
Pagi minggu yang menurutku 10 kali lebih cerah dibanding minggu-minggu sekian tahun yang lalu yang pernah Aku lewati dalam hidup setelah Aku dan Dirga tak lagi bertemu.
Kini hari seperti ini bisa kurasakan lagi, dimana ada sejuta semangat, rindu, cinta dan rasa bahagia luar biasa di dalam hati.
Meski Aku tau ini kesalahan,, tapi hati tak bisa berdusta bahwa inilah rasa yang sebenarnya, rasa yang selama ini Aku damba dari seorang yang sangat Aku cinta.
Sejenak memejamkan mata, lalu menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.
Aku melaju meninggalkan garasi rumah menuju tempat dimana Aku dan Dirga akan bertemu.
Rasa tak sabar kian memburu dalam hati, kupaksakan untuk tetap tenang dan mengendalikan hati yang terus berdebar.
Sampai di lokasi,
Hatiku semakin bergetar, denyut jantungku berdebar-debar tak karuan, entahlah.. padahal ini bukan pertemuan pertama, namun deg-degan yang kurasakan lebih parah dari kemarin sore.
Kulihat motor Dirga sudah terparkir di pojok parkiran, itu menandakan Dia sudah ada didalam.
Aku memeriksa ponselku sebelum Aku turun,
Benar saja.. ada dua pesan disana.
yang pertama datang dari Dirga yang mengabarkan jika Dia sudah sampai.
Sementara pesan yang kedua berasal dari Agung, yang bertanya apakah Aku sudah pergi.
Aku membalas pesan Agung dengan balasan singkat, menyatakan bahwa Aku sudah sampai kantor.
Setelah berpikir agak lama, Aku akhirnya memutuskan untuk mematikan ponselku.
Aku ingin hari ini menjadi hariku dan Dirga tanpa adanya gangguan dari siapa-siapa, termasuk Agung.
Selesai mematikan ponsel, Kembali kusimpan didalam tas.
Namun baru saja ingin kubuka handle pintu, entah kenapa Aku ingin memastikan penampilan dan riasan wajahku dalam keadaan sempurna, Aku kembali mengeluarkan cermin dari dalam Tas, lalu memeriksa riasan wajahku, tak lupa kembali menyemprotkan parfume di beberapa bagian tubuhku.
Entahlah, sejak kemarin bertemu Dirga Aku jadi lebih sering bercermin dan ingin selalu tampil cantik.
"Ahh... kenapa Aku jadi segenit ini"
gerutuku, lalu keluar dari mobil.
Aku berjalan penuh percaya diri meski hatiku sudah tak karuan,
Sampai di dalam, tak sulit bagiku menemukan Dirga diantara banyaknya Tamu kafe pada pagi ini,,
Aku tak menyangka akan ramai pengunjung pagi ini, mungkin karena ini hari minggu.
Aku melangkah pelan mendekati laki-laki bertubuh berisi yang tengah tersenyum menyambut kedatanganku.
Penampilannya yang santai dengan kaos putih dilapisi kemeja kotak-kotak navy, dipadu celana jeans dan sepatu sneakers, membuat Dirga terlihat begitu manis dan sangat keren dimataku.
Sungguh berbanding terbalik dengan gaya Agung yang selalu terlihat formal dengan kemeja yang selalu rapi, tatanan rambut klimis serta sepatu mengkilapnya.
"Astaga!! ada apa denganku?? kenapa Aku jadi membanding-bandingkan mereka!"
Aku menggigit bibirku sendiri.
"Udah lama ya?"
Tanyaku berbasa-basi begitu sampai di depan meja Dirga.
Dirga menggeleng, kemudian tersenyum, tentu saja dengan senyuman yang memabukkanku dan membuatku melambung dalam pesona senyum itu.
"Duduk Vin,, kamu udah sarapan?"
Tanyanya.
"Ehm... belum, sengaja mau sarapan disini"
terangku tanpa malu-malu.
