Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 161 Penjelasan Agung


__ADS_3

Tante Ruri, melihat wajah kami secara bergantian sebelum akhirnya ia mengangkat panggilan Video dari Agung.


"Halo Ma..."


"Halo Nak..."


Sapa Tante Ruri,


"Mama Lagi dimana?"


Suara Agung terdengar cemas.


"Mama lagi Dirumah Tante Yuni"


Hening sesaat lalu,


"Ma.. tolong arahkan ponsel ini pada kalian semua, Agung ingin menjelaskan semuanya"


Ujarnya.


Terlihat Agung mencari posisi untuk ia berbicara pada kami semua melalui sambungan panggilan Video.


Tante Ruri kemudian mengarahkan ponsel sedikit menjauh darinya agar Aku, Mama dan Papa bisa melihat Agung, Dan Agung juga bisa melihat kami dengan jelas.


Setelah posisi sudah nyaman dan pas, Agung mulai menghadap kamera ponselnya dan mulai berbicara


"Tante, Om.. Mama,, sebelumnya Agung mau minta maaf yang sebesar-besarnya atas semua yang sudah terjadi,, mungkin kabar yang mendadak ini cukup membuat Kalian kaget dan bertanya-tanya, tentang mengapa dan ada apa. Agung maupun Vina sebenarnya juga tak ingin seperti ini,, hanya saja keadaan sudah terlanjur terjadi,, Agung dan Vina juga tidak bermaksud mempermainkan sebuah ikatan, maupun mempermainkan kalian semua,, semua terjadi begitu saja."


Terdiam sesaat, terlihat Agung menunduk seolah tengah mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan kata-katanya.


"Semua ini bukan salah Vina,, jadi Agung mohon jangan pernah salahkan Vina,, ini murni kesalahan Agung,, Agung yang terlalu percaya diri,, Agung yang terlalu memaksakan kehendak, Agung obsesi,, sementara kita semua tahu,, bahwa cinta tak bisa dipaksakan"


Aku tersentak mendengar ucapan Agung, begitu besar hatinya membelaku didepan keluarga dan menyalahkan dirinya sendiri,, padahal sama sekali Dia tak bersalah,, Akulah yang menyebabkan kekacauan ini.


Tak terasa Air mataku menitik.


"Agung mencintai Vina Ma.. Tante.. om.. Sangat mencintainya, bahkan Vina adalah cinta pertama Agung sejak Agung masih sekolah dulu, tapi sayangnya Vina tak pernah memiliki perasaan yang sama pada Agung, Vina mencintai orang lain,, cinta itu tak bisa dipaksakan, cinta Vina bukan untuk Agung,, cinta Vina untuk orang lain,, dan sejak awal, Agung tau itu,, hanya saja sebuah keputusan yang salah terpaksa kami ambil dengan menjalin sebuah hubungan dengan harapan cinta Kami lama-lama akan tumbuh, ternyata kami salah lagi, cinta itu sama sekali tak Agung temukan di hati vina, sementara pertunangan sudah didepan mata, Vina begitu baik.. meski hatinya berat, namun untuk menghargai kita semua Vina berusaha menerima meski dalam hatinya terluka dan tersiksa karena harus terus berada dalam kepura-puraan, pura-pura mencintai, pura-pura bahagia dan terus berpura-pura semuanya sedang baik-baik saja, sampai akhirnya Agung membuat keputusan ini, dengan berpikir mumpung hubungan ini baru sebatas pertunangan, dan akan sangat menyakitkan lagi jika semua harus berakhir disaat Hubungan ini sudah terikat dalam sebuah tali pernikahan.


Agung tak mau semua terlanjur jauh, padahal didalamnya sama sekali tak pernah ada cinta disalah satu pihak."

__ADS_1


Aku kembali tercengang mendengarkan ucapan Agung lagi.


Sungguh, Agung benar-benar laki-laki baik.


Andai saja, pertunangan ini berjalan baik, dan Aku kelak menjadi istrinya mungkin saja Aku akan menjadi perempuan dengan suami terbaik sedunia, tapi sayangnya... Cinta itu tak pernah tumbuh, dan hubungan ini tak kan mungkin bisa dilanjutkan.


"Tapi Gung,, bagaimana dengan kamu sendiri?"


Tanya Tante Ruri serta anggukan dari Mama dan Papaku menunggu jawaban dari Agung.


"Mama, Tante dan Om tenang saja, Agung disini baik-baik saja.. Agung melepaskan Vina dengan kerelaan dan betul-betul dengan hati yang Ikhlas"


"Ya Tuhan... kamu baik sekali Gung!!"


Batinku.


"Sekali lagi Agung ingatkan, jangan salahkan Vina,, dan jangan bahas lagi pertunangan itu tutup sampai disini,, biarkan Vina memilih bahagianya sendiri"


"Maafkan Kami juga Ya Gung, Tante harap setelah kejadian Ini, hubungan silaturahmi kita jangan sampe terputus"


Ujar Mama.


