Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 88 Cinta yang terlambat


__ADS_3

Dirga menolehku sesaat, kemudian kembali memalingkan wajahnya menatap Danau didepannya.


"Setelah Tamat, Aku fokus bekerja selama Satu tahun di pabrik pupuk menjadi buruh, ditahun berikutnya, Atasanku menyarankan Aku untuk kuliah agar karierku bisa naik, setelah Aku pikir-pikir akhirnya Aku yakinkan diriku bahwa Aku bisa, mencoba mencari universitas yang bisa kuliah sambil kerja, Alhamdulillah Aku bersyukur semua berjalan sesuai harapan, Aku bisa menyelesaikan kuliah dengan uangku sendiri"


Dirga menatapku, senyumnya mengumbar membuat hatiku bergetar,


ya, getaran yang sama seperti saat-saat dulu masih bersama-sama, seperti dulu saat awal-awal mengenalnya.


Rasa rindu itu kembali menyeruak, meronta-ronta ingin dilepaskan dari belenggu yang selama ini mengikatnya dalam hati.


"Masa mudaku terlalu sibuk Vin, Aku tak sempat memikirkan untuk bersenang-senang memanjakan diri, apalagi membuang waktu sia-sia hanya untuk mendekati para perempuan untuk diajak berpacaran, hari demi hari yang kupikirkan hanyalah bagaimana caranya agar keuangan membaik, dan Aku bisa cepat-cepat menyelesaikan kuliahku dengan menyandang gelar sarjana."


Terang Dirga dengan tatapan menerawang seolah mengingat lagi getirnya jalan hidup yang ia lalui.


Aku masih mendengarkan cerita tentang dirinya dengan seksama.


"Kamu tau Vin, ada alasan utama yang membuat Aku bertahan dalam kesendirianku, selain dua hal tersebut,"


Dirga lalu menyentuh tanganku dan menggenggamnya.


"Apa?"


Tanyaku lirih.


"Alasan utamanya adalah Kamu! karena hatiku telah tertinggal di hatimu"


Dirga menunjuk dadanya kemudian beralih menunjuk dadaku.


Glek!


Aku menelan ludah,


Di satu sisi Aku begitu sangat bahagia mendengar kalimat itu, tapi disisi lain.. hatiku hancur ketika mengingat minggu depan pertunanganku akan dilangsungkan.


Kini rasa bingung sedang menggerogoti otakku,


Aku tak bisa membayangkan, bagaimana kecewanya Tante Ruri dan Agung, begitu pula dengan Mama,, jika hal itu sampai hancur berantakan.


"Ya Tuhan... kenapa harus seperti ini, kenapa harus kau pertemukan Aku lagi dengan Dirga disaat-saat terakhir seperti ini? kenapa harus ku dengar pernyataan manis ini disaat Aku sedang menata dan merancang masa depanku bersama Agung?"


Batinku terasa ingin menjerit.


"Vin,, maafkan Aku,, jika kejujuran ini membuatmu bingung..Aku tak bermaksud membuat hatimu bimbang, Aku tak berharap apa-apa lagi semenjak Aku tau kamu sudah bahagia bersama Agung, percayalah Aku tak akan merusak rumah tanggamu, apalagi sampai berniat merebutmu dari suami kamu"


Kata-kata terakhir Dirga membuat mataku terbelalak lebar,


Ya Tuhan, jadi selama ini.. Dirga menganggap Aku sudah menikah dengan Agung?


"Ehm... Dir, kamu salah paham, sampai detik ini Aku dan Agung belum menikah!"


Ucapku lantang,


Dirga yang tertunduk lesu kembali mengangkat kepalanya dan menatapku tak percaya.


"Kamu..... serius??"


Dirga memegang kedua bahuku, kemudian beralih menangkupkan tangannya di kedua rahangku.


Aku mengangguk, meski air mata sudah tak bisa diajak kompromi lagi.


Dengan cepat Dirga menarik tubuhku, mendekapku erat, serta mencium pucuk kepalaku.


"Katakan ini bukan mimpi Vin,, katakan apa yang baru saja kudengar adalah kenyataan,, cepat katakan!!! kamu tau,, Aku bahagia,, luar biasa bahagia,, ini benar-benar hampir membuatku gila,, gila karena terlalu bahagia,,"


Serunya dengan suara bergetar, dan tangan yang gemetar, manik matanya sungguh berbinar.


