Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 173 Pergi undangan Agung Tari


__ADS_3

Besok adalah hari bahagia untuk Agung dan Tari, awal bulan yang akan menjadi sejarah bersatunya dua hati dalam sebuah pernikahan, akan tetapi rasa penasaranku terhdap kisah mereka tetap saja melekat tak bisa luntur dari pikiranku.


Aku belum bertemu lagi dengan Agung sejak dikabarkan bahwa Dia sudah pulang ke Palembang setelah enam bulan kisah kami berakhir dan kini ia kembali dengan calon istrinya yang tak lain adalah Tari sahabatku. Bahkan dengan Tari pun Aku belum sempat bertatap muka lagi, bahkan sejak kami lulus sekolah sampai dengan malam ini.


Diam-diam rindu ini mengusik batinku, ingin sekali rasanya memeluk Tari, dan mendengar kabar pernikahan itu dari mulutnya sendiri.


Ingin sekali rasanya Aku menelponnya, Aku ingin Dia tau, bahwa Aku bahagia atas pernikahannya dengan Agung, tapi apalah daya,, Aku hanya bisa menunggu,, sebab jangankan tempat tinggalnya sekarang,, nomor kontaknya saja Aku tak memilikinya.


Ahh... Apa Tari tak pernah merindukan Aku? atau Dia malu sudah pernah berlaku curang terhadapku?


Tari... sungguh,, Aku sudah melupakan semua itu,, Aku rindu saat-saat kita dulu.


Aku memiringkan tubuhku, memeluk bantal guling, tak terasa Air mataku mengalir, hingga membasahi bantal, kubiarkan saja tanpa mengusapnya.


Drrrtttt.... Drttttttt... Drrrtttt...


Getaran panjang dari ponselku membuatku beranjak dari tempat tidur mencari keberadaan ponsel yang ternyata berada diatas meja riasku.


Sedikit kaget begitu kulihat nama Elza sedang memanggilku, namun senyumku segera terkembang.


"Halo zaaaa..."


"Halo Vin, udah tidur?


"Belum,, kenapa Za...?"


"Ehm,, sebenarnya Aku mau nelpon kamu dari seminggu yang lalu, tapi gara-gara gak enak badan jadinya baru sempat sekarang"


Terang Elza.


"Kamu sakit Za? kok gak ngabarin? sekarang gimana kondisi kamu?"


"Alhamdulillah udah baik,, iya biasalah demam"


"Oh ya, ada kabar apa kok kayaknya penting?"


"Ehm... Aku mau tanya,, apa kamu juga dapat undangan dari Tari? Aku gak salah lihatkan Vin,, calon suaminya Kak Agung?"


Aku menarik nafas sebelum menjawab pertanyaan Elza.


"Enggak Za,, kamu gak salah lihat, Agung Pranata yang tertulis diundangan memang benar-benar Kak Agung yang kamu kenal"


Jawabku.


"Astaga!! kok bisa sih Vin,, haduhh.. si Tari kebangetan!! ternyata Dia penyebab kamu gak jadi nikah sama Kak Agung?! Dia yang jadi penyebab putusnya pertunangan kamu sama Kak Agung?!"


"Ehm... Za... Za,, ceritanya gak gitu,, dengerin Aku ya... Tari gak salah kok, batalnya pernikahan Aku sama Agung sama sekali gak ada kaitannya dengan Tari,, mereka bertemu setelah Aku dan Agung sudah tidak terikat hubungan apapun,, Aku dan Agung putus karena memang kesepakatan kita berdua,, dan itu jauh sebelum Agung bertemu dengn Tari"


Aku kembali menarik nafas.


"Jadi... maksud kamu,, kamu sudah tau ceritanya? kenapa gak pernah cerita sama Aku,,? atau...."


"Enggak za.... Aku juga gak tau bagaimana bisa mereka ketemu,, tiba-tiba saja Agung pulang dan acara lamaran mereka di gelar,, itu juga hanya keluarga mereka,, Aku tau karena orang tuaku diundang,, dan pada saat itulah Aku tau kalo Tari adalah calon istrinya Agung"


"Ohh,, gitu.. oh ya... ngomong-ngomong, besok kamu datangkan? ehm... sama Dirga ya?"


"Iya,, Aku datang,, Aku rindu Tari.. kamu benar, Aku akan datang bersama Dirga"

__ADS_1


Jawabku kembali mengenang persahabatanku dengan Tari dulu.


"Kapan nich,, kalian nyusul.... masak iya,, kalah sama kami... Tinggal kamu sendiri loh.. yang belum menikah,,"


ucapan Elza cukup membuat Aku tersentil.


"He... he... he...,, sabar tunggu aja undangannya ya... dan kalian harus datang gak ada alasan apapun untuk gak datang!!"


