
Agung menepati janjinya,
Sehari setelah Aku memutuskan untuk membuka hati untuknya, Agung datang menghadap kedua orang tuaku untuk meminta izin sekaligus restu, meski tak jadi lamaran nikah yang ia rencanakan selepas pulang dari luar kota, karena Aku belum siap namun Acara pertunangan akan tetap terjadi,
Itu artinya 3 bulan lagi, Aku resmi menjadi tunangan Agung, sungguh ini seperti mimpi.
Kedua orang tuaku yang menyambut hangat niat baik Agung menjadikan jalan ini mulus untuk sebuah hubungan baru yang akan segera dimulai, terlebih mengingat kedekatan Orang tuaku dengan keluarga Agung, semua tentu tidak sulit untuk penyesuaian dan pengenalan satu dan yang lainnya.
Aku sangat yakin semua pasti akan lancar dan baik-baik saja, meski untuk saat ini, bayang-bayang kenangan bersama Dirga pada masa lalu masih kerap hadir bagai gerimis kecil yang membasahi hatiku, tapi Aku percaya ini hanya soal waktu.
Seiring waktu, Aku akan terbiasa dan berusaha melupakan semua tentang Dirga.
Seminggu berlalu,
Sesuai yang sudah dijanjikan Agung, bahwa Hari ini Dia akan mengadakan pengumuman tentang hubungannya denganku kepada semua karyawan kafe miliknya, sahabat dan teman-temannya termasuk sahabat-sahabat terdekatku yang juga turut diundang.
Sejak kemarin, sebenarnya hatiku gelisah, entahlah.. harusnya Aku bahagia diperlakukan seperti ini, namun terasa ada yang masih mengganjal dihatiku, ada sesal yang sejak kemarin menyergap dihatiku tentang pertemuanku dengan Dirga minggu lalu.
Andai saja, ada sedikit keberanian dihatiku saat itu, harusnya Aku menemuinya dan bertanya tentang kabarnya, sebab entah mengapa setelah keputusan besar yang kuambil untuk membuka hati pada Agung, kini muncul keraguan tentang Dirga yang sudah berkeluarga.
Bagaimana bisa Aku menjalani sebuah hubungan jika hatiku masih menyimpan tanda tanya dan rasa yang belum tuntas pada masa lalu.
Tentu ini akan menjadi bayang-bayang yang akan mengganggu hatiku kedepannya.
Drrtttt.... Drtttt...
Getar ponsel yang sengaja kusenyapkan suara dering nya.
Kulirik nama yang terpampang,
Agung menelponku.
"Ya, haloo Gung..."
"Sayang, kamu lagi dimana?"
"Dirumah, emang kenapa??"
"Satu jam lagi Aku jemput ya, ini Aku masih di kafe, teman-teman kamu gimana? mereka bisa datangkan?"
"Ehm.. iya udah, Aku siap-siap dulu ya, kamu hati-hati kesininya.. teman-teman Aku, katanya mereka bisa datang, kecuali Tari, Aku gak ada kontaknya lagi"
"Oke ya udah,, see you sayang..."
Aku meletakkan ponsel sembari menarik nafas panjang.
Namun baru saja ponsel diletakkan, ponselku kembali bergetar,
Tanpa melihat layar,
"Iya, Aku siap-siap sekarang,,"
ujarku dengan menempelkan ponsel ditelinga.
"Kamu serius?? emangnya kamu dah tau kalau Aku mau jemput kamu??"
Suara yang kukenal dari sebrang sana.
Deg!!
__ADS_1
Jantungku berdetak, mataku membulat ketika kulihat nama Daniel yang terpampang sedang menelponku.
Dengan menepuk jidatku sendiri, Aku memicingkan mata.
"Eh... Maaf Niel, Aku kira kamu...."
"Kamu kira siapa??"
"Ehm... ada apa nelpon??"
"Aku jemput kamu ya, kita bareng ke kafe"
"Duh... maaf ya Niel, Agung dah jalan mau kesini jemput Aku,,"
"Oh, jadi yang tadi kamu kira, Agung yang nelpon ya?"
"Ehm.. Eh.. iya.., kamu gak papakan? Maaf ya..."
"Santai Vin, gak papa... ya udah, Aku jalan sekarang ya... sampai ketemu disana, Aku ada sesuatu buat kamu"
"Hah? sesuatu?? apa??"
"Nantilah disana... ya udah ya Vin, kamu hati-hati bye"
Dengan hati bertanya-tanya Aku meletakkan ponsel dan beranjak untuk bersiap-siap.
Tak lama setelah Aku selesai berdandan, kudengar suara mobil berhenti didepan rumah.
