
Hampir senja,
Ketika Aku dan Agung tiba dirumah, kedatangan kami disambut kedua orang tuaku.
"Ehm Sayang, Aku langsung pulang ya...."
Setengah berbisik Agung berpamitan padaku.
Panggilan yang tak biasa, ternyata membuat Mama menatapku dan Agung curiga,
sambil tersenyum Mama menatapku.
"Ehm... ehm... meski bisik-bisik, tapi Mama bisa denger loh.... "
Ledek Mama membuatku menunduk malu.
"Ehm... gak mau duduk dulu?"
Balasku pada Agung yang sedang berpamitan pada Mama dan Papa.
Agung memandangku lalu tersenyum kecil.
setelah kedua orang tuaku masuk, Agung mendekatkan mulutnya pada telingaku,
"Tak sabar cerita sama Mama dan saudara-saudaraku tentang kabar gembira ini"
Aku tersenyum malu-malu.
"Ya udah, Aku pamit ya... Ayang...heehhe, "
"Ihh.. apa sih,, lebay banget pake Ayang-ayangan"
Aku mencubit kecil pinggang Agung.
"Ya udah, kalo gak suka Ayang, Bebeb aja, Ehm.. atau.. gimana kalo honey...???"
Agung menaik turunkan alis matanya.
"hiaahhhh... makin alayyy,, honey bunny sweety..hahaahh!!!"
Aku tak tahan untuk tertawa.
"Mau??"
"Gak ahhhh... malu tau!!! kita bukan remaja lagi, udah tua!!"
"Yaa..... dikatain dah tua!!"
"Katanya mau pulang, kok gak pulang-pulang?"
"Ngusir nich??"
"Ya enggak gitu, cuma kalo mau ngobrol lama mending masuk kan?"
"Heheh,, okeh... Aku pulang dulu ya Sayang..., ya udah kamu masuk gih...!"
Mendengar perintahnya Aku membalik tubuh berniat meninggalkannya untuk masuk ke dalam rumah.
"Tapi... Eeiittt,, tunggu dulu!!"
Serunya menghentikan langkahku sehingga membuatku berbalik kembali menghadapnya yang terlihat senyum- senyum.
"Sini... sini!!"
Panggilnya,
Aku mendekat dengan raut bingung.
"Tadi nyuruh masuk, sekarang dipanggil lagi, kenapa?"
Tanyaku sedikit kesal.
"Sebentar aja kok, Aku masih mau mandang kamu bentar, buat cadangan kalo Aku rindu, anggap aja sekarang lagi charge biar full"
Sontak saja itu membuatku tersenyum.
"Kamu makin kesini, makin alay!! dah kayak ABG!!"
Tiba-tiba lenganku di tarik lembut oleh Agung.
"Sebenarnya kamu tau gak, ini bukan Alay sayang..., ini adalah bentuk rasa cinta yang tulus yang sudah lama tersimpan, dan ketika cinta ini tercurah, sementara Aku tak tau bagaimana dan dengan bahasa serta cara seperti apa untuk membuat kamu faham bahwa betapa berartinya kamu untuk Aku,,"
__ADS_1
Aku terdiam,
"Maaf kalau cara ini terlihat norak, Aku bukan orang yang pandai dalam menciptakan bahasa dan kata yang romantis, tapi Aku tau bagaimana memperlakukan seseorang yang kusayang dengan manis"
Sambungnya, sembari mendekat dengan kedua tangan yang kini menangkup kedua belah rahangku dengan lembut.
Wajahnya mendekat dan semakin mendekat, dengan sedikit memiringkan kepala, bibir itu kembali menyentuh bibirku untuk yang kedua kalinya setelah kejadian waktu itu.
Jika hari itu, hanya menempel sepersekian detik, tidak dengan kali ini..
pagutan itu terjadi cukup lama, dan terasa berbeda.
Sebuah kecupan dalam yang mampu membuat mataku terpejam dan darahku berdesir,
"Ehm... Udah, buruan pulang.. ntar keburu magrib"
Ujarku canggung setelah mendorong tubuhnya menjauh, Aku tak berani menatap mata itu,
"Hey...sayang, gak usah kikuk gitu dong, makin gemes tau gak!"
Agung mengangkat daguku ke atas.
"Siapa yang kikuk?"
"Hehehe.... ya udah, kali ini beneran, masuk gih...Aku pulang ya..."
Agung berbalik meninggalkanku yang masih berdiri mematung menatap punggung itu masuk kedalam mobil dan melaju hingga badan mobilnya tak terlihat lagi.
Merebahkan diri dengan segudang pikiran yang berantakan membuatku sulit memejamkan mata, padahal rasa lelah sudah sangat menguasai tubuhku.
