Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 51 Ciuman itu...


__ADS_3

Menikmati malam terakhir di kota kelahirannya, mungkin itu yang tengah dirasakan Agung, bersamaku dan sekantong cemilan beserta beberapa botol minuman.


Beberapa kali Agung menawariku untuk mengajak makan, namun Aku menolak, selain malas untuk beranjak dari taman Kota yang membuatku nyaman, perutku juga menolak karena kenyang.


Hingga tanpa terasa 2 jam berlalu.


"Vin, udah malam.. kita pulang ya... nanti Aku dimarahin Papa kamu karena kemalaman"


Agung beranjak dari bangku Taman bersiap untuk mengajakku pulang.


Aku mengangguk.


Agung mengulurkan tangannya padaku, dengan sedikit canggung Aku meraih tangan itu untuk berdiri.


Diatas motor, saat tengah melaju kami hanya saling diam, hingga kurasakan tangan Agung menarik tanganku dan melingkarkan di pinggangnya, hal itu tentu saja membuatku terkejut, mau tak mau tubuhku menempel pada tubuhnya, jantungku tiba-tiba saja berdetak lebih kencang, hatiku bagai tersengat aliran listrik tegangan tinggi yang untuk pertama kalinya Aku rasakan.


Aku menggigit bibirku dan memejamkan mata, berharap Agung tak merasakan debaran yang tengah Aku rasakan saat ini.


"Ya tuhan, perasaan apa ini?? Apa mungkin seminggu bersamanya membuat benih-benih cinta mulai tumbuh?"


Tanyaku dalam hati.


"Ini tidak mungkin, ini tak boleh terjadi, dihatiku hanya ada Dirga.. tak boleh terganti!!"


Aku meyakinkan diri.


Kurasakan motor melambat, dan perlahan berhenti.


"Kenapa Gung?"


Tanyaku heran, dan spontan melepaskan lingkar tanganku dari pinggang Agung.


"Gak pa-pa... cuma pingin lihat wajah kamu lagi, candu!!"


Ujarnya tersenyum tipis.


"Kamu sekarang punya hobi baru ya?"


Tanyaku membuat Agung bingung.


"Hobi baru?? Apaan?"


"Ya.. hobi ngegombal!!"


Senyum Agung melebar, begitupun denganku.


"Ayok jalan lagi, Aku takut... ntar kita ditangkap polisi gara-gara mangkal disini..wkwkwk"


Aku menepak bahu bidang Agung.


"Vin, Aku....."


Agung tidak melanjutkan ucapannya, ia meraih tanganku dan menggenggam dengan dua telapak tangannya.


Hatiku kembali terasa panas dingin, nafasku memburu cepat.


"Aku... ehm... Aku masih ingin bersama"


ucapnya dengan sorot mata menatapku lekat tak berkedip.

__ADS_1


"Gung.... kamu kenapa sih?? jangan liatin Aku gitu donk, Aku takut!!"


Aku menutup matanya dengan telapak tanganku dan mengusap wajahnya hingga membuat Agung kembali tersenyum lebar.


"Udah ah, yuk pulang!!!"


Ajakku mencoba bersikap biasa yang padahal sesungguhnya Aku sedang Deg-degan parah.


Agung kembali menyalakan motor dan kembali melaju.


Sesampainya dirumah,


"Kamu mampir dulu kan?"


Tanyaku sembari menyerahkan helm.


"Iya, sekalian pamit sama Mertua.. ups... hahah"


Agung tertawa begitu mendapati Aku mendelik tajam kearahnya.


Beruntung kedua orang tuaku belum tidur, mereka tengah menonton di ruang keluarga.


"Ma.. Pa, Agung mau pamit, besok pagi mau balik ke Samarinda."


Ujarku menemui kedua orang tuaku.


Sementara Agung yang baru saja masuk, kupersilahkan untuk duduk.


"Oh, besok ya Gung, loh bukannya kata Vina Kamu disini seminggu ya?, emang besok itu udah seminggu ya??"


Pertanyaan Papa membuatku memanjangkan telinga, guna mendengar alasan Agung tentang kepulangannya besok pagi.


"Belum Om, iya harusnya seminggu, cuma ada satu hal yang mengharuskan Agung memangkas liburannya, hehhe jadi harus pulang besok"


"Ohh, gitu... kamu hati-hati ya.. sampaikan salam Tante sama Om buat Mama kamu"


Sambung Mama.


"Iya Tante... nanti disampaikan, Oh ya Tante... Agung mau langsung pamit pulang, udah malam"


Mama, Papa, dan Aku berjalan kedepan mengantar Agung sampai depan pintu, setelah acara salam-salaman, seolah paham keadaan, Papa dan Mama meninggalkan kami berdua di depan sengaja memberikan Kami waktu untuk bicara berdua.


