Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 45 Surat kedua


__ADS_3

Masih sekitar 1 jam lagi menunggu setengah tiga, Aku menuju kamar berniat berbaring sebentar sebelum bersiap-siap pergi menonton.


Sejenak melepas penat, tiba-tiba saja bayangan kejadian tadi kembali terlintas jelas.


"Astagaaa.... Apa benar yang dikatakan Agung? Mungkinkah Dirga tak menyapaku sebab melihat Agung bersamaku? mungkin hal itu juga yang membuat wajahnya seketika berubah menyeramkan"


Aku bergumam pelan sembari mengusap kasar wajahku sendiri.


"Bodohh....!!!! Bodooohhh....!!! Bodohhh...!! harusnya Aku menyadari itu sejak awal!! Kan Aku tau sejak dulu Dirga tak menyukai Agung!!"


Aku terus saja mengutuk diriku sendiri.


Kali ini Aku menghadap cermin, meremas kesal rambutku sendiri.


"Ahhh... Aku menyesal....!!"


Rintihku.


"Dirgaaa.... Maafin Aku, Ya Tuhan.... bolehkah Aku meminta waktu diputar kembali? Aku ingin berlari menghampirinya, bukan mematung seperti tadi,, Aku menyesal...!!!"


Gumamku pelan.


Terlintas ide mengirim surat lagi dikepalaku.


"Ya... Dirga harus tau kebenarannya!!"


Aku bergegas menuju meja belajar, secepat kilat kusambar pulpen dan kertas wangi,


**


Dirga...


Sebelumnya, Aku minta maaf jika lagi-lagi suratku mengganggumu, Aku cuma ingin menjelaskan kejadian siang tadi di halte.


Dir, Aku tau... Kamu memilih pergi sebab ada Agung bersamaku, tapi hal yang perlu kamu ketahui, antara Aku dan Agung hanyalah murni persahabatan, kamu jangan salah paham,


Aku mohon, balas surat ini,,, Aku juga taruh nomor ponselku di belakang kertas, Aku menunggu tanggapan kamu..


Vina,


**


Segera kulipat kertas surat itu dan kuselipkan pada sebuh amplop biru.


Aku berniat menitipkannya pada Tari sore ini.


"Dirga... Jika kamu memiliki perasaan yang sama terhadapku, kamu tak kan mengabaikan lagi surat ini, dan jika benar kedatanganmu di halte 2 hari ini hanya untuk menungguku, Aku harap kamu menelponku"


Bisikku pada surat yang tengah ku pegang.


Aku bersiap untuk pergi,


Dengan polesan bedak tipis dan pelembab bibir, Aku juga menyemprotkan colonge ke bagian-bagian tubuhku agar lebih segar.


Samar-samar Aku mendengar suara Mama mengobrol.


"Ehm... pasti itu Agung!"


batinku, lalu pergi keluar meninggalkan kamar.


"Nah... Ini Vina.. kalian hati-hati ya... jangan pulang malam-malam ya Gung, nanti Tante dimarahin Papanya Vina"


Pesan Mama pada Agung.


"Siap Tante..., Kami berangkat ya Tan,"


Pamit Agung.


Dengan mengecup pipi Mama, Aku pun berpamitan, tak lupa surat yang ku buat kuselipkan di dalam saku Tas selempang milikku.


Motor melaju menuju mall 21 dimana tempat kami akan bertemu dengan yang lain untuk menonton.


Sesampainya di 21,

__ADS_1


"Eh Vin, itu Elza sama Teman kamu bukan?"


Agung menunjuk sepasang muda mudi tengah duduk di sudut mall.


"Oh Iya, itu Elza sama Daniel, kamu belum kenal sama Daniel kan? Yuk Aku kenalin"


Aku menarik lengan Agung bersemangat menghampiri Elza dan Daniel.


"Heii... Kalian udah lama sampai?"


Tanyaku begitu tiba di dekat mereka.


"Haii... belum kok, baru juga nyampe... Hai kak Agung"


Elza membalas sapaku, tapi tidak dengan Daniel yang sengaja melengos membuang muka, seolah tak menyukai kehadiran Agung diantara kami.


"Oh ya.... Niel, kamu belum kenalkan sama Agung, nih kenalin dulu!"


Daniel menoleh, lalu berbalik badan menghadap Agung.


"Hai... Kenalin, Daniel"


Ucapnya Kaku sembari mengulurkan tangan.


Sama sekali bertolak belakang dengan sikap santai Agung, yang menyambut dan menjabat erat jemari Daniel seraya tersenyum hangat.


