Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 134 Daniel si tengil!!


__ADS_3

Kupacu motor dengan semangat berlipat-lipat ganda, hariku begitu indah dan Vina lah yang membuat semua ini menjadi berwarna.


Sesampainya di 21,


"Eh Vin, itu Elza sama Teman kamu bukan?"


Aku menunjuk 2 orang yang tengah duduk di sudut mall.


"Oh Iya, itu Elza sama Daniel, kamu belum kenal sama Daniel kan? Yuk Aku kenalin"


Vina menarik lenganku penuh semangat menghampiri dua orang tersebut.


"Heii... Kalian udah lama sampai?"


seru Vina mendekati mereka.


"Haii... belum kok, baru juga nyampe... Hai kak Agung"


Elza balik menyapa, tapi tidak dengan laki-laki disebelahnya, yang malah membuang muka,


"Ada apa dengan anak ini, kenapa sepertinya Dia tidak menyukaiku?"


Batinku memperhatikan gelagatnya yang tanpa senyum.


"Oh ya.... Niel, kamu belum kenalkan sama Agung, nih kenalin dulu!"


Ujar Vina, mendengar itu Daniel menolehku.


"Hai... Kenalin, Daniel"


Dia mengulurkan tangan dengan wajah tak ramah.


Aku menyambut uluran tangan itu dengan senyum hangat.


"Hai Niel, senang sekali bisa kenal dan gabung sama kalian disini, Aku Agung teman SMPnya Vina dulu"


Ucapku berharap hal itu bisa memecah suasana kaku diantara Aku dan Daniel.


"Ehm,, teman SMP ya? Aku teman SDnya!"


Jawab nya ketus.


"Vina........!!!"


pekik Nina yang baru sampai, terlihat ia begitu kelelahan.


"Lah Non, kok keliatannya capeeekkk banget, santai donkkkk, "


Ujar Elza yang tengah sibuk merapikan Rambut Nina yang sedikit berantakan, dia juga mengeluarkan beberapa lembar tissue dan menyeka keringat didahi Nina.


"Iya... Aku lari-lari dari taxi kesini, takut kalian tinggalin"


Jawab Nina masih dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Tinggal menunggu Tari, mana ya Dia?


ujar Vina membuat mataku berkeliling kesetiap arah mall, mencoba menemukan si gadis mandiri yang belum kelihatan sampai detik ini.


"Mungkin Dia gak bisa datang kali?"


Jawab Nina.


"Enggak kok, tadi Dia Chat Aku katanya bisa"


Ujarku.


"Heyy.... Kalian berdua!! Ngobrol dong!!"


Tiba-tiba terdengar seruan Vina membuat Aku dan Daniel serentak menoleh kearahnya.


Tak lama... mataku menangkap kedatangan Tari yang sedang berjalan cepat sembari memegang ponselnya.


Bersamaan dengan itu, ponsel Vina berdering,


"Halooo cantik... kesini, liat ke kanan!"


Ucap Vina sembari melambaikan tangan ke arah Tari.


Tari pun melambai balik.


"Maaf yaa... telat,"


Ujarnya begitu sampai dan bergabung bersama kami, sesaat beradu pandang denganku, namun buru-buru mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Gak papa.... kita juga baru nyampe"


Jawabku.


"Ya udah, tunggu bentar ya, Aku beli tiket dulu"


Sambungku kemudian berjalan menuju loket.


"Tunggu... Tunggu Kak!!"


Cegat Nina membuat langkahku terhenti,


"Ya, kenapa Moy?"


Jawabku dengan menyebut Nina dengan panggilan gemoy membuatnya tersipu malu-malu.


"Maksudnya, kita ditraktir nonton nihh..."

__ADS_1


Jawab Nina bingung.


"Iya... gak papa kan?!"


Jawabku lagi.


"Ya gak papa sih,, malah senang, apalagi kalau sekalian sama traktir makan hehheh"


Nina cengar cengir, Aku membalasnya dengan senyuman.


"Huuuu.... Mau Luuu banget tu kan!!!"


Elza mentoyor pipi chubby Nina.


"Aww.... Ya Gak papa kan, siapa tau Kak Agung bersedia.... Hhaaahhaa"


Kali ini Nina tak kuasa menahan gelak tawanya.


