
Agung terus mengguncang-guncang tubuhku, ia masih tak percaya dgn apa yang baru saja didengarnya.
Aku hanya tersenyum lebar menyaksikan ekspresi yang tak pernah kulihat sebelumnya.
Benarkah Dia sebahagia ini, hanya karena kalimat yang baru saja ku ucapkan?
Jika benar adanya, mungkinkah bertahun-tahun ia begitu berharap dan menunggu saat-saat seperti ini?
Seperti ada sakit yang baru kusadari.
Aku menelan ludah,
Setidaknya Aku tau bagaimana rasanya berharap kepada ketidakpastian, bedanya Agung masih bisa melihat, berbicara dan bersama Aku meski tanpa kejelasan status, sementara Aku selama ini, hanya berharap pada sebuah ketidakpastian yang benar-benar tak pasti, tak nyata dan tak bisa teraba.
hanya seperti ilusi namun nyata.
Hari ini, tekatku sudah bulat, mencoba membuka hati untuk Agung, meski dalam hati ini masih ada bias-bias rasa yang tersisa untuk Dirga.
Aku hanya berharap perasaan ini akan hilang seiring berjalannya waktu.
Aku tak mungkin bisa secepatnya melupakan Dirga, tapi Aku percaya.. Agung mampu mengikis perasaan yang terlanjur mengakar kuat pada hatiku dengan cinta yang ia miliki.
"Vin.... tolong cubit Aku, atau... pukul deh... atau... atau.... kamu bisa tonjok Aku sekarang!!! Aku ingin segera sadar jika ini mimpi!!"
Serunya.
Aku menggeleng,
"Tidak,, ini bukan mimpi... ini kenyataan. Aku sudah memikirkannya dan Aku memutuskannya detik ini!"
Agung terdiam dengan nafas tak beraturan, matanya berkaca-kaca.
"Ya Tuhan.. inikah buah kesabaranku...? terimakasih Tuhan.... terimakasih"
Berkali-kali kulihat Agung mengusap mukanya sebelum Akhirnya menarik tubuhku merapat kedadanya.
seketika tubuhku sudah berada di dekapan hangat dan mesra dari Agung.
Berbedanya kali ini, Aku melakukannya dengan tersenyum lega.
Tanpa ada rasa mengganjal dihatiku karena merasa mengkhianati Dirga.
"Makasih sayang.... Aku janji, tak kan ada lagi air mata dan kesedihan di sini?"
Agung menangkupkan tangannya di kedua belah pipiku, sebuah kecupan hangat mendarat di dahiku.
"Pokoknya, kita mesti rayakan ini sayang.... minggu depan sebelum Aku pergi, kita mesti undang teman-teman kamu, biar kita rayain di kafe Aku, terus Aku akan umumkan hari bahagia ini sayang..Aku janji, secepatnya Aku lamar kamu"
Agung begitu antusias dan terlihat sangat serius dengan niatnya, sementara Aku seperti sedang menikmati sisi lain dari seorang Agung, yang biasanya nampak santai namun kali ini terlihat begitu menggebu-gebu penuh semangat.
"Ehm... Tak perlu sampe segitunya Sayang..."
"Hah... Apa? Apa? coba ulang!! Aku gak denger kamu tadi manggil apa??"
Agung mendekatkan wajahnya tepat didepan wajahku
"Iya sayang.... gak perlu sampe segitunya...."
Ulangku malu-malu.
__ADS_1
"Sumpah.... mimpi apa Aku semalam ya Allah....???!"
Lagi-lagi Agung nampak tak percaya.
"Cukup kita aja yang merasakan, tak perlu pake acara-acara pengumuman segala, Aku malu"
"Gak bisa, semua harus tahu, bahkan bila perlu seluruh dunia harus tahu betapa bahagianya Aku"
Aku hanya menarik nafas pelan dan kembali duduk bersandar di jok mobil setelah Agung melepaskan dekapannya.
Tak lama, mobil kembali melaju,
"Vina sayang, setelah Aku pulang dari luar kota.. Aku akan lamar kamu, bila perlu langsung nikah aja,, kamu mau??"
Deg!!
Ucapan Agung cukup mengejutkan Aku,
Tak pernah kusangka Agung Akan mengambil keputusan secepat ini, padahal hatiku baru saja mencoba untuk menerimanya dengan perlahan melupakan Dirga, itu bukan berarti Ingin secepat ini menikah dengannya.
Aku masih butuh proses, masih butuh penyesuaian.
