Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 42 Daniel yang Asyik


__ADS_3

Semangat itu kini hilang, rasa yang begitu menggebu akan sebuah penantian kini seakan terbang, berlalu saja menghilang menyisakan pilu.


Bagaimana bisa orang yang selama ini mengisi hatiku, menyita semua waktuku untuk memikirkannya malah tak lagi mengingatku.


Bodoh sekali Aku, yang selama ini mati-matian menutup rapat hatiku untuk orang lain hanya karena ingin menjaga rasa yang pernah ada, berharap suatu saat rasa ini terbalas dengan sebuah perjumpaan indah menurut takdirnya, tapi kini rasa-rasanya mustahil untuk semua harapan itu.


Aku mengepal tanganku sangat kencang, berharap kecewa ini hilang dan amarah di hati ini bisa sedikit melebur bagai debu.


Aku tak kuasa menahan mata yang memanas, beranjak dari bangku dan segera berlari keluar kelas menuju toilet bersama Air mata yang mulai jatuh.


Tak kupedulikan panggilan dari Nina dan Elza yang cemas dengan keadaanku.


Begitupun dengan Tari yang dengan sigap beranjak dari bangkunya menahan kepergianku.


Brukk!!!


Aku menabrak seseorang.


"Kamu kenapa?"


Pertanyaan itu membuatku mendongakkan kepala.


Daniel mengulurkan tangannya kearahku.


Aku menyambutnya dan berdiri dihadapannya.


"Kenapa menangis?"


Aku menggeleng dan meninggalkannya.


10 menit berada di dalam toilet sekolah,


Kutumpahkan semua yang ada dihati, berharap didetik berikutnya ada sedikit rasa lega dihati.


Selesai menangis, Aku membersihkan wajahku dengan tissue dari saku bajuku.


Dengan menarik nafas panjang Aku keluar, berusaha tenang dan menguasai diriku sendiri.


Deg!!


Jantungku berdegup, begitu keluar dari toilet seseorang tengah bersandar di dinding samping pintu toilet.


"Daniel?"


Gumamku pelan.


Daniel menoleh kearahku tanpa ekspresi.


"Sedang apa?"


Tanyaku.


"Berhenti bertanya, seharusnya kamu yang menjawab, kamu kenapa? ada apa? mengapa menangis??"


Pertanyaan beruntun dari Daniel membuatku diam tertunduk.

__ADS_1


Sejak di bangku SD, Daniel selalu seperti ini, dan ternyata sikap dan sifatnya tak pernah berubah, selalu peduli dan selalu ingin melindungi, tapi apakah benar itu artinya Daniel sejak kecil menyukaiku?


Pertanyaan liar itu tiba-tiba saja menyinggahi hatiku lagi.


"Vina....."


Sapa Daniel setelah beberapa saat aku terdiam.


"Aku tidak apa-apa!"


Jawabku sembari melangkah mencoba meninggalkannya.


"Vin!! Tunggu!!!"


Daniel menarik bahuku hingga tubuhku berputar menghadapnya.


"Kamu tak bisa bohong! kamu ada apa??"


Ucapan Daniel kali ini disertai tekanan.


Menatap wajahnya yang begitu fokus terhadapku membuatku harus mengalah dan memilih harus menceritakan semuanya tentang cerita Tari barusan.


"Aku cuma sedang kecewa...."


Ujarku.


Daniel menuntunku untuk duduk di bangku tak jauh dari koridor toilet.


"Kecewa kenapa?"


Tanyanya.


"Laki-laki?"


Potong Daniel disela ceritaku, mataku menatapnya dan mengangguk.


Terlihat daniel menelan ludahnya.


"Sampai pada akhirnya kita lulus dan masuk di SMA yang berbeda, tak pernah lagi ada kontak, terakhir kabar yang kudapat bahwa Dia adalah tetangga Tari, Aku bahagia... bahkan sangat bahagia membayangkan sebuah pertemuan didepan mata, tapi ternyata Aku salah... Dia tak seperti Aku!"


Aku kembali menunduk.


"Dia kenapa?"


Tanya Daniel pendek.


"Dia sudah tak mengingat Aku, Dia sudah punya pacar!!"


"Hahahahhhhh......!!!"


Aku melotot, mendengar tawa menggelegar Daniel.


"Kamu kenapa?? Kenapa ketawa seperti itu?! Aku lagi sedih!!!"


Aku memalingkan wajahku.

__ADS_1


"Sorry.... Sorry.... Aku kelepasan, lagian kamu, dari mana tau Dia sudah punya pacar? emangnya Dia sudah bilang begitu??"


"Tari bilang Dia selalu bersama perempuan itu!!"


"Lah, itukan Tari yang bilang, bukan Dia? Bisa ajakan itu saudaranya, sahabatnya, Contohnya kamu!! beberapa hari ini dekat banget kan sama Agung? Aku menduga itu pacar kamu, tapi kenyataannya kamu bilang Dia cuma sahabat yang udah kayak saudara! iyakan??"


"Daniel benar juga ya,, tapi...."


Batinku.


"Ya.. itu beda lagi!!! kan emang bukan pacar, tapi kalu Dia!!"


Aku melipat tangan didada.


"Beda apanya??? sama Vin, kita belum boleh percaya sampai kita ada bukti yang nyata, kalau gini jadinya kamu menduga-duga kan??"


"Oke, kalau memang Perempuan itu bukan pacarnya, kenapa surat Aku gak Dia bales?"


"Apa??! surat?? wkwkwkkwkw"


Sekali lagi tawa Daniel pecah.


"Sstttt... gak usah ngeledek!! dan jangan nanya kenapa Aku kirim surat!!"


"Kenapa emangnya?"


Tanya Daniel memancingku.


"Intinya akses yang bisa dijangkau sekarang cuma surat!"


"Ya bisa aja dia malu, malu untuk membalas surat kamu, malu dengan kondisinya Dia, atau juga malu karena faktor lain"


Daniel memang baik, ia tidak memperkeruh suasana, malah memberikan Aku pandangan yang masuk akal.


"Udah.... jangan ngambek lagi, jangan nangis lagi, yakin aja.. jodoh gak akan kemana, "


Daniel menepuk pundakku beberapa kali sebelum akhirnya mengajak Aku kembali ke kelas.


"Ehm... Nil, boleh nanya?"


"Apa??"


"Kemarin kamu kok ngambek??"


"Enggaklah, mana ada Aku ngambek, cuma be-te aja dikit"


"Be-te kenapa sampe pura-pura pulang padahal ngumpet diem-diem monitoring"


Kali ini gantian Aku yang skak mat Daniel.


"Hahaha.. ketahuan deh...!!"


"Ayo jawab??"


Desak ku.

__ADS_1


"Aku Be-te, Kamu cuekin hahahaha,becandaaa!.


Bersambung***


__ADS_2