"Iya Moy siappp..! Apasih yang enggak buat Nina gemoy, kesayangan semua umat!"


Ujarku sebelum berlalu meninggalkan Vina, Nina dan lainnya menuju loket untuk membeli tiket nonton.


Setelah selesai membeli tiket, Aku kembali menemui mereka semua.


"Nih, Aku sengaja pilih Film ini, semoga kalian suka ya..."


Aku membagikan tiket.


Sebuah Film bergenre remaja anak sekolahan, sengaja Aku pilih buat ditonton sore ini.


"Ehmm.... Kakak kece, tau aja Film yang pas buat kita.. suka deh sama Film ini, Aku pernah nonton Trailernya, jadi ini tentang kisah cinta segitiga gitu guys!!!"


Elza sangat antusias bercerita.


"Masak sich, kok Aku gak pernah liat ya..."


Nina mengernyitkan dahinya memandang tiket ditangannya.


Aku hanya senyum-senyum melihat perdebatan mereka, lalu menatap Tari.


"Ada Nin, Aku juga pernah liat iklan promo Filmnya tayang di tv kok,"


Sambung Tari.


"Hadeehhh, ngapain sih nonton Film ginian.. cengeng nih, ujung-ujungnya nangis bombay... mending nonton Film Action, kan seru!!"


Celetuk Daniel, yang sejak awal bersikap jutek terhdapku, sementara Aku tak pernah tau apa masalahnya padaku.


"Ehhh... lu aja nonton sendirian Film kayak gitu, gua mah ogahhh!!! Film kok berantem mulu!!"


Elza menepak Daniel di sampingnya.


"Ya, maaf ya Niel.. lain kali deh.. kita nonton Film Action, kalo yang lain pada gak mau, ntar kita nonton berdua mau??"


"Apaan??? ihhh... sorry, gw normal Bro!!"


Daniel melipat tangan di dada.


"Hehhh... kamu pikir Kak agung gak normal? sembarangan kalo ngomong, udah... Ssttt diem, jangan banyak protes!!"


Elza menempelkan jari telunjuknya pada Daniel sebelum Daniel kembali bersuara.


Tak lama berselang pintu pun dibuka, kami semua masuk untuk menonton.


Di dalam, Vina duduk diatara Aku dan Daniel, sementara Elza, Nina dan Tari duduk disebelah kami.


Aku juga membeli cemilan dan beberapa minuman lantas kubagikan pada mereka.


Ditengah acara menonton, tiba-tiba saja tergerak hatiku untuk menggenggam tangan Vina, meski ada sedikit ragu dan takut kalau-kalau Vina marah dengan aksi nekatku,, kupejamkannmata dan kuraih jemarinya untuk ku genggam,


Begitu jemari ini bertaut, hatiku terasa berdebar-debar, dari sudut mataku Aku bisa melihat Vina menolehku, namun sengaja Aku berpura-pura menonton, dan tak merespon tatapannya.


"Ehm..... Ehmm... Heeemmm"


Deheman dari Daniel sontak membuat Aku kaget dan segera menarik dan melepaskan genggaman tanganku dari Vina dan dengan cepat pula merubah posisi dudukku menjadi lebih tegap.


Huffth...


"Dasar bocah tengil!!"


umpatku, yang merasa Daniel sengaja mengusik dan mengganggu kesenanganku.


Dan karena itu juga, Vina kini malah menjauhkan tangannya dari lengan kursi, sehingga sulit untukku mendapatkan kesempatan untuk menggenggam tangannya lagi


2 jam berlalu,


Nobar selesai, Aku dan semua meninggalkan bioskop.


"Kita makan dulu kan.... Aku laperr.."


Rengek Nina.


"Iya Moy, kamu pilih deh mau makan dimana?"


sambungku.


Wajah Nina berubah sumringah seketika.


"Ehmm... Kakak kece,, emang top dech, idaman ini mah,, bahagia banget pastinya yang jadi pacarnya...hahahh"


Nina memujiku didepan semua.

__ADS_1


"Sayangnya, tak semua orang mikirnya gitu moy... "


Jawabku dengan tersenyum.


"Kenapa gitu Kak??"


