Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 181 Lamaran


__ADS_3

Tak lama saling diam,


"Za,, Aku harus kembali ke kantor sekarang.. "


Ujarku sembari memegang pundaknya.


"Iya Vin,, makasih kamu sudah repot-repot kesini"


Aku menatap Elza dan mengangguk, kemudian berjalan keluar kamar bersama Elza.


"Ya udah,, Aku jalan ya.. maafkan Aku jika tak menjadikan hari ini sesuai dengan harapan kamu"


Ujarku bersiap meninggalkan Elza menuju mobil.


"Iya, kamu hati-hati.. tak apa Vin, setidaknya sekarang Aku sedikit lega sudah menceritakan dan menunjukan sebuah kenyataan tentang hati dan perasaan Daniel yang selama ini ia tutupi dari kamu"


Aku menelan ludah mendengarnya, dan mengingat lagi isi dari semua tulisan yang tadi kubaca.


Aku memilih tak menjawab dan memilih untuk segera berbalik badan masuk kedalam mobil dan segera berlalu meninggalkan Elza yang masih berdiri sembari melambaikan tangannya padaku.


Sampai dikantor, segera kusibukkan kembali diriku dengan segala rutinitas pekerjaan.


Hatiku benar-benar sedang kacau, pikiranku terus saja tertuju pada permintaan konyol Elza dan tulisan-tulisan di buku agenda tersebut.


Ahhh... sial, gara-gara membaca isi buku tersebut sekarang Aku jadi tak bisa berkonsentrasi.


Bahkan hingga sore menjelang pulang kantor Ucapan Elza tentang penyakitnya terus saja terngiang-ngiang di telingaku, bahkan permintaan terakhir yang Dia ucapkan menjadi beban baru didalam hati yang baru saja ingin menata masa depan bersama Dirga.


......................


Malam yang kunantikan tiba,


5 menit menuju pukul tujuh malam, Aku tengah duduk didepan cermin merapikan rambut, Aku menatap wajahku sendiri didepan cermin sembari tersenyum.


Sebentar lagi, Dirga akan datang bersama keluarganya untuk melamarku, hal yang selalu kuimpikan sejak dulu,, akhirnya malam ini semua akan menjadi kenyataan.


Aku bahagia,, sangat bahagia.. Akan menjadi pendamping laki-laki yang yang paling kucintai, sejak pertama kali Aku memandangnya kala itu,, dan tak kusangka, perasaan yang sama juga ia rasakan.


Cinta ini terbalas,, meski harus melewati banyak drama didalamnya.


Ahh... Dirga,, Aku berharap tak ada lagi drama yang terjadi setelah malam ini,, tapi....


Bagaimana dengan permintaan Elza?


dan buku harian itu?


Daniel?


Ahh... Aku tak ingin mengingatnya!!


Fokus!! Fokus!!


Cicitku sendiri di dalam kamar.


"Vina.... Vin..."


Tok... Tok... Tok...!!


Terdengar panggilan lembut Mama dari luar kamar sembari mengetuk pelan pintu.

__ADS_1


Aku beranjak untuk membuka pintu,


"Iya Ma,,"


"Itu, Sepertinya Keluarga Dirga sampai.. mari kita sambut"


Ajak Mama menunjuk kedepan,


Aku mendengar suara deru Mobil yang baru saja berhenti tepat didepan rumahku.


Aku mengangguk dan menggandeng tangan Mama berjalan kedepan, Papa sudah bersiap didepan pintu.


"Assalamualaikum..."


Salam dari luar,


Mama membuka pintu,


"Walaikum salam..."


Jawab Mama dengan senyum ramah,


Terlihat Dirga datang bersama semua keluarganya.


Setelah sambutan dengan bersalam-salaman, Kami mengajak keluarga Dirga untuk masuk kedalam.


"Silahkan... silahkan.. Buk, Pak.. silahkan duduk, Ehm.. Vina,, buat minum ya Nak.."


Ujar Mama padaku, Aku mengangguk.


"Iya Ma..."


Jawabku.


mendengar itu, Aku segera menoleh kearah asal suara, nampak wajah imut Bella sedang tersenyum manja dengan menampakkan deretan gigi putih dan rapi miliknya,


Aku membalas senyum itu dan mengangguk,


"Boleh,, yuk! "


Jawabku mengulurkan tangan padanya,


Bella menyambutnya dan kami berdua bergegas ke dapur.


Celoteh-celoteh ringan serta candaan-candaan mewarnai kami selama berada di dapur membuatkan minum dan menyiapkan makanan.


