Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 124 Semesta merestui


__ADS_3

Setelah kejadian di koridor sekolah itu, Vina terasa sekali menghindariku setiap kali Aku berusaha mendekatinya, namun hal itu justru membuatku semakin tertantang untuk mendekatinya, tak peduli apakah Vina dan Dirga sudah jadian yang terpenting buatku adalah usaha meluluhkan hatinya dengan segala kesabaran dan ketulusan yang kupunya, maka akan selalu ada jalan untuk ku mendapatkan hati Vina.


Dirumah,


Semua keluarga besar tengah sibuk mempersiapkan pernikahan Mbak Echa, Kakak perempuan pertamaku yang akan menikah minggu ini.


Satu hal yang membuatku sedikit penasaran adalah ketika tak sengaja Aku mendengar Mama sedang bercakap dengan seseorang melalui telpon rumah, Mama menyebut nama Vina, bahkan mengharapkan Vina datang acara minggu nanti di resepsi pernikahan Mbak Echa,, otakku yang memang sedang terkontaminasi dengan apa saja tentang Ervina, tiba-tiba saja berharap bahwa Vina yang berbicara dengan Mama di telpon adalah Vina yang sama dengan yang kini selalu bertengger dihatiku.


Tak sadar Aku jadi senyum-senyum sendiri saat berada di tengah-tengah keluarga besarku.


"Ma.. lihat Agung,, ngapain ngelamun sambil senyam senyum gitu!"


Terdengar Mas Irfan berbicara dengan Mama,, tapi entah mengapa Aku sama sekali tak tertarik untuk menanggapi nya,, Aku lebih memilih melanjutkan lamunanku tentang si manis Vina,,


"Agung mendadak budek Ma!! Eh.. Mbak liat tu Agung kelakuannya bikin ngeri!!!"


Tak direspon Mama, Mas Irfan beralih pada Mbak Echa yang kebetulan sedang duduk disampingku.


Aku tetap tak menggubris cibiran Mas Irfan.


"Dek.... Kesurupan??!"


Mbak Echa tiba-tiba mengusap mukaku, membuat Aku terkesiap dan sadar segera dari lamunan indahku.


"Apaan sih Mbak!! ganggu aja!"


Aku memperbaiki posisi dudukku disebelah Mbak Echa, lalu Mas Irfan pun mendekat.


Sebenarnya suasana seperti ini begitu sangat kurindukan, bukan tanpa alasan, semenjak Mas Irfan memutuskan kuliah diluar kota, dan Mbak Echa sibuk kerja, Aku jadi kesepian dan jujur selalu merindukan masa kecil kami yang selalu bersama-sama.


"Kamu lagi jatuh cinta ya?? cerita donkkk..."


Ledek Mas Irfan, mendengar itu Mbak Echa berbalik menghadapku dan menatapku menyelidik,,


"Beneran dek? kamu lagi jatuh cinta? sama Siapa? gimana orangnya? cantik gak? Anak mana? Cie... Adek bungsu kesayangan Mbak udah gede....!! udah bisa jatuh cinta"


Mbak Echa mencecar dengan banyak pertanyaan lalu memeluk dan ngunyel-unyel kepalaku.


"Mbakkk...!!! haduhhh,, Aku udah gede,, bukan bayinya Mbak Echa lagi,, ngapain di unyel-unyel gini!!"


Aku berusaha melepaskan diri dari kebiasaan Mbak Echa.


Mama yang memperhatikan kami ikut tertawa menyaksikan keakraban kami bertiga.


"Makanya cerita!!"


Paksa Mbak Echa, yang ditanggapi anggukan Mas Irfan


"Belum pacaran, tapi baru suka aja.. adek kelas,, cantik,, dah... dah dijawab semuakan,, puaskan kalian??"


Jawabku dengan sedikit malu-malu.


"Oke deh,, mbak doain semoga siDia juga suka.. semangat!!!"


Hibur Mbak Echa, mengepalkan tangan ke udara.


"Ah,, paling juga cinta monyet Mbak,, hari ini suka, besok berantem musuhan trus besoknya lagi suka sama yang lain!"


Celetuk Mas Irfan membuatku sedikit berkecil hati.


"Eh.. gak boleh gitu Mas,, kita harus dukung dan semangatin si bungsu kita ini... Mas irfan dulu juga gini kan pas masih SMP?"


Mbak Echa membelaku,, membuat Mas Irfan tersenyum malu.


Hari pernikahan Mbak Echa tiba,


Sedari subuh, semua sudah bersiap dan sibuk dengan urusan, tugas dan tanggung jawabnya masing-masing,

__ADS_1


Karena akad nikah dan resepsi dilakukan dihari yang sama, hal itu membuat kami semua harus sudah siap sebelum pukul 8 pagi.


Acara Akad Nikah akan segera berlangsung, Mama, Mbak Echa, Mas Irfan dan Aku menuju tempat yang sudah disiapkan, pagi ini, Mas Irfan yang akan menjadi wali nikah Mbak Echa, hal itu membuat suasana bahagia yang sejak kemarin dipenuhi canda gurau berubah seketika menjadi haru, rasa rindu akan kehadiran Papa di tengah-tengah kami membuat Mama menitikkan air matanya, melihat itu Mbak Echa, Mas Irfan dan Aku turut terbawa suasana.


