
Menjelang siang,
Acara akad dilanjutkan dengan resepsi, Dirga masih betah duduk disebelah Papa sesekali terlihat mereka tertawa bersama.
Sebuah pemandangan indah yang menyita perhatianku,
"Hemmpp... Andai saja tak ada cerita yang bercabang tentang keputusan konyolku waktu itu serta pertunangan yang seharusnya tak pernah terjadi, tentu kisah ini Akan berjalan mulus, dan tak akan serumit ini"
Aku menghela nafas...
"Kamu kenapa Vin?"
Tanya Nina menoleh kepadaku, ketika mendengar helaan nafasku.
Aku tersenyum menggeleng,
"He.... Gak pa pa... Ehm... Aku ke Toilet dulu ya Nin...."
Aku menyerahkan Baby Raina pada Nina, sementara Nina menyerahkan Rania yang sedang ia pangku kepada Alif untuk Mengambil alih Raina dari tanganku.
Aku meninggalkan Nina, Alif, Baby Twins dan Diki menuju toilet gedung.
Di dalam Toilet,
Aku yang sebenarnya sedang tidak ingin buang air kecil, hanya berdiri mematung di depan cermin wastafel, memandang tubuhku sendiri.
Banyak sekali pikiran yang memenuhi ruang kepalaku, terutama ketakutanku bagaimana reaksi orang-orang disekitarku jika tau pertunanganku dan Agung sebenarnya sudah berakhir semalam, terutama kedua orang tuaku dan keluarga Agung.
Dari masalah ini Aku belajar, untuk mengambil sebuah keputusan haruslah dengan kepala dingin dan hati yang tenang, tak bisa terburu-buru kala hati sedang berantakan.
jika tidak, seperti sekaranglah hasilnya, yang ada hanyalah penyesalan, tak hanya itu saja... masalah demi maslah baru akan bermunculan yang berdampak juga dengan orang-orang disekitarku.
Sekali lagi Aku menghela nafas, demi mempersiapkan mental menghadapai apa saja yang akan terjadi setelah ini,
Semua ini memang murni kesalahanku, dan Aku harus siap menerima segala konsekuensinya.
Aku kembali menatap wajahku di cermin, mensetting kembali senyum dan menepikan semua kegundahan sementara.
Aku melangkah keluar meninggalkan toilet.
Dan betapa terkejutnya Aku ketika baru saja keluar dari toilet.
"Astaga!!! Dirga...!!"
Pekikku,
Dirga berdiri bersandar pada dinding di sebelah pintu toilet dengan tangan melipat di dada.
"Ssstttt.....!!"
Dirga meletakkan jari telunjuknya didepan bibir.
"Jangan berisik, nanti orang-orang datang kesini, ngira Aku ngapa-ngapain kamu lagi..."
Sambungnya.
"Lagian Kamu ngapain kesini??! bagaimana kalau ada yang lihat?!"
Ujarku sembari menoleh kesana kemari memastikan tak ada yang memperhatikan kami.
"Makanya Aku ilang jangan berisik,, Aku mau ngobrol sama kamu, boleh ya... pleaseee!!"
Dirga mengatupkan tangannya didepan dada memohon padaku.
"Ngobrol? Mau ngobrol apa? Disini?? gimana Kalau ada yang lihat?"
Hatiku benar-benar deg-degan takut kalau-kalau Mama atau yang lainnya memergoki kami dan berpikir macam-macam.
__ADS_1
"Ya gak disini,, yuk.. ikut Aku!!"
Dirga dengan cepat menyambar lenganku dan menarikku keluar lewat pintu samping.
Aku tak bisa menolak, dan hanya pasrah mengikuti langkah cepat Dirga.
"Ya Tuhan, hatiku kembali bergetar... namun entah kenapa perasaan ini terasa hangat dan nyaman sekali, seketika semua beban yang tadinya terasa menghimpit dada dan otakku terasa ringan, menguap dan terlupakan begitu saja, berganti dengan getaran-getaran cinta yang tak dapat kupungkiri keberadaannya.
Sampai diluar gedung, Dirga menunjuk sebuah pohon besar lengkap dengan tempat duduk yang berada di samping Gedung, sedikit terhalang beberapa mobil, sehingga tak akan terlihat secara langsung ketika ada yang keluar dari gedung.
Sepertinya tempat itu lebih baik dari pada harus mengobrol di koridor depan toilet, tempat berlalu lalangnya orang yang ingin menuju toilet.
"Kita kesana!"
Dirga kembali menarikku menuju bawah pohon tersebut.
Sampai disana,
"Duduk Vin,"
Ujarnya, ketika ia lebih dulu duduk.
"Kamu apa kabar?"
Tanyanya,
"Baik,"
Jawabku singkat.
"Ehm... Syukurlah,, Aku senang mendengarnya.. hubungan kamu sama Agung baik-baik sajakan? kapan rencana kalian menikah?"
Tanya Dirga lagi, kali ini menatap jari-jariku.
Sadar sedang diperhatikan, Aku menarik tanganku dan menurunkannya dari meja, dan duduk tegap dengan tangan sedikit kusembunyikan.
