Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 73 Rasa tak percaya


__ADS_3

Pernyataan Nina barusan benar-benar membuatku seperti kehilangan nafas sesaat.


hatiku perih, terasa tersayat.


Di Baby shop? itu artinya Dirga belanja keperluan Baby? apa itu tandanya Dirga sudah memiliki anak? itu berarti Dirga sudah menikah?


Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku, rasanya sungguh berat dan terasa menusuk, sulit untuk percaya terhadap pikiranku sendiri.


"Vin, kamu baik-baik saja?"


Agung menyentuh bahuku dan menatapku cemas.


Aku menelan ludah dan menarik nafas panjang, mencoba berdamai dengan perasaanku yang saat ini terasa remuk.


"Ehm...hem... ya, Aku baik-baik saja"


Aku mengangguk dan berusaha tersenyum meski ini terasa sangat berat.


Kami terus melangkah bersama.


"Ehm... Pi,, kita nanti aja belanjanya ya... Mimi mau ngobrol sebentar sama Vina, Pipi bisa tolong Mimi gak,, ajak Rania dan Raina ke Play ground disana?"


Pinta Nina pada Alif sembari menunjuk arena permainan tak jauh dari tempat Kami berdiri.


"Oh,, Oke.. bisa kok...sini Nak...!!"


Alif, Suami Nina segera mendorong Stroler kembar ke dekat Nina dan mengambil alih Rania dari tangan Nina yang sebelumnya berada di gendongan Vina.


Ia lalu menaruh Baby Rania kedalam Stroler pelan-pelan berdampingan dengan Baby Raina.


"Oke Twins, saatnya kita bermain... go!!!, dada Mimi, aunty... uncle..."


Seru Alif sembari mendorong Stroler Baby Twins menjauh menuju Arena Play ground.


Setelah Alif dan Baby Twins berlalu, kini tinggal Agung yang kini merasa canggung dan bingung,


terlebih setelah tatapan Aku dan Nina menatapnya.


"Ehm... Kalian kalau mau ngobrol, ngobrol aja.. Aku tunggu disana"


Ujarnya menunjuk sebuah tempat duduk.


Aku mengangguk.


"Vin, kita ngobrol disitu ya..."


Nina menarik lenganku untuk duduk di bangku yang berjarak sekitar 3 meter dari tempat duduk Agung.


Kulihat Agung tengah sibuk dengan ponselnya.


Setelah duduk,


"Ehm... Vin, Aku paham apa yang kamu pikirkan, semoga aja pikiran kita salah."


Nina menggenggam jemariku berusaha menguatkan Aku.


"Kamu tak menyapanya Nin?"


Tanyaku dengan bibir bergetar.


"Maaf Vin, waktu itu Aku buru-buru, Twins rewel, Aku jadi gak fokus"


"Kamu lihat Dia datang sama siapa?"


Tanyaku lagi.


"Iya, Aku lihat... Dia datang sama perempuan dan Anak kecil sebaya anakku, sekitar satu atau satu setengah tahun gitu, soalnya masih di gendong, anaknya perempuan juga, mereka juga terlihat harmonis, tertawa dan bercanda gitu."


Tak kuasa lagi Aku menahan kristal bening yang sudah menggenang di kelopak mata, jatuh terburai bersama luka yang tak berdarah.


Ya Tuhan... apa ini artinya Aku harus berhenti berharap, dan segera bangun dari mimpi panjang tentang cinta pertama yang tak kan pernah mati?

__ADS_1


Aku dilema, antara rindu dan sakit hati.


Antara keyakinan dan kenyataan.


Bahkan antara menanti dan berlari.


Nina mengusap pundakku, Aku berusaha menegakkan kepalaku dan mengusap air mata yang tak bisa kutahan lagi.


"Vin, mungkin perkataan Tari kala itu benar.. Kamu gak perlu lagi berharap pada Dirga, sementara disini jelas-jelas Kak Agung menyayangi kamu dengan tulus, apa salahnya buka hati kamu, mungkin memang Kak Agunglah sebenarnya cinta sejati Kamu yang tak pernah Kamu sadari"


Nina kembali menggenggam jemariku.


"Oke Nin, makasih saran dan infonya.. biar nanti waktu yang menjawab, kayaknya Bioskopnya udah buka, Agung ngajak Aku nonton, nanti lain waktu kita ngobrol lagi ya..."


Aku mencoba tersenyum dan mengusap pipiku dari sisa Air mata.


"Iya.. sepertinya Twins juga udah gelisah, ya udah... see you... sayang, semangat ya...."


Nina merangkulku sembari mengusap pundakku berkali-kali.


"Kak.... Aku duluan ya.... Nitip Vina hehheh jagain!!"


