
Dua bulan berlalu dari hari pertunanganku dengan Agung, tak pernah lagi kucari tahu tentang Dirga,, bahkan nomor ponselnya pun telah terhapus dari kontak ponselku.
Sementara Agung, sebisa mungkin Aku hargai Dia sebagai tunanganku, meski hati tak bisa berbohong jika sebenarnya kujalani semua ini hanya dengan setengah hati.
Hari-hariku seperti kosong, berjalan diantara sepinya hati membuatku jarang sekali tertawa seperti dulu, perubahan sikapku ini pun sebenarnya dirasakan oleh Agung, dan pernah ia tanyakan kepadaku.
Namun, Aku hanya menjawab jika ini hanyalah bagian dari pendewasaan diri yang tengah menuju jenjang lebih serius.
Alasan yang kurang masuk akal memang, tapi mau bagaimana lagi, tak mungkin Aku jujur jika semua ini hanya tentang hati.
Agung masih sibuk, dan sering bolak balik Palembang Samarinda mengurus bisnis kafenya yang semakin menjamur, terbukti dengan akan kembali berangkatnya Agung keluar Kota minggu depan, menuju kota Batam, untuk pembukaan cabang baru kafe milenial miliknya, itu artinya Agung tak bisa menemaniku pergi ke acara Daniel dan elza.
Bicara tentang Daniel dan Elza,
Minggu depan adalah hari pernikahan mereka, lucu memang...
2 orang sahabat, yang sejak awal tak pernah bisa akur meski selalu bersama kemana-mana, akhirnya berjanji untuk saling melengkapi dan memutuskan segera menikah.
Tapi, apapun itu Aku turut berbahagia dan mendoakan kelanggengan hubungan mereka.
Dan Tari sampai saat ini masih menjadi misteri, dimana keberadaannya masih belum kami ketahui, tak ada kontak sama sekali, ia hilang bagai ditelan bumi.
Sabtu malam di kafe milenial,
"Kamu gak papa besok pergi sendiri?"
Tanya Agung sembari memegang cangkir kopi miliknya.
Aku yang tengah mengunyah makanan mengangguk.
"Jam berapa besok perginya?"
Tanya Agung lagi setelah menyeruput kopinya.
Aku menelan makanan tersebut dan menyeruput jus jeruk sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Agung.
"Pagi,, mungkin jam 7, gak mungkin Aku gak menghadiri akad nikah mereka."
Jawabku.
Agung manggut-manggut.
"Salam aja buat mereka ya.."
"Tapi kayaknya, besok Aku gak sendiri deh... katanya Mama sama Papa mau hadir juga.."
"Oh,, baguslah kalau begitu,, Aku jadi tenang"
Agung menatapku tersenyum.
"Kamu besok berangkat jam berapa?"
Kini giliranku yang bertanya tentang Dia.
"Abis subuh,"
Jawabnya singkat.
"Berapa lama?"
Tanyaku lagi.
"Gak lama,, paling semingguan atau ya... paling-paling lebih sedikit,, soalnya banyak orang lama yang Aku pindah kesana sementara, biar gak ribet,, nanti seiring berjalannya waktu,, mereka balik lagi kesini"
"Ohh.... "
mulutku membentuk bulatan.
"Kamu gak akan lama-lama rindu sama Aku,, tapi.... Aku juga gak yakin kamu bakalan rindu sama Aku.."
Agung tersenyum sendu.
Aku terperangah mendengar ucapan Agung barusan.
Kenapa Dia bisa bicara seperti itu?
Seolah tau, bahwa hatiku memang tak pernah merindukannya ketika Dia sedang jauh dariku,
Apa jangan-jangan Agung tau... jika sebenarnya Aku tak sepenuh hati menjalani hubungan ini dengannya.
Aku menatap Agung yang tengah menyeruput kopinya hingga tandas.
"Kok,, kamu bisa bicara begitu?"
Kucoba memberanikan diri untuk bertanya.
"Begitu gimana?"
tanyanya singkat.
"Yang baru saja kamu ucapkan,,"
Terangku.
"Oh,, gak lah... ya siapa tau,, kamu gak rindu Aku..he..he..he... Udah Ah,, kita pulang sekarang ya...."
