
"Vin, kamu baik-baik saja?"
Tanyaku ketika kulihat Vina terdiam dengan wajah pucat dan berkeringat, Aku menyentuh bahu Vina dan menatapnya.
Terlihat Vina menelan ludah dan menarik nafas panjang,
"Ehm...hem... ya, Aku baik-baik saja"
Vina mengangguk dan berusaha tersenyum meski Aku tau Dia sedang tidak baik-baik saja.
Kami terus melangkah bersama.
"Ehm... Pi,, kita nanti aja belanjanya ya... Mimi mau ngobrol sebentar sama Vina, Pipi bisa tolong Mimi gak,, ajak Rania dan Raina ke Play ground disana?"
Pinta Nina pada suaminya sembari menunjuk arena permainan tak jauh dari tempat Kami berdiri.
"Oh,, Oke.. bisa kok...sini Nak...!!"
Suami Nina segera mendorong Stroler kembar ke dekat Nina dan mengambil alih Rania dari tangan Nina yang sebelumnya berada di gendongan Vina.
Ia lalu menaruh Baby Rania kedalam Stroler pelan-pelan berdampingan dengan Baby Raina.
"Oke Twins, saatnya kita bermain... go!!!, dada Mimi, aunty... uncle..."
Serunya sembari mendorong Stroler Baby Twins menjauh menuju Arena Play ground.
Setelah kepergian Baby Twins, Vina dan Nina menatapku, dan Aku paham makna dari tatapan itu, kemudian bergegas meninggalkan mereka berdua
"Ehm... Kalian kalau mau ngobrol, ngobrol aja.. Aku tunggu disana"
Ujarku menunjuk sebuah tempat duduk yang agak jauh dari mereka, Vina mengangguk.
"Vin, kita ngobrol disitu ya..."
Nina menarik lengan Vina untuk duduk di bangku yang jaraknya agak sedikit jauh dari tempat duduk yang kupilih.
Sembari memainkan ponsel, sesekali kulirik Vina dari sudut mataku, terlihat jelas kesedihan diwajahnya, tak hanya itu.. Beberapa kali Nina terlihat menenangkan Vina dengan mengusap pundak Vina.
Sesedih itukah Vina,, apa yang sebenarnya diceritakan Nina,, hingga membuat Vina menangis sesedih itu?
Apa benar, Dirga sudah melupakan Vina?
Lalu, apakah ini Kabar bahagia untuk Aku??
dengan begitu mungkin saja Vina akhirnya bisa melupakan Dirga dan membuka hatinya untukku.
Tak lama, Nina dan Vina beranjak dari tempat duduk mereka,
"Kak.... Aku duluan ya.... Nitip Vina hehheh jagain!!"
Seru Nina melambai padaku dan berlalu menuju play ground menemui suami dan anak-anaknya.
Vina berjalan pelan mendekatiku yang masih berdiri belum beranjak.
"Yuk...."
Ajaknya, dengan wajah tak lagi ceria seperti awal sebelum bertemu Nina.
"Tunggu... tunggu..."
cegahku, dengan menarik Vina menghadapku lalu menatapnya lembut.
Vina menatapku kaget.
"Kenapa?"
Tanyanya bingung.
"Ceritanya sedih banget ya??"
tanyaku masih menatapnya.
"Hah?? maksudnya??"
__ADS_1
Vina semakin bingung.
"Sini...., sampai-sampai buat kamu nangis dan keringetan gini"
Kutarik Vina lebih dekat, lalu menyeka sudut mata dan dahinya dengan ujung lengan jaketku
"Maaf ya,, Aku gak bawa sapu tangan, Aku juga gak ada Tissue... Tapi tenang aja,, Aku pelan-pelan kok, gak bakal menghapus bedak dan maskara kamu..."
Aku mencoba menghiburnya.
"Apaan sich....,, maskara?? sejak kapan tau maskara? emang kamu tau, yang mana maskara?"
Ujarnya sembari mencubit lenganku.
"Taulah.... itukan, yang di oles-oles di bulu mata, yang kalau lagi makainya mata mesti melotot gini... nichh gini nich... "
Aku membuka mataku lebar-lebar memperagakan cara memakai maskara.
Melihatku Vina tergelak, tawanya lepas membuat hatiku sedikit laga.
Syukurlah, tawa itu kembali terdengar.
"Mana ada gitu, lebayyyy itu... hahhhaa"
Kilah nya.
"Nahh... ketawa gitu kan enak lihatnya, adem.."
Pujiku.
"Ademmm... emangnya Aku kipas angin?!"
"Bukan!!"
"Terus...?!"
"Es teler... tuh lihat, Aku aja sampe teler ngeliat kamu!!"
