Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 46 Nobar


__ADS_3

Agung datang dengan tiket di tangan.


"Nih, Aku sengaja pilih Film ini, semoga kalian suka ya..."


Agung menyerahkan pada kami masing-masing tiket.


Sebuah Film bergenre remaja anak sekolahan.


"Ehmm.... Kakak kece, tau aja Film yang pas buat kita.. suka deh sama Film ini, Aku pernah nonton Trailernya, jadi ini tentang kisah cinta segitiga gitu guys!!!"


Elza sangat antusias bercerita.


"Masak sich, kok Aku gak pernah liat ya..."


Nina mengernyitkan dahinya memandang tiket ditangannya.


Agung senyum-senyum.


"Ada Nin, Aku juga pernah liat iklan promo Filmnya tayang di tv kok,"


Sambung Tari.


"Hadeehhh, ngapain sih nonton Film ginian.. cengeng nih, ujung-ujungnya nangis bombay... mending nonton Film Action, kan seru!!"


Celetuk Daniel.


"Ehhh... lu aja nonton sendirian Film kayak gitu, gua mah ogahhh!!! Film kok berantem mulu!!"


Elza menepak Daniel di sampingnya.


"Ya, maaf ya Niel.. lain kali deh.. kita nonton Film Action, kalo yang lain pada gak mau, ntar kita nonton berdua mau??"


Jawab Agung senyum-senyum.


"Apaan??? ihhh... sorry, gw normal Bro!!"


Daniel melipat tangan di dada.


"Hehhh... kamu pikir Kak agung gak normal? sembarangan kalo ngomong, udah... Ssttt diem, jangan banyak protes!!"


Elza menempelkan jari telunjuknya pada Daniel sebelum Daniel kembali bersuara.


Tak lama berselang pintu pun dibuka, kami semua masuk untuk menonton.


Di dalam, ternyata Aku duduk diantara Agung dan Daniel, sementara Elza, Nina dan Tari duduk disebelah kami.


Beberapa cup pop corn dan minuman dibagikan oleh Agung pada kami.


Sepanjang acara Nobar, Aku dan yang lain tak banyak bicara, semua terfokus pada jalan cerita yang sedang kami tonton, sesekali terdengar isak tangis Nina yang terbawa suasana cerita.


Sampai ketika Aku merasakan jemari Agung pelan-pelan meraba dan menggenggam jemariku.


Deg!!


Jantungku berpacu, tiba-tiba saja kurasakan atmosfer disekitarku berubah menjadi lebih panas, hingga keringat perlahan mengalir di sekitar wajahku.


Aku memberanikan diri menoleh wajah Agung,


Tak ada respon apa-apa, matanya tetap fokus menonton,


"Ya Tuhan... ada apa ini, jangan bilang jika Agung terang-terangan mengexpresikan perasaannya padaku."


Batinku.


Ingin sekali Aku menarik tanganku, tapi genggaman ini terlalu erat.


Andai saja Dirga yang melakukannya, mungkin Aku tak segelisah ini, bahkan mungkin Aku akan membiarkan jemariku tergenggam nyaman oleh Dirga.


"Ehm..... Ehmm... Heeemmm"


Beberapa kali Daniel berdehem, Aku tau itu hanyalah trik Daniel, menandakan ia terganggu atas sikap Agung yang diam-diam menggenggam tanganku, atu mungkin juga cemburu.


Spontan Agung menarik dan melepaskan genggaman tangannya dariku.. dengan cepat pula ia merubah posisi duduknya menjadi lebih tegap.


Aah... akhirnya.... Aku bisa bernafas lega.

__ADS_1


Aku melirik Daniel yang memasang wajah masam padaku.


Aku tersenyum geli sendiri, dalam hati Aku berucap banyak terimakasih pada Daniel yang membuat Agung melepaskan tanganku.


Aku sengaja menjauhkan tanganku dari lengan kursi, agar Agung tak bisa menjangkau tanganku lagi.


2 jam berlalu,


Nobar selesai, Aku dan semua meninggalkan bioskop.


"Kita makan dulu kan.... Aku laperr.."


Rengek Nina.


"Iya Moy, kamu pilih deh mau makan dimana?"


sambung Agung.


Wajah Nina berubah sumringah seketika.


"Ehmm... Kakak kece,, emang top dech, idaman ini mah,, bahagia banget pastinya yang jadi pacarnya...hahahh"


Nina memuji Agung didepan semua.


"Sayangnya, tak semua orang mikirnya gitu moy... "


Jawab Agung dengan tetap mempertahankan senyumnya.


"Kenapa gitu Kak??"


Tanya Nina penasaran.


"Buktinya sampai sekarang, Aku belum bisa menaklukkan satu hati...masih kalah sama saingan.. berattt...hehheh"


Jawab Agung lagi, kali ini dengan melirik kearahku, mendapat lirikan dari Agung cukup membuatku salah tingkah.