Tanya Nina penasaran.


"Buktinya sampai sekarang, Aku belum bisa menaklukkan satu hati...masih kalah sama saingan.. berattt...hehheh"


Jawabku lagi, sengaja untuk menyindir Vina.


"Uuhh... kasian, sama Aku aja kak.. hahha, dijamin bahagia lahir batin"


Ceplos Nina diiringi ketawa nakalnya.


"Eluuu yang bahagia, kak Agung menderita!!"


Elza mencubit pipi Nina.


"Ahh Elzaa!! sakiiittt! lagian kenapa harus menderita coba??"


Nina mengusap pipinya yang memerah.


"Iya donk... jelas menderita, bagaimana enggak!! Lu... jajannya banyak! nguras dompet, sama aja melihara Anak gajah!! wkwkkwk"


Elza tertawa lepas.


"Iihh... Elza, jahat banget! Masak Aku disamain sama Anak gajah!! emangnya Aku segemuk itu??!"


Nina menekuk mukanya cemberut.


"Ngacaaaa!!!!!!"


Seru Elza sembari berlari,


"Gak kok, Nina itu cantik, seksi, gemoy.. lucu.. dan yang pasti Nina itu baik"


Aku menghibur Nina, hingga membuat Nina kembali tersenyum percaya diri.


"Ya udah, kenapa gak jadian aja kalian, kan cocok.. yang satu baik, dan yang satu gemoy!"


Daniel bersuara kemudian tersenyum miring.


Kami kembali melangkah, menuju tempat makan yang telah dipilih Nina.


"Vin.. kok bengong?"


celetuk Daniel pada Vina, membuat Aku mengalihkan pandanganku pada Vina.


"Ah.. ehmm.. enggak kok, tuh lagi ngeliatin Tari Asyik bener sama hape"


Ujarnya.


Mendengar hal itu, Tari melepaskan ponselnya dan menyimpannya didalam tas.


Kalau ku ingat-ingat memang sejak awal, Tari tak banyak bicara, dia hanya diam menyimak lalu tersenyum, apa mungkin ini memang sifatnya?


"Udahh.... makan yuk, ntar dingin gak enak!!"


Nina mulai sibuk meracik makanan yang Dia pesan.


Tak membuang waktu, aku dan semuanya menyantap semua menu yang tersaji.


Disela-sela waktu makan, Aku tetap memperhatikan Vina, terlebih ketika kulihat ada sisa makanan di sudut bibirnya.


"Ehm.. Vin, maaf... "


Aku meraih daguku, dengan tangan kanan sementara tangan kiriku yang memegang tissue menyeka sudut bibirnya.


Sontak saja hal itu membuat semua mata yang melihat berdehem, dan menyoraki kami, terlebih Elza.


"So sweeeeetttt......"


Ujarnya.


Vina terlihat merona, mungkin Dia malu pikirku.


"Vin, nich ya, kalau boleh Aku kasih saran, mending kalian jadian aja, resmikan disini mumpung ada kita yang akan jadi saksinya iyakan? bener gak Nin?"


Ujar Elza sembari menoleh Nina.


"Ngomong apa sih za..."


Sambung Vina cepat.


"Lah... dari pada ngarepin Si soulmate mu yang sampai sekarang gak tau dimana rimbanya iya kan?? mending yang pasti-pasti aja yang udah ada disini!"


Sambung Elza lagi.


Mendengar itu Aku menelan ludah,, rasanya ingin sekali Aku berterimakasih pada Elza untuk saran terbaiknya.


"Gak boleh gitu za, yang tau gimana Vina dan Dirga itu disini cuma Aku, mereka soulmate gak bisa di pisahkan, meski saat ini yaaaa... memang sedang pisah, tapi Aku yakin, hati mereka tetap terpaut!!"


Nina membela Dirga, membuat Hatiku yang baru saja berbunga-bunga atas dukungan Elza kembali layu.


Uhuk..!!! Uhuk!!


Tari tiba-tiba tersedak, melihat itu.. Vina sedikit panik dan memberi selembar tisu pada Tari.


Mataku memandang Tari dan Vina, dan mengapa selalu ada getaran yang sama setiap memandang mereka.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2