
Aku dan Dirga duduk bersebelahan, potongan percakapan Ayumi dan Dirga tadi membuat hatiku bertanya-tanya tentang Dirga.
"Vina.... kamu kenapa??"
Dirga menyentuh bahuku.
Aku menoleh kemudian tersenyum.
Dirga tersenyum, lalu meraih tanganku dan meletakkan di atas lututnya.
"Aku boleh bertanya?"
Lanjut Dirga.
"He em... boleh, nanya apa?"
"Kamu bahagia ketemu Aku kembali,"
tanpa berpikir lama, Aku mengangguk.
"Vin, Seandainya setelah satu pekan ini, antara kita saling merindu,, kira-kira apa kita bisa kuat menahan ya?"
Aku menarik lenganku dari tangan Dirga, tiba-tiba kerongkonganku terasa tercekat, ada perih bercampur sesak di dalam hati.
"Vin,,,"
Dirga menyibak rambut yang menutupi sebagian wajahku kemudian menyelipkan di belakang Telinga.
"Lihat Aku...."
Ucap Dirga.
Aku mengangkat wajah dan menoleh Dirga.
"Percayalah.... setelah satu pekan ini berakhir,, Aku akan mengikhlaskan kamu bersama Agung, tapi... seumur hidup, Aku tidak akan pernah melupakan kamu.."
Aku menelan ludah, kemudian memalingkan wajahku dari tatapan Dirga.
Air mataku mengalir seolah ingin membasuh luka di hatiku.
Dirga menarik tubuhku kedalam pelukannya, tangannya membelai kepalaku.
Aku membenamkan wajahku di dada Dirga, tangisku tumpah.
"Dir... Aku harus bagaimana?? Aku tak ingin semua ini berakhir,, tapi.. Aku tak mungkin membatalkan semua yang akan terjadi.."
Ujarku dengan berlinang air mata.
"Semua ini salah Aku Vin.. harusnya Aku tak membiarkan kamu menunggu terlalu lama.
Seandainya saja Aku bisa mengembalikan waktu... Aku ingin kesalah pahaman antara kita tak pernah terjadi.. "
Dirga mengecup pucuk kepalaku.
Tangisku semakin pecah bersama isak dan sesak didada.
Hampir 2 jam, pemutaran Film yang sama sekali tidak ku perhatikan, Aku lebih memilih menikmati rasa dengan sisa waktu yang hanya tinggal sedikit lagi.
Nyaman dalam dekapan Dirga membuatku merasakan kasih sayang yang sejak dulu kuharapkan.
Lampu menyala, semua yang ada didalam beranjak meninggalkan studio begitupun dengan Aku dan Dirga.
Tangan kami bertaut seakan tak ingin lagi berpisah.
"Kita mau pulang??"
Tanyaku menoleh Dirga,
Dirga melihat jam yang melingkar di tangan kanannya.
"Bentar lagi ya... Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat."
Jawabnya.
keluar Dari mall setelah sebelumnya sempat makan malam terlebih dahulu.
"Ehm... Vin, kamu sering main ke taman kota?"
Tanya Dirga setelah berada didalam mobil.
"Sering sih enggak, tapi pernah dulu bareng teman-teman"
"Yakin bareng teman-teman? bukan Agung?"
__ADS_1
Ledek Dirga.
"Ihh.. apaan sih...!!"
Aku melengos kesal.
"Loh, kok ngambek?? Aku kan cuma nanya..,, ehm.. Btw, Agung romantis gak orangnya?"
"Dirgaaa!!!"
Pekikku melipat tangan didada.
"Ciee... mukanya merah..."
Dirga menunjuk wajahku.
Aku menepis telunjuk Dirga menjauh dari depan wajahku.
Tawa Dirga pecah seiring melaju nya mobil menuju taman kota.
Sesampainya disana, Aku dan Dirga turun dari mobil, disambut gemerlap lampu warna warni yang menghiasi sepanjang jalan taman Kota.
Mataku takjub melihat indahnya pemandangan taman kota ketika malam hari.
Namun tiba-tiba saja, usapan tangan Dirga pada wajahku mengagetkan Aku.
"Ihh.. Dirga,, apaan sih,, kaget tau!!"
tawaku mengembang disambut dengan tawa renyah Dirga.
"Lagian kamu, bengong gitu.. kan Aku gemas"
jawab dirga masih dengan tertawa.
"Gemas, kok di usap?!"
Cebikku.
"Terus,, maunya diapain?? hayooooo,, pikiran Aku jadi kemana-mana jadinya kan??!"
Dirga menarik tanganku hingga menghadap tepat di depan Dirga.
jantungku berdegup kencang, hatiku berdebar tak karuan.
Dirga tetap berdiri dengan senyum hangat menatapku yang berlari meninggalkannya sambil tertawa.
Tak lama kemudian Dirga berjalan menyusul Aku yang lebih dulu duduk memandang Air mancur yang berada ditengah-tengah taman kota yang saat ini sedang menyala berhias lampu.
Dirga duduk disampingku,
"Vin, cerita donk tentang kalian"
Ujarnya.
"Kalian?? Kalian siapa?"
Tanyaku.
"Ya Kalian.. Kamu dan Calon imam heheh..."
"Agung??"
tanyaku lagi.
Dirga mengangguk.