Seru Nina melambai pada Agung dan berlalu menuju play ground menemui Alif dan Baby Twins.


Aku menghampiri Agung yang berdiri dengan menyelipkan kedua tangannya di saku jeans yang ia kenakan.


"Yuk...."


Ajakku, namun langkahku terhenti ketika tiba-tiba lenganku disambar cepat oleh Agung.


"Tunggu... tunggu..."


Ujarnya sembari menatapku lembut.


Tindakannya cukup membuatku terkejut, Aku menatapnya bingung.


"Kenapa?"


Tanyaku pendek.


Pertanyaan yang membuatku semakin bingung.


"Hah?? maksudnya??"


"Sini...., sampai-sampai buat kamu nangis dan keringetan gini"


Agung menarikku lebih dekat, lalu menyeka sudut mata dan dahiku dengan ujung lengan jaketnya.


"Maaf ya,, Aku gak bawa sapu tangan, Aku juga gak ada Tissue... Tapi tenang aja,, Aku pelan-pelan kok, gak bakal menghapus bedak dan maskara kamu..."


Agung tersenyum.


"Apaan sich....,, maskara?? sejak kapan tau maskara? emang kamu tau, yang mana maskara?"


Ujarku sembari mencubit lengannya.


"Taulah.... itukan, yang di oles-oles di bulu mata, yang kalau lagi makainya mata mesti melotot gini... nichh gini nich... "


Ujarnya mempraktekkan.


Sontak hal itu membuatku terkekeh, sejenak melupakan luka yang baru saja tergores dihatiku.


"Mana ada gitu, lebayyyy itu... hahhhaa"


"Nahh... ketawa gitu kan enak lihatnya, adem.."


"Ademmm... emangnya Aku kipas angin?!"


"Bukan!!"


"Terus...?!"

__ADS_1


"Es teler... tuh lihat, Aku aja sampe teler ngeliat kamu!!"


"Gomball!!"


"Biarin,, yang penting kamu happy!"


Agung menatapku lekat, diam sesaat kemudian merapikan rambutku dan menyelipkan anak rambut di belakang telingaku.


"Vin, Aku cuma ingin kamu selalu bahagia..."


Aku menelan ludah,


"Udah yuk... jadi nontonkan?"


Agung tersenyum lalu mengangguk kemudian meraih jemariku menggenggam dan menggandengku berjalan bersisian.


Lagi-lagi hal ini mengingatkanku pada kenangan bersama Dirga, kala tanganku dan tangannya bertaut melintasi koridor sekolah dulu, dan saat ini mungkin tangan itu tengah menggandeng mesra perempuan lain yaitu ibu dari anak perempuannya.


Sekali lagi air mataku jatuh,


Agung menoleh.


"Loh... kok rembes lagi,, udah ya...ntar bedak kamu luntur loh...!!"


Agung menyeka air mataku dengan ujung jarinya.


Aku menatapnya tersenyum.


"Tunggu disini ya,,,"


Ujarnya, lalu meninggalkan Aku untuk ke loket membeli tiket.


Tak lama, Agung kembali menemuiku.


"Nih... kita nonton ini aja....!"


"Loh, kok film komedi? gak jadi film romantis??"


Tanyaku heran.


"Gak, nonton ini aja, biar kamu ketawa, bagiku senyum kamu lebih penting dari pada keromantisan kamu buat Aku"


Lagi-lagi, Agung mampu memberiku senyum meski masih terasa sangat berat.


"Nah... gitu donk...."


Agung mengacak pucuk kepalaku.


Terdengar suara pintu teater dibuka, Aku dan Agung bergegas masuk.


Didalam,


Aku tak bisa begitu saja melupakan cerita Nina, bayangan keluarga bahagia yang digambarkan Nina terus menggoda pikiranku.


Belum lagi semua kenangan tentang Aku dan Dirga satu persatu terlintas di memori otakku.


Dan ternyata Agung menyadari tentang kegelisahanku.


"Emang Nina cerita apa tadi Vin?, ehm... sorry, bukan mau ikut campur tapi kalau tidak keberatan, Aku pingin kamu cerita, sebab Aku lihat, sepertinya ini berat buat kamu"


Agung meraih tanganku, lalu menggenggamnya dengan tubuh berbalik menghadapku.


Aku tak bisa menjawab, kepalaku tertunduk dalam, dan air mataku lagi-lagi mengalir.


"Vin,,,,"


Panggilnya,


"Apa ini ada hubungannya dengan Dirgantara??"


Sambungnya.

__ADS_1


Mendengar itu, kepalaku terangkat, lalu menatap Agung, dengan berlinang Air mata Aku mengangguk.


Bersambung***


__ADS_2