganku.
"Enak aja!! bukan gitu, lagian helm buluk Lu kasih pinjam ke Aku!! ganti yang baruan dikit napa Niel...!!"
Omelnya.
"Ahh... jangan bawel!! udah untung ada!! dari pada Aku ganti batok kelapa, mau?!"
"Ihh sadisss!!"
Elza cemberut.
Kalau dipikir-pikir, Elza benar.. sudah sepatutnya Aku ganti helm baru, sudah hampir 3 tahun, Helm ini dipakai di kepala Elza itu juga helm bekas Ibuku yang entah sudah berapa tahun dipakai Ibuk, Aku lupa saking lamanya.
"Ehm... Nanti jemput Aku jangan telat!!"
Ujarnya sebelum meninggalkan Aku.
"Pe-de!!! Emangnya Aku mau datang??"
"Hem.... Danielll.... jangan becanda,, datang ya... kalo kamu gak datang, Aku gimana? Aku sama siapa kesana??!"
Rengek Elza.
"Mana Aku tahu,, pikir aja ndiri!!!"
"Kamu kok tega?? ntar kalo Aku sampe diculik gimana???"
Elza kembali mengeluarkan jurus andalannya.
"Ehmm.... Iya.... iya.....Oke!!"
"Hah?? Beneran..... ehmm thanks sweeetyyyy"
Elza menangkupkan kedua tangannya pada pipiku dan mencium keningku kemudian berlalu masuk kerumah.
Aku syok, terdiam dan terbelalak dengan kejadian barusan,
Glek!! Aku menelan ludah, jantungku berdetak sangat kencang,
"Apa itu tadi???"
Bisikku pelan.
Bersambung***
Bersambung***
__ADS_1