
Mobil terus melaju sementara Dirga masih diam membisu dan Aku masih mencari masa untuk bilang ke Dirga bahwa janji satu pekan yang kami sepakati akan berakhir hari ini.
"Vin,, besok... kamu mau gak main ke rumah Paman Aku, biar bisa kenal sama Syintia dan Bella yang pernah kamu anggap istriku?"
Pertanyaan Dirga membuatku menelan ludah seketika.
Kemudian menarik nafas untuk menenangkan hatiku yang tengah berkecamuk.
"Gimana?? Mau??"
Ulang Dirga kali ini dengan menolehku sesaat.
"Dir... Besok Agung balik!"
Ujarku dengan menunduk menahan sesak.
Mendengar itu, Dirga mendadak menghentikan laju mobil, kemudian menolehku dengan tatapan tegang.
"Agung balik?? itu artinya...."
Dirga tak melanjutkan ucapannya,
Aku mengangguk,,
"Satu pekan,, berakhir hari ini"
sambungku.
Dirga mengatupkan bibirnya kemudian mengangguk dengan mata merah.
Tak lama setelah terdiam,
Dirga kembali melajukan mobil, namun baru berjalan sejauh beberapa meter,, mobil putar balik hal itu membuatku kaget dan berpikir jika Dirga marah, dan akan membatalkan kebersamaan kami hari ini. Padahal hanya tinggal hari ini yang tersisa untuk kebersamaan kami.
Tergurat kekecewaan dihatiku.
Aku terus menatapnya, berharap ada sepatah kata yang keluar dari mulut yang mengatup itu.
Bahkan sebentar lagi, mobil akan melewati halte menuju rumahku, sementara Dirga terus saja maju tanpa ada tanda-tanda mengurangi kecepatan untuk berhenti, itu artinya Dirga bukan ingin mengajakku pulang.
Sampai didepan halte, mobil terus saja melaju cukup kencang.
Kemana Dirga akan mengajakku pergi?
Bukankah jalan yang sedang kami lewati ini adalah jalan menuju keluar daerah?
Apakah Dirga akan mengajakku pergi keluar daerah??
Apa jangan-jangan Dirga ingin mengajakku kabur?
Kawin lari??
Astaga!!!!
Tubuhku seketika bergetar, dengan jantung yang berdegup tak menentu, dada yang terus bergetar hebat, dengan bulu roma yang meremang.
"Ya Tuhan... Tenangkan hatiku"
Bisikku dalam hati.
"Dir,, kita mau kemana??"
Kuberanikan diri untuk bertanya diantara bibir yang bergetar, dan tangan yang gemetar, antara takut dan gelisah bercampur menjadi satu.
"Aku mau kita pergi ketempat yang tenang, menikmati dan menghabiskan cinta yang masih tersedia di sisa hari yang kita miliki untuk bersama"
Dirga menjawab tanpa menoleh sedikitpun kepadaku.
"Kemana??"
Tanyaku.
"Kamu mau kan??"
"Iya tapi kemana??"
__ADS_1
desakku.
"Kita ke kebun teh"
Mendengar itu, aku tersentak.
"Kebun Teh?"
Ulangku.
Dirga tak menjawab, hanya mengangguk.
Aku terdiam,
Daerah wisata yang lumayan jauh dari kotaku.
Sekitar 6 jam untuk menuju ke lokasi wisata puncak gunung dan kebun teh tersebut.
"Dir,, apa itu enggak terlalu jauh?"
Dirga menggeleng.
Perjalanan tetap berlangsung dengan kecepatan maksimal, dan sempat berhenti beberapa kali untuk makan dan buang air kecil.
Sepanjang perjalanan, Antara Aku dan Dirga hanya Diam membisu, tak seperti biasanya.
Hanya sesekali Kami saling pandang dan melempar senyum getir.
Hampir 6 jam, Jalanan mulai menanjak, suhu dingin khas pegunungan mulai terasa, beberapa kali Aku menggosok telapak tanganku dan meniupnya sendiri.
Hal tersebut ternyata tengah diperhatikan oleh Dirga,
"Kamu kedinginan??"
Tanyanya meraih tanganku lalu menggenggamnya erat.
"Sedikit"
ujarku.
"Sabar ya,, bentar lagi sampe.."
Nampak didepan, sudah terlihat beberapa mobil berhenti, itu artinya kami sudah sampai, Dirga mulai melambatkan laju mobil dan mencari tempat untuk berhenti.
Hampir tengah hari, matahari sudah meninggi, namun suhu begitu terasa sangat sejuk bahkan dingin ketika Dirga membukakan pintu mobil dan aku keluar.
Hamparan kebun teh yang menghijau menyambut kedatangan kami, Dirga menggandeng tanganku dan mengajakku berjalan pada sebuah warung pinggir jalan yang menyediakan kopi hangat serta mi rebus.
"Kita hangatkan badan dulu ya sayang.."
Ujarnya merapikan rambutku yang tertiup angin sepoi-sepoi.
Sungguh kami berdua bagai sepasang kekasih yang tengah liburan, bahagia dan menyenangkan, siapa sangka dibalik pemandangan indah dimata orang-orang sekitar, banyak luka yang tengah kami pendap dalam hati masing-masing.