Aku berdiri menghadap cermin memastikan penampilanku, mulai dari pakaian santai dan sangat simpel, kaos putih dengan gambar hati di depan yang sudah disiapkan Agung kembaran dengannya, riasan muka yang flawless hingga rambut yang kubiarkan tergerai bebas tanpa hiasan.
Kuraih tas dan memasukkan ponsel didalamnya,
"Ini Vina,, kalian hati-hati ya.. "
Ujar Mama sembari merapikan rambut poniku dengan menyelipkan di belakang telinga ketika Aku duduk disampingnya.
"Iya Ma, Vina pamit ya Ma...Pa..."
ujarku, begitupun Agung yang juga bangkit dari kursi dan menyalami Papa dan Mama.
Kami berangkat menuju kafe milik Agung.
Dijalan,
Tak banyak bicara, selain memang Agung tak bersuara, Aku juga lebih memilih untuk menenangkan hatiku sendiri yang semakin terasa tak menentu.
Hampir sampai ketika Agung menolehku dan bertanya tentang sikapku.
"Sayang, kamu kok diem aja dari rumah sampe udah mau nyampe, kamu sakit??"
"Ehm... enggak kok, cuma tegang aja.."
Jawabku berusaha terlihat baik-baik saja.
Aku tak ingin Agung tau tentang hatiku yang kini bimbang dengan keputusanku sendiri.
Mobil berhenti,
Aku bersiap untuk turun sebelum Akhirnya niatku terhenti kala lenganku lebih dulu di tangkap Agung.
__ADS_1
"Vin, tunggu..."
Aku menoleh, dan Agung melepaskan lenganku.
"Kamu sudah siap kan?? Kamu sudah yakinkan sama Aku? entah kenapa Aku jadi takut, Aku takut kamu berubah pikiran.. "
Agung menatap mataku dalam, terlihat jelas harapan yang besar disana.
Aku mengusap bahu Agung sembari tersenyum,
"Iya, Aku siap, Aku juga yakin.. kamu jangan khawatir ya...."
"Makasih Sayang...."
Agung mengambil tanganku yang tengah berada di bahunya, lalu mengecupnya lembut kemudian kami turun, seperti biasa Agung memperlakukan Aku bagai tuan putri, mulai dari membukakan pintu mobil, menuntunku untuk turun dan menggandengku memasuki kafe.
Begitu tiba di depan Kafe, mataku terbelalak melihat rangkaian bunga indah dengan nuansa merah dan putih menghiasi pintu masuk, baru saja melangkah masuk iringan lagu romantis dari band kesayanganku terdengar manis ditelinga, nampak juga balon bentuk hati berwarna pink dan putih berserakan dan bertebaran dimana-mana, sungguh kafe yang disulap menjadi tempat yang romantis dengan lampu yang di setting dengan cahaya lembut.
Aku tak dapat berkata-kata hanya diam tak menyangka bahwa Agung akan menyiapkan semua sampai sedetail ini.
"Gimana? suka gak?"
Tanya nya.
Aku tersenyum, harusnya kamu gak perlu sampai sebegininya Gung,
Batinku.
"Selamat datang, Bu Vina..."
Sapa semua karyawan kafe yang kini berjejer didepanku menyambut kedatanganku dengan setangkai bunga mawar ditangan masing-masing.
Satu persatu dari mereka maju dan memberikan bunga mawar itu padaku,
Aku yang canggung hanya bisa menerima dan berucap terimakasih dengan mengulas senyum termanis.
Setelah semua kembali pada barisannya, tiba giliran Agung berjalan maju ke sebuah meja yang sepertinya di dekor khusus untukku, diatasnya terdapat buket besar bunga mawar merah, Agung meraihnya dan berjalan maju kedepanku, dan menyerahkan bunga tersebut.
Aku tak dapat berkata-kata lagi.
Aku sungguh tak menyangka Agung melakukan semuanya untukku.
"Yuk Vin, kita duduk di situ"
Ajak Agung menggandeng tanganku menuju kursi dan meja yang sudah disiapkan.
Aku mengangguk, sembari menatap sekelilingku yang ternyata sudah ramai teman-teman Agung yang sama sekali tak kukenal, mataku berkeliling mencari teman-temanku.
"Cari siapa sayang? teman-teman kamu ya...?"
Tanyanya ketika melihat Aku celingak celinguk memperhatikan meja-meja sekitar.
Aku mengangguk,
"Kamu jangan Khawatir, mereka belum datang kok, ini meja mereka... mereka akan duduk didekat kamu..tenang saja ya...."
Agung mengelus jemariku.
Bersambung***
__ADS_1