Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 118 Nyanyian Dirga


__ADS_3

Aku melihat wajah Agung yang tengah menatapku lekat dengan senyum tipisnya.


Agung menaikkan alis matanya menunggu jawaban keluar dari mulutku.


Ingin sekali Aku mengatakan jika ternyata Dirga belum menikah apalagi punya anak, tapi Aku takut hal itu akan membuat Agung berpikir sesuatu tentang Aku dan Dirga.


"Vin, Dirga baik-baik ajakan sama istrinya?"


Tanya Agung lagi.


Aku kembali menatap Agung, lalu menelan ludah..


"Aku gak tau!"


Jawabku singkat.


Agung menghembuskan nafas berat kemudian memperbaiki posisi duduknya lebih tegap.


"Ehmm... kita duduk disana yuk..."


Ajakku pada Agung menunjuk dimana Nina dan yang lain tengah berkumpul, sengaja kulakukan itu untuk menghindari kekakuan yang akan terjadi antara Aku dan Agung, selain itu juga untuk menghindari Agung bertanya tentang Dirga lebih jauh lagi.


Agung mengangguk, kemudian menggandeng tanganku menuju meja Nina yang otomatis akan melewati meja Dirga.


Hampir sampai di depan Meja Dirga, sulit sekali untuk Aku bisa mengkontrol diriku sendiri untuk tidak memandangnya, terlebih ketika ternyata Dirga juga melakukan hal yang sama, menatapku tak berkedip ketika Aku melintas di depannya dan mata itu terus mengikuti pergerakan langkahku.


Terjebak saling pandang dengan hati yang terasa tersayat perih membuatku rasanya ingin berlari menghampirinya dan mengatakan, bahwa Aku tak ingin situasi seperti ini,, tapi ini kenyataan yang terjadi,, Agung tak mungkin kusakiti sesadis itu, walau bagaimanapun, Agung hanya korban dari keegoisan dan ambisiku saat Aku terperangkap dalam emosi dan kecewa.


Aku menarik nafas dan berusaha tenang dengan mengalihkan tatapanku pada meja Nina.


"Haii... calon pengantinn..."


seru Elza begitu kami tiba dan duduk bersama di tengah-tengah mereka.


Daniel menyalamiku dan agung,, dengan wajah santai dan senyum lepasnya.


"Selamat ya... Vin... Bro..!!"


Ucapnya pada kami berdua.


"Makasihh... kamu ya,, !! jadian gak bilang-bilang!! takut diminta traktir ya...??"


Godaku pada Daniel yang hanya menanggapiku dengan tertawa.


Tak lama datang Ayumi dan Edgar menghampiri meja kami sembari menyerahkan Twins kembali kepada Nina dan Alif.


"Selamat ya Bu Vina,, kirain bakal jadi Ibu beneran buat kami dari Bapak kesayangan kami.. he.. he... he..."


"Hushhh...!! "


Nina menyenggol lengan Ayumi membuat Ayumi buru-buru menangkupkan Kedua belah tangannya tanda permintaan maaf.


"Ibu beneran?? dari Bapak kesayangan kami? maksudnya gimana sih... Kok Aku gak faham?


sela Agung yang terlihat bingung atas ucapan Ayumi tadi.


"Ah.. ehmm... enggak kok Pak,, hehehe.. Biasalah becanda, gak nyambung yaaa maaf.. maaf.."


Jawab Ayumi yang jadi salah tingkah.


Aku jadi semakin penasaran, dengan kata-kata Bapak kesayangan kami yang kerap di ucapkan Ayumi ketika menyebut soal Dirga.

__ADS_1


Ditengah-tengah obrolan kami, seketika kami semua terdiam, suasana tiba-tiba hening, kala mata kami secara bersamaan melihat Dirga beranjak dari kursinya berjalan menuju pojok ruangan mendekati band pengisi acara.


Antara aku dan Nina saling pandang, begitupun Agung yang tampak gelisah memandang Kearah Dirga, kemudian beralih padaku lalu kembali menatap Dirga lagi.


Lain halnya dengan Ayumi dan Edgar yang terlihat antusias tersenyum sembari bertepuk penuh semangat kala intro lagu dimainkan.


Dirga terlihat duduk santai di depan tiang microphone, sesekali matanya menyorot kearahku.


Aku menggigit bibir mendengar intro itu, dan segera menyadari bahwa lagu yang akan dinyanyikannya adalah lagu yang kemarin kudengar dari audio mobil.


Dirga terlalu pandai dalam memilih lagu untuk membuat hatiku menjadi kacau dan berantakan.


"Kalian semangat sekali,, kenal dekat sama Dia?"


Tanya Agung pada Edgar dan Ayumi.


Mereka mengangguk, lalu tersenyum lebar.


🎼


Seandainya


Kukatakan yang sesungguhnya


Tentang perasaanku


Padamu selama ini...


