
Tante Ruri kembali memandang wajahku ketika Aku kembali menyerahkan cincin itu ke tangan Tante Ruri untuk yang kedua kalinya.
"Kenapa Vin,, kenapa kamu menolak? jangan kamu anggap ini sebagai cincin pertunangan,, sebab pertunangan itu sudah tidak ada cerita lagi,, Jika kamu berat memakainya maupun menyimpannya karena hatimu terganjal oleh pertunangan,, tolong... Tante mohon terima ini sebagai hadiah dari seorang Ibu untuk anak perempuannya"
Air mataku menetes mendengar Tante Ruri yang begitu tulus menyayangiku,, tapi tetap saja, Aku tak bisa menerimanya, mau bagai manapun, tetap saja hati akan kembali mengingat peristiwa itu setiap kali melihat cincin itu.
Aku mencium tangan Tante Ruri,,
"Maafkan Vina Tante... Bukan Vina tak menghargai rasa sayang Tante,, tapi sekali lagi maaf,, Vina juga tak bisa menyimpan cincin ini, bukan karena Vina menolak pemberian dari seorang Ibu,, tapi hati Vina gak akan kuat jika melihat cincin ini,, kerena itu akan membuat Vina mengingat kembali momen itu,, dan Vina akan selalu dihantui rasa bersalah"
Tante Ruri mengangguk, lalu menyeka sudut mataku.
"Baiklah... kalau memang ini keputusan kamu, Tante tak akan memaksa... Tante akan menyimpannya, sampai suatu hari ada yang bersedia mengenakan cincin ini di jarinya"
Aku mengangguk, dan tersenyum dengan mata yang masih saja basah meski berkali-kali telah di seka.
"Ya udah, kalau begitu.. Tante pamit pulang,, kamu baik-baik ya... semoga baik kamu maupun Agung bisa mendapatkan kebahagian masing-masing setelah kejadian ini"
Sekali lagi Tante Ruri memelukku dan mengusap rambut panjangku.
"Yun,, Mas.. Aku pulang ya..."
Tante Ruri juga berpamitan pada Mama dan Papa, lalu kami mengantar Tante Yuni hingga kedepan, menemaninya sampai taxi online yang ia pesan datang.
Haru dan duka bahkan mungkin kecewa masih menyelimuti rumah ini.
Tak lama setelah Tante Ruri pulang, Aku masuk kedalam rumah.
"Vina tunggu, Papa mau bicara!!"
cegah Papa begitu Aku baru saja masuk kedalam rumah.
Langkahku terhenti bersama hati yang diselimuti rasa takut mendengar suara lantang dan tegas dari Papa.
__ADS_1
Papa segera mendekatiku dan mendahului langkahku untuk duduk kembali di ruang tamu.
Melihat wajah tak ramah Papa, tubuhku gemetar, kemudian melangkah pelan menuju ruang tamu dan duduk di depan Papa.
Mama menyusul dan memilih duduk disampingku.
"Vin jujur,, Papa salut sama Agung yang sudah mati-matian bela kamu demi menjaga perasaan kamu seperti tadi,, Papa tau.. disini yang paling terluka adalah Agung!"
Aku menunduk,, Papa benar... Agung lah orang yang paling terluka dan Aku orang yang paling bersalah.
"Kalau memang Kamu tak pernah mencintai Agung,, kenapa kamu setuju untuk acara pertunangan kemarin,, kamu tau... Tak hanya keluarga kita yang malu,, tapi keluarga Agung juga...semua gara-gara kamu!"
Papa bersandar dan mengambil nafas sesaat kemudian melanjutkan meluapkan semua kekecewaannya padaku.
"Jangan anggap pertunangan dan pernikahan itu main-main, yang bisa suka-suka kamu atur sendiri.. ini soal komitmen dan hati Vina!!"
Mendengar itu, Aku mengangkat kepalaku.
Aku kembali menangis.
"Apa maksud kamu? komitmen apa? terjebak situasi apa? dan banyak hati maksud kamu siapa??!"
Papa menatap tajam mataku.
Aku terdiam menahan isak,, membuat kerongkonganku terasa sakit sekali.
"Vina! kenapa diam? ceritakan pada Papa,, bagaimana komitmen dan situasi yang menurut kamu menyakiti banyak hati"
Papa menurunkan nada bicaranya satu tingkat lebih rendah.