"Dir, kamu tidak sedang bermimpi, Aku dan Agung memang belum menikah"


Jawabku.

__ADS_1


Dirga tersenyum lebar, air matanya menitik haru, berkali-kali ia menatap wajahku, mengusap pipi dan belakang kepalaku kemudian kembali memelukku.


"Vin, Aku janji... Setelah hari ini... Aku tak kan lagi membuatmu menunggu, Aku tak kan lagi meninggalkanmu tanpa kejelasan seperti dulu, tak kan lagi membuatmu bingung dengan sikapku,, Aku janji... Aku janji Vin"


Bisik Dirga ditelingaku.


"Maafkan Aku Dir... Maafkan Aku... hiks... hiks..."


Isak tangisku membuat Dirga terdiam,


Perlahan dan sangat pelan, kurasakan tangannya melepaskan tubuhku dari pelukannya.


"Ada apa Vin, kenapa? jangan membuatku takut,, kenapa kamu menangis? kamu juga memiliki rasa yang sama seperti Aku kan?? kamu juga mengharapkan pertemuan ini kan?? jawab Vin, kamu mencintaiku??"


Desak Dirga menggenggam tanganku.


"Aku... Aku... memang belum menikah dengan Agung,, tapi... tapii...."


Lidah ku terasa kelu dan kaku untuk menyatakan kenyataan ini.


"Tapi apa Vin??!"


"Tapi, minggu depan adalah hari pertunanganku bersama Agung"


Hatiku sakit, ketika kalimat itu harus meluncur dari bibirku.


Dirga terdiam, tangannya terlepas dari genggamanku, wajahnya yang tadi begitu terlihat merona bahagia kini berganti sendu kelabu, terlihat Dirga menggigit bibir bawahnya, dengan kepala tertunduk.


Hening, kini kami saling diam mencoba menyelami luka dan duka masing-masing.


Tak lama kemudian,


"Maaf... Maafkan Aku Vin,, tak seharusnya Aku seperti ini, harusnya Aku turut bahagia mendengar kabar bahagia ini,,, Selamat ya... Agung pantas mendapatkan kamu, begitupun Kamu, pantas mendapatkan Agung, kalian serasi.. Aku pasti akan datang, jika kamu berkenan mengundangku untuk turut menyaksikan hari istimewa kalian"


Dirga mengucapkan kalimat itu dengan mata yang memerah, serta bibir yang bergetar.


Aku tak kuasa menahan Air mata yang sudah menggenang, kini rasa sakit itu datang lagi, bagai dihujam pedang tajam, nyeri, perih, pedih semua bersatu padu menciptakan luka yang mungkin tak dapat sembuh seumur hidupku.


Semua ini terjadi atas kesalahanku sendiri! seandainya Aku tak terburu-buru mengambil keputusan untuk menerima Agung kala itu, mungkin hari ini akan menjadi sejarah kebahagian yang tak terlupakan untukku dan Dirga.


Mungkin hari ini antara Aku dan Dirga sudah pasti menjadi sepasang Anak manusia yang paling bahagia di dunia.


Mungkin air mata yang tumpah malam ini adalah air mata haru kebahagian bukan air mata penyesalan seperti saat ini.


Tapi gara-gara itu semua, Aku hanya bisa menelan kecewa, dan kini Aku harus melepaskan cinta yang sejak dulu paling kuharapkan,


"Semua ini salahku!! salahku!! salahku!!"


Tak henti-hentinya Aku mengutuk dan menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi saat ini.


"Maafkan Aku Dirga.... maaf.... maafkan kenyataan ini...."


Dengan tangis yang sudah terlanjur pecah, Aku menerbab tubuhnya, membenamkan kepalaku di dadanya, menenggelamkan kesedihanku disana, seolah ingin kukatakan betapa hancurnya hatiku saat ini.


"Kamu tak salah,, Kamu berhak atas hidup dan bahagiamu... dan itu bersama Agung"


Dirga membelai rambutku.


Aku mengangkat kepalaku, menatap wajahnya, dan menggeleng.