Aku menunduk, dan mengepal jari-jariku yang sesungguhnya membutuhkan pegangan untuk menguatkan hatiku yang makin terasa hancur, Aku tau setelah ini mungkin akan banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Agung tentang maksud lagu yang dibawakan oleh Dirga.


Atau bahkan, Aku harus menghadapi amarah Agung tentang mengapa Aku mengundang Dirga untuk datang.


🎼


Seandainya


Waktu yang telah pergi


Dariku saat kau ada di sini denganku


Sebenarnya hatiku selalu mencintaimu


Hanya saja ku tak pernah mengatakan kepadamu


Dalamnya cintaku menggenggam tulus hatimu


Namun, kini kau katakan cinta sudah terlambat


Seharusnya


Ku tak biarkan kau menanti


Kata cinta dariku


Yang tersimpan terlalu lama


Dan seharusnya


Kupahami isi hatimu


Yang tulus menyayangi diriku

__ADS_1


Sebelum cinta menjadi miliknya


Sebenarnya hatiku selalu mencintaimu


Hanya saja ku tak pernah mengatakan kepadamu


Dalamnya cintaku menggenggam tulus hatimu


Namun, kini kau katakan cinta sudah terlambat


Cinta sudah terlambat....


Semua tamu bertepuk, terlebih Ayumi dan Edgar yang paling semangat.


Aku menunduk, hatiku perih,, mataku terasa panas,, berusaha sekuat tenaga menahan sesak yang terlanjur kurasakan,, namun sayang.. semua tak dapat menahan laju air mataku yang sudah tak mampu terbendung lagi,, mengalir.. menetes seakan ingin membasuh luka yang sekarang semakin menganga.


Dirga benar,, jika kini Dia sudah terlambat,, sangat terlambat untuk menawarkan cinta yang sejak dulu kunantikan.


Melihatku terisak,


Nina menggenggam tanganku,, mencoba menguatkanku, Elza menatapku bingung, daniel memijat pelipisnya.


Agung berdiri, mencabut beberapa helai tissue dan menyerahkan tissue itu padaku, Sesaat Aku menatapnya lalu menerima tissue itu kemudian menyeka pipi dan sudut mataku..


Bersamaan dengan itu, Dirga turun dari kursinya berjalan kearah kami.


Hatiku berdetak, jantungku berdebar sangat kencang, nafasku rasa tersengal.. mataku terus menatap Dirga yang semakin mendekat.


Sampai didepanku, Dirga mengulurkan tangan, Aku menatap orang-orang di sekelilingku yang terdiam hening tanpa suara,, kini semua mata tertuju padaku dan Dirga.


"Selamat ya Vin... Ervina Delia, semoga lancar sampai hari H ya..."


Ucapnya penuh senyuman.


Melepaskan jabat tanganku, Dirga beralih menyalami Agung, kemudian merangkulnya sembari menepuk pundak Agung,,


"Selamat Bro...,, bahagiakan Vina selalu... jangan sakiti Dia! "


Ujarnya pada Agung kemudian memberi hormat dan berpamitan pada Nina dan yang lainnya sebelum akhirnya ia melangkah meninggalkan kami semua.


Aku tergugu menyaksikan punggung bidang itu berlalu dari hadapanku berlahan menjauh dan keluar dari ruangan.


Aku seperti kehilangan separuh hati begitu Dirga pergi, dan tak terlihat lagi di hadapanku.


Rasa tubuh yang ringan melayang, serta kepala yang mendadak sakit,, membuat Aku terus menundukkan kepala, lengkaplah sudah penderitaanku siang ini.,, ketika luka ternganga dihati yang seharusnya bahagia justru mengurai air mata..


Kerongkonganku terasa begitu menyempit dan sakit,, memegangi dadaku sendiri berharap bisa mengurangi sakit ini sedikit lebih baik. Namun sepertinya tidak, apalagi begitu mataku mendapati sorot tatapan dalam dari mata seorang Agung.


Dadaku semakin berdebar, dan mulai menebak-nebak kalimat apa yang akan terlontar dari bibirnya.


"Sepertinya setelah ini akan ada banyak yang mesti kita obrolkan"


ucap Agung lalu membuang tatapannya dari mataku.


Aku hanya Diam... tak berani mengeluarkan satu patah katapun,, Aku takut kata-kata yang keluar malah akan memicu keributan,, Aku tak ingin acara ini hancur dan mengecewakan banyak orang.


Satu jam berlalu,


Saling diam dan semakin terpaku, saat satu persatu tamu pamit pulang, termasuk Nina, Alif, Twins, Ayumi, Edgar, Elza dan Daniel yang sebelumnya sempat mengabadikan momen pertunanganku dengan berfoto bersama.


Kini yang tersisa hanya tinggal keluarga inti saja yang masih berkumpul bercerita dan bersenda gurau.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2