"Vin, kok diem?? kamu mau kan jadi istriku?"
Tanyanya ketika tak ada jawaban apa-apa yang keluar dari mulutku.
"Ehm... Apa gak terlalu kecepatan ya Gung?? mungkin lebih baik kita jalani dulu seperti ini, sampe kita benar-benar siap, baik hati maupun mental"
Mendengar jawabanku, seketika muka sumringah Agung berubah datar.
"Oh... Ehm.... gitu ya,, ya udah... gak apa-apa, maafin Aku ya Vin, bikin kamu jadi gak nyaman"
Aku meraih lengan Agung dan menatapnya mencoba menjelaskan dengan berharap Agung tak tersinggung dengan penolakanku.
Agung manggut-manggut dengan mulut tertutup rapat.
Seketika hatiku berubah tak enak rasa dengan sikapnya, perasaan bersalah tiba-tiba saja menyergap dihatiku.
"Gung, kamu gak marahkan?"
Kucoba kembali berbicara, dengan mengusap bahunya.
Sesaat ia menoleh dan tersenyum mengangguk.
Ada perasaan lega dihatiku ketika melihat senyum itu tersungging.
"Jangan Khawatir sayang, Aku tidak apa-apa, dianggap pacar saja Aku sudah bersyukur banget, mungkin tadi Aku cuma terlalu bersemangat, Aku yang terlalu takut keadaan ini berubah, makanya Aku berpikir untuk cepat-cepat menjadikan kamu istri, Aku minta maaf ya..."
Agung meraih jemariku kemudian mengecupnya lembut.
"Gak usah minta maaf, Aku juga mungkin terlalu kaget dengan keputusan kamu yang begitu cepat."
"Ya udah, kalu gitu kita tunangan aja dulu mau??"
Agung menolehku sesaat.
Aku mengangguk.
"Yess!!! Kalau gitu, pulang dari sini Aku langsung ngomong sama Mama, terus besok Aku menghadap orang tua kamu, gimana?"
__ADS_1
"Iya... boleh"
Jawabku tersenyum lega.
"Ehmm...kalau tahun depan, kayaknya bisalah ya... kita nikah hehhehe..."
Agung mencubit lenganku.
"Ehm... gimana ya,, emangnya kenapa sih mau cepat-cepat aja??"
"Loh,, ya apalagi kalau bukan pengen punya twins.. kayak Nina hehheh"
"Hahhh... jawabannya absurd!! kayak yakin aja bakal dapat baby twins..."
Aku mencebik manja.
"Yakin aja,, tapi gak dapat twins juga gak apa-apa,, yang penting Ibunya tetap kamu!"
"Huh... mulai gombal!!"
"Tapi suka kan????"
"Sok tauuuu!!!"
"Tuh... pipinya merah..... bikin gemes deh Ayang!!!"
"Ihh... Ayang??? "
"Hahhha... biar kayak orang-orang beb!"
"Ihhh... apaan beb...beb... geli ah"
"Idih geli, diapa-apain belum udah main geli aja!"
"Agung!!!!"
Seruku dengan menepuk keras bahu Agung.
"Aku rela di timpuk sama kamu berkali-kali kok, asalkan bisa terus bersama kamu seumur hidup"
"Ih... bucin alay!!"
Celetukan dan candaan-candaan mengalir begitu saja sore ini bersama Agung, tak pernah terbayang olehku kalau pada Akhirnya Aku akan membuka hati untuk Agung dan melepaskan begitu saja rasaku pada Dirga cinta pertamaku.
Ini seperti mimpi yang tak pernah terencana sebelumnya.
Aku hanya berharap, ini benar-benar rencana Tuhan, bukan sekedar pelarian hatiku yang sedang rapuh,
Aku tak ingin mengorbankan hati yang benar-benar tulus menyayangiku hanya demi menghibur hatiku yang tengah porak poranda.
Semoga saja keputusanku tidak salah, Aku tak ingin Agung kecewa jika kelak ternyata Aku salah mengambil keputusan dan hanya bisa menyakitinya.
Mencoba berdamai dengan keadaan, itulah yang tengah aku paksakan saat ini.
berkali-kali kuyakinkan diri jika Dirga tak mungkin bisa kumiliki lagi, berkali-kali pula kumantapkan hati untuk ikhlas dengan keputusan yang akan kuambil.
Dirga sudah bahagia, dan Aku pun harus merasakan itu, sementara Agung adalah orang yang tepat.
Bersambung***
__ADS_1