Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 166 Kamar Dirga


__ADS_3

Dengan cepat Dirga menangkap tubuh montok Mimi dan membawanya kedalam pangkuannya.


Syintia berjalan mendekat kearah kami,


"Hai... Ini Vina kan?"


Sapanya sembari mengulurkan tangan.


Aku terperangah, tak menyangka Syintia sudah mengenal Aku, padahal kami tak pernah bertemu sebelumnya, hanya sepintas saat di mall waktu itu,, itu juga Aku yakin Dia tak melihat Aku,, tapi kenapa Dia mengenaliku?


"Ehm.. iya.. "


Aku mengangguk dan menerima uluran tangannya.


"Aku Cia,, eh.. Ehm.. maksudku Syintia,, sepupunya Abi"


Ujarnya penuh dengan senyum keramahan.


Aku membalas senyum itu masih dalam tanda tanya dihati.


"Kamu pasti bingung kan,, kenapa Aku bisa tau dan mengenal Kamu?"


Syintia kini duduk disampingku sembari memandangku.


Aku mengangguk sambil terus menatapnya.


"Nanti ya... Aku bakal ceritain semuanya,, Aku mau bersih-bersih dulu bentar... nanti kita ngobrol banyak"


Syintia menepuk pundakku, kemudian beranjak meninggalkanku, Dirga dan Mimi.


"Bi, Aku mandi dulu ya.. Nitip Mimi bentar"


Ujarnya sebelum meninggalkan Kami.


"Ehm.. Vin,, kita duduk di taman belakang yuk..."


Ajak Dirga padaku.


Aku menatapnya dan mengangguk.


Sambil menggendong Mimi, Dirga berjalan disampingku.


Sampai di depan pintu menuju belakang rumah,


"Yuk, kesana.."


Dirga menunjuk kursi yang menghadap ke depan kolam ikan, disana juga terlihat banyak macam bunga aneka warna,


Aku melangkah mengikuti Dirga.


"Kamu canggung ya,, bertemu keluargaku?"


Tanya Dirga menatapku.


Aku diam,


"Vin,, beginilah mereka.. dan Maaf jika sikap mereka membuat kamu tak nyaman"


"Ehm... enggak kok Dir,, Aku malah ngerasa bangga sekali diperlakukan seperti ini.. Aku ngerasa udah deket aja sama mereka padahal baru pertama ketemu, tapi mereka udah baiiikkk banget sama Aku"


"Kamu tau,, mungkin bagi kamu ini perkenalan pertama,, tapi bagi mereka.. ini bukanlah yang pertama,, mereka sudah tau dan mengenal sosok Vina bertahun-tahun lamanya"


"Hah?? Kok bisa??"


tanyaku kaget.


"Sebab kamu selalu ada disetiap obrolan kami, kamu selalu kubawa pada setiap cerita kami,, dan kamu selalu Aku sebut disetiap harapan kami ketika dulu kami masih sama-sama remaja"


Aku tercengang mendengarnya,, benarkah yang baru saja di bicarakan Dirga??


Sepenting itukah Aku dimatanya hingga selalu menceritakan tentang Aku pada saudara-saudaranya.


"Vin, selama waktu yang kamu pikir Aku menghilang,, Aku sama sekali tak pernah menghilang,, Sebab hatiku selalu bersama kamu... hanya saja waktu yang tidak berpihak, tapi hati... Selalu berhasil membawa Aku menemui kamu, dalam ruang rindu"

__ADS_1


Dirga menatapku tak berkedip, dari mata itu Aku melihat tatapan yang tak pernah berubah sejak dulu awal mengenalnya.


" Kamu tau Vin,, bagaimana berantakannya Aku ketika mengira kamu sudah menikah dengan Agung?"


Aku menggeleng,,


"Aku merasa duniaku berubah gelap, pekat dan tak tau kemana harus melangkahkan kaki. Aku putus asa, Aku merasa tak punya harapan lagi, tak punya tujuan hidup lagi, karena sejak kedua orang tuaku pergi,, tujuan hidupku hanya tinggal kamu, dan begitu tau kamu bersama laki-laki lain,, dunia terasa runtuh"


Aku terdiam, tak tau harus berkata apa, benar-benar tak pernah kusangka Dirga pernah serapuh itu.


"Kamu..."


"Ohh... Disini rupanya kalian,,"


Belum sempat Aku melanjutkan ucapanku, Syintia tiba-tiba muncul dan berjalan kearah kami.


"Bi, Aku mau ngobrol donk sama Vina...."


"Silahkan..."


Jawab Dirga.


"Ehmm... berdua aja!!"


Sambung Syintia memainkan alis matanya.


Deg!!


Jantungku berdetak,


Rasa tegang dan deg-degan menyergap,


Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba bersikap santai.


"Oh... ya udah,, nanti kalau dah selesai kabarin ya... Aku mau keluar sebentar,, mau potong rambut.."


