
Setelah kepindahanku ke Samarinda, mencoba beradaptasi adalah hal utama yang tengah Aku lakukan, agar nyaman dan betah menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Kota orang.
Semuanya terasa berbeda, dan Aku harus secepatnya terbiasa.
Baru satu minggu Aku berada dikota ini, rinduku akan kota Palembang, sudah sangat tak terbendung terlebih pada Vina sigadis pencuri hatiku
Setiap hari, yang selalu kutunggu adalah kabar Vina,, sampai hari ini,, Dia belum juga mengirimiku pesan, Apa Dia lupa? atau Dia memang belum memiliki ponsel seperti yang dikatakannya hari itu?
Hemm...
Aku menghembuskan nafas, kemudian berbaring dikamar yang masih terasa asing bagiku.
Tak berselang lama, nada pesan masuk di ponselku,
Dengan malas kuraih ponsel yang tak jauh dari tempatku berbaring, sebuah pesan masuk dari nomor baru.
Begitu kubuka, Mataku membulat, rasa tak percaya dengan apa yang kulihat, lalu Aku mendekatkan ponsel tersebut kewajahku, kutajamkan penglihatanku, ini benar... Aku tidak salah! sebuah pesan yang baru saja kuterima berasal dari Ervina Delia,, gadis yang baru saja kupikirkan dan sangat kurindukan.
✉️Hai...kakak ku, apa kabar? Aku udah punya ponsel..save no ku ya...☺️
Tampa membuang waktu, segera kukirimkan balasan.
✉️Hai juga Vina cantik, Oke di save,, kabar Aku baik.. Aku kangen kamu... Sumpah😉
5 menit, 10 menit, hingga 15 menit tak ada balasan lagi,,
hatiku gelisah, pertanyaan demi pertanyaan tiba-tiba muncul di benakku, mungkinkah Vina ilfil membaca balasanku?
Atau Dia sedang bingung harus membalas apa?
Atau mungkin Dia kesal lalu marah dan ngambek?
Atau mungkin juga Dia merasa balasanku tak penting hingga dia cuek?
Sementara masih menunggu balasan dari Vina, Aku membuka pesan yang menumpuk di grup alumni SMP, satu persatu Aku baca dan Aku sedikit terkejut ketika namaku disebut-sebut dalam percakapan mereka.
Mereka bilang pujaan hatiku meraih juara umum tahun ini,, tak hanya itu bahkan ada diantara mereka mengirimkan Video ketika Vina menerima piagam penghargaan diatas podium, entah dari mana semua info itu mereka dapatkan, senyumku terkembang melihat itu,, banyak dari mereka yang justru memberiku selamat atas prestasi yang diraih Vina, bahkan banyak dari mereka yang menyangka bahwa antara Aku dan Vina berpacaran.
Aku tak mengiyakan pernyataan mereka, tapi Aku juga tak menampik itu,, kubiarkan menggantung,, bahkan Aku sendiri saja tidak tau bagaimana kelanjutan nasib hatiku yang terus memupuk cinta sendiri.
Lama berpikir akhirnya kuputuskan menelponnya,
Beberapa kali nada sambungan terdengar, itu tandanya ponsel sedang aktif,
Tak lama, terdengar sapaan lembut dari seberang sana, suara yang Aku rindukan setelah satu minggu tak mendengarnya.
👩Haloo.....
__ADS_1
Sapanya,
🧑Selamat ya cantik...
jawabku,
👩buat??
🧑Aku tau,,kamu juara umum tahun ini.
👩Loch,tau dari mana??
Tanyanya heran,
🧑Anak- anak pada cerita.
👩Ehmm...pantesan, Aku kesedak mulu dari tadi..hehehe...
Ya tuhan, ketawa itu... Aku benar-benar merindukannya.
🧑Emang apa hubungan nya??
👩Itu tandanya,, kita lagi di omongin...
🧑Ihhhh...pede nya...
👩wkwkwkwk.. Btw, Gimana di sana?? Betah??
🧑Ehmm,...enggak!
👩Loch..kenapa?
🧑Gak ada Vina!
👩Hem.....dasar.
🧑Aku rindu loch..beneran sumpah!
Lagi-lagi kuberanikan untuk mengungkapkan apa yang Aku rasa.
👩Sama siapa??
🧑Ya elahhhh...ya sama kamu,
👩Hihihi,,,balik!
🧑Iya,ntar aku balik.
__ADS_1
👩Ehm....udah dulu ya,,aku mau belajar...😁🧑Hah...belajar???udah bagi raport kok.