Di pondok kopi,
Seorang Bapak pedagang menyambut kedatangan kami dan menawarkan dagangannya ramah.
"Mau kopi apa Mas sama Mbaknya?"
"Boleh Pak,, ada apa aja Pak?
"Ada kopi tubruk hitam, ada kopi susu, Teh, Mi rebus,, "
"Mi rebusnya dua Pak, pakai telor sama cabe rawitnya jangan lupa, minumnya kopi hitam satu sama Teh manis panas satu,,"
Ujar Dirga pada sepasang suami istri yang tengah berbagi tugas, memasak Mi dan membuat minum untuk kami.
"Kamu tunggu sebentar ya sayang... Aku mau beli sesuatu.."
Dirga mengelus bahuku dan mengecup kepalaku, kemudian berlalu meninggalkanku di pondok Kopi.
Ya Tuhan,, perlakuan Dirga dan panggilan itu...
sungguh, sangat membuatku nyaman, begitu lembut dan tanpa canggung,, seperti benar tengah menjalin hubungan, padahal.. ini hanya perjanjian sepekan yang akan segera berakhir sebelum waktu yang disepakati.
__ADS_1
Dari kejauhan, Aku melihat Dirga setengah berlari dengan membawa bungkusan ditangannya.
"Lama gak?"
Sapanya begitu sampai di dekatku dan kembali duduk menghadap kopi yang baru saja di suguhkan Bapak penjual kopi.
"Dari mana? itu apa?"
Tanyaku menunjuk bungkusan di atas meja.
"Ini... Aku beli syal dan topi bat kamu"
Dirga mengeluarkan Syal dan topi rajut dari dalam kantong bungkusan itu lalu melilitkan syal di leherku kemudian memakaikan topi pada kepalaku.
"Imut banget,, kayak anak SMA"
Dirga menarik hidungku lembut.
Mendapat perlakuan manis itu, Hatiku kembali mencair, dan berusaha membuang kecanggungan yang dari tadi hadir di hatiku.
"Kalau aslinya imut, ya mau pakai apa aja masih akan tetap imut"
Ujarku dengan nada sombong.
Dirga tertawa, menampakkan deretan gigi nya yang rapi.
Disela-sela tawa renyah kami, mi rebus pesanan kami selesai dimasak, aroma yang menggugah selera serta hamparan cabe rawit diatas telur dan Mi yang masih mengepul, seketika membuat perut tak sabar untuk melahapnya segera sebelum suhu membuatnya dingin.
Setelah panggilan sayang, perlakuan manis dan kelembutan sentuhan yang membuatku meleleh, Keromantisan Dirga kembali ia ciptakan dengan menyuapkan potongan telur ke mulutku dan menyeka mulutku yang basah selepas minum,
Hal-hal kecil yang membuatku seperti terhipnotis untuk masuk kedalam romansa cinta yang sedang ia tawarkan.
Selepas makan,
Dirga kembali mengandeng erat tanganku meninggalkan pondok kopi menuju perkebunan teh, beberapa kali mengambil foto disana, kami menuju sebuah tempat duduk,
"Sayang, kamu bahagia hari ini?"
Dirga merangkul pundakku dan merebahkan kepalaku di pundaknya.
"Ya... aku bahagia"
Jawabku mantap.
"Kenapa Kamu mau ikut Aku?? kamu tidak takut Aku culik?"
Tanya Dirga lagi.
Aku menggeleng,
"Aku tau,, kamu tak kan tega melakukan itu"
Aku mendongakkan kepalaku menatap Dirga yang tersenyum simpul.
"Itukan kata kamu,, kamu tau gak,, setelah ini.. Aku akan bawa kamu pergi jauh dan tak kan bisa kembali lagi,, gimana?? apa kamu masih bisa bilang Aku gak akan tega??"
Dirga menatapku lekat.
"Aku lebih percaya hati Aku dari pada mulut kamu!!"
Aku menepis wajah Dirga lembut.
Dirga tertawa,
"Sayang,, Aku gak akan senekat itu... Aku masih waras,, cinta ini memang membuat Aku gila, tapi ini tidak akan membuat Aku menjadi mati hati,, Aku sayang sama kamu, tapi Aku tak bisa memaksa kamu terus bersama Aku meski hati ini mau,,"
Aku memeluk tubuh Dirga, air mataku mengalir tanpa permisi, hatiku terasa pedih,, seperti luka yang tercucur air garam perih..
Dirga membalas pelukanku, beberapa kali mengusap kepalaku.
"Menangislah sayang, habiskan duka dan luka yang masih bersisa,, setelah ini... Aku percaya,, kamu pasti akan bahagia... Agung tak akan pernah menorehkan luka,, ia tak kan sampai hati membuat mata indah ini basah oleh air mata. Agung mencintai kamu,, aku percaya itu..."
Kata-kata itu semakin membuat Air mataku deras mengalir.
Andai saja kamu tau,, bahwa bahagiaku adalah kamu Dir...
__ADS_1
Batinku.
Bersambung***