Ujar Dirga segera berdiri.


Jawab Syintia.


Dirga mengangguk dan berjalan masuk kedalam rumah mengajak Mimi turut serta.


Tak lama,


"Ehm... Vin,, tunggu bentar ya.... "


Syintia beranjak dan berjalan cepat kearah pintu, melongokkan kepala kedalam kemudian kembali mendekati Aku,


"Aman...!!"


Ujarny.


"Yuk ikut Aku...."


Syintia menarik lenganku, Aku mengikuti dengan perasaan bingung.


Syintia mengajakku pada sebuah ruangan, terdapat banyak sekali bingkai foto disana, sebuah karpet berwarna abu-abu terbentang selebar ruangan dan diatasnya terdapat sebuah meja lebar yang pendek tanpa kursi,, dibawah meja terdapat tumpukan album foto.


"Sini,, kita duduk disini..."


Syintia lebih dulu duduk lesehan diatas karpet, dan Aku mengikutinya.


Syintia terlihat sibuk memilih tumpukan album foto dibawah meja,


Tak lama,


"Vin, sini deh.... Aku mau tunjukin kamu ini..."


Syintia menarik lenganku, ia menunjukkan sebuah foto.


Aku menatapnya,, seorang anak kecil laki-laki diapit oleh kedua orang tuanya, lalu setelah nya, Syintia kembali membuka lembar album.


Kali ini, Anak laki-laki tersebut mengenakan seragam Merah putih dengan pose yang sama,, diapit kedua orang tuanya,, dan mulai kupahami, bahwa anak kecil laki-laki itu adalah Dirga.

__ADS_1


Di lembar berikutnya, Anak laki-laki itu sudah nampak seperti Dirga yang ku kenal diawal pertemuan,, mengenakan seragam putih biru dengan pose yang sama,, masih diapit kedua orang tuanya,, namun tiba-tiba Aku mengingat sosok perempuan yang datang bersama Dirga ketika kelulusan,, Aku yakin sekali waktu itu,, bukanlah wanita yang ada difoto ini.


Aku mengerutkan dahi, dan Syintia menyadari itu.


"Kamu kenapa Vin?"


Tanyanya.


"Ehm,, Kak.."


"Tunggu... tunggu,, maaf sebelumnya Vin, gak usah panggil Kakak ya,, panggil nama aja... panggil Cia aja..."


Potong Syintia cepat.


"Oh.. Iya,, Sin eh.. Cia... tapi Aku bingung liat foto ini?"


"Bingung? bingung kenapa?? di album ini,, transformasinya Abi dan kedua orang tuanya.."


terang Syintia.


"Oleh karena itu,, kalau ini Ibunya Dirga,, lalu yang Aku lihat waktu kelulusan waktu itu....?"


"Oh... itu,, Itu Ibuk,, ibunya Aku,, Bibinya Dirga."


Jawab Syintia.


Aku manggut-manggut.


"Orang tuanya Dirga sibuk,, mereka kerja, hari-hari Dirga selalu sendiri,, sampai pada akhirnya,, saat Ibu dan ayahnya akan pindah kerja keluar kota,, Dirga diputuskan untuk tinggal bersama kami,, karena hanya kamilah satu-satunya keluarganya yang masih ada dikota ini,, tadinya ada satu lagi,, keluarga kami disini, mungkin kamu tau,, Caca kan satu sekolah sama kalian, tapi ayahnya pindah tugas ke luar kota,, makanya cuma tinggal kami."


Terang Syintia.


"Caca?"


Tanyaku bingung.


"Iya,, Caca.. ehmm... maksudku Salsadila.."


"Ohhh... Salsa... Iya Aku tau.."


"Kami semua perempuan,, cuma Abi satu-satunya cucu laki-laki dari kakek.. makanya Dia paling jadi andalan bagi kami semuanya.


"Oh ya,, kamu mau tau gak,, kenapa kami semua kenal Vina padahal kita belum pernah ketemu..."


Tanya Syintia, lalu Aku mengangguk cepat.


"Yuk... sini Aku tunjukin... buruan,, keburu Abi balik"


Dengan cepat Syintia beranjak dari duduknya lalu menarik tanganku kemudian berlari menuju ruangan lain dirumah ini.


Sampai didepan sebuah ruangan yang pintunya tertutup rapat.


"Kamu sudah siap??"


Tanya Syintia padaku.


meski bingung dan penasaran, Aku cuma bisa mengangguk.


KLEK!!!


pintu kamar terbuka,


"Yuk Masuk... "


Ajaknya.


Aku melangkahkan kaki perlahan masuk di sebuah ruangan yang ternyata adalah sebuah kamar.


Mataku terbelalak melihatnya, pandanganku berkeliling memperhatikan setiap sudut dan dinding kamar.


Aku melangkah maju mendekat kearah dinding kamar, bagian yang sangat menyita perhatianku di banding bagian-bagian yang lain.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2