
Nafasku masih tersengal begitu tiba tempat mendarat permainan outbound flying fox.
Benar-benar pengalaman pertama seumur hidup.
Aku terduduk lemas, Dirga membukakan sebotol air mineral kemasan mini padaku.
"Gimana? seru gak?"
Tanya Dirga yang turut lesehan di sebelahku.
"Panik...!! tapi ya... seru sih... meskipun Aku tegang,, sumpah Aku takut banget Dir...!!"
Jawabku sembari mengatur nafas.
"Iya, Aku tau itu kok,, keliatan muka kamu pucat..hehhe,, "
Ledek Dirga.
"Masak sich...."
Aku buru-buru memegang kedua belah pipiku.
"Sekarang udah enggak,, Ha... ha... Haa"
Aku melirik Dirga yang tertawa,
Perasaan selama Aku mengenalnya dulu,, tak pernah Aku melihat Dia tertawa selepas ini.
"Kenapa ngeliatin Aku kayak gitu? ntar naksir..."
Aku yang semula menatapnya tersenyum merubah seketika raut wajahku menjadi masam.
"Jangan cemberut gitu,, ntar gak manis lagi"
Dirga kembli meledek ku.
"Kamu sekarang jadi lebih suka ngeledek ya... beda sama dulu,, cool banget"
ketusku.
"Tapi satu hal dari Aku yang tak pernah berubah,, kamu mau tau Apa??"
Balas Dirga.
Aku mengangkat kedua alis mataku.
"Perasaanku terhadap kamu!"
mendengar Itu, Aku mengatupkan kedua bibirku rapat, menarik nafas dalam-dalam dan mencoba tenang,
Entah kenapa disetiap Dirga mengungkap perasaan, hatiku terasa bergetar dan bergejolak.
"Vin, kamu tau disaat terakhir kita ketemu di perpustakaan waktu itu,, sebenarnya ingin sekali Aku berkata, bahwa Aku ingin kamu tau tentang rasa nyaman berada di dekat kamu selama 3 tahun itu membuat Aku benar-benar jatuh cinta, yang sama sekali belum pernah kurasakan sebelumnya"
Aku menunduk, menghindari tatap matanya.
"Vin, lihat Aku!"
Dirga mendekat,
Aku mengangkat wajahku dan memandang matanya kembali.
"Apa saat itu, kamu mengharapkan Aku nembak kamu?"
Todong Dirga blak-blakan membuat Aku seperti tengah di introgasi.
"Ehm... Apa Mesti kujawab??"
Dirga mengangguk.
"Iya,, bahkan... bukan saja hari itu... melainkan setiap kita bersama,, Aku selalu berharap kata-kata itu terucap"
Ujarku mantap.
Dirga menarik nafas, lalu bersandar pada batang pohon pinus.
"Bodoh sekali Aku dulu!!, andai bisa kembali ke masa itu,, tak kan pernah kubiarkan kamu menunggu terlalu lama dalam harapan yang tak pasti seperti itu Vin"
Terlihat sekali ada penyesalan di ujung matanya.
"Ehm,, kenapa Dulu,, kamu seperti terlalu gengsi untuk menyatakan perasaan Dir,,,"
kini giliran Aku yang bertanya.
"Aku bukan gengsi Vin, tapi saat itu Aku ngerasa... kamu tak lebih menganggap Aku hanya teman,, tapi... kamu tau Vin,, perasaan cintaku ini tumbuh sejak pertama kami Aku melihat kamu melintas di lapangan sekolah dihari pertama kita orientasi."
Aku sama sekali tak percaya dengan apa yang baru saja Aku dengar,,
__ADS_1
Bukankah itu juga saat-saat dimana Aku pertama kali melihatnya dan hatiku benar-benar tertarik padanya.
"Ehm... Vin,, kita naik perahu yuk?"
Dirga kembali menunjuk sebuah wahana untuk kami coba.
Aku mengangguk lalu beranjak di bantu Dirga dan berjalan menuju danau.
Dirga memilih perahu dan membayar pada loket.
Dengan sangat hati-hati, Dirga menyambutku untuk naik keatas perahu berbentuk bebek berwarna pink tersebut.
Namun baru saja satu kaki melangkah kedalam perahu bebek, sebelah kakiku tersandung membuat perahu oleng dan
"Aawww....!!!"
Tubuhku terhuyung,
"Awas Vin...!!!"
Aku jatuh terjerembab, namun dengan sigap Dirga menangkap tubuhku yang akhirnya jatuh didalam pelukannya.
Kejadian yang hanya sekian detik saja itu cukup membuat tegang dua anak manusia dengan debaran jantung yang tak biasa memompakan aliran darah yang berdesir sangat hebat.
Aku segera memperbaiki posisi duduk , begitupun Dirga,
Beberapa menit saling diam, dengan kaki yang mulai mengayuh pedal perahu bebek yang mulai berjalan hanyut ke tengah danau.
"Ehm... Vin,, besok kamu kerja??"
Tanya Dirga memulai kembali percakapan.
"Iya,, "
jawabku singkat dengan wajah yang masih merona malu.
"Mau Aku jemput, atau gimana??"
Tawar Dirga.
"Emangnya kamu gak kerja?"
"Kerja, Cuma kan Aku pulangnya jam 3,, sepertinya satu jam lebih cepat dari jam kantor kamu."
