
Laki-laki tersebut meninggalkan Dirga setelah menerima uang dari Dirga
Dirga kembali menuju mobil dan masuk kedalam mobil.
"Nih,, kunci mobil kamu,, "
Dirga meraih tanganku dan meletakkan kunci pada telapak tanganku.
"Ehm.. itu tadi siapa??"
"Teman di pabrik"
Jawab Dirga sembari menurunkan kursi jok mobil, dan kini ia bersandar setengah terbaring dengan tangan di bawah kepala.
"Satpam??"
Tanyaku lagi.
Dirga mengangguk.
"Nanti ya,, Aku masih ingin bersama sebentar lagi."
Ujarnya menoleh kearahku.
"Lalu??"
Tanyaku bingung.
"Disini aja dulu, temani Aku.. setelah ini.. entah kapan lagi kita Akan duduk berdua mengobrol seperti ini"
Aku menarik nafas panjang, entah mengapa... hatiku terasa pedih setiap kali Dirga mengucapkan itu,, rasanya bagai mimpi sekian tahun mengharapkan rasa ini terbalas, dan ketika cinta ini sudah ada digenggaman, dalam hitungan menit cinta ini kembali harus kulepaskan, dan setelah ini Aku harus belajar kembali membiasakan hati untuk tidak lagi mengharapkan cinta yang dulu selalu kumimpikan disetiap malamku.
"Oh Tuhan,, Aku tak pernah tau seperti apa waktu-waktu itu akan terlewati, Aku tak pernah siap.. bagaimana jika rindu datang mengetuk hatiku, mungkinkah Aku masih bisa menangisinya seperti sebelum Aku bertemu kembali dengannya kala itu, atau Aku hanya akan bisa terdiam dalam sepi mengubur rindu"
"Sayang,, kamu melamun??"
Dirga menegakkan kembali tubuhnya dan membelaiku.
Aku menggigit bibirku sekuat tenaga menahan tangis yang sudah di ujung kelopak mata.
Aku tak ingin tangisku membuat Dirga kembali tak yakin dengan pilihanku.
"Vin, Aku tau.. Sebenarnya kamu sedang menahan perasaan, ungkapkan saja, meski harus ada tangis yang menyertainya, itu akan lebih baik dari pada menahan sendiri menjadi sesak"
Dirga memutar posisi duduknya kini menghadapku.
Aku menatapnya terpaku, diam dan membisu.
"Aku harus segera masuk, sebentar lagi Agung landing, dan Aku harus menyambutnya"
jawabku dengan bibir bergetar, dan air mata yang terburai meski sekuat hati kutahan.
"Kamu sedang berbohong!! "
Aku menggeleng, dan semakin terisak.
"Vina... tatap mata Aku kalau kamu sedang baik-baik aja."
Aku menggeleng dan memejamkan mata.
"Kamu mencintai Aku,, hanya aku!! iyakan??"
"Gak!! kita cuma bagian dari masa lalu, dan masa depanku adalah Agung, dan Aku harus masuk!"
__ADS_1
Klek!!
Seketika Dirga mengunci pintu mobil, membuat Aku menarik nafas dalam dan kembali menyandarkan tubuhku lalu menangis sejadinya.
Dirga menarik lenganku, dan membawaku kedalam pelukannya, sebelah tangannya mengusap kepala dan bahuku.
Nafasku terasa sesak, dengan hati yang terasa tersayat-sayat.
"Aku mencintai kamu!!! Aku mencintai kamu!! Aku tak ingin kamu tersiksa dengan cara seperti ini!! Kamu harus jujur Vin!!! Aku cuma ingin kamu jujur!! meski pada akhirnya,, Kamu tetap dengan pendirian kamu untuk tetap dengan pilihan kamu"
Dirga mengecup keningku.
Membuat Air mataku tak dapat berhenti mengalir dan isak itu semakin terasa sakit.
"Please... buka pintu,, Aku mau turun!!"
mohonku pada Dirga.
Dirga melepaskan pelukannya, dan kini beralih menangkupkan kedua telapak tangannya pada rahangku, memaksa wajahku harus menatapnya.
"Vin, tatap mata Aku untuk yang terakhir kalinya!! katakan bahwa Kamu tidak mencintai Aku!!
Aku membuka mata, menatap mata Dirga dalam-dalam,
"Aku.. Aku... Aku mencintai kamu Dirgaaaa!!!"
Pekikku diiringi isak tangis.
Dirga menarik cepat tubuhku kembali kedalam pelukannya.