"Gomball!!"
Aku menatap Vina lekat, diam sesaat kemudian merapikan rambutnya dan menyelipkan rambut poninya di belakang telinga.
"Vin, Aku cuma ingin kamu selalu bahagia..."
Ujarku pelan.
"Udah yuk... jadi nontonkan?"
Vina mencoba mengalihkan pembicaraan.
Aku tersenyum lalu mengangguk kemudian meraih jemarinya, menggenggam dan menggandengnya.
Baru saja berjalan beberapa langkah, kudapati Vina kembali meneteskan air mata.
"Loh... kok rembes lagi,, udah ya...ntar bedak kamu luntur loh...!!"
Aku menyeka air mata itu dengan ujung jari.
Vina menatapku tersenyum getir.
"Tunggu disini ya,,,"
Ujarku lalu meninggalkan Vina untuk ke loket membeli tiket.
Setelah kembali,
"Nih... kita nonton ini aja....!"
Aku menyodorkan tiket pada Vina
"Loh, kok film komedi? gak jadi film romantis??"
Tanyanya heran.
__ADS_1
"Gak, nonton ini aja, biar kamu ketawa, bagiku senyum kamu lebih penting dari pada keromantisan kamu buat Aku"
Vina tersenyum,
"Nah... gitu donk...."
Aku mengacak pucuk kepala Vina, lalu masuk kedalam.
Didalam,
Vina terlihat gelisah, ia sama sekali tidak fokus menonton, sesekali terlihat ia menyeka matanya yang kembali basah.
Ya Tuhan,, sesedih apa hati Vina saat ini... apa yang sebenarnya terjadi?
Tiba-tiba perasaan iri dan cemburu menyelimuti hatiku, beruntung sekali Dirga, bisa memenangkan hati perempuan seperti Vina, mencintai dengan tulus tanpa tau bagaimana perasaan Dirga kepadanya.
Aku terus menatapnya, lalu..
"Emang Nina cerita apa tadi Vin?, ehm... sorry, bukan mau ikut campur tapi kalau tidak keberatan, Aku pingin kamu cerita, sebab Aku lihat, sepertinya ini berat buat kamu"
Kuraih tangannya, lalu kugenggam erat, dengan posisi tubuh menghadapnya.
Bukannya menjawab, Vina malah menunduk dan semakin menangis.
Aku menelan ludah, menyaksikan gadis yang paling kucintai kini seperti tak berdaya menangisi laki-laki lain dihadapanku.
Hatiku terasa ngilu,
"Vin,,,,"
Panggilku,
"Apa ini ada hubungannya dengan Dirgantara??"
Sambungku lagi, mencoba menebak dan memancing Vina agar mau bercerita.
Mendengar itu, Vina mengangkat kepalanya terlihat wajahnya telah basah karena air mata, kemudian ia mengangguk.
Aku menarik nafas dalam-dalam.
Sebegitu cintanya kamu pada Dirga Vin?
Sepenting itu Dirga di hidup kamu?
bertahtakah ia dihati kamu hingga tangismu bisa sepecah ini, ketika sesuatu terjadi padanya.
Taukah kamu,, Aku sakit melihat ini?
Aku cemburu, hatiku terluka..
Ya Tuhan... selalu dan selalu saja seperti ini,, sakit sekali rasanya.
Seperti menggenggam pisau,, semakin kuat Aku mencintaimu, semakin sakit luka yang kurasakan.
Aku terus menatap Vina yang terisak.
Lalu memejamkan mata sesaat kemudian menarik Vina kedalam pelukanku.
Vina tak menolak, malah menenggelamkan kepalanya di dadaku, lalu menangis terisak.
"Menangislah.. keluarkan semua sesak yang menghimpit, Aku ada disini untuk menguatkan kamu Vin"
Bisikku di telinganya.
Tangisan Vina semakin pecah, tangannya kini membalas pelukanku, kepalanya semakin terbenam di dadaku.
Kuusap lembut kepalanya, mencoba menenangkan dan membuatnya nyaman.
"Setelah kamu merasa tenang, kamu bisa ceritakan semua bebanmu kepadaku Vin, untuk sekarang menangislah, sebab perasaan sedih itu wajar... Aku paham itu"
Kurasakan pelukan dari tangan Vina semakin erat,
Hatiku berdebar hebat, debaran yang sama di setiap kali dekat dengannya, debaran cinta yang terus mengharapkan balasan, sejak dulu tak pernah sedikitpun berubah, namun sayang... Vina tak pernah mau menyadari hal itu.. bahwa ada Aku,, seseorang yang mencintainya dengan tulus..
__ADS_1
Bersambung***