"Ehm... kayaknya kita ketemuan aja dimana gitu,,"
Tolakku.
"Dir.... Aku cuma menghindari masalah.."
Potongku cepat.
"Iya... iya... aku paham,, "
Dirga membuang mukanya.
"Dir...."
Panggilku pelan,
Dirga kembali menolehku, dan tersenyum seolah ingin menyampaikan bahwa Dia baik-baik saja.
Aku menyambut senyum itu dengan usapan lembut di bahunya, kemudian menyandarkan kepalaku disana.
Dirga mengusap kepalaku lembut dan mengecup punggung tanganku mesra.
Aku benar-benar terbuai, dengan romansa cinta yang dihadirkan Dirga.
"Eh.. liat deh disebrang sana ada yang jual bakso,, kita makan bakso yuk Vin,, "
Dirga menunjuk pada penjual bakso di tepi sebrang.
Aku mengangguk.
"Kita ngebut ya... Satu... dua... tiga......!!"
Seru Dirga,,
Dirga dan aku mempercepat kayuh pedal perahu, sambil berteriak-teriak semangat, bercanda yang diiringi tawa yang lepas membuat suasana begitu hidup dan ceria.
Hingga akhirnya perahu sampai ke tepi,
Aku tak henti tertawa, begitupun Dirga.
dengan dibantu petugas, kami merapatkan perahu bebek dan turun dari sana.
Dirga kembali menautkan tangannya pada tanganku, berjalan menuju penjual bakso yang dimaksud.
__ADS_1
"Capek ya??"
Tanya Dirga menolehku yang ngos-ngosan habis mengayuh perahu bebek.
"Lumayan..."
Jawabku tersenyum.
"Kasian.... maafin Aku ya.... ini gara-gara Aku!"
Dirga menyeka keringat di dahiku dengan ujung jarinya,
Aku menoleh dan tersenyum.
kemudian jari itu turun di alis mata, kemudian pipi, lalu tiba di hidung... Dirga menarik hidungku gemas.
Mendapat perlakuan itu, Aku cuma tertawa, dan tiba jari itu di tepi bibirku, dengan cepat Aku menangkap jari itu dengan menggigitnya lembut.
"Aww... curanggg!!"
Pekik Dirga yang disambung tawa kami berdua.
Tak lama menunggu, pesanan kami datang 2 mangkok bakso dan 2 botol teh siap kami santap.
Disela-sela makan,
"Vin,, sini deh..."
Panggilnya membuat Aku mendekatkan wajah.
Dirga menyeka sudut bibirku dengan tissue.
Lalu mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, kemudian beranjak mendekatiku.
"Mau kemana?"
Tanyaku menatapnya bingung.
tanpa menjawab, Dirga merapikan rambutku dengan jarinya kemudian mengikatnya dengan saputangan miliknya.
"Kamu gerahkan? keringat kamu sampe banyak gitu,,"
Perlakuan sederhana dari Dirga yang membuatku girang bukan kepalang.
"Maksih ya..."
Ucapku setelah Dirga kembali duduk di depanku.
Selesai Makan, Kami memilih duduk bersantai di sebuah pondok istirahat yang tersedia.
"Ehm... Vin, kita foto yuk..."
Ajak Dirga mengeluarkan ponselnya.
Aku mengangguk meski sedikit ragu.
Dengan berbagai pose dan gaya beberapa foto berhasil kami jepret menggunakan kamera ponsel milik Dirga.
Ada rasa ingin meminta hasil foto tersebut, namun jauh dilubuk hatiku ada rasa takut jika Agung melihat foto tersebut.
Hal itu membuat Aku menahan diri.
"Ehm... Vin, gak nyangka ya... akhirnya Kamu dan Agung berjodoh.."
Dirga menolehku sesaat kemudian kembali memperhatikan potret kami berdua yang tengah tersenyum bahagia.
Aku tersenyum getir,
"Kamu tau gak Vin, dulu Aku bete.. banget sama Agung, apalagi kalau Dia lagi ngedeketin kamu, Aku cemburu.. Aku kesal,, panas dan pingin marah,, tapi ternyata malah Dia yang sekarang berhasil dapatin kamu"
Dirga kembali menolehku dengan senyum patah hati.
"Padahal, Aku selalu berdoa, meminta kamu kepada Tuhan,,, tapi takdir berkata lain.. kita tidak berjodoh"
"Ssttt.. Udah ya Dir,, jangan ngomong itu lagi.. Aku sakit dengernya..."
Aku menempelkan jari telunjukku pada bibir Dirga.
Dirga menangkap tanganku dan menempelkan di pipinya, kemudian berkali-kali mencium telapak tanganku.
Air mataku tak tahan untuk tidak terjatuh lagi, melihat pria yang seolah tak berdaya di hadapanku yang tengah menelan kenyataan yang begitu perih.
"Aku sayang kamu Vin... sayang sekali..."
Ucapnya dengan suara berat dan bergetar, lalu mendongakkan kepala, menyeka sudut matanya yang rembes.
Andai kamu tau Dir, Aku pun memiliki rasa yang sama.. tapi Aku tak mungkin lari dari kenyataan,,
__ADS_1
Aku hanya mampu berkata dalam hati.
Bersambung***