Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 72 Ketemu Nina


__ADS_3

Masih nyaman didalam balutan selimut tebal, meski jam menunjukkan pukul 7.30.


Minggu pagi dengan gerimisnya membuat Aku malas beranjak dari tempat tidur, meski mata sudah terbuka lebar sejak subuh.


Memilih berleyeh-leyeh di tempat tidur sembari memutar lagu band melayu di ponselku yang terdengar mendayu-dayu menambah suasana syahdu dikamarku pagi ini.


Sesekali mulutku mengikuti syair lagu yang tengah kuputar, dan hati akan terasa nyes ketika kurasaka bait yang menyentuh.


Seketika irama berhenti kala ponselku bergetar tanda ada yang menelpon.


Aku menoleh dan meraih ponsel yang tak jauh dari bantalku,


"Haloooo... Gung,"


sapaku.


"Hai.... Selamat pagi kesayangan... pasti belum mandi"


"Kok tau, hehehe"


"Taulah,, kan udah biasa... hahaha"


"Kenapa nelpon pagi-pagi gini?"


"Mandi gih, dandan cantik,, Aku mau ngajak ngedate"


"Ngedate? kemana??"


"Terserah deh,, pokoknya keluar dulu, nanti kita omongin lagi dijalan.., buruan ya.... Aku luncuran,, Aku rindu!!!"


Klik!!


Panggilan dimatikan,


Aku tertegun sesaat, mendengarkan kalimat terakhir Agung.


terbuat dari apa hatinya bertahun-tahun terus bersikap manis meski tak pernah mendapat kejelasan dariku, terus bersikap biasa saja meskipun Aku tau ia begitu berharap akan jawaban dariku tentang perasaannya.


Bahkan, sampai detik ini tak pernah kudengar tentang kedekatannya dengan perempuan lain selain Aku.


Tapi... ahh, apa bedanya denganku,, yang juga sampai saat ini tetap berharap kepada cinta pertamaku yang tak pernah ku tau keberadaannya.


Bergegas Aku mandi dan bersiap.


Tak lama menunggu, dengan mobil silver super mengkilap, yang sepertinya baru keluar dari steam, Agung datang.


"Cie... tumben kinclong,"


Ledekku sembari menunjuk mobilnya dengan lirikan mata.


"Iya donk... kan yang mau dijemput gak suka kalo dekil"


Agung balas menyindirku dengan kedipan mata genitnya.


"Mau masuk dulu??"


Tanyaku


"Langsung aja yuk, pamit dulu sama Mama"


Aku mengangguk dan bergegas masuk mengajak Agung menemui Mama yang sedang menikmati kopi di halaman belakang bersama Papa.


Usai berpamitan, kami berdua meluncur meninggalkan rumah, tanpa tau kemana tempat yang akan dituju.


"Ehm... sebenernya, kita mau kemana sih?"


Tanyaku di sela-sela alunan musik slow yang tengah diputar didalam mobil.


Agung menolehku sesaat kemudian tersenyum kecil.


"Aku belum dapat ide, menurut kamu.. enaknya kemana?"


Agung balik bertanya.


"Ehm.... Situ yang ngajak ngedate, tapi malah situ yang bingung"

__ADS_1


Aku melengos.


"Dih... ngambek Non?"


Dengan lembut Agung meraih lenganku dan menggenggamnya, lalu sebuah kecupan mendarat di punggung tanganku.


"Jangan ngambek ya,, maaf... Habisnya Aku gak paham, tempat tongkrongan yang asyik, mau ke Kafe Aku, kamu selalu nolak kan?"


Agung tak salah, Aku selalu menolak untuk diajak nongkrong di kafe miliknya, bukan tanpa alasan Aku hanya risih dan tak enak hati jika diperlakukan bagai tuan putri jika main kesana oleh orang-orang disana hanya karena menurut mereka, Aku adalah calon istri Bos mereka.


Berkali-kali Aku menuturkan ketidaknyamanan itu pada Agung, tapi selalu saja Agung hanya membalas dengan senyuman.


"Gimana kalau kita nonton bioskop aja, kebetulan kabarnya ada film romantis, siapa tau kamu bisa terbawa suasana dan......"


"Dan apa??!"


Sambungku cepat.