Ditengah-tengah momen mengharu Biru, tiba-tiba saja Aku seperti melihat Vina di depan rumah diantara para tamu yang mulai berdatangan.


Aku buru-buru berjalan keluar,, namun baru beberapa langkah, Aku terdiam mematung.


Tak lama, Aku terkesiap, dan buru-buru mengerjapkan mata serta menggeleng-geleng tak percaya.


"Gak...! gak...! gak mungkin ada Vina,, sepertinya ini dampak dari otakku yang terkontaminasi oleh Vina, makanya


sekarang Aku sedang berhalusinasi,, ya.. pasti ini halusinasiku saja!"


Batinku.


Aku kembali berbalik masuk kedalam rumah untuk menyaksikan Akad Nikah Mbak Echa.


Acara Akad berjalan lancar dan hikmat, tangisan haru pecah, hingga membuat seisi ruangan turut dalam haru yang keluarga kami rasakan, tidak terkecuali Aku yang turut menyeka air mata disudut mataku.


Tibalah saat resepsi, setelah berganti pakaian, pengantin di antar untuk duduk di atas pelaminan menghadap kepada para tamu undangan.


Rangkaian demi rangkaian acara berlangsung sampailah pada momen foto keluarga.


Pada saat momen foto keluarga, Mataku menangkap pemandangan indah tepat lurus dihadapanku.


"Vina?!"


Ucapku lirih,


Beberapa kali ku pejamkan mata, namun Vina masih tetap ada disana, tak puas dengan itu, Aku mengusap mataku berkali-kali dengan tangan, namun Bayangan Vina tak juga berlalu.


"Ya Tuhan.. Apa ini nyata? apa itu beneran Vina? lalu mengapa Dia berada didekat Tante Yuni? Apa jangan-jangan... Ya Tuhan,, semesta merestuiku,, terima kasih Tuhan,, terimakasih keadaan,, terimakasih kesempatan..."


Batinku yang masih tak percaya namun sangat bahagia.


Rasa tak sabar lagi ingin menyudahi sesi pengambilan foto keluarga.


Begitu tiba di depan Vina, Tante Yuni dan Suaminya.


"Lochh..Vin..kamu ada disini juga??"


Tanyaku basa basi, lalu mencium tangan Tante Yuni dan suaminya.


"Tante kok bisa bareng Vina??Tunggu.. tunggu... Emang nya Tante ini mama nya Vina ya??"


Tanyaku ingin segera mengakhiri rasa penasaranku


"Iya,,gak nyangka ya Gung??..hehehe"


Jawab Tante Yuni senyum-senyum.


"Vina juga baru tau kalau kamu itu anak Tante Ruri,, dia juga tadi kaget loch??


celetuk Tante Yuni sembari melirik Vina yang terlihat kikuk kemudian menunduk.


Aku tak ingin membuang kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Vina, dengan santai, Aku mendekati Vina dan duduk disampingnya.


"Kamu cantik sekali Vin,,?"


Pujiku sembari menatapnya yang terlihat beberapa kali menghindari tatapanku.


"Makasih"


Jawabnya ketus.


"Ehm...kamu masih marah ya, soal kemarin?"

__ADS_1


"Yang mana??"


"Yang di koridor,, Aku minta maaf ya"


"Oh..gak pa- pa"


"Lalu???"


"Lalu apa??"


"Kok jutek??


Mendengar itu, Vina dengan cepat menoleh kearahku sesaat kemudian kembali membuang muka.


" Tuh kan bener,, masih marah...."


" Udah lah gak usah di bahas!!"


"Oke..oke..."


"Eh vin,,gak nyangka ya... ternyata keluarga kita udah saling kenal,, udah deket banget malah ya..."


Sambungku mulai ingin mengakrabkan diri.


" He eh"


Vina mengangguk kecil..


Terlihat sekali Vina tidak nyaman ketika Aku berada disampingnya, hal itu membuatku memutuskan untuk pergi menjauh.


"Eh vin,, dah waktunya makan,, kamu makan ya,,, Aku tinggal dulu."


Aku beranjak dari kursi disamping Vina.


"Tante... Om... silahkan !"


Aku menunjuk meja makan pada Kedua orang tua Vina.


"Iya Gung,,makasih banyak"


Jawab Tante Yuni dan suaminya kompak.


Setelah menjauh, Aku menoleh kearah Vina yang terlihat lega dengan kepergianku.


Setelah rangkaian akad dan resepsi selesai..


Terlihat Vina dan kedua orang tuanya berjalan menuju atas pelaminan, sepertinya akan bersalaman.


Saat pamit pulang,,


"Haduhhh,, makasih ya Yuni udah datang"


ucap Mama.


"Sama-sama"


Jawab Tante Yuni.


"Oh ya..ternyata Agung dan Vina satu sekolah Ri... Dan ternyatanya lagi... Mereka saling kenal"


Sambung Tante Yuni antusias menceritakan yang terjadi.


"Masak sich? bagus lah kalo gitu.."


Jawab Mama.


Mereka lalu tertawa..

__ADS_1


Sementara Aku dan Vina hanya terdiam dan tertunduk malu-malu.


Bersambung***


__ADS_2