"Kenapa baru sekarang Dir...? mengapa gak dari dulu semua kata-kata itu Aku dengar dari mulut kamu?? Kamu tau Dir,, dari dulu... dari dulu Aku menunggu itu!! kenapa baru sekarang kamu datang menemui Aku, kenapa bukan kemarin-kemarin dimana setiap detik dihidup Aku, selalu berharap akan kehadiran kamu?? kenapa???!!!"


Pekikku sembari memukul-mukul dadanya yang sudah basah oleh air mataku.


Dirga kembali memelukku,


"Maafkan Aku Vin,, Aku tau... ini salahku yang terlalu lama membiarkanmu dalam penantian,, maafkan Aku... Sungguh,, sungguh... Aku tak pernah tau jika selama ini kamu masih mengharapkan Aku"


"Kamu jahat Dirgaaa!! kamu jahatt!!!"

__ADS_1


Aku beranjak, dan bersiap meninggalkan Dirga yang masih merasa bersalah.


"Vina tunggu!!!"


Dengan cepat ia mencekal lenganku menahanku untuk pergi.


"Aku mohon, jika ini pertemuan terakhir kita,, Aku mohon jangan ada kemarahan diantara kita"


Aku membalik tubuhku menghadapnya, menyeka Air mataku, lalu mengulurkan tangan.


Dirga menyambut tanganku dan menariknya kembali dalam pelukannya.


"Aku mohon, jangan menangis lagi.. Aku tak pernah tau, sebanyak apa air mata yang telah terbuang ketika kita sama-sama dalam penantian, jadi Aku mohon... jangan biarkan mata ini sembab lagi, tersenyumlah sayang... Aku selalu mendoakan kebahagian kamu"


Dirga mengusap pipi dan bawah mataku, terakhir dia menarik kedua belah pipiku hingga membentuk senyuman.


"Aku antar kamu pulang ke kafe tadi ya...."


ujarnya.


Aku mengangguk.


Setelah diatas motor,


Dirga menarik lenganku dan melingkarkan tanganku di pinggangnya.


Kepalaku kusandarkan pada punggung bidangnya.


kunikmati sisa-sisa kehangatan cintanya yang mungkin tak bisa lagi kurasakan setelah hari ini.


Dirga melajukan motornya sangat pelan, menikmati kebersamaan yang hampir habis, disaksikan angin malam yang membelai dingin sedingin hati kami masing-masing.


Sesekali kurasakan tangannya mengelus lenganku.


Sampai diparkiran kafe yang sudah sangat sepi, hanya tersisa mobilku yang terparkir disana, terlihat pintu kafe yang juga telah tertutup.


Aku turun dari motor, berjalan kehadapan dirga.


"Aku pulang ya..."


Ucapku.


Dirga meraih kedua tanganku dan mengecupnya bergantian.


"Hati-hati..."


Balasnya.


"Kamu juga, jaga diri kamu... tetap semangat dan.... jika berat dihatimu, kamu tak perlu memaksa hadir minggu nanti"


Air mata kembali menetes di pipiku.


"Ssttt,, udah... jangan menangis lagi,, senyum... Aku kuat kok, dan kamu juga harus kuat, Aku pasti datang!"


Dirga menempelkan jari telunjuknya di bibirku, kemudian mengusap air mataku dengan siku telunjuknya.


Aku menarik nafas panjang menahan sesak yang mendera hatiku.


Kemudian berbalik meninggalkan Dirga, berlari menuju pintu mobil.


Aku tak kuat lgi menahan isak, sesak dan air mata yang semakin deras mengalir.


Tak kusangka Dirga mengejarku kembali sampai di depan pintu mobil.


"Vin...."


Dirga memelukku dari belakang,


"Sebelum kamu benar-benar menjadi tunangan Agung, izinkan Aku memberikan cintaku sepenuhnya untukmu sampai minggu nanti, Aku ingin menghabiskan waktu yang sedikit itu dengan cinta dan kebersamaan, meski hanya satu minggu saja,, izinkan Aku menebus seluruh waktu yang pernah terbuang sia-sia, kamu maukan??"

__ADS_1


Aku tak menjawab, perlahan kulepaskan pelukan Dirga dan segera masuk kedalam mobil kemudian berlalu melaju meninggalkannya yang masih terpaku.


Bersambung***


__ADS_2