"Dan.... bisa romantis juga sama Aku hehheh"


Aku lantas menarik tanganku dan mencebik.


"Vin, kamu harus tau,, perasaanku masih belum berubah,, tetap menunggu seperti dulu"


Ujarnya tanpa menolehku dan tetap fokus pada kemudi.


Aku menelan ludah dan merasa sangat berdosa menggantung sebuah hati demi hati yang mungkin tak pernah menyimpan Aku dihatinya.


"Gimana, setuju?


Aku mengangguk,


" Serius?? Kita jadian??"


Mendengar itu, Aku menoleh dengan memicingkan mataku kearah Agung.


"Eeh, itu.. maksudku serius kita nonton?? hehhehe"


Agung buru-buru merevisi kalimatnya ketika lirikan tajamku menyorot kearahnya.


Tiba di pelataran parkir Mall,


"Tunggu.."


Agung menahan lenganku ketika hendak membuka pintu mobil,


Aku menoleh,


Dengan cepat Agung turun dan berlari memutar,


"Silahkan turun kesayangan....."


Ujarnya membukakan pintu dan mempersilahkan Aku untuk turun.


Aku hanya tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepala menanggapi perlakuannya pagi ini.


Pelataran parkir masih nampak kosong, hanya ada beberapa mobil saja disana, mungkin karena ini masih pagi, belum banyak pengunjung yang datang.


"Eh... bukannya itu gemoy... ya??"


Agung menunjuk kearah sepasang suami istri yang baru saja turun dari mobil hitam dengan dua anak kembar.


"Oh... iya, itu Nina sama keluarganya"


Ujarku pelan.


"Samperin yuk..."


Ajak Agung.


Aku mengangguk tersenyum.


"Nin....Nina.....!!"


Panggilku kemudian melambai ketika Nina menolehku.

__ADS_1


"Haiiiiii Aunty Vina....."


Jawabnya sembari melambaikan tangan Baby twins yang berada didekapannya.


"Halo twins....,,"


Sapaku segera mengambil alih salah satu anak kembar Nina kegendonganku.


"Ini siapa nih.... yang Aunty gendong??"


Tanyaku menatap gemas Baby Twins.


"Rania Aunty...."


Jawab Nina.


"Lagi mau jalan-jalan ya Twins??, iya?? aduh..duh...duhh.. cantik banget cihh... gemooyyy kayak Miminya nich...."


Tak henti-hentinya Aku mentoel pipi gembul Baby Twins Rania yang tengah kugendong.


"Udah pantes kok Vin.. mau gak?"


Ledek Agung dengan sedikit menyenggol bahuku.


"Mau apa?!"


Tanyaku mengernyitkan dahi.


"Punya Baby?"


Jawab Agung pelan setengah berbisik.


"Cie... ada yang pingin punya Baby... buruan Kak, ditunggu undangannya"


Sambung Nina.


"Bukan lagi Nin, pengen banget malah, tapi sayang... Ibu Baby nya belum siap..wkwkw"


Agung tertawa sembari melirikku.


Mendengar penuturan Agung, Suami Nina merespon.


"Loh.. kok bisa belum siap??"


Tanya Alif, Suami Nina membuat Nina dan Aku saling pandang.


"Maksudnya Kak Agung, Dia belum punya calon buat Jadi Ibu dari Babynya Pi..."


Nina menjelaskan sementara Alif hanya mengangguk sepertinya tidak paham.


"Vin, terima lamaran Aku ya... trus kita nikah, trus bikin Baby twins"


Bisik Agung ditelingaku membuat


Aku terperangah, mataku membulat kemudian segera kulayangkan cubitan maut di pinggangnya membuat Agung meringis sembari mengusap bekas cubitanku.


Setelah obrolan pendek itu, Kami berjalan masuk Mall bersama-sama.


"Eh... Iya Vin, beberapa hari yang lalu, Aku ketemu Dirga"


Deg!!


Jantungku berdegup, mataku segera menatap Nina untuk meyakinkan.


" Eeh, maksudnya bukan ketemu sih,, lebih tepatnya melihat.."


"Dimana?"


Tanyaku dengan suara bergetar.


"Di.... Baby... shop"


Jawab Nina terbata.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2