Ajak Agung yang bersiap-siap akan beranjak dari kursinya.
__ADS_1
"Hah? sekarang?"
Aku melirik jam tanganku yang baru menunjuk kan pukul Delapan malam,
Agung mengangguk dan beranjak dari kursinya, dengan perasaan bingung Aku mengikutinya.
"Udah mau pulang Pak, cepat sekali?"
Sapa seorang staf kafe pada Agung dan Aku yang berjalan kearah luar.
"Ehm... Iya,, pulang dulu ya..."
Jawab Agung dengan tersenyum ramah, sementara tangannya meraih tanganku dan menggandengku berjalan keluar menuju mobil.
Sampai di dalam mobil,
Semakin terlihat kegelisahan pada Agung, beberapa kali terlihat Agung menghembuskan nafas beratnya.
Aku menatap Agung, kemudian tak lama, Agung menoleh dan balas menatapku dengan tersenyum tipis.
"Sayang... Aku boleh nanya? tapi... kamu janji jawab jujur"
Deg!!
jantungku berdegup mendengar ucapan serius dari Agung barusan, otakku berpikir dan hatiku bertanya-tanya apa yang sebenarnya dirasakan Agung, dan pertanyaan macam apa yang akan ia tanyakan padaku?
Seketika atmosfer didalam mobil tiba-tiba saja kurasakan berubah drastis menjadi panas hingga menimbulkan titik-titik keringat dibagian wajahku.
Dengan menelan ludah, kutarik beberapa lembar tissue di dekatku untuk menyeka wajah.
"Mau nanya Apa? kok Aku jadi tegang ya..."
Jawabku menatap lurus matanya.
"Kamu mencintai Aku?"
Glek!!
Aku kembali menelan ludah, bingung harus menjawab apa.
"Sayang,, apa kamu mencintai Aku?
Agung mengulang pertanyaannya.
Aku mengangguk pelan.
"Kamu yakin? kamu sedang tidak membohongi perasaan kamu? Apa selama ini kamu bahagia bersama Aku? Apa kamu nyaman? Apa kamu yakin benar-benar menginginkan hubungan ini?"
Pertanyaan beruntun dari Agung membuat tubuhku terasa merinding.
"Gung,, kenapa nanya seperti ini? Aku yang memutuskan menjalin hubungan ini, itu sudah cukup membuktikan bahwa Aku serius"
semakin membuatku bingung.
"Aku mencintai kamu.. sangat mencintai kamu Vin,, Aku tak ingin hubungan kita justru membuat kamu tersiksa"
Agung memegang bahuku, matanya menatapku sangat dalam.
"Kamu ngomong apa sih Gung?"
"Gak apa-apa, Aku cuma ingin kamu bahagia.."
Agung meraih jemariku dan mengecupnya.
"Udah ah,, jangan aneh-aneh.. Aku jadi takut"
Agung tersenyum,, kemudian membelai rambutku..
Tak lama, mobil yang kami naikin mulai beranjak pelan meninggalkan pelataran parkir kafe, suasana jalan masih sangat ramai, selain ini adalah malam minggu, ini juga belum terlalu malam, yang Aku herankan, kenapa Agung mengajakku pulang secepat ini, padahal biasanya belum mau beranjak kalau belum jam 10 malam, ini betul-betul membuatku penasaran.
Ada apa sebenarnya? dan pertanyaan-pertanyaan aneh tadi, sebenarnya apa yang ada dipikirannya sekarang, terlihat sekali Agung sedang tidak baik-baik saja,,
Aku mengenal Dia sebagai sosok yang santai, selalu tenang dalam hal apapun,, bahkan nyaris tak pernah meninggalkan senyum ceria walau apapun yang terjadi.
Tapi malam ini, Agung seperti bukan orang yang kukenal, wajahnya sendu, tatapan matanya menyimpan luka,, yang Aku tak tau karena apa, dan senyum itu... tergurat kesedihan yang dalam.
Sekali lagi Aku meliriknya, mulutnya mengatup, matanya menatap fokus jalanan didepannya.
Sampai didepan rumah,
Mobil berhenti,
Agung bersandar pada jok mobil,
Akupun demikian.
"Sayang, dirumah kamu ada headphone?"
