
Tak berapa lama setelah Vina meninggalkanku yang makin patah, Aku berjalan gontai menuju kelas,
Ah sudahlah, hancur sudah semuanya semangatku hilang andai saja bisa menghilang, maka itu akan Aku lakukan. rasanya malu bertemu Vina lagi.
Saat masuk kedalam kelas, mataku beradu pandang dengan Vina, sudah kuduga Dia pasti marah.
Gelagatnya terbaca dari cara Dia menghindari tatapanku barusan.
Berusaha sok sibuk, seolah-olah tak melihatku.
Ini tak boleh terjadi, Aku berjalan mendekati mejanya,
Tepat didepannya Aku mengulurkan tangan disaksikan Tari, Elza dan Nina.
"Vin, soal yang tadi... Aku minta maaf"
Ujarku lantang.
Vina mengangguk, namun tak mau menyambut uluran tanganku, bahkan menatap mataku pun enggan.
"Nyeri sekali hati hamba Tuhan.."
Batinku,
Dengan menahan malu kutarik kembali tanganku dan berjalan meninggalkan mejanya.
Terdengar olehku percakapan mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi antara Aku dan Vina.
Aku malu, sangat malu dan kini Aku berharap Vina tidak menceritakan yang terjadi pada mereka terutama Elza yang sudah pasti akan meledekku habis-habisan.
Sepanjang jam pelajaran hingga pulang, Aku tak lagi bersemangat, hanya memilih diam dan memperhatikan Vina.
Saat jam pulang tiba, Aku memilih lebih dulu keluar tanpa basa basi pada mereka, bahkan terhadap komitmenku untuk antar jemput Elza pun tak kupedulikan lagi.
Begitu tiba di parkiran dan mengeluarkan motor, Aku melihat Agung ditempat kemarin saat ia menunggu Vina.
__ADS_1
Hatiku tergerak untuk mengamati kedekatan antara Vina dan Agung.
Aku mengurungkan niat untuk langsung pulang, melainkan memandang dari jauh yang Aku yakin, Vina dan yang lain tak kan menyadari itu.
10 menit menunggu,
Terlihat Vina, Nina, Elza dan Tari keluar dari kelas. Wajah ceria begitu jelas dari keempatnya, terlebih ketika mereka mendatangi Agung, Nina nampaknya sudah dekat sekali pada Agung, ya mungkin karena memang mereka kenal sejak Smp.
Tak lama, satu persatu dari mereka meninggalkan Vina dan Agung, termasuk Elza.
Melihat Elza melangkah dengan wajah kesal, ada perasaan bersalah menyergap hatiku.
"Maafkan Aku za, gara-gara hati yang patah ini kamu jadi korban"
Batinku.
Aku terus memperhatikan Vina dan Agung, meski ku tahu, akan ada hati yang nyeri sebentar lagi.
Dan benar saja, adegan manis itu kembali...
Saat Agung memakaikan helm di kepala Vina, kepalaku berdenyut tiba-tiba, ditambah lagi beberapa kali Agung menyentuh wajah Vina, entah apa yang ia lakukan, Aku tak melihat dengan jelas.
"Oh Tuhan... kuatkan hatiku,,"
jeritku dalam hati.
Ingin rasanya menangis, tapi malu.
Tanpa kusadari, ditengah-tengah Aku meratapi Nasib ku yang sangat menyedihkan ini, mata Vina menyorotku, Aku terjebak dalam situasi bingung dan salah tingkah, buru-buru berbalik dan menjauh adalah langkah yang dengan cepat kuambil tanpa pikir panjang.
"Semoga Vina tidak mengejarku untuk bertanya"
batinku.
Jika itu terjadi, tamat lah sudah ceritaku.
__ADS_1
Tuhan begitu baik, doaku terkabul.. Vina berlalu bersama Agung.
Huuffthh...
Aku bisa sedikit bernafas lega!
Apa??
Lega??
Yang benar saja... boro-boro lega, yang ada malah makin nyesek.
Ku pacu sepeda motorku dengan pelan, santai menikmati tiupan angin berharap bisa mendinginkan hatiku yang tengah terbakar.
Ya, terbakar cemburu.
Ini baru Agung, bagaimana dengan Dirga.
Tiba-tiba saja Aku teringat Elza,
Bagaimana keadaan si bawel lemot itu, apakah Dia sudah sampai dengan selamat sampai rumah?
Tanyaku dalam hati.
Tapi, ah... sudahlah... biarkan saja, Aku juga berniat besok tidak menjemputnya, biar saja biar Vina semakin penasaran.
Siapa tau, Dia mendekatiku dan bertanya tenang sikapku..sekali-sekali drama gak ada salahnya.
Pulang kerumah dengan hati yang remuk itu ternyata benar-benar tak enak, semua serba salah bahkan makanpun Aku tak berselera.
rasanya ingin segera masuk kamar dan mengunci diri.
Tapi, belum sempat pintu kamar kututup, teriakan Ibu menyuruhku segera makan membuatku buru-buru keluar jika tidak ingin adanya ocehan panjang kali lebar dari perempuan kesayanganku ini.
Bersambung***
__ADS_1