
Pagi datang,
Bersiap untuk berangkat kerja,
Sembari bersiap, Aku menyetel lagu Band kesayangan cukup keras, didepan cermin Aku merapikan blazerku, menata rambut serta memoleskan make up di wajahku.
Sesekali kuikuti alunan musik dengan menggerak-gerakkan kepala sembari mengikuti syair lagu.
Mama yang tengah melintas didepan kamarku, melongokkan kepala kedalam kamar yang pintunya sengaja tak kututup.
"Ada apa nichh... ? kelihatannya ceria sekali pagi ini??"
Seloroh Mama sembari melipat tangan di dada dan tersenyum penuh makna.
"Eh... Mama, Iya Ma... Vina udah enakan badannya..."
"Ya baguslah kalau gitu, oh ya Vin... Apa Agung sudah bilang Dia pulang kapan?"
Tanya Mama.
"Katanya hari sabtu Ma.."
"Apa gak terlalu mepet ya Vin?, kenapa gak jumat aja?"
"Gak tau Ma, Vina juga udah bilang gitu.."
Aku dan Mama berjalan beriringan keluar kamar menuju meja makan untuk sarapan Papa sudah menunggu disana.
"Pagi Pa......"
ciuman hangat mendarat di pipi Papa dariku.
Seraya menyeruput kopi panasnya,
"Vin, jadi rencana pernikahan kalian kapan,,?
Papa menodongku dengan pertanyaan yang membuatku kaget.
"Iiihh... Papa, belum juga tunangan dah nanya kapan Nikah,, belum tau Pa...."
Jawabku sembari mengoles selai pada roti.
"Maksud Papa, jangan terlalu jauh jaraknya dengan tanggal tunangan"
ujar Papa.
Aku hampir tersedak ketika Papa mengutarakan pendapatnya.
Bagaimana dengan niat menikah? sedang Bertunangan saja rasanya begitu berat,
entahlah, apa yang akan terjadi kedepannya Aku tidak bisa membayangkannya..
Yang pasti, semua tidak akan baik-baik saja.
"Vina sudah selesai, Vina berangkat ya Ma... Pa..."
Pamitku yang sebelumnya mendorong piring roti serta gelas teh.
Aku bergegas berangkat ke kantor dengan mobil putihku.
Sebelum melaju, Aku sempat membuka ponsel dan membaca pesan yang dikirimkan Agung Padaku.
"Sayang mulai hari ini, sampai hari minggu nanti, Aku tidak akan menelpon ataupun vidio call, sengaja Agar ketika bertemu, rindu kita Akan sangat menggebu"
Rindu??
Apa iya, Aku akan merasakan rindu ketika tak menerima kabar dari Agung??
Apalagi setelah kemunculan Dirga kembali dihati ini.
Aku bersandar pada jok mobil dan menghela nafas panjang.
Sengaja tak kubalas pesan dari Agung.
Sampai di kantor,
Segala Aktivitas dan rutinitas seperti biasanya Aku jalani, namun hari ini semua terasa begitu ringan, pembawaan hati yang tenang seolah menghilangkan semua beban.
Tanpa terasa jarum jam terus berputar hingga menjelang jam pulang kantor.
Dengan cepat Kubereskan semua berkas,
"Dirga... iya Dirga, Aku belum ngabarin Dia mau ketemuan dimana"
Ujarku pelan.
Dengan cepat kuraih ponsel yang tergeletak di atas meja.
__ADS_1
Sesaat Aku berpikir, kemudian tersenyum dan mulai mengetikkan lokasi yang kupilih.
Hanya beberapa detik, balasan kuterima, hanya emoticon jempol.
Aku beranjak dari meja dan melangkah keluar meninggalkan kantor dengan senyum yang terkembang.
Hanya setengah jam dari kantor, mobil yang sedang kukemudikan sudah berhenti tepat di depan halaman sebuah kafe yang tidak terlalu terkenal, dan lumayan sepi pengunjung, Aku tak ingin kebersamaanku dengan Dirga akan menimbulkan masalah untuk hubunganku dengan Agung yang minggu depan akan melangsungkan pertunangan, jika Aku bertemu Dirga di kafe yang terkenal dan ramai pengunjung.