Tanya Agung tiba-tiba.
"Headphone? untuk apa?"
Aku balik bertanya.
"Buat dengar lagu,,"
Jawabnya sembari menoleh kearahku masih dalam posisi bersandar.
__ADS_1
"Ada sih,, tapi gak tau masih berfungsi baik atau enggak,, udah lama soalnya gak pernah dipake,, terakhir waktu masih SMA."
Aku mencoba mengingat-ingat.
"Ehm... ya udah,, nih buat kamu aja..."
Agung menyodorkan bungkusan paper bag coklat padaku.
Dengan ragu bercampur heran, Aku menerima Paper bag itu dari tangan Agung.
"Apa ini??"
"Headphone!"
Jawabnya.
"Kok... ngasih Aku ini,, ehm... buat apa?"
Aku membuka paper bag coklat itu, sebuah Headphone hitam yang masih tersegel, menandakan ini masih baru, sepertinya sengaja ia beli untukku,, tapi untuk apa?
"Gung,, ada apa sih sebenernya? tadi kamu ngomong aneh, pertanyaan-pertanyaan kamu juga aneh tau gak,, dan ini lagi... buat apa kamu ngasih Aku barang ini? jujur ya.. aku bingung tau gak? kamu beda!"
"Enggak lah,, Aku gak beda kok... masih sama masih Agung yang dulu,, yang selalu sayang sama kamu."
Jawab Agung.
"Lalu... ini maksudnya apa??"
Aku mengangkat headphone tersebut dan menunjukkan pada Agung.
Agung tersenyum,,
"Oh... itu, Ehm... Aku ada lagu bagus banget, kamu pasti suka.. ntar abis ini Aku kirim,, tapi kamu dengernya pakai itu,, sambil rebahan menjelang tidur"
Jawab Agung sembari menunjuk headphone ditanganku.
Aku mengernyitkan dahiku bingung.
"Vin,, sini..."
Agung menatapku dan memberiku kode agar sedikit mendekat padanya.
"Aku sayang sama kamu,, cinta sama kamu,, Aku hanya ingin kamu bahagia..."
Agung menyambar cepat tubuhku, memelukku erat sembari mengelus kepalaku.
Aku semakin bertambah bingung dengan sikap Agung malam ini.
"Agung, kamu kenapa sih?! gak biasanya loh kamu gini?!"
Aku menatap wajahnya setelah Agung melepaskan pelukannya.
Agung hanya menggeleng.
"Mampir dulu?"
Tanyaku pada Agung yang kini berdiri dihadapan ku setelah sebelumnya bergegas turun dan membukakan pintu mobil untukku.
"Ehm... Aku langsung pulang aja ya... mau istirahat"
jawabnya.
Aku hanya diam dan terus memperhatikan gelagat yang tak biasa dari Agung, untuk pertama kalinya Aku melihat kesedihan di wajah itu.
"Ya udah, kamu masuk... salam aja buat Om dan Tante."
Aku mengangguk.
Agung kembali memutari mobil dan masuk kedalam mobil, tanpa menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangan seperti biasa, deru mobil meninggalkanku yang masih berdiri terpaku, memikirkan tentang segala keanehan Agung malam ini.
Setelah mobil lenyap dari pandangan mataku, Aku berjalan pelan masuk kedalam rumah yang masih terang benderang, itu menandakan bahwa penghuni rumah belum tidur.
Dan benar saja, kudapati Mama dan Papa masih berada di ruang keluarga dengan kopi dan cemilan diatas meja.
"Malam Ma... Pa..."
sapaku ketika melintasi mereka.
"Loh.. Vin, tumben udah pulang? kok cepat?"
Tanya Mama heran.
"Iya Ma,, besok Agung terbang abis subuh,, jadi takut kesiangan"
Jawabku yang mendekat kearah orang tuaku dan duduk di tengah-tengah mereka.
"Oh,, jadi Dia berangkat ke Batam besok?"
Sambung Papa.
Aku mengangguk.
"Lama?"
Sela Mama.
"Lebih kurang satu minggu Ma... ya udah,, Vina masuk kamar dulu ya Ma.."
__ADS_1
Pamitku yang ditanggapi anggukan dari Mama.
Bersambung***