
Hingga 5 menit menunggu, tak ada balasan membuatku memutuskan untuk beranjak tidur.
Namun begitu niat memejamkan mata baru saja kulakukan, sama sekali tak ada rasa kantuk yang datang, meski kupaksakan hingga mata terasa pedas Aku tak kunjung terlelap.
Bayangan wajah sendu Dirga mengusik ku, seakan menggodaku untuk terus memikirkan ucapan terakhirnya.
Ya... ucapan terakhir yang ku dengar sebelum Aku meninggalkannya di depan kafe tadi.
("Sebelum kamu benar-benar menjadi tunangan Agung, izinkan Aku memberikan cintaku sepenuhnya untukmu sampai minggu nanti, Aku ingin menghabiskan waktu yang sedikit itu dengan cinta dan kebersamaan, meski hanya satu minggu saja,, izinkan Aku menebus seluruh waktu yang pernah terbuang sia-sia, kamu maukan??")
Kalimat ini seperti 2 mata pisau yang sangat tajam,
hatiku bimbang untuk menolak atau mengiyakan keinginanya.
Disatu sisi, Aku tak ingin mengkhianati Agung yang benar-benar tulus mencintaiku, namun disisi lain, Aku tak ingin melewatkan momen bersama Dirga yang sejak dulu selalu kumimpikan.
Dirga adalah cinta pertamaku, yang kuyakini sejak dulu bahwa tahtanya dihatiku tak kan bisa digantikan oleh siapapun,, meski kenyataannya Aku sendirilah yang menggeser posisi Dirga dengan memasukkan Agung dalam cerita cinta ku ini.
Ini bukan salah Agung, bukan pula salah Dirga, ini murni kesalahanku yang terlalu terburu-buru memutuskan sesuatu, hingga kini Aku terjebak dalam situasi ambigu.
Andai Aku bisa memutar kembali waktu,, Aku akan memperbaiki semua kesalahanku yaitu dengan tidak memberi harapan pada Agung, dan terus bertahan menunggu kehadiran Dirga kembali dihidupku, tapi semua tak bisa kembali, waktu terus berjalan maju dan kenyataannya adalah minggu depan pertunangan akan berlangsung, sementara Dirga hanya akan menjadi bagian masa laluku.
Dan Aku tak pernah tau kedepannya bagaimana hati ini bisa berlapang dada melupakan begitu saja semua tentang Dirga dan cintanya.
Drrrtttt..... Drrtttt...
ponselku bergetar,
Aku melirik, hatiku bertanya tentang siapa ditengah malam seperti ini menelponku.
Hatiku berdetak, mataku terbelalak lebar melihat nama sang penelpon.
"Dirga??"
Ujarku pelan sembari meraih ponsel yang tergeletak tak jauh dariku.
Dengan ragu, kuangkat panggilan tersebut dan menempelkan ponsel ditelingaku.
mataku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 1 dini hari.
๐๐งHalo Vin, Aku tau kamu belum bisa memejamkan mata malam ini sama seperti Aku, makanya Aku berani menelpon...
Aku.. Aku sekarang sedang gelisah.. rindu dan terbayang kamu... kurasa, kamu juga merasakan yang sama...
๐๐Sudahlah Dir,, jangan teruskan seperti ini, Aku cuma tak ingin ada yang tersakiti.. lupakan semua yang pernah terjadi.. Aku hanya ingin ketenangan setelah pertemuan kita tadi.
๐๐งAku tau itu Vin. Ya... mungkin Aku yang terlalu percaya diri, menganggap apa yang Aku rasakan sama seperti yang sedang kamu rasakan.... untuk itu,, Aku minta maaf Vin, tapi untuk ucapan terakhirku sebelum kamu pergi... kuharap kamu bisa mengabulkannya.. setelah itu, mungkin Aku akan lebih tenang begitupun juga kamu bisa lebih lega menjalani hidup kamu dengan Agung kelak.
Dirga kembali membahas ide konyolnya tentang keinginannya bersamaku selama satu minggu sebelum pertunangan itu terjadi.
Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa.
๐๐งHalo... Vin... Haloo... kenapa diam??
Aku tau kamu juga ingin, Aku tau.. Kamu juga masih rindu...
Haloo Vin, ngomong Vin, jawab Aku...jujur....
Terdengar beberapa kali Dirga memanggil-manggil namaku, sementara Aku hanya bisa membekap mulutku sendiri,, Aku tak ingin Dirga mendengar isakku, meski Akhirnya..
__ADS_1
๐๐ง Vin,, kamu sedang menangis?? maafkan Aku Vin... Maafkan atas keegoisanku,,
Aku tak akan lagi memaksa kamu, Aku janji... Aku akan pergi jauh dari hidup kamu.. semoga Kamu dan Agung selalu bahagia..
Selamat malam Vina... cinta pertamaku...
Klik! Tut... tut....
Panggilan terputus,,
"Cinta pertama??"
Ujarku lirih, Aku tak menyangka... bahwa Aku adalah cinta pertama Dirga.