Hendak membuka handle pintu mobil, namun niat itu kuurungkan, Aku menyentuh wajahku, kemudian mengeluarkan bedak dan lipstik dari dalam tas,
"ini sudah jam pulang kantor, tentu saja bedak dan lipstikku sudah luntur, Aku tak mau terlihat kucel didepan Dirga."
Bathinku.
Entah mengapa pikiran seperti itu bisa muncul dikepalaku, padahal Aku tau, statusku bukan siapa-siapanya Dirga dan Dirga juga sudah berkeluarga,
"Ahh... sial!! lagi-lagi Aku sulit menguasai diri, lagi-lagi Aku tak bisa mengendalikan hatiku yang masih menggebu-gebu"
Aku menarik nafas dan membuangnya perlahan, kemudian mulai men touch up bedak di wajahku, dan memoleskan kembali lipstik berwarna nude.
Aku tersenyum menatap cermin dengan wajah yang jauh lebih segar dibanding tadi.
Aku mengetik kan pesan pada Dirga.
"Aku sudah sampai, kamu dimana??"
hanya hitungan detik,
"Aku sudah didalam"
Aku yang sejak awal bersemangat dan penuh percaya diri ingin segera bertemu Dirga, namun begitu membaca pesan dari Dirga seolah mati kutu, nyaliku menciut, hatiku berdebar-debar tak karuan, Aku tak tau apa yang kan terjadi di dalam nanti, Aku benar-benar deg-degan dan tak siap bertemu.
5 menit mematung akhirnya dengan segenap keberanian yang mati-matian kukumpulkan, Aku turun dari mobil, melangkah perlahan berusaha mencoba percaya diri.
Halaman parkir terlihat sepi, hanya ada mobilku dan beberapa saja motor yang terparkir disana,
"Dirga bilang sudah ada didalam, itu artinya salah satu motor itu adalah milik Dirga??!"
Ujarku pelan sembari memperhatikan beberapa motor di depanku.
Seketika ingatanku kembali tertuju pada sosok perempuan yang menurutku istri Dirga pada waktu itu, terlihat sekali dari segi penampilannya, terlihat elegan dan mapan, sangat kontras dengan motor-motor yang sedang Aku perhatikan, semua motor yang terparkir motor biasa-biasa saja berjenis matic.
Rasa-rasanya tidak mungkin, Dirga yang mengendarainya.
Apa mungkin Dirga kesini diantar supir? dan supirnya sekarang lagi pergi dan akan datang lagi ketika ditelpon Dirga.
Aku melanjutkan langkahku masuk kedalam kafe,
Hanya ada beberapa orang disana berpasang-pasangan.
Mataku segera tertuju pada seseorang yang duduk di meja pojok dengan membelakangiku.
Hatiku berdebar hebat menatap punggung itu.
Sesaat Aku memegangi dada.
"Tuhan... tolong Aku, jangan biarkan Aku pingsan saat Aku menatap mata teduh itu"
Sebaris doa yang kuucap bersama langkah pelan mendekati meja itu.
"Hai Dir...."
Sapaku begitu sampai disampingnya.
Dirga menoleh dan mendongakkan kepalanya menatapku.
Aku menelan ludah,
"Ya Tuhan.... Tatapan itu, mata itu, terasa luluh segala rasa dihatiku, wajah sendu yang selalu kurindu kini ada didepan mataku"
Lama terpaku, hanya diam dan saling pandang seolah tengah menyelami perasaan rindu masing-masing.
"Duduk Vin,"
Perintah Dirga menyadarkan Aku yang tengah terlena dengan pesona sang pemilik mata teduh.
Aku bergeser dari posisiku dan memilih duduk di depan Dirga.
Sekilas Aku menatap jari-jari Dirga yang tidak memakai cincin dijari manisnya.
Apa mungkin Dia sengaja melepasnya untuk menjaga perasaanku?
Gelas kopi yang isinya sudah tinggal setengah serta beberapa biji permen kopi berserak di atas meja.
"Mau pesan apa Vin??"
Tanyanya lagi-lagi menyadarkan Aku dari aktivitas tak pentingku, yang tengah meneliti sosok didepanku dengan detail.
__ADS_1
"Ehm.... Aku ... ehh... oren jus aja"
Jawabku kikuk.
"Makan?"
Tanyanya lagi sembari memanggil waiters.
"Ehm... nanti aja, belum laper."
Terlihat Dirga mengangguk-angguk dengan jari telunjuk yang mengetuk-ngetuk meja setelah memesankan oren jus untukku.
