Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 56 Aku menaruh hati padanya


__ADS_3

POV >>DANIEL


Aku Daniel, seorang laki-laki yang mencintai sahabatnya sendiri namun tak pernah punya keberanian untuk mengungkapkannya.


Aku memang payah!!


Kota Palembang, merupakan saksi bisu tentang beratnya mengendalikan perasaan agar terus bisa bersikap biasa-biasa saja ketika sebenarnya hati ini patah dan berdarah.


Ya... Aku memang seorang pengecut ulung yang sama sekali tak berani menerima kenyataan jika harus ditolak.


Aku mengenalnya sejak masih di sekolah dasar, entah apa yang mengawali kami hingga terbentuk lah suatu genk yang diberi nama Icikiwir, yang terdiri dari 5 sahabat terdiri dari 2 anak laki-laki dan 3 anak perempuan.


Sejak itulah, rasa sukaku muncul padanya.


Dia berbeda dari yang lain, pintar, baik, sangat manis.


Dia adalah Ervina Delia. Sigadis kuncir tanduk.


Pesonanya buatku terkadang melakukan hal-hal yang sedikit norak dan memalukan.


Pernah suatu ketika Aku tertangkap basah oleh salah satu temanku ketika dia tengah main ke rumahku dan masuk ke kamar yang seluruh dinding kamar kulukis dan kutuliskan nama Vina,


Tak terbayang betapa malunya Aku kala itu, dengan sedikit memelas, Aku memintanya untuk merahasiakan ini dari semuanya terlebih Vina.


Dikelas, Aku sering sekali menatap Vina diam-diam.. melihat ekspresinya kala bercerita, menatap senyumnya, begitupun gerak tubuhnya membuat Aku tersenyum sendiri, hatiku bergetar, bahagia luar biasa.


Dan Aku akan segera membuang muka ketika curi-curi pandangku terlihat oleh Vina, ada rasa malu sekaligus senang saat Vina membalas senyumku, membuatku tenggelam dalam cinta sendiri.


Ah, terlalu dini untuk bicara soal cinta sedangkan untuk mengurus diri sendiri saja masih dibantu orang tua,


lucu memang, secepat ini perasaan cinta menyapa bocah kelas 4 SD.


Ini cinta monyet!!


Begitulah yang sering kudengar dari Nenek ku, ketika kami para cucunya bercerita tentang naksir naksiran teman.


Tapi bagiku ini bukanlah seperti itu, ini adalah getaran cinta pertama yang muncul dihatiku, tak peduli dengan monyet atau apalah, bagiku Ervina adalah gadis kecil pertama yang sangat mencuri perhatianku, hingga aku bisa memastikan bahwa Dialah sang cinta pertamaku.


Aku sangat mengingat hari itu, hari sial menurutku.


Saat pelajaran kosong semua anak-anak sibuk dengan kegiatan masing-masing, ada yang membaca, bermain kejar-kejaran dikelas, bercerita dengan teman satu bangku, dan Dia kulihat tengah sibuk mencatat sesuatu dibuku tulisnya.


Ah... Dia nampak manis sekali, dengan dua pita merah yang mengikat kuncir tanduknya di kiri dan kanan kepalanya, poninya tebalnya menutup dahinya. Aku menatapnya lama dan sangat lama, dengan menopang pipiku Aku terus memandangi wajahnya, menikmati cantiknya dari jauh tanpa berkedip, tak kusangka kedua teman perempuanku tengah memperhatikanku.


Mereka adalah Elza dan Tari, si lemot dan si bijak menurut versi icikiwir yang sudah dinobatkan kepada mereka berdua.


Aku tak tau, bagaimana harus mengungkapkan rasa bahagiaku yang menyukai dalam diam sahabatku sendiri selain dengan mencurahkan dan menuangkannya dalam tulisan, entah itu di dinding kamarku, di telapak tanganku, dikolong meja dan kursiku, dalam lipatan Tas bahkan kadang diselipan buku.


Bukan tulisan indah, bukan pula puisi dan sajak penuh makna, hanya goresan namanya yang bagiku lebih dari sekedar indah.


Ya... Seperti yang tengah kulakukan saat ini,

__ADS_1


Aku membalik buku pada halaman terakhir, lalu menggoreskan tinta pena disana mengukir Namanya dalam bingkai hati.


Bukan cuma satu, tapi sepenuh halaman buku.


Dan sialnya, saat Aku menyudahi tulisanku, Aku dikagetkan Elza dan Tari yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang kursiku.


