
Mobil berhenti di pinggir trotoar jalan, Aku dan Dirga Turun dari mobil.
Baru saja Aku melangkahkan Kaki,
"Vin... Tunggu!"
Panggil Dirga kemudian mendekat padaku, Aku menoleh, dengan cepat Dirga menangkap tanganku,
"Gandengan donk... biar romantisnya dapet"
Dirga menatapku memainkan alis matanya.
Aku tersenyum malu-malu.
"Ternyata beda ya....."
Ujarnya pelan,
"Hah? Beda?? apanya?"
Tanyaku bingung.
"Rasanya pegangan tangan terang-terangan"
Jawab Dirga tersenyum lega.
"Maksudnya...?"
Tanyaku lagi,
"Kemarin-kemarin, pegangan tangannya terasa kayak ada beban beraaaattt banget, takut-takut, gak nyaman... padahal hati pengen deket terus,, tapi kalau sekarang,, santai... lega,, nyaman dan ahhh... pokoknya lega aja udah...!!"
Jelas Dirga.
Aku tersenyum mengalihkan pandanganku kembali kearah danau yang sudah terlihat di depan tak jauh lagi dari kami.
Setelah sampai tepat didepan danau, Aku memilih duduk diatas hamparan rumput dari pada bangku yang tersedia disana, Dirga mengikutiku dan duduk disampingku.
"Vin, Aku gak nyangka akhirnya kita bisa sedekat ini sekarang,, padahal kamu tau gak... setelah hari itu, Aku benar-benar udah putus asa"
Aku Diam dan memperhatikan raut wajah Dirga yang tenang memandang kearah danau.
"Oh ya,, Aku mau minta maaf sama kamu, tentang semua isi kamar yang sudah kamu lihat,, Aku benar-benar minta maaf sudah lancang memasang semua gambar kamu tanpa izin"
Dirga menggenggam tanganku menatapku lekat.
Aku mengangguk,
"Tak perlu minta maaf untuk semua foto yang kamu pajang tanpa izin,,"
Jawabku,
"Lantas??"
Tanya Dirga mengerutkan dahinya masih menatapku.
"Yang Aku bingung,, kamu dapat semua itu dari mana?"
Tanyaku memiringkan kepalaku menyelidik.
"Ehmm... penasaran ceritanya? kasih tau gak ya...."
"Bukan lagi penasaran,, tapi bingung juga..."
"Ahh... ada deh... cuma Aku yang tau.. hehhehe"
Dirga menyilangkan tangan di dada dan membalik tubuhnya.
"Ihh.. kok gitu? Dirga curang Ah..."
Aku mencubit pinggangnya.
"Aww.... aww... sakit Vina,, ampunn..."
Dirga berusaha melepaskan tanganku dari pinggangnya.
"Makanya.. bilang,, kasih tau!! dapat pas foto itu dari mana??"
"Gak mau!!"
__ADS_1
"Dirga!!!!"
Aku menambah lagi cubitan dengan sebelah tangan yang lain.
"Awww... aduhh... duhh.... "
pekik Dirga, namun kali ini Dirga berhasil melepaskan tanganku dan kini mencengkeramnya kuat.
"Ayo?? mau apa sekarang??"
Ledeknya.
Aku mencebikkan muka dihadapannya.
Dirga menarik tanganku, membuat tubuhku tersentak dan jatuh ke arah Dirga, dengan cepat Dirga menangkap tubuhku yang dalam hitungan detik sudah berada tepat di pelukannya.
Jantungku berdebar, untuk pertama kalinya,, berada dipelukan Dirga tanpa bayang-bayang hati yang lain,,
Dirga benar,, ternyata bukan hanya genggam tangan saja,, tapi pelukan ini... terasa lega dan nyaman sekali, terasa lepas semua beban yang selama ini menghimpit.
Aku memejamkan mata, ketika kurasakan getaran di dada bidang milik Dirga seirama dengan getaran yang tengah kurasakan, bahkan detak jantung kami seolah bertemu.
Tuhan... satukan kami,, jangan pisahkan lagi...
sebait doa yang kuucapkan dalam hati.
Perlahan-lahan kurasakan tangan Dirga menyentuh kepalaku, mengusap rambutku perlahan.
Aku mengatur nafas, mencoba menikmati setiap sentuhan cinta yang selama ini kudambakan.
Namun tiba-tiba saja Aku mengingat semua pertanyaan yang tersimpan dikepalaku yang belum sempat-sempat kutanyakan padanya.
"Ehm... Dir,, sepertinya kamu masih banyak rahasia deh sama Aku,, ada yang mau Aku tanyain!!"
Aku melepaskan pelukan Dirga, dan mendorong tubuh Dirga agar sedikit menjauh dariku.
"Apa? kok jadi tegang ya...."
"Ehm... sebenernya... kamu itu.."
"Eiitt... tunggu,, sambil ngemil kayaknya enak nih, biar gak tegang,, tuhh ada Abang siomay,, Aku beli dulu ya... kamu tunggu bentar..."
Hufftthh....
Aku menghela nafas,,
Sepertinya Dirga memang sengaja menghindari pertanyaan yang ingin Aku tanyakan.