Aku tak berani menantang matanya, terus berusaha menghindari tatapannya meski sesekali mencuri-curi pandang walaupun akhirnya terjebak saling pandang.
"Kok, kita jadi canggung gini ya...?"
Ucapan itu membuat Aku menatapnya, Aku tak menyangka Dirga merasakan hal yang sama.
"Ehm... Apa Mungkin karena ini pertama kali kita bertemu setelah bertahun-tahun gak ada kabar?"
Dirga menyambung ucapannya.
Mendengar itu, ingin sekali Aku marah, dan membantahnya.
Bukankah Dia sendiri yang menginginkan hal ini!! Bertahun-tahun tak ada kabar dia bilang?? Bukannya Dia sendiri yang tak membalas surat-suratku!!
Aku mengepal tangan dibawah meja, sebisa mungkin kutahan emosiku, aku tak ingin pertemuan yang harusnya menyelesaikan maslah malah rusak gara-gara amarah yamg sudah di ubun-ubun.
"Ehm... Kamu apa kabar? sepertinya sudah sukses ya sekarang?"
terlihat Dirga memperhatikan penampilanku.
"Ah enggak lah, biasa aja.. masih kerja sama orang itu artinya belum sukses, kamu sendiri gimana? pasti bos banget ya sekarang?"
Sengaja tak kujawab pertanyaannya tentang kabarku,
Mendengar pertanyaanku, Dirga hanya tersenyum.
"Seperti yang kamu lihat sekarang, mana ada bos penampilan kere seperti Aku"
Dirga menunduk.
Aku memicingkan mata, rasa penasaran yang teramat besar sekarang tengah memenuhi otakku. Sepertinya terlalu banyak rahasia yang tersimpan di mata teduh itu.
"Kabar orang tua kamu gimana??"
Seketika Dirga menunduk mendengar pertanyaanku tentang orang tuanya,
lama terdiam, akhirnya kepalanya terangkat menatapku dengan mata berkaca-kaca.
Melihat Dirga yang seperti tengah tak berdaya dalam kesedihan seperti itu, membuatku melupakan sejenak amarah dan emosi yang sejak tadi terkumpul dihatiku.
"Dir... kenapa??"
Tanyaku pelan.
"Mereka sudah pergi Vin,,, bahkan mereka pergi sebelum sempat melihat Aku memakai seragam putih Abu-abu"
"Pergi??"
Tanyaku bingung dengan kata pergi, sebab yg Aku dengar dari ceritanya waktu itu, orang tuanya akan kerja ditempat yang jauh.
"Mereka sudah kembali ke sang pencipta"
tukasnya dengan menitikkan air mata yang buru-buru disekanya.
Mulutku ternganga, terperangah tak percaya, lalu menutup mulutku dengan dua belah telapak tangan.
"Sehari sebelum keberangkatan Mereka keluar kota , Ibu sakit, beliau mengeluh sakit kepala, namun tengah malam sakit kepalanya semakin hebat, kami membawa Ibu kerumah sakit karena kesadarannya menurun, sampai dirumah sakit hanya 2 jam ditangani Dokter Ibu pergi"
Terlihat Dirga mengatur nafasnya sebelum melanjutkan ceritanya.
"Ayah syok mendengar Ibu pergi dengan begitu mendadak dalam waktu yang sangat cepat, membuat jantungnya kambuh dan disaat itu pula Ayah jatuh dan kemudian pergi karena serangan jantung dihari yang sama dengan kepergian Ibu"
Dirga kembali menunduk memegang dadanya mengatur nafasnya pelan-pelan.
"Dir.. udah ya,, gak usah dilanjutin,, Aku tau ini berat buat kamu"
Aku menyodorkan oren jus kepadanya.
"Kamu minum dulu,, biar tenang"
Dirga meraih gelas oren jus dan menyeruputnya.
Nampak jelas kerapuhan di wajah sendu itu, Aku bisa merasakan betapa hancurnya hati Dirga pada saat itu, kehilangan 2 orang yang paling Dia sayang sekaligus dalam waktu bersamaan, sementara usianya saat itu masih sangat belia.
Perasaan kesal dan amarah yamg ada dihatiku tiba-tiba saja menguap hilang tak berbekas berganti rasa iba dan peduli.
__ADS_1
Bersambung***