"Aku tau itu Vin,, Aku tau.. hanya saja Aku ingin mendengarnya dari mulut kamu langsung"
Dirga mengeratkan pelukannya.
"Dirga,, lupakan Aku... Aku mohon.... lupakan Aku......"
Ujarku.
"Sulit untuk Aku bisa melupakan kamu Vin, sulit.. !!!"
"Tapi Aku akan segera bertunangan dengan Agung, dan setelah itu dalam waktu dekat Aku akan menikah,, dan cerita kita.. akan hanya menjadi kenangan"
Dirga kembali menangkupkan kedua belah tangannya di rahangku.
"Aku paham,, Aku tak akan pernah bisa melupakan Kamu, tapi Aku cukup tau diri... Aku tak akan mengusik kehidupan kamu setelah ini..."
Dirga mengusap pipiku yang basah,
"Jangan menangis lagi sayang... cukup! Aku semakin sakit melihat kamu seperti ini!"
Aku mengangguk, lalu menggigit bibirku.
Dirga mengusap bibirku dengan ibu jarinya.
Kemudian mendekatkan wajahnya pada wajahku, seperti terpanggil untuk mengerti bahasa tubuh itu, mataku terpejam..
Dan entah siapa yang memulai lebih dulu, tiba-tiba saja bibirku dan bibirnya bertemu, kecupan manis itu terjadi, dalam dan tenggelam dalam rasa masing-masing yang entah tak tau lagi bagaimana Aku menggambarkan perasaanku saat ini, air mata mengalir, ditengah-tengah ciuman hangat itu.
perlahan kurasakan tangan Dirga meraih leher belakangku semakin menarikku untuk tenggelam dalam manisnya rasa yang ia berikan kepadaku lewat lembutnya bibir itu.
Ini bukan pengalaman pertama, ciuman ini bukan ciuman pertama,, karena Agung yang sudah terlebih dahulu mereguk manisnya bibir ini,, tapi kali ini,, rasa itu berbeda... tak sama dengan yang pernah kurasakan.
Ada rasa yang bergejolak didalam hati dengan desiran darah yang terasa mengalir cepat, degup jantung semakin cepat dengan desah nafas yang memburu, inikah ciuman cinta yang sebenarnya.
__ADS_1
Ditengah-tengah kecupan manis itu, dering ponselku menyadarkan kami dan mengembalikan kami dari perasaan yang benar-benar membuat kami melayang.
Mataku terbuka, begitupun Dirga..
Tangannya terlepas dari leherku, dan Aku segera merubah posisi dudukku dan merogoh ponsel yang ada di dalam Tas.
Agung menelpon,
Dengan gugup, kuterima telpon itu.
"Halo Gung,,"
Sapaku.
"Halo sayang... Aku sudah landing.. Aku udah jalan ke parkiran ya,, Aku tunggu kamu di parkiran aja biar kamu gak perlu masuk"
Ujarnya.
Aku menelan ludah, dari dalam mobil kulihat Agung berdiri di dekat kursi tunggu di parkiran bandara.
Aku menatap Dirga,
"Aku harus pergi... Kamu jaga diri,, sehat-sehat ya... "
Aku mengulurkan tangan mengajak Dirga bersalaman.
Dirga terdiam menatap uluran tanganku, kemudian beralih menatap mataku,,
"Aku sayang kamu Vin, Selamat tinggal... setelah ini.. Aku akan berusaha terbiasa tanpa bayang-bayang kamu disetiap langkahku... selamat tinggal Vina, semoga kebahagian selalu bersama kamu!"
Dirga memelukku kembali, lalu mengecup kepalaku.
"Selamat tinggal Dirga....!!"
Aku melepaskan diri dari pelukan Dirga.
Dan membuka pintu mobil begitu Dirga menekan kunci untuk membuka.
Aku menatap Dirga sekali lagi, sebelum benar-benar melangkah meninggalkannya.
Terlihat mata teduh itu memerah, Dirga tersenyum melambaikan tangannya padaku.
Aku tersenyum dan berlari setelah menutup pintu mobil.
Berjalan pelan menghampiri Agung yang berdiri membelakangi area parkir.
Tak lupa menyeka pipi dan sudut mata, meyakinkan tak ada bekas tangisan yang tertinggal diwajahku.
"Hai... "
Ujarku begitu sampai tepat dibelakangnya.
"Haiii... sayanggg.... "
Agung berbalik, dan merentangkan tangan bersiap memelukku.
Aku membalas pelukan itu,
"Aku rindu kamu!!"
Ujar Agung.
Bersambung***
__ADS_1