"Uuhh... kasian, sama Aku aja kak.. hahha, dijamin bahagia lahir batin"


Ceplos Nina diiringi ketawa nakalnya.


"Eluuu yang bahagia, kak Agung menderita!!"


"Ahh Elzaa!! sakiiittt! lagian kenapa harus menderita coba??"


Nina mengusap pipinya yang memerah.


"Iya donk... jelas menderita, bagaimana enggak!! Lu... jajannya banyak! nguras dompet, sama aja melihara Anak gajah!! wkwkkwk"


Elza tertawa lepas.


"Iihh... Elza, jahat banget! Masak Aku disamain sama Anak gajah!! emangnya Aku segemuk itu??!"


Nina menekuk mukanya cemberut.


"Ngacaaaa!!!!!!"


Seru Elza sembari berlari,


Nina yang jengkel diejek Elza kini menatapku berharap pembelaan dariku


"Gak kok, Nina itu cantik, seksi, gemoy.. lucu.. dan yang pasti Nina itu baik"


Agung lebih dulu menghibur Nina, hingga membuat Nina kembali tersenyum percaya diri.


Tak dipungkiri, bahwa Aku salut dengan sikap Agung, bahkan bisa dibilang kagum dengan caranya memperlakukan teman.


"Ya udah, kenapa gak jadian aja kalian, kan cocok.. yang satu baik, dan yang satu gemoy!"


Daniel bersuara.


Agung hanya menanggapi nya dengan senyuman.


Kami kembali melangkah, menuju tempat makan yang telah dipilih Nina.


Diantara semua, Tari yang paling tak banyak komentar, selalu sibuk dengan ponselnya, entah apa yang tengah ia lakukan, sesekali senyuman tersungging jelas di bibirnya.

__ADS_1


"Apa mungkin Tari sedang berbalas pesan dengan pacarnya?? tapi siapa? bahkan Tari tak pernah cerita jika Dia memiliki pacar."


Batinku.


Perasaan curiga kini mulai tumbuh dihatiku melihat gelagat Tari yang tak biasa.


"Vin.. kok bengong?"


Daniel menyenggolkan Kakinya padaku.


"Ah.. ehmm.. enggak kok, tuh lagi ngeliatin Tari Asyik bener sama hape"


Ujarku.


Mendengar hal itu, Tari melepaskan ponselnya dan menyimpannya didalam tas.


"Ehm... Maaf ya,, hahha.."


"Lagi chat sama siapa sih? kok kayaknya sibuk banget?"


Tanyaku.


"Enggak ada, cuma lihat-lihat medsos aja"


Jawab Tari dengan senyum aneh.


"Udahh.... makan yuk, ntar dingin gak enak!!"


Nina mulai sibuk meracik makanan yang Dia pesan.


Tak membuang waktu, aku dan semuanya menyantap semua menu yang tersaji.


Disela-sela waktu makan,


"Ehm.. Vin, maaf... "


Agung meraih daguku, dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya yang memegang tissue menyeka sudut bibirku.


Perlakuan manis Agung kembali terjadi saat tak sengaja sisa makanan tertinggal di salah satu sudut bibirku.


Sontak saja hal itu membuat semua mata yang melihat berdehem, dan menyoraki kami, terlebih Elza.


"So sweeeeetttt......"


Ujarnya.


Aku merasa sangat canggung, pipiku terasa panas, dan sudah pasti kini bersemu merah jambu.


Aku sempat melirik kearah Daniel yang ternyata membuang mukanya, alasannya hanya satu, pasti Daniel tak menyukai hal ini terjadi.


"Vin, nich ya, kalau boleh Aku kasih saran, mending kalian jadian aja, resmikan disini mumpung ada kita yang akan jadi saksinya iyakan? bener gak Nin?"


Ujar Elza sembari menoleh Nina.


"Ngomong apa sih za..."


Jawabku malu.


"Lah... dari pada ngarepin Si soulmate mu yang sampai sekarang gak tau dimana rimbanya iya kan?? mending yang pasti-pasti aja yang udah ada disini!"


Sambung Elza lagi.


Aku semakin kikuk dan salah tingkah, sementara Agung tetap tenang dan tersenyum.


"Gak boleh gitu za, yang tau gimana Vina dan Dirga itu disini cuma Aku, mereka soulmate gak bisa di pisahkan, meski saat ini yaaaa... memang sedang pisah, tapi Aku yakin, hati mereka tetap terpaut!!"


Uhuk..!!! Uhuk!!


Lagi-lagi Tari tersedak setelah mendengar tentang Dirga dibahas.


"Tar... kamu gak papa?"


Aku menyerahkan selembar tissue pada Tari.


"Iya, gak Papa"

__ADS_1


Jawabnya.


Bersambung***


__ADS_2