
"Dicuekin?? kapan??"
Tanyaku lagi.
"Ah.. udah gak usah dibahas...! Bikin malu aja!"
Daniel memasang wajah datar.
"Aku serius nanya! dan Aku mau minta maaf kalau kamu be-te nya gara-gara salaman waktu itu"
Aku tersenyum meledek.
"Ihh senyum ituu!!! "
Daniel menarik rambutku lembut.
"Lah... kenapa?"
"Senyum kamu jelek!! ngeledek!!!"
Daniel, berdiri membelakangiku.
"Hahhahahha..... !!!"
Aku terpingkal dengan sikap Daniel yang sering baperan.
"Alhamdulillah..."
Daniel mengusap mukanya dengan kedua telapak tangannya.
"Kenapa??"
Tanyaku yang bingung dengan sikap Daniel yang tiba-tiba berucap syukur seraya mengusap muka.
"Aku senang deh, kamu udah gak sedih lagi, udah bisa ketawa lagi"
Aku tertunduk dan salah tingkah dengan tatapan Daniel yang penuh arti.
"Ya udah.. gak usah malu-malu gitu, balik kelas yuk"
Ajak daniel.
"Iihh... siapa yang malu?? biasa aja!!!"
Aku mengangguk dan jalan bersisian bahu dengannya menuju kelas.
Sesampainya dikelas,
"Cieee... ciee..... udah baikannn"
Goda Nina saat menjadi orang pertama yang menyaksikan Aku dan Daniel masuk kelas beriringan.
Elza dengan cepat berjalan kearahku yang baru saja tiba di depan bangku.
"Vin, beneran kamu berantem sama Daniel? dan sekarang udah baikan?"
__ADS_1
Tanyanya dengan mata yang serius.
"Hemmmm.... Gak ada yang berantem sayang...., cuma salah paham"
Aku menepuk pelan bahu Elza, yang kini berbalik arah ke bangku Daniel.
"Kamu udah bisa senyum??"
Tanya Elza mendekatkan wajahnya pada Daniel, sontak saja hal itu membuat Daniel kaget.
"Za.... apaan sihh... gak usah deket-deket gitu!! ntar kecium, Aku pulak yang salah!!"
Daniel refleks mendorong jidat Elza agar segera menjauh.
"Awwww... Danieeellll!!! Kasar banget sih lu jadi cowokk!! sakit tau!! kalau leher Aku kecengklak gimana??!"
Elza menggerutu jengkel sembari memegangi lehernya yang sakit.
"Lagian, siapa suruh dekat-dekatin kepala ke muka Aku!"
Daniel juga tak kalah menggerutu.
"Akukan cuma mau nanya, kamu gak ngambek lagi??"
Kali ini Elza bertanya dengan jarak satu meter.
"Iya enggak!! ntar pulang Aku antar!!"
Daniel yang terlihat masih kesal memasang senyum dibibirnya untuk Elza.
"Yeeeayyy..... "
Nina ikut bertepuk tangan, Aku hanya tersenyum menyaksikan mereka, sementara Tari sibuk dengan buku diatas mejanya entah sedang mengerjakan apa.
Jam istirahat tiba,
Nina dan Elza dengan cepat menuju kantin, Aku dan Tari menyusul dari belakang, sementara Daniel masih asyik mengobrol dengan teman sebangkunya.
"Vin, Kamu sedih ya, abis dengar ceritaku tentang Dirga?"
Tanya Tari sembari jalan.
"Dibilang sedih sih iya... tapi lebih tepatnya kecewa Tar"
Jawabku menanggapi pertanyaan Tari barusan.
"Maafin Aku ya Vin, gara-gara Aku... kamu jadi banyak pikiran.
Aku menggeleng tersenyum.
"Tar... Vin... sini!!!"
Seru Elza dari ujung kantin.
Aku dan Tari membalas lambaian itu dan segera menghampiri meja mereka.
__ADS_1
"Vin, Aku mau kasih info penting!!, Sebenarnya dari kemaren, tapi lupa!!!"
Nina menarik cepat lenganku memaksa duduk disampingnya.
"Info apa Nin, sampe segitu paniknya?"
Ujarku bingung.
"Tau nih, Nina udah macam mata-mata yang mau ngasih Info!!"
Celetuk Elza disambut senyum tipis dari Tari.
"Intel kali guaaa!!!"
Nina menanggapi komentar Elza kemudian melanjutkan obrolan dengan Vina yang sudah siap menerima laporan dari Nina.
"Vin sebenernya Aku pulang sekolah kemarin sempat melihat Dirga turun dari Dari Bis di halte rumah kamu, Aku mau nelpon kamu, tapi hape Aku abis batere, pulang-pulang Aku lupa.. Malamnya ingat tapi udah malam banget, takut ganggu kamu istirahat, pagi-pagi mau langsung cerita ehh... si Elza nyegat nagih hutang cerita"
Cerita Nina panjang lebar.
"Hahhh?? Serius Nin?? "
Tanyaku tak percaya.
"Iya... serius, Aku juga sempat lihat Dia duduk sendirian disana!"
Ujar Nina lagi.
Aku yang masih tak percaya dengan cerita Nina terdiam.
Tari pun nampak sama denganku seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ngapain ya Dirga di Halte duduk sendirian, Sebenarnya Dia mau kemana? atau dari mana?"
Pertanyaan itu kini berputar-putar di kepalaku.
"Nin, kira-kira Dia dari mana ya?? trus mau kemana?"
Tanyaku pada Nina.
"Mungkin aja Dia mau kerumah kamu Vin, atau nungguin kamu pulang sekolah, berharap kamu naik Bis seperti dulu"
Jawaban Nina membuatku berkeringat dingin.
"Apa benar seperti itu?"
Batinku.
"Iya sih... Nina benar.. mungkin saja Vin!"
Sambung Elza.
"Kalo melihat dari arah Bisnya sih iya Vin benar, itu Bis dari arah rumah Tari, kan Dirga tetangga Tari"
Sambung Nina seolah membenarkan tebakannya.
__ADS_1
Dalam seketika Aku galau lagi, hatiku tak tenang lagi, pikiran ku kembali terfokus pada Dirga lagi.. kenapa Dirga seolah menyimpan misteri, dari dulu sikapnya sulit ditebak, bahkan untuk menerka perasaannya saja Aku tak mampu.
Bersambung***