"Oh,, ya udah... kebetulan kalau begitu.. Aku juga belum sarapan.., jadi kita bisa sarapan bareng."
Dirga terlihat memilih menu.
Setelah memesan menu yamg kami pilih,, kami nampak canggung dan terdiam beberapa saat sampai makanan yang kami pesan datang.
"Ehm... Vin, kita ngobrolnya selesai sarapan aja ya... kayaknya efek laper, jadinya banyakan diem... mungkin setelah kenyang kita akan ngobrol banyak seperti kemarin"
Sindiran Dirga membuat Aku malu dan menunduk.
__ADS_1
Benar saja, setelah berbicara seperti tadi, Dirga tanpa ba.. bi.. bu.. be.. bo.. segera melahap makanannya tanpa menolehku.
Aku pun turut makan, tapi mata tak dapat berpaling dari sosok pria didepanku.
10 menit berlalu,
ketika Dirga mendorong piringnya sedikit menjauh dari hadapannya.
Kulirik piring yang kini sudah tersapu bersih, beralih pada cangkir didepannya yang berisi kopi hitam yang isinya tinggal setengah.
Aku masih belum bersuara, dengan tetap memperhatikan setiap gerak gerik Dirga.
"Kamu kenapa dari tadi merhatiin Aku?"
Dirga bertanya tanpa melihat wajahku.
Aku tersentak mendengar pertanyaan tersebut, tak kusangka ternyata Dirga menyadarinya.
wajahku terasa memanas, yang jelas Aku begitu malu, terlebih ketika Dirga menatapku tajam dan dalam.
Aku betul-betul salah tingkah.
"Vin, jujur... Aku senang banget hari ini bahkan dari semalam.. Aku gak pernah nyangka, kita akan bisa sedekat ini lagi"
Aku tersenyum kecil kemudian mengangguk lalu menyudahi sarapanku yang sebetulnya masih tersisa banyak dipiring.
Bahkan sebenarnya hanya dengan menatap senyum hangat pria didepanku ini saja Aku sudah cukup kenyang.
Mungkin, hanya Aku dan tuhan sajalah yang tau betapa bahagianya Aku hari ini.
"Ehm... Vin, kamu kenyang??"
Tanya Dirga,
Aku menatapnya lalu mengangguk.
"Tapi kok Aneh ya..."
Aku mengangkat kedua alis mataku sebagai tanda bingung dan bertanya-tanya apa maksudnya.
"Aneh aja, udah kenyang, tapi... masih bungkam,, apa kamu gak nyaman disini?"
Jawabku.
"Nahhh,, akhirnya.... suara itu keluar juga."
Aku tertawa kecil,
"Ehm... kabar Nina gimana?? kalian masih kontak??"
"Masih kok... sampai sekarang kami masih dekat,, ehhmm.. Nina udah punya anak, 2 malah.. kembar"
jelasku.
"Ehmm... udah berkeluarga ya Dia... "
"Oh ya,, Ehm... yang bilang sama Aku tentang kamu di Baby shop itu sebenarnya Nina"
Dirga diam,
"Ehm... Dirga, kamu belum ceritain ke Aku, siapa perempuan dan Anak kecil yang selalu bersama kamu??"
selaku ragu-ragu.
"Oke,, nanti Aku ceritain ke kamu, bahkan semuanya... tapi nanti ya,, gak disini... lagian... malam masih lamakan??"
ujar Dirga yang beranjak dari kursinya, lalu menarik lenganku untuk mengikuti langkahnya.
Aku terperangah, bingung.
Sampai di depan kafe,
"Dir.... Dir.... Dirga.... tunggu dulu!! Aku mau kamu bawa kemana??"
Tanyaku berusaha melepaskan cengkraman tangan Dirga.
"Kesuatu tempat!!"
Dirga memainkan Alis matanya padaku membuatku semakin bingung dan bertanya-tanya.
"Please ya.... kamu jangan macem-macem!!"