Itu artinya, antara Aku, Agung dan Dirga masing-masing adalah cinta pertama.
Bagaimana mungkin ini bisa terjadi dengan 3 orang yang mengalami perasaan cinta dengan kisah cinta pertama disetiap pemeran utamanya.
Apakah ini hanya sebuah kebetulan?
Aku hanya berharap, takdir terbaik yang akan membawaku pada ujung kisah cinta ini, kepada siapa? Aku hanya pasrah menyerahkan semuanya pada Tuhan dan biar sang waktu. yang kan menjawab resah ini.
Di sisi hatiku yang lain, ada goresan kekecewaan mendalam, ketika mendengar Dirga menyerah dan mengatakan ingin menjauh dariku, perasaan tak rela dan takut kehilangan lagi kini merayap pelan-pelan dihatiku.
Rasa bahagia luar biasa yang baru saja kutemui,, Apakah kini harus ikhlas kulepaskan lagi.
Apa Aku sanggup melupakan Dirga yang nyata-nyata telah mengakui semua perasaan yang sejak dulu kupertanyakan?
Aku menghapus Air mataku, menarik nafas panjang dan yakin akan keputusan yang akan aku ambil detik ini.
Segera ku kirimkan pesan pada Dirga.
Hanya beberapa detik saja,
sebuah pesan kembali kuterima.
*Kamu serius Vin?? kamu yakin??..Aku seperti sedang bermimpi... terimakasih banyak atas kesempatan yang kamu berikan untukku Vin...*
Aku tak membalas lagi pesan Dirga, mendekap ponselku didada dan membawanya dalam lelap mimpi indah seindah harapanku esok bersama Dirga, meski hanya satu minggu saja.
......................
Aku terbangun, ketika Agung menelponku.
Sebuah panggilan Vidio di jam 6 pagi minggu.
"Halooo sayang.... baru bangun ya....?"
Ujarnya yang terlihat sedang berada diluar ruangan dengan menggunakan kaos olah raga.
"Iya,, ehh... kok nelpon?? vidio call lagi?? Katanya gak mau menghubungi Aku sampai minggu??"
Aku bersikap santai seolah tak pernah terjadi apa-apa pada hatiku yang sebetulnya tengah gundah gulana, bimbang dan kalang kabut.
"Maunya sih gitu,, tapi gara-gara kamu menghilang gak ada kabar,, Akunya jadi cemas, ehm... kamu baik-baik sajakan... tapi kok... kayaknya mata kamu sembab sayang?? kamu nangis??"
Agung cukup jeli dalam memperhatikan kejanggalan diwajahku.
"Ya wajar donk, kan baru bangun tidur, belum mandi,, belum dandan... itu kamu lagi ngapain kok pagi-pagi dah di luar aja??"
__ADS_1
Aku berusaha mengelak, dan mengalihkan pembicaraan.
"Oh,, gitu... Ehm... ini Aku habis lari pagi... ya udah,, kamu mandi gih... Aku mau lanjut olah raga,, Btw... hari ini ada rencana apa??"
"Ehm... ada acara kantor, mungkin pulangnya malem, jadi maaf ya kalau nanti Aku susah dihubungi.."
Kilahku.
"Oke sip.... hati-hati ya... sayang..."
"Oke,, ya udah... Aku mau siap-siap... bye"
"Bye sayang"
Aku menutup sambungan vidio call, lalu menghembuskan nafas.
"Maafkan Aku yang terpaksa berbohong lagi Gung.... "
Ujarku pelan.
Satu jam berlalu,
Aku keluar kamar dangan penampilan yang sudah rapi sembari memandang ponsel yang sedang kumainkan.
Sebuah pesan ku kirim pada Dirga,
"Aku sudah siap... kita ketemu di kafe kemarin"
Tanpa lama menunggu, pesan balasan kuterima.
"Aku OTW"
Hatiku berdebar-debar, namun senyum tak dapat kusembunyikan dari wajahku yang mungkin nampak berseri-seri pagi ini.
"Tumben Vin, masih pagi dah rapi.. apalagi... ini hari minggu,, biasanya juga masih bergulung dalam selimut!"
Celoteh Mama.
"Ehm... Ini Ma, ada acara anak-anak kantor.. mungkin Vina Akan pulang agak lambat,, bilangin Papa gak usah nunggu kayak semalem... Vina kasian"
Lagi-lagi Aku berbohong membuat alasan acara kantor pada orang tuaku.
"Ohh... gitu, hati-hati ya Nak... sarapan dulu!!"
Mama menarik kursi dan duduk menemaniku sarapan, sementara Papa, masih belum pulang lari pagi yang rutin ia lakukan setiap minggu.
Tak sabar ingin segera pergi, Aku meneguk habis segelas teh hangat buatan mama dalam satu kali seruput.
"Ma... Vina pergi ya.. "
"Loh.. kamu gak sarapan Dulu,,?"
Mama memandangku heran.
"Nanti dikantor aja, takut yang lain lama nunggu Ma..."
Aku beranjak dari kursi dan berlalu dari hadapan Mama.
Bersambung***
__ADS_1