"Vin, Aku pamit ya... Kamu baik-baik, belajar yang benar, jangan sering keluyuran.. kan ntar lagi ujian Akhir"


Kalimat pertama yang keluar dari mulut Agung setelah orang tuaku masuk meninggalkan kami.


"Siapp... kamu juga, hati-hati disana... jangan rindu Aku ya..."


Astaga, pesan apa ini... kenapa seolah memancing.


Batinku,


"Jangan rindu?? Tak mungkin...bahkan sejak pertama kali Aku meninggalkan kota ini, Aku selalu merindukan Kamu"


Kalimat yang seharusnya tak pernah kupancing untuk ia ucapkan.


Deg!!


Jantungku kembali berdetak, ketika kedua tangan Agung meraih kedua tanganku.

__ADS_1


"Vin, Seandainya Aku boleh jujur, sampai saat ini perasaanku masih sama sejak pertama kali Aku melihatmu di koridor sekolah, Aku mencintaimu sejak pandangan pertama itu!"


Kalimat itu meluncur bebas dari mulut Agung bersama dengan tatapan dalamnya yang terasa menembus hatiku, terlebih ketika tangannya menuntun tanganku menuju dadanya dan menempelkannya disana.


"Vin, rasakan getaran ini,, masih sama seperti dulu, bahkan ketika Aku terus berusaha menepisnya dari sini, perasaan ini semakin tumbuh dan menjadi-jadi"


sebuah kecupan berlabuh pada punggung tanganku.


Aku terpaku, diam tak berkata-kata.


"Maaf,, jika hal ini membuat kamu tak nyaman Vin.... Aku pulang ya..."


Agung melepaskan tanganku, berbalik bersiap meninggalkanku.


"Gung... !!"


Cegaku ketika dua langkah kakinya beranjak meninggalkanku.


Entahlah, Aku sendiri tak paham mengapa Aku mencegahnya, yang jelas.. panggilan itu keluar begitu saja dari bibirku ketika Agung beranjak pergi.


Agung menghentikan langkahnya dan kembali menolehku.


Aku berjalan mendekatinya.


Beberapa detik menatapku, terdengar Agung menghela nafas, lantas dengan cepat, Agung memegang bahuku dan membawaku kedalam dekapannya.


"Aku sayang kamu Vin... sayang banget... tak peduli bagaimana perasaan kamu terhadap Aku..."


Mataku terbelalak, mulutku terbungkam, jantung ku berdenyut bersama hati yang berdebar.


"Perasaan ini datang lagi tuhan, benarkah ini getaran cinta? tapi mengapa ada? Bukankah cinta ini milik Dirga??"


Batinku yang tengah diselimuti kebingungan.


Ingin sekali Aku mendorong tubuh Agung dariku, tapi mengapa Aku seperti tak kuasa menolak setiap tindakannya terhadapku.


Beberapa detik terpaut, akhirnya Agung melepaskan pelukannya, kedua tangannya kini berada di antara pipi dan leherku menuntun kepalaku tetap berada di hadapannya, perlahan wajahnya mendekat, dekat dan semakin dekat..lalu......


Sebuah kecupan mendarat tepat di bibirku,


hanya sepersekian detik namun mampu membuatku bagai tersengat aliran listrik tegangan tinggi, mataku terbelalak, jantungku seakan berhenti berdetak.


Untuk pertama kalinya didalam hidupku, ada yang mencium bibirku,


"Ahhh... Tuhan, ciuman pertamaku telah direnggutnya!! Dia bukanlah cinta pertamaku, namun Dia yang menciumku untuk pertamakalinya!!"


Aku menggerutu dalam hati.


Aku mendorong tubuh Agung menjauh dariku.


"Maafkan Aku Vin, Aku terlalu terbawa suasana"


Aku tak menjawab sepatah katapun, hanya diam dan menunduk, antara marah malu dan kesal bercampur jadi satu.


"Tentang semua ucapanku malam ini, Aku tak pernah memaksa kamu untuk membalasnya, Aku cuma ingin kamu tau bahwa perasaanku tak pernah sedikitpun berubah, masih sama...!"


Agung berbalik, dan menyalakan motornya.


Sekali lagi ia memandangku sebelum akhirnya motornya melaju meninggalkanku yang masih terpaku, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


Mencoba mengatur kembali nafas yang tak beraturan, mencoba menata lagi bentuk hati yang sempat kacau balau begitupun dengan detak jantungku yang belum normal kembali.


Bersambung***


__ADS_2