Apa mungkin Dirga tau ya,, apa yang mau Aku tanyakan?
Tak lama, Dirga kembali dengan membawa 2 kaleng minuman soda disusul Abang siomay yang membawa dua piring pesanan Dirga.
"Makasih ya Bang..."
Ujarnya setelah menyambut piring siomay dari Si Abang.
"Ehm.. Dir,, Aku udah boleh nanya?"
Ulangku,
"Ehmm... Kita makan dulu aja kali ya vin,, mumpung masih panas,, kalau dingin gak enak.."
jawabnya yang segera melahap siomay di hadapannya.
Aku menarik nafas dan membuangnya pelan sembri mengerucutkan bibirku kesal.
Dirga mengacak rambutku, sembari tersenyum.
Tak lama, kulirik shomay di piring Dirga sudah habis tak bersisa, ia meraih kaleng soda dan membukanya lalu meneguknya perlahan.
Kuletakkan piringku yang masih berisi separuh shomay yang tak kuhabiskan.
"Gak habis Vin? gak enak ya??"
Tanyanya.
Aku diam tak menjawab, masih jengkel atas sikapnya yang seolah tak mau memberiku kesempatan bertanya.
"Hey... kok cemberut gitu?"
__ADS_1
Aku menggeleng lalu melengoskan muka.
Terdengar Dirga menghela nafas.
"Mau nanya apa? tanya aja... Aku pasti jawab,, tapi kamu janji, apapun jawaban Aku itu tak akan membuat kamu menjauhiku"
Dirga memegang bahuku dan membalikkan badanku menghadap kearahnya.
"Apa ada kebohongan diantara kita sekarang?"
Ujarku pelan.
"Kebohongan? Kebohongan apa?"
Dirga balik bertanya.
"Dir,, itu mobil siapa? lalu.. tentang Buruh pabrik??"
"Ohh.. soal itu,, kamu sudah tau ya?? siapa yang cerita? Ayumi ya??"
Aku mengangguk.
"Maafkan Aku ya.. Sebenarnya Aku gak ada niat apa-apa,, hanya pada waktu itu,, Aku cuma gak mau kamu tau semua tentang Aku, karena saat itu Aku taunya kamu sama Agung,, yang Aku tau,, Agung sukses dengan bisnisnya, Aku cuma ingin tau perasaan kamu ke Aku apakah masih sama seperti dulu? Aku cuma ingin tau.. Apa kamu malu bersama Aku jika Aku berada jauh dibawah Agung?"
Mendengar itu, emosiku tiba-tiba saja naik.
"Kamu jahat banget Dir!!"
Ujarku dengn suara bergetar menahan marah.
"Iya... Aku tau,, maafkan Aku Vin"
Dirga berusaha memegang tanganku,, namun dengan cepat kularikan tanganku menjauh.
"Bisa-bisanya kamu mikir seperti itu ya Dir?! kamu pikir Aku perempuan seperti apa? yang menilai perasaan dari sebuah kesuksesan seseorang??"
"Iya... Iya Vin, Aku tau.. Aku salah,, Aku salah sempat terlintas pikiran bodoh seperti itu,, Aku minta maaf,, Aku mohon.. jangan pergi lagi,, jangan jauhi Aku...karena masalah ini,,"
Dirga memegang bahuku dan menatapku dalam-dalam.
"Apa lagi yang kamu tutupi dari Aku?"
"Sumpah... gak ada lagi Vina,, gak ada lagi..."
Ujarnya.
"Lalu masalah rumah yang katanya dekat dengan rumah Tari?"
Tanyaku ketus.
"Oh.. itu,, Iya.. itu rumah Paman,, jadi beberapa tahun yang lalu setelah ada kesepakatan dari keluarga,, rumah Orang tuaku Aku jual, uangnya sebagian Aku bagikan pada saudara-saudara Ayah dan Ibuku, dari hasil tabunganku Aku beli rumah yang sekarang, karena merasa sepi sendirian,, Aku minta Paman dan Anak-anaknya tinggal bersamaku"
Aku terdiam mendengar penjelasan Dirga.
"Udah ya... kamu jangan mikir macem-macem,, Aku gak ada niat apa-apa.. "
"Oh ya,, gimana kabar Agung? kamu masih sering kontak?"
Aku menggeleng,
"Alhamdulillah....."
Serunya.
"Aku mengerutkan dahi bingung,
"Kenapa, kok Alhamdulillah?"
"Itu artinya Aku gak perlu cemburu,, kamu tau gak,, cemburu sama Agung itu nyesek...!! dari jaman SMP,, udah dibuat nyesek,, SMA tambah nyesek,, eh... udah dewasa,, malah tunangan makin nyesek lah...!!"
Gerutu Dirga, membuat Aku tersenyum mendengarnya,
"Akhirnya... kamu jujur juga,, kalo sebenernya dulu,, kamu cemburu banget sama Agung"
"Hemm... ya iyalah, emang kamu pikir enak,, kalo gebetan kita di pepet terus sama orang?!"
Dirga menarik rambutku.
Bersambung***
__ADS_1