Aku merasa dekat sekali dengan Bella yang padahal baru dua kali bertemu dengan malam ini. Aku seperti menemukan sosok Adik yang sejak dulu sangat kurindukan didalam diri Bella.


"Kak, nanti... setelah Kakak menikah dengan Abi,, Aku pasti makin kesepian!"


Tiba-tiba saja Bella menjadi murung.


"Loh,, kok bisa? emang kenapa kok kesepian..?"


Tanyaku memegang tangan Bella.


"Ehm.. Iya,, dulu sebelum Cia menikah, kami selalu bertiga kemana-mana,, bahkan tidurpun kadang-kadang kami suka berkumpul dalam satu kamar, cerita, curhat ketawa-tawa.. tapi setelah Cia menikah dan keluar dari rumah,, kami jarang kumpul, kumpulnya cuma saat Cia menginap dirumah kalau suaminya Dinas keluar kota,, dan sekarang... Abi juga mau nikah,, ehmm...."


"Hey... Bel, gak boleh ngomong gitu,, malah Asyik donk... temennya kamu ngobrol jadi nambah satu,, Aku bolehkan jadi temennya kamu juga kayak Abi dan Cia?"

__ADS_1


Ujarku menatap wajah manis Bella.


Seketika senyum diwajah Bella kembali terkembang,


"Maksih ya Kak Vina..."


Dengan tiba-tiba Bella memelukku, seketika kurasakan dekapan tulus seorang Adik kepada Kakaknya,


"Ternyata begini rasanya memiliki Adik"


Batinku yang memang sejak dulu mendambakan saudara.


Selesai membuat Minum,


Aku dan Bella segera membawanya menuju meja ruang tamu.


Aku dan Bella duduk bersebelahan dan segera menyimak obrolan dari dua keluarga.


"Kedatangan kami kesini untuk mewakili Dirga, menjadi walinya sebagai pengganti kedua orang tuanya, niat kami ingin melamar Vina untuk menjadi menantu kami"


Kata-kata Paman Usman, Pamannya Dirga membuat jantungku bedegup, hatiku deg-degan bukan main, sesekali mataku melirik kearah Dirga yang terlihat tegang.


Bella menolehku, seolah tau dengan kecemasan yang kian menderaku, Bella meraih tanganku dan menggenggamnya.


Aku mengalihkan pandanganku dengan menoleh Bella lalu tersenyum.


"Alhamdulillah,, sebelumnya Saya sebagai Ayah dari Vina berterimakasih atas niat yang bapak haturkan, kami juga sudah tau tentang niat ini dari Dirga sebelumnya, dan kami menyetujui niat baik itu.."


Jawab Papa.


"Alhamdulillah,, syukurlah kalau begitu, jadi untuk itu, kami mau menyerahkan cincin ini sebagai tanda lamaran dari kami,, sesuai permintaan mereka berdua yang tak ingin menggelar acara pertunangan"


Bi Umi mengeluarkan kotak cincin dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Mama.


Mama menerimanya, lalu membukanya, dan memberikan salah satu cincin tersebut pada Bi Umi.


"Sini Vin,, duduk sini"


Panggil Mama menyuruhku untuk duduk disebelah nya, begitupun Bi Umi yang juga memanggil Dirga untuk duduk bersebelahan denganku.


Setelah itu, Mama dan Bi Umi menyerahkan cincin itu pada kami untuk segera dikenakan di jari masing-masing.


Suasana menjadi hening tiba-tiba, semua mata tertuju pada kami berdua,


sementara ketegangan terjadi antara Aku dan Dirga, jantungku terus berdegup kencang, terlebih saat Dirga menyematkan cincin itu pada jari manisku begitupun Aku yang dengan sedikit gemetar ketika menyematkan cincin dijari manis Dirga.


"Alhamdulillah...."


Seru semua seiring dengan tepuk tangan meriah dari seisi ruangan.


Aku dan Dirga menghela nafas lega,


Akhirnya perjalanan panjang kami berakhir di sebuah ikatan, sebentar lagi ikatan resmi akan membawa kami ke gerbang pernikahan.


Sungguh perjalanan yang tidak mudah,, namun Aku yakin akan segera berakhir indah.


Meski bayangan wajah teduh Elza terus berkelebat dalam pikiranku, namun Aku berusaha untuk tidak memikirkan itu dulu,


"Maafkan Aku za.. Aku bukan jahat,, tapi ini impianku, ini cinta pertamaku,, dan ini masa depanku"

__ADS_1


Batinku.


Bersambung***


__ADS_2