"Siapp... ya udah ya Vin, sampai ketemu besok,, oh ya.. gimana kalau kita pakai baju kompakan ya... pake gaun pink ya.. kabarin Nina juga, nanti Aku kabarin Diki,, mau gak mau mesti pake baju pink.. ha.. ha.


ha..."


"Ihh,, ya kaliiii Diki mau pake baju pink,,"


"Harus mau...!!! Ha.. ha.. ha..."


"Iya,, atur aja sama kamu... ya udah ya... Bye... Aku mau telepon Nina"


Telepon terputus.


Tanpa membuang waktu, Aku segera menelpon Nina.


"Halo Vina cantik....."


Sapa Nina setelah panggilanku terangkat dengan cepat.


"Iya Nin,, Aku gak ganggu nich nelpon malam-malam gini?"


Ujarku sedikit tak enak hati.


"Iya, Aku datang.. Oh ya,, besok si Elza nyuruh kita-kita pakai baju samaan,, katanya Pink"


"Astaga.... Pink ya? haduh,, mana adanya baju lama lagi,, kalian kok ngabarinnya dadakan gini sih?! kenapa coba gak dari jauh-jauh hari kan Aku bisa beli"


gerutu Nina.


"Kamu gimana sih Nin, gimana mau ngabarin jauh-jauh hari, lah wong undangannya aja baru dapet seminggu yang lalu,, dan ide baju pink ini juga baru di ucapkan Elza pas nelpon Aku tadi"


"Oh... iya juga ya... eh, tapi Aku jadi heran juga kenapa ya,, mereka terkesan mendadak gini..?"


"Sstt,, udah ah... biarkan ini jadi cerita mereka,, dan siapa tau besok kita bisa dengar ceritanya dari mereka"


"Ya udah,, Aku mau cari baju pink dulu,, kayaknya sih ada dress pink jaman sekolah dulu,, tapiii.... Apa masih muat ya??"


"Ya udah selamat mengobrak abrik lemari ya sayangku"


Ledekku sebelum akhirnya menutup panggilan telepon.


"Oh iya,, apa kuajak Dirga couple aja besok, kira-kira Dirga mau gak ya??"


Ujarku pelan.


Lalu dengan cepat kuketik pesan.


"Dir,, besok kita pakai baju samaan yuk,, warna pink,, mau gak? kamu adakan??"


Tak lama sebuah pesan masuk.

__ADS_1


"Sebenarnya Aku bukan pinky boy, tapi demi kamu Aku usahain ya... gak semuanya pink gak apa-apakan?"


"Oke,, makasih sayang...."


balasku mengakhiri pesan.


......................


Pagi datang, Aku sedang bersiap di depan cermin mengenakan gaun pink, sesuai request Elza semalam.


Mama dan Papaku sudah pergi lebih dulu katanya mau bantu-bantu dirumah calon besan yang gak jadi.


Hem... kalu ingat itu terkadang Aku masih merasa tak enak hati.


Tin... tin....!!!


Suara klakson mobil, membuat Aku bergegas menyambar tas mungil berwarna pastel dan segera mengenakan sepatu lancip dengan hak 7cm berwarna senada dengan tas yang kukenakan.


Sampai didepan pintu, Dirga menyambutku dengan senyum teduhnya, mataku terperangah melihat penampilannya dengan kemeja putih dipadukan dengan setelan jas dan celana berwarna pink muda.


"Bagaimana? suka gak?"


Tanya Dirga menunjukkan penampilannya dengan berputar sekali dihadapanku.


Aku tersenyum lalu mengangguk.


"Kelihatan romantis"


Ucapku sembari memainkan alis mata menggodanya.


"Masak sih Aku romantis?"


"Kan Aku bilang kelihatan romantis,, bukan kamunya yang romantis"


"Hemm... Kamu cantik banget hari ini, tapi gak jadi ah,, ngomong kayak gitu!"


Wajahku yang semula tersenyum seketika berubah kecut.


"Jangan cemberut donk,, maksud Aku bukan cuma hari ini aja kamu cantik, tapi bagi Aku setiap hari kamu selalu cantik dimata Aku"


Senyumku kembali tersungging.


Setelah mengunci rumah, Aku dan Dirga segera meluncur menuju kediaman rumah Agung.


"Sayang setelah sampai disana,, kamu jangan terbawa suasana ya.. takutnya kamu clbk lagi sama Agung!!"


Dirga mengelus pipiku.


"Kamu apan sih... ya gak mungkinlah,, masak iya Aku clbk sama pengantinnya!! ada-ada aja!!"


"Lalu.. maunya clbk sama siapa?!"


"Ya sama kamu lah,,"


Aku menoleh Dirga yang tersenyum lebar mendengar ucapanku.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2