"Kalian beneran belum pernah pacaran sebelumnya?"
Tanya Dirga seolah tak percaya.
"Beneran, Dirgaaaaaa!!"
Jawabku sembari mencubit kedua pipinya.
"Aww... sakit Vin"
Dirga mengusap pipinya.
"Gemas!!!"
Jawabku sembari memainkan Alis mata.
"Gemas kok nyubit!!"
__ADS_1
Dirga cemberut.
"Terus??? Maunya???"
Tanyaku melirik Dirga yang tengah menolehku.
"Cium... wkkwkkwkwkwk"
Tawa Dirga pecah, bersamaan dengan tepukan berkali-kali di bahunya oleh tanganku.
"Becanda......"
kilahnya, dengan menangkupkan kedua telapak tangannya.
"Iya,, gak papa.."
jawabku.
"Jadi gini,, Aku sama Agung itu beneran sebelumnya cuma sahabatan,, ya walau awalnya gak terlalu deket sebenernya,, kamu tau itu kan?"
Dirga mengangguk, dan Aku kembali menceritakan semuanya agar jelas dan tak ada salah paham lagi.
"Jadi, waktu dia lulus SMP, dia dan keluarganya pindah ke Samarinda,, jadi dia lanjutin sekolah disana,, dari situ kita gak pernah ketemu-ketemu lagi sampai suatu ketika dia libur kuliah dan pulang ke sini,, disitu kita ketemu terus makin deket dan makin akrab,"
"Kenapa Aku panas ya...."
Sela Dirga ditengah ceritaku, membuat Aku jadi tersenyum meledek kearahnya.
"Cieee... cemburuu!!!!!"
ledekku.
"Asliiii!!! lanjut dehh... lanjutttt"
Celetuknya,, lalu tertawa...
"Tapi ya Dir,, disini posisinya Agung tau,, kalau Aku masih mengharap kamu... Dia tau,, Aku cinta banget sama Kamu...."
"Hahh... apa?? Agung tau apa?? coba ..coba ulang tadi gak denger Aku"
Dirga mendekatkan wajahnya padaku.
Spontan Aku menutup mulutku dengan tangan merasa terjebak di alur cerita sendiri.
"Iya.... iya... Aku cinta banget sama Kamu...!! puass!!!"
Ujarku malu-malu, kemudian Dirga mengusap-usap pucuk kepalaku, membuat hati ku terasa hangat.
"Disini, Agung selalu bilang kalau Dia sayang sama Aku,, tapi Dia gak pernah maksa Aku untuk menerima Dia,, jadi kami jalani semuanya ngalir aja.. Setelah liburan selesai,, Agung kembali ke Samarinda, sampe selesai kuliah.
Baru beberapa tahun ini, Dia Akhirnya kembali kesini dan memutuskan untuk menetap disini, karena Dia juga buka usahanya disini"
"Iya,, Aku tau itu.. Agung hebat ya,, masih muda usahanya udah mapan,, kafe,, distro semuanya menjamur dimana-mana,, kamu pasti gak akan hidup susah kalau jadi istrinya"
Dirga menatapku tersenyum,, sementara Aku menatapnya getir.
"Lalu sampai akhirnya kalian bisa tunangan?"
"Nah ini poin penting yang harus kamu tau, sebab ini semua terjadi juga gara-gara kamu!!!"
Aku menepuk keras paha Dirga.
"Awww... pedass!!! kok gara-gara Aku??"
Dirga mengusap pahanya.
"Jadi, waktu itu disaat Aku masih rindu-rindunya sama Kamu, Nina cerita.. katanya lihat kamu sama wanita dan bayi sedang belanja di baby shop,, disitu Aku patah hati,, tak lama dari cerita itu.. Kita ketemu di Mall 21, saat itu kamu juga sama wanita dan anak kecil,, disitu Aku akhirnya percaya dan yakin banget kamu udah nikah dan punya Anak!! dalam keadaan hati yang hancur,, Aku ngerasa harapan Aku sia-sia,, emosi,, marah, kesal, dan kecewa bercampur jadi satu,, Akhirnya Aku mutusin bahwa Aku berhak bahagia seperti kamu, dan satu-satunya laki-laki yang paling mengerti dan selalu ada buat Aku cuma Agung,, tanpa berpikir panjang Aku memutuskan menerima Agung hadir dihatiku,"
jelasku panjang lebar, membuat Dirga tertegun, menatap nanar jauh kedepan,, rahangnya mengatup rapat.
"Dir... kamu nyuruh Aku cerita,, tapi kamunya jadi diam"
Aku menyentuh bahunya,, Dirga menoleh kemudian tersenyum.
"Aku tidak apa-apa... Oh ya,, sampai pada akhirnya kamu bisa inbox Aku gimana??"
"Lagi-lagi ini campur tangan Nina,, Dia menelponku bilang bahwa menemukan Akun yang mirip banget sama muka kamu di pertemanan Tari,, Akhirnya Aku buka dan aku cek sendiri"
"Ohh...,, kamu tau gak Vin,, waktu pertama kali Aku tau Tari sekolah di SMA kamu, Aku udah nanya ke Dia tentang kamu"
Aku tersentak mendengar kalimat itu lalu dengan sangat serius mendengarkan cerita Dirga.
Bersambung***
__ADS_1