Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 207 Sepakat


__ADS_3

Jarum jam terasa begitu cepat berputar, padahal hati masih ingin lebih lama lagi, terlebih ketika Aku tau bahwa ternyata dugaanku salah, Vina dan agung belum menikah, rasanya seperti mimpi bisa memeluk Vina, mengecup keningnya tanpa perasaan bersalah dan was-was takut karena Vina berstatus Istri orang,


Namun bahagia yang baru saja kurasakan itu tak berlangsung lama, rasa itu harus pupus ketika kenyataannya adalah jika Vina dan Agung akan segera bertunangan.


Harapan yang baru saja kupunguti serpihannya, kini harus terburai kembali bahkan lebih hancur berterbangan bagai debu.


Rasa yang kusesali adalah, kenapa Aku harus berjumpa kembali dengan Vina harusnya sejak awal Tak lagi kubuka lembar lama ini.


Rasa tak rela melepas Vina membuatku mengutarakan ide gila padanya,


Permintaan satu pekan bersama nya sebelum Dia benar-benar menjadi milik Agung seutuhnya,


Permintaan yang tak masuk akal memang, dan rasa-rasanya ini sulit untuk dikabulkan oleh Vina, namun Aku harus berbangga hati sekali lagi,, bahwa ternyata Vina menyetujui ini,, Aku bertambah yakin bahwa jauh dilubuk hatinya masih ada Aku.


Sepekan bersama membuat kami semakin lekat dan erat, banyak kejadian yang kami lewati berdua membuat kami menjadi sulit untuk saling melupakan, bahkan Aku hampir gila memaksakan diri untuk ikhlas melepaskan Vina.


Terlebih ketika di penghujung hari kebersamaan kami,, bagaimana pilunya tangisan Vina ketika meminta Aku untuk melupakannya,, bagaimana mata itu berbohong mengatakan bahwa Aku hanyalah masa lalu,,


Hati ini sakit,, perih.. Bukan karena akan melepaskan Vina untuk dimiliki Agung,, tapi membayangkan bagaimana Vina akan menjalani hari-harinya dengan orang yang tak sepenuh hati dicintainya, karena Aku yakin.. Akulah seluruh isi hati Vina.


Berat rasanya ketika harus melepaskan Vina di bandara kala itu untuk bersama Agung,, tapi Aku harus menghargai pilihannya.


...****************...


Hari yang paling menyakitkan dalam hatiku akhirnya tiba,,

__ADS_1


Sudah dengan pakaian rapi Aku berjalan keluar rumah menuju acara pertunangan Vina dan Agung yang digelar hari ini.


Sakit sekali rasanya hati ini,, namun Aku harus kuat bahkan Aku sudah menyiapkan sebuah lagu yang akan ku nyanyikan disana.


Saat Aku tiba disana, semua mata yang mengenalku terlihat memandang sendu kearahku, seolah tau bagaimana hancurnya perasaanku melihat Vina yang berdiri bagai seorang putri, begitu cantik mendampingi pangerannya.


Andai saja Aku yang berada disana, tentulah hari ini Aku manusia yang paling bahagia.


Ahh... Sudahlah,, belajar untuk mengikhlaskan sepertinya lebih baik dari pada terus berandai-andai.


...****************...


Sekian hari berlalu sejak hari yang menyakitkan itu,


sebuah undangan kuterima, pernikahan Elza dan Daniel yang awalnya Aku sempat mengira itu adalah undangan pernikahan Vina dan Agung,


Baru kusadari bahwa Aku secemen itu.


Aku sudah tiba di lokasi tempat dimana perhelatan itu akan digelar, dan ini pertemuanku kembali dengan Vina, tak hanya dengan Vina, tetapi juga dengan kedua orang tuanya.


Tapi, Aku tak melihat Agung, tiba-tiba saja pikiranku menduga-duga sesuatu yang tidak baik sedang terjadi dengan hubungan Vina dan Agung, ditambah lagi raut muka Vina yang seolah mengisyaratkan beban pikiran yang berat.


Tapi, ahh sudahlah Aku tak ingin menduga-duga terlalu jauh, meski jauh dilubuk hatiku berharap masih bisa bersama Vina.


Sepanjang acara, Aku hanya memperhatikan Vina yang duduk di depanku bersama teman-temannya,

__ADS_1


"Ya Tuhan... maafkan Aku, Aku masih sangat mencintainya.. Aku merindukannya bahkan masih ingin memilikinya"


Rasanya Aku sudah tak tahan lagi dengan segala rasa dihatiku, dan begitu kulihat Vina meninggalkan kursinya sepertinya Dia menuju toilet, Bergegas Aku menyusulnya,, Aku hanya ingin mengatakan bahwa Aku rindu.. itu saja.


Kesempatan itu akhirnya datang, Aku bisa bertemu empat mata dengan Vina meski dengan cara sedikit memaksa, dan hatiku berdetak, secara tak sengaja kulihat cincin pertunangan itu tak ada di jari manisnya,


"Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi? mungkinkah mereka tak lagi bersama? apa ini pertanda.. jika Vina memang adalah jodohku?"


Hatiku terus menyeracau.


Jika pikiranku benar adanya, Aku berharap secepatnya takdir itu terjadi.


...****************...


Tuhan telah menjawab semua doa dan harapanku,


Vina dan Agung sepakat mengakhiri hubungan pertunangan mereka, dengan alasan bahwa cinta tak dapat dipaksakan.


6 bulan berlalu sejak pertemuanku dengan Vina di pernikahan Elza dan Daniel.


Ini adalah pertama kalinya Aku berkunjung kerumah Vina, dan berniat mengenalkan Vina pada keluarga Paman Usman.


Tanpa pikir lama-lama, Aku dan Vina memutuskan untuk segera menikah, Aku sudah tak sabar memiliki Vina seutuhnya, Aku juga tak ingin sesuatu terjadi membuat hubungan kami kembali menjauh.


Keluarga sepakat, segera mungkin menggelar lamaran, akad nikah dan resepsi.

__ADS_1


Bahagia itu akan segera sempurna setelah ini.


Bersambung***


__ADS_2