"Hayoooo.... apa itu yang kamu tulis?"


Tanya Elza sedikit berbisik ditelingaku membuat jantungku berhenti berdetak sesaat, ingin rasanya menenggelamkan kepalaku sedalam-dalamnya agar Aku tak melihat mereka.


Aku yang gugup dan salah tingkah dengan cepat menutup buku untuk segera menyimpannya.


Namun sialnya, belum sempat Aku menjawab, Tari dengan cepat merebut buku petaka itu dari tanganku dan memeriksa tulisanku.


Seketika mukaku memerah malu dan takut Vina tahu.


Elza tertawa cekikikan menunjukkan buku itu pada Tari.


Aku merasa bingung dan benar-benar malu.


"Kamu serius suka sama Vina?"


Tari mendekatiku tersenyum meledek.


Aku menunduk, dengan hati dag dig dug.


"Pantas ya.... kamu suka curi-curi pandang, ternyata.... hahhahhahha"


"Ssttttt....Za.... Pleaseee... jangan keras-keras!"


Aku menempelkan telunjuk ku pada mulut Elza.


"Gak bisa nich.... Vina harus tau..wkkwkwk!!"


Ancam Elza tergelak menggelegar.


Dalam hatiku hanya berharap, Vina tak menghampiri kami.


"Ayo Tar... kita tunjukkin tulisan ini pada Vina"


Elza menarik Tari sembari membawa buku sial itu.


Dengan cepat Aku mengejar Elza dan menghalangi langkahnya.


"Za.... za.... Please.. Aku mohon, jangan bilang yaaa.. "


Aku mencegat langkah Elza, sembari menangkupkan kedua telapak tanganku di depan dada mengemis kebaikan hati Elza terhadapku yang sangat menyedihkan ini.


"Hahhhaha... dapat apa kalau kita gak bilang, hari gini gak ada yang gratisss!!"


Elza berkacak pinggang masih memegang buku sembari menggoyang-goyangkannya di depan wajahku.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang lagi,


"Aku traktir kalian hari ini, makan di kantin!"


ujarku dengan mata penuh harap semoga Elza diberikan hati yang sebaik bidadari hari ini.


Elza menatap Tari dengan senyum nakal,


"Gimana Tar? kayaknya... kurang deh untuk info sepenting ini!! ya kan Tar??"


Jiwa kriminal Elza tiba-tiba muncul untuk memerasku yang sudah tak berdaya ini.


"Iya sich... masak iya, untuk hal sebesar ini, tutup mulutnya cuma traktir sekali makan!!"


Tari yang dari tadi hanya diam dan kuharapkan bisa dengan bijak membelaku malah ikut-ikutan memerasku.


"Oke, 2 hari!! Hari ini dan besok!!"


Tawarku mencoba bernegosiasi dengan dua makhluk yang tiba-tiba saja menjadi menyeramkan didepanku ini.


"Gimana yaaaaa.......??!"


Elza memicingkan matanya,


"Ya udah... 3 hari gimana? mau ya...?? pleaseeee!!!"


Sepertinya tawaran ketiga ku ini berhasil.


Elza menyerahkan buku itu padaku,


Aku bisa bernafas lega sekarang, meskipun tadi jantung ini terasa mau lepas walaupun akhirnya Aku harus mengorbankan uang saku ku untuk mentraktir mereka jajan di sekolah, padahal uang itu ingin Aku tabung untuk membeli mainan mobil remote control keluaran terbaru.


Tapi tak apalah, ini lebih penting dari sebuah mainan, dari pada Aku harus malu dan Vina jadi menjauhiku gara-gara tulisan itu, lebih baik Aku tunda menabungku, toh ini juga cuma 3 hari.


Masih tertegun, ketika Elza menarik lenganku kasar mengajak ke kantin.


"Ayo buruan.....!!!! Vin, mau ke kantin gak?? Daniel mau traktir!!"


Serunya ketika melintasi meja Vina.


Mukaku merah padam ketika Vina menatapku bingung.


Diki yang mendengar teriakan Elza segera menyerbu kami.


"Aku ikut ya... masak iya, cuma kalian yang di traktir!! Aku kan juga orang penting!!"


Mendengar ucapan Diki, Aku beralih menatap Diki, yang seperti dengan sengaja menyindirku.


Aku menelan ludah, dan mencoba menghitung-hitung lagi uang saku yang mesti Aku keluarkan 3 hari ini untuk mereka.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2