Tak sengaja mataku menangkap sebuah buku harian yang tergeletak di atas meja, diantara buku-buku novel koleksiku, membuat Aku tergerak untuk mengambilnya.
Beranjak dari tempat tidur dan meraih buku manis itu, buku yang didalamnya tertulis semua cerita tentang Dirga, Dirga dan hanya Dirga, tapi sepertinya malam ini semua harus diakhiri.
Dengan memejamkan mata, ku robek buku harian itu,
dan membuangnya di tempat sampah di kolong meja.
Hatiku ikut terkoyak bersama lembaran demi lembaran buku yang kini sudah menjadi penghuni keranjang sampah.
Ada bening yang menetes tanpa kusadari, pedih ini tercipta begitu saja ketika Aku mengenang masa-masa itu.
Aku bertelungkup di meja, memejamkan mata, mencoba meresapi perih yang kini kembali terasa.
"Vin, ada tamu....!!"
Seru Mama dari luar pintu kamar.
"Tamu?? Siapa ya malem-malem gini"
Ujarku bergegas membuka pintu kamar.
"Tamu siapa Ma??"
Tanyaku begitu pintu kubuka.
"Daniel"
Jawab Mama singkat.
"Daniel?? Sama Elza?"
"Enggak, Dia sendiri, ya udah buruan temui."
Aku mengangguk,
"Hai.. tumben malam-malam? Ada hal penting nich kayaknya."
Basa basiku ketika menemui Daniel dan menyuruhnya masuk.
"Iya, Ada yang mau Aku bicarain sama Kamu."
"Oh... Oke, sekalian Aku juga ada yang mau disampein, duduk Niel, Aku buat minum dulu ya..."
Aku berlalu dan kembali dengan segelas teh hangat dan beberapa cemilan.
"Nich, diminum "
Aku menyodorkan gelas teh pada Daniel.
"Iya, makasih... Ehm, kamu gimana kabarnya?"
__ADS_1
Tanya Daniel canggung.
"Baik, Ada apa sih... kok nanyanya kaku banget?
"Ehm ... gak Papa, syukurlah kalau baik, Ehm... Aku... Ehm... Aku.... cuma Rindu!"
Daniel terbata,
"Apaan sih... hahaha.... oh ya, kenapa gak sama Elza?"
"Hah? Maksudnya????"
"Maksud Aku kenapa kesini gak ngajak Elza?"
"Oh... kirain!!"
Daniel tertawa.
"Kirain apa???"
"Hahahaha... kirain rindunya yg gak sama Elza?"
"Apa sih?? gak ngerti!!"
"Ya udah, gak usah dibahas.... bahas ya yang ngerti-ngerti aja"
"Oh ya, katanya mau ada yang dibicarain, apa??"
Tanyaku menatap Daniel serius.
"Ehm... iya, tapi... kamu duluan aja deh... mau nyampein apa?"
"Oh, gitu.... oke deh, jadi tadi Aku Abis pergi sama Agung, dan ketemu sama Dirga sama Anak Istrinya juga...."
"Eh... tunggu.. tunggu, Dirga? Anak Istri??? Maksud kamu Dia sudah menikah??"
Daniel nampak tegang, ia sedikit menggeser tubuhnya menghadap kearahku.
Aku mengangguk,
Daniel menarik nafas lalu membuangnya perlahan, kemudian mengusap mukanya.
"Terus??"
tanyanya lagi,
"Ya, itu artinya udah gak ada harapan lagi buat Aku untuk ngarepin Dia, toh Dia sudah bahagia"
Danil menatapku, tangannya meraih tanganku.
"Kamu yang sabar ya,, Aku tau kamu kuat dengan kenyataan ini,"
"Ehm... Aku gak apa-apa kok"
Jawabku lalu menarik tanganku dari genggaman Agung.
Wajah Agung memerah.
"Kamu mau bicara apa?"
Tanyaku.
"Ehm.., nanti aja lah, kayaknya momennya gak pas"
"Ih, aneh banget, mau bicara ya bicara aja, gak perlu pake momen-momen"
Aku menepuk bahu Daniel.
"Oh ya,, hampir lupa... Minggu nanti, Agung ngundang kita semua ke kafenya, nanti dikabarin lagi waktunya."
"Mau ada apa??"
"Mau traktir sekaligus ngasih kabar gembira hehehe"
jawabku tersenyum.
"Kabar gembira?? Dia mau nikah??"
Glek!
Pertanyaan danil membuat Aku menelan ludah, bisa-bisanya Daniel menebak sampai kesana,
__ADS_1
Aku juga masih penasaran, apa yang mau disampaikan Daniel,
Bersambung****