"Tante tenang saja,, hubungan keluarga kita akan Agung pastikan tak kan pernah berubah, semuanya akan baik-baik saja, seperti hari-hari yang terdahulu."


"Ya udah ya, Ma... Om, Tante.. Agung mau pamit dulu ya... ehm,, dan untuk Vina, semangat,, jangan sedih dan galau-galau lagi,, percayalah Aku masih akan selalu membawa kamu disetiap doaku, berharap kamu bahagia selalu, mendapatkan cinta seperti yang selalu kamu impikan"


Aku menatap wajah tulus Agung, meski saat ini ia tengah tersenyum,, namun matanya tak bisa berbohong, bahwa ia tengah menelan semua dukanya dan menahan semua lukanya, Aku faham begitu perih dan nyeri hatinya mengucapkan semua itu.


Panggilan terputus,


Aku mengusap sudut Mataku, Papa menggeser duduknya, Mama menarik nafas panjang sementara Tante Ruri menatapku.


"Vina... jujur,, Tante sebenarnya kecewa dengan semua ini,, bahagia yang Tante rasakan saat Agung mendapatkan cinta pertamanya, cinta yang selalu membuat Dia tersenyum dengan mata berbinar-binar setiap kali berangkat kesekolah, cinta yang selalu penuh antusias setiap kali ia menceritakan pada saudara-saudaranya, cinta yang membuat Dia bimbang kala harus memilih untuk pindah ke Samarinda dan waktu Dia mengumumkan berita bahagianya kala itu, dan sejak saat itu pula, Tante menggantungkan harapan yang besar pada Vina, untuk menjadi Anak menantu Tante yang akan menggantikan Tante dalam membahagiakan Agung, meneruskan perjuangan Tante dalam menjaganya serta mencintainya sepenuh hati, tapi saat tadi pagi Agung mengatakan keputusan ini, hati Tante turut merasakan perih yang kalian rasakan"


Tante Ruri menunduk, air matanya kembali terjatuh.


Aku tak menyangka, Tante Ruri akan sesakit ini mendengar keputusan Kami.


Aku memeluk Tante Ruri, dan mengusap punggungnya.

__ADS_1


"Kamu tau Vin,,, Tante Sayang sekali sama Vina,, sayang sekali,, besar sekali harapan Tante untuk Vina... tapi kini Tante harus menerima kenyataan bahwa, kalian tidak lagi bersama"


"Maafkan Vina Tante... Maafkan Vina,, sudah mengecewakan Tante, Mama dan Papa.. maafkan"


jawabku masih memeluk Tante Ruri.


Tak lama, Tante Ruri melepaskan pelukannya dan mengangguk.


"Sebentar ya Tante... Vina ke kamar dulu,"


Aku beranjak dari kursi dan masuk kedalam kamar meninggalkan Tante Ruri, Mama dan Papa yang saling diam.


Tiba dikamar, Aku berdiri mematung didepan cermin yang berada dikamar.


"ini konsekuensi yang harus Aku tanggung,"


Ujarku sendiri.


Aku berjongkok di depan lemari membuka laci yang letaknya di bagian paling bawah lemari kamarku.


Sebuah kotak merah itu menyembul, kuraih dan kupandang beberapa saat lalu kubuka.


"Cincin tunangan... selamat tinggal, semoga setelah ini, kamu berada dijari yang tepat, di jari-jari yang kelak akan menghapus luka dihati Agung, jari-jari yang akan bersedia menyeka keringat dan air mata Agung, jari-jari yang dengan lembut mengusap kepala Agung ketika ia lelah, siapapun pemilikmu kelak, Aku berharap wanita tersebut menyayangi Agung dengan sepenuh hati, mencintai agung dengan hati"


Aku menutup kembali kotak merah tersebut dan menciumnya sebelum membawanya ke ruang tamu, untuk menemui Tante Ruri serta kedua orang tuaku yang masih menungguku.


Sampai di ruang tamu, mata Mama, tante Ruri dan Papa kompak memandangku, lalu beralih pada kotak merah ditanganku.


"Tante... Maaf, ini Vina kembalikan"


Aku meraih tangan tante Ruri dan menyerahkan kotak merah itu ditelapak tangannya.


"Tidak Vin,, jangan! Jangan dikembalikan,, kamu pakai saja, anggap saja.. itu pemberian Tante, kalaupun kamu tidak suka, Kamu simpan saja sebagai kenang-kenagan"


Tante Ruri menolak kotak cincin itu, bahkan menaruhnya kembali ke tanganku.


Aku menggeleng pelan,


"Jangan Tante... ini cincin tunangan.. Vina tak berhak menyimpannya maupun memakainya..."

__ADS_1


Aku kembali menyerahkan kotak itu pada Tante Ruri.


Bersambung***


__ADS_2