__ADS_1
Ancamku.
"Gak kok... cuma satu macem aja bolehkan???"
Ujar dirga mengumbar senyum tipis yang membuat hatiku semakin nyut-nyutan tak karuan.
"Jangan bilang, kamu mau culik Aku!!!"
Cebik ku manja.
"Hahahha... nyulik??,, emang boleh?? kalau boleh sih ayukk!! "
"Dirgaaa!!!!"
Pekikku sembari memukul bahunya.
Dengan cepat Dirga menangkap kepalan tanganku yang tengah memukul bahunya, membuat mataku dan matanya bertemu pada satu titik yang mampu menggetarkan hati,
"Kamu jelek banget kalau lagi cemas gitu!"
Ejek Dirga membuat Aku sedikit kesal.
"Biarin jelek!! udah tau jelek ngapain mau ngajakin ketemu,, satu minggu pulak!!"
Aku melengos.
Dirga tertawa lepas, kemudian membalik bahuku kembali menghadap padanya.
"Ngambek?? canda kok,, mau kamu gimanapun,, bagi Aku kamu tetap Vina yang dulu... Ervina Delia, si gadis kalem, yang manis, dan suka curi-curi pandang sama Aku,,"
"Hah...?? Dirga,, resek ah,, Aku malu!!"
Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.
"Tuh,,gini nich... ekspresinya kalau kejebak sedang liatin Aku.. wkwkkw,, mukanya merah kayak tomat!!"
Dirga menunjuk mukaku, membuat Aku memalingkan wajah darinya.
"Tapi Aku suka!! "
Dirga menyentuh daguku, kemudian membawanya kembali menghadap wajahnya.
"Senyum donk,,"
Dirga menatapku dalam sembari tersenyum,
dengan malu-malu Aku menatapnya mengembangkan senyum termanis.
"Udah ah,, Aku malu.. jadi kamu mau ajak Aku kemana??"
Tanyaku.
"Kamu keberatan gak, kalau kita perginya naik motor Aku lagi?"
Aku menggeleng.
Dirga menarikku mendekati motornya, kemudian memakaikan Aku helm dengan sangat lembut.
Perlakuannya mengingatkan Aku pada Agung, bedanya.. ketika Agung yang melakukannya, Aku tak merasakan debaran Luar biasa seperti yang tengah Aku rasakan saat ini.
Aku seperti tengah mengalami gejolak cinta luar biasa, memburu dan membara.
Setelah motor menyala, Aku naik dibelakang Dirga, tanpa basa basi, tanganku melingkar dengan sendirinya di pinggang Dirga hal itu membuat Dirga sempat menoleh sesaat seolah tak yakin dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Sementara Aku sendiri juga tak tau kenapa keberanian untuk memeluknya itu muncul begitu saja tanpa diduga.
Motor melaju dengan kencang menembus jalanan kota yang mulai ramai.
Di sepanjang perjalanan, kami hanya saling diam, menikmati detak jantung masing-masing yang terasa sepertinya sudah tidak normal lagi, karena terus saja berdegup kencang sejak awal tubuh ini melekat di punggungnya.
"Ya Tuhan, beginikah rasanya ketika bersama pacar yang kita cintai?? beginikah rasanya saling mencintai?? beginikah rasanya jatuh cinta dan dicintai oleh orang yang kita cintai??
Sungguh, rasa ini pertama kali kurasakan?? namun getaran nya sama,, bahkan sejak awal Aku menatapnya dulu saat pertama kali melihatnya di lapangan sekolah."
Batinku.
Aku tak tau lagi,, bagaimana lagi Aku harus menikmati rasa yang benar-benar memanjakan hati ini, terlebih ketika mengingat bahwa ini hanya sepekan saja.. rasanya tak ingin waktu cepat berlalu.
Aku menyandarkan kepalaku pada punggung Dirga, dan Dirga menyambut itu dengan mengusap lenganku yang melingkar di pinggangnya.
Bersambung***
__ADS_1