"Hai Niel, senang sekali bisa kenal dan gabung sama kalian disini, Aku Agung teman SMPnya Vina dulu"


Ucap Agung.


"Ehm,, teman SMP ya? Aku teman SDnya!"


Balas Daniel dengan nada ketus.


"Vina........!!!"


Nina terlihat ngos-ngosan menghampiri Kami.


"Lah Non, kok keliatannya capeeekkk banget, santai donkkkk, "


"Iya... Aku lari-lari dari taxi kesini, takut kalian tinggalin"


Jawab Nina masih dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Tinggal menunggu Tari, mana ya Dia?"


Tanyaku sembari celingak celinguk memperhatikan semua pengunjung yang baru saja masuk kedalam Mall.


"Mungkin Dia gak bisa datang kali?"


Jawab Nina.


"Enggak kok, tadi Dia Chat Aku katanya bisa"


Ujarku.


Tak sengaja kulirik Daniel dan Agung yang hanya saling diam tanpa obrolan sama sekali, terlihat sesekali Agung memainkan ponselnya, begitupun dengan Daniel.


"Heyy.... Kalian berdua!! Ngobrol dong!!"


Daniel melengos mendengar perkataanku.


Dari kejauhan, Aku melihat seorang gadis yang sangat kukenal postur tubuhnya setengah berlari memasuki Mall 21 sembari menempelkan ponsel ditelinganya.


Tak lama, Hp ku berdering, panggilan dari Tari.


"Halooo cantik... kesini, liat ke kanan!"


Ucapku sembari melambaikan tangan.


Tari melambai dan segera mematikan panggilan teleponnya.


"Maaf yaa... telat,"

__ADS_1


Ujarnya begitu bergabung bersama kami.


"Gak papa.... kita juga baru nyampe"


Agung menjawab Tari.


"Ya udah, tunggu bentar ya, Aku beli tiket dulu"


Agung berjalan menuju loket.


"Tunggu... Tunggu Kak!!"


Cegat Nina membuat langkah Agung terhenti,


"Ya, kenapa Moy?"


Jawab Agung dengan menyebut Nina dengan panggilan gemoy membuat Nina tersipu malu-malu.


"Maksudnya, kita ditraktir nonton nihh..."


ujar Nina bingung.


"Iya... gak papa kan?!"


Jawab Agung singkat.


"Ya gak papa sih,, malah senang, apalagi kalau sekalian sama traktir makan hehheh"


Nina cengar cengir.


"Huuuu.... Mau Luuu banget tu kan!!!"


Elza mentoyor pipi chubby Nina.


"Aww.... Ya Gak papa kan, siapa tau Kak Agung bersedia.... Hhaaahhaa"


Kali ini Nina tak kuasa menahan gelak tawanya.


"Iya Moy siappp..! Apasih yang enggak buat Nina gemoy, kesayangan semua umat!"


Ujar Agung sebelum berlalu meninggalkan Kami menuju loket untuk membeli tiket nonton.


Nina bertepuk kegirangan.


"Huh... sombong!!! baru juga Mahasiswa, belum juga kerja, udah sok-sok an traktir!!"


Daniel mengomel sendiri dengan wajah masam.


"Heyy.... kok ngomong gitu??!, ya bersyukur kali namanya ditraktir, bukannya terimakasih malah ngedumel udah kayak mamak-mamak!!"


Nina menepuk pundak Daniel.


"Tau nih bocah, kenapa emangnya kalau Dia mau traktir?"


Elza ikut mencubit bahu Daniel hingga membuat Daniel meringis.


"Niel, Agung traktir kita bukan karena Dia sombong, itu Dia lakuin sebab dia senang kenal kalian, dan anggap aja ini bentuk rasa terimakasih Dia buat kalian yang menerima Dia sebagai teman"


Aku menjelaskan pada Daniel.


"Iya... deh... Maaf Aku salah ngomong!"


Daniel memutar bola matanya dan membuang nafas kasar.


Tari tak banyak bicara, ia terus saja sibuk dengan ponselnya.


"Tar, Aku nitip ini lagi ya buat Dia, maaf merepotkan kamu lagi"


Setengah berbisik Aku menyelipkan amplop surat dibalik Tas Tari.


Tari yang tengah fokus pada layar ponselnya sedikit terkejut dengan tindakan tiba-tiba yang baru saja Aku lakukan.


Ia menatapku, tak lama terdiam akhirnya Tari mengangguk dan menyimpan Amplop biru itu di dalam tasnya.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2