Aku menarik nafas dan mulai bercerita,
"Sejak awal,, Vina memang tak pernah mencintai Agung sedikitpun.. Karena bagi Vina, Agung hanyalah teman dan sahabat dekat,, tapi waktu itu ada sebuah kejadian yang dimana hati Vina sangat hancur dan patah hati kepada seseorang, dan Agung tau semua itu,, Agung menawarkan menjadi seseorang yang akan menyembuhkan patah hati itu,, disanalah keputusan konyol itu Vina ambil. Vina menerima Agung, meski hati sama sekali tak ada rasa apa-apa.. saat itu yang ada di pikiran Vina hanya keyakinan bahwa lambat laun perasaan cinta itu akan muncul dengan sendirinya. Tapi ternyata pikiran itu salah, seiring berjalannya waktu, perasaan itu tak pernah hadir dihati Vina,, dan saat Agung berencana melamar Vina,, Vina menolak dengan alasan belum siap, dan Agung menawarkan untuk digelarnya pertunangan, Vina sulit menolak karena Vina sudah berkomitmen sama Agung, akan menjalani hubungan ini dan belajar pelan-pelan mencintainya,, hingga pada akhirnya, seseorang yang mematahkan Hati Vina kembali muncul dengan sebuah kebenaran yang ternyata selama ini Vina salah sangka. Disanalah muncul penyesalan atas keputusan yang salah itu,, tapi lagi-lagi karena komitmen,, Vina tak bisa mundur dari pertunangan itu,,"
__ADS_1
Aku menunduk, mengingat semua detail kejadian yang sudah berlalu, Papa tertegun mendengar penjelasanku, Dan Mama menggenggam tanganku erat dan hangat.
Beberapa detik terdiam, Aku kembali melanjutkan,
"Dan... jauh sebelum pertunangan sebenarnya Agung juga sudah ragu untuk melanjutkan, namun Dia tak pernah bicarakan keraguannya pada Vina hingga pertunangan digelar. Pada akhirnya Agung tau semua perasaan Vina, dan Kemarin Dia memutuskan untuk melepaskan Vina dari ikatan pertunangan kami. Vina juga kaget Pa, Ma... tapi Agung benar, sebelum semua terlanjur jauh,, lebih baik berhenti disini,, mekipun ada banyak hati yang akan kecewa pada kami,, tapi setidaknya kami mencegah hati itu lebih sakit lagi dari ini jika dilanjutkan"
Aku kembali diam menyembunyikan wajahku dengan menunduk.
Mama mengusap bahuku, seolah menguatkan Aku.
Dan Papa seolah tengah berpikir, sedang Aku tak tau apa isi pikiran itu.
"Vin,, tadi dari cerita kamu, yang Papa dengar, ada seseorang yang membuat kamu patah hati?! Apa sebelumnya Kamu punya pacar? kenapa kami tidak pernah tahu hal itu?"
Pertanyaan Papa membuatku terhenyak kaget. Aku sama sekali tak menyangka Papa akan bertanya soal itu padaku, sementara Aku sendiri belum menyiapkan jawaban terbaik.
"Vin,, "
Panggil Papa lagi ketika merasa pertanyaan darinya tak mendapat respon dariku.
"Ehm.. Bukan Pa,, Dia belum pernah menjadi Pacar Vina,, itulah mengapa Vina tak pernah mengenalkannya kepada Mama dan Papa,, Hanya saja sejak dulu sekali, hati Vina terpaut padanya, begitu pula sebaliknya.. dan agung juga tau itu,, namun karena suatu hal, dia menghilang dari hidup Vina, tanpa kabar dan tanpa kejelasan, tapi hati Vina sama sekali tak pernah berubah, dan hari itu ketika kami kembali dipertemukan, situasinya berbeda, Vina salah sangka mengira Dia sudah memiliki Anak dan Istri, hal itu yang mendasari Vina menerima Agung, ternyata Vina salah,, Dia belum menikah dan sampai detik ini juga masih mengharapkan Vina, perempuan dan bayi itu adalah keluarganya."
Aku memainkan jariku mengusir rasa canggung yang entah mengapa tiba-tiba saja hadir setelah Aku menceritakan tentang Dirga pada kedua orang tuaku untuk yang pertama kalinya dalam hidupku.
"Apa laki-laki itu Dirgantara??"
Cetus Papa.
Deg!!
Aku terkejut mendengarnya.
Bersambung***
__ADS_1