👩Belajar main hape..wkwkwk,bye.....
Klik,
Vina mematikan sambungan telepon disaat Aku masih ingin bercerita banyak padanya,, Aku masih rindu... tapi mau bagaimana lagi,, Aku bukan prioritas utama bagi Vina,, jadi Aku tak boleh berharap lebih, syukur-syukur sekarang Aku sudah punya kontaknya, setidaknya Aku bisa berkomunikasi lain waktu.
Semenjak hari itu,, Aku lebih sering menghubunginya, tak hanya nomor ponselnya saja, semua akun sosmednya kini Aku sudah berteman,
Tak ada hari yang kulewatkan tanpa terhubung dengan Vina, baik melalui sambungan telepon, chat hingga mengomentari foto-foto yang ia bagikan di sosial medianya, meski begitu.. tak jarang Vina membuatku kecewa karena tak mengangkat telepon dariku, tak membalas chat dariku,, atau hanya memberi jempol saja pada setiap komentarku tanpa menanggapinya dengan komentar balik.
Tapi ya... mau apa lagi? beginilah nasib cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Aku cuma bisa bersabar, berdoa dan berusaha.. semoga suatu hari pintu hatinya terbuka untukku.
Disini, Aku masih selalu menunggu keajaiban untuk satu cinta,, ya.. hanya satu cinta dan itu Vina.
Melalui hari-hari dengan menutup hati untuk gadis-gadis lain, bukan tanpa alasan..
Tapi perasaan lah yang menentukan bahwa hati ini tak bisa berpaling darinya.
Entah sampai kapan, Aku sendiri tak pernah tau..
Menjalani hari-hari yang berat dengan segala kerinduan itu bukan tanpa luka, beban dan terkadang berteman dengan air mata,
Mungkin Aku terlalu naif, tapi inilah kenyataannya, separuh hatiku tertinggal disana,, dan itu yang membuatku kuat bahwa suatu hari nanti.. Aku akan kembali menjemput hati yang kutinggalkan, meski Aku tak pernah tau,, kapankah suatu hari itu akan terjadi.
Karena sampai detik ini, Vina hanya menganggapku tak lebih dari seorang sahabat yang selalu setia mendengarkan semua curhatannya, tentang teman-temannya, tentang harinya, tentang semua masalah-masalahnya termasuk tentang Dirgantara dan semua kegelisahanya.
Sebenarnya selalu ada luka yang tergores setiap kali Vina menyebut nama Dirgantara didalam obrolan kami, ada rasa cemburu bahkan sakit hati,, namun sebisanya hal itu kutepis dan kubuang jauh-jauh,, Aku tak ingin rasa cemburuku merusak komunikasiku dengan Vina,, karena meski begini saja,, Aku sudah sangat bahagia,, mencintai tak harus memiliki,, mungkin pepatah itu yang paling cocok untuk posisiku saat ini.
Waktu terus berlalu, tanpa terasa 4 tahun sudah Aku berada disini, dengan menyandang status sebagai seorang Mahasiswa, tak hanya itu.. Aku juga tengah belajar menggeluti bisnis makanan dan pakaian kecil-kecilan, dengan sasaran pasarku adalah teman-teman kampus, dan hasilnya lumayan, setidaknya Aku bisa mandiri tanpa menadah kepada Mama ataupun saudara-saudaraku, Aku bisa memenuhi kebutuhanku sendiri dengan hasil keringatku, dengan harapan semoga suatu saat bisnisku berkembang tak hanya dilingkungan kampus.
Rasa rinduku akan kampung halaman, memanggilku untuk kembali, kebetulan kuliah sedang libur, setelah mendapat izin dari Mama, kuputuskan untuk terbang ke Palembang dan berlibur selama satu minggu disana, tak hanya rindu kota itu, tapi Vina lah yang menjadi alasan pertamaku untuk kembali.
Hari sudah mulai gelap, ketika kuhirup aroma udara dari Kotaku tercinta, rindu yang kini kulepaskan pelan-pelan.
Aku berjalan menikmati suasana yang sudah lama kurindukan ya... sangat rindu.
Berbekal info dari teman, Aku mendatangi sebuah kost-kostan harian yang letaknya tak jauh dari bandara, setelah membayar uang sewa selama satu minggu, si pemilik kost menyerahkan kunci padaku, tak hanya itu Aku juga menyewa sebuah sepeda motor untuk kupakai selama Aku berada di Kota ini.
"Vina,, besok kita akan bertemu... "
ujarku lirih sebelum akhirnya mataku terpejam lelah.
Bersambung***
__ADS_1