Situasi berubah canggung,
"Ehm... kami baik-baik saja,, masalah pernikahan... Kami belum ada rencana, masih menjalani seperti ini dulu"
Jawabku berbohong.
"Seperti ini? seperti ini gimana,, ehm... maaf, kenapa cincin itu tidak ada dijari-jari kamu?"
Aku menelan saliva, tak kusangka. Dirga jeli sekali melihat ketidak beradaan cincin itu dijariku, dan berani menanyakannya secara langsung kepadaku.
"Ehm... Ada kok,, Aku lupa pakai setelah kubuka saat mandi tadi pagi"
Jawabku.
Dirga menggut-manggut.
"Oh ya,, dimana Agung? kenapa Dia tidak disini bersama kamu?"
Tanya Dirga lagi,
"Dia ada urusan berangkat keluar Kota"
Lagi-lagi Dirga manggut-manggut.
"Udah ya Dir, Aku harus kembali kedalam, sebelum mereka curiga karena Aku meninggalkan mereka terlalu lama"
Ujarku.
"Kamu mencemaskan mereka karena kamu meninggalkan mereka terlalu lama,, ini belum sampai setengah jam loh Vina!"
Dirga menatapku.
__ADS_1
"Dirga,, Aku..."
"Apa kamu pernah mencemaskan Aku? yang akan kamu tinggalkan selamanya bersama laki-laki yang Aku tau kamu sama sekali tak mencintainya?!!!"
Ujar Dirga dengan nada sedikit tinggi,, terasa sekali ada emosi disetiap kata-kata itu.
"Dirga, kamu ngomong apa sih? kamu kenapa?!"
"Pernahkah kamu berpikir tentang Aku yang selalu memikirkan kamu, menahan segala kerinduan, dan mencoba berdamai dengan keadaan, menerima kenyataan bahwa kamu akan segera dimiliki orang lain,, padahal kamu sendiri tersiksa dengan keadaan ini!!!"
Kata-kata Dirga seperti menekan hatiku, terasa sesak membuatku menunduk.
"Lihat Aku Vina!! lihat Aku!!"
Dirga menepuk dadanya sendiri.
"Sampai detik ini,, Aku masih memikirkan kamu,, Aku tak bisa melupakan kamu!!
dan kamu tau Vin,, maaf jika Aku selalu berharap suatu saat Aku masih ada kesempatan untuk bisa memliki kamu seperti harapan-harapanku yang dulu."
"Aku Mau masuk!"
Aku beranjak, dan bersiap meninggalkan Dirga.
"Tunggu!!"
Cegah Dirga.
langkahku terhenti, membelakangi Dirga tanpa menolehnya.
"Aku tau,, kamu sedang tidak baik-baik saja.. Aku menunggu kejujuran kamu untuk menceritakan semuanya,, nomor ponselku takkan pernah ganti, kapanpun itu kamu bisa menghubungiku, ingat Vin, bahagia itu adalah tidak pernah memaksakan suatu hubungan yang sama sekali tidak pernah ada cinta didalamnya"
Mendengar itu, Aku memejamkan mata sesaat kemudian melangkah meninggalkan Dirga masuk kembali kedalam gedung.
"Andai kamu tau Dir... Itu semua benar adanya, Aku memang sedang tidak baik-baik saja,, dan pertunangan itu sudah berakhir semalam, tapi maaf Aku tak ingin memberitahumu lebih cepat,, Aku tak ingin semua semakin menjadi kacau"
Aku mempercepat langkahku, masuk menemui Nina dan yang lainnya.
Sampai di dalam, Aku yang melihat Nina gelisah menoleh kesana kemari, namun kelegaan terlihat ketika tatapannya sampai kepadaku.
"Vina!! Kamu dari mana sich, ke toilet kok lama,, disamperin malah gak ada!!"
Oceh Nina begitu Aku sampai di kursiku lagi.
"Ehm.. Iya maaf tadi Aku keluar cari yang jualan Tisu.. iya.. begitu"
Jawabku gugup.
"Kamu jangan bohong,,!! Kamu habis dari mana sama Dirga?"
Tuding Nina sedikit berbisik di depan wajahku.
"Dengan Dirga?? Kamu ngomong apa sih Nin?"
Elak ku pada Nina.
"Dirga menghilang tak lama setelah kamu izin ke toilet,, dan lihat itu,, Dirga kembali tak lama setelah kamu juga kembali!
Aku menoleh kearah kursi dimana Dirga duduk, dan benar saja, Dirga baru saja sampai.
Aku tak dapat mengelak lagi, namun Aku tak tau harus memulai cerita dari mana,, dan menunduk adalah satu-satunya pilihanku saat ini.
"Ya Tuhan..... Vina!!! itu artinya benar? kamu gak bisa seperti ini Vina, kelakuan kamu yang seperti ini akan menjadi masalah buat kamu sendiri dan orang-orang disekitar kamu!"
Nina duduk bersandar, dengan mata menyorot tajam kearahku.
Bersambung***
__ADS_1