Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 59 Bertemu kembali dalam putih Abu-abu


__ADS_3

Waktu terus berjalan maju, tahun kian berganti tahun memaksaku untuk terus terbiasa dengan keadaan dan berdamai dengan rindu.


Aku tak tau harus seperti apa kisahku kedepannya, Aku pun tak berani menebak sekali lagi kukatakan bahwa Aku pengecut dan payah.


Menahan rindu pada seseorang yang tak pernah tau itu berat, ditambah lagi bayang-bayang rasa cemburu dengan seseorang yang tak pernah kutahu rupanya, kadang-kadang perasaan ini tak masuk akal tapi ya... itulah kenyataannya.


Terkadang tergerak hati untuk mendatanginya, namun rasa malu lagi-lagi menghakimi, bahkan untuk menelponnya saja Aku tak punya nyali.


Diki pernah bilang padaku, bahwa Aku terlalu cemen, Aku tak marah apalagi benci sebab itu memang kenyataannya. Diki benar, Aku tak berani, Aku pengecut, dan Aku payah.


Bulan-bulan terakhirku di SMP, ada bimbang yang sangat besar dalam hati, tentang sebuah pilihan sekolah lanjutan.


Aku, Diki, Tari dan Elza sempat mendengar jika Vina akan melanjutkan ke SMA Putra bangsa.


Aku sempat berpikir akan melanjutkan kesana juga agar Aku bisa kembali bertemu gadis itu, tapi itu semua belum Aku utarakan pada kedua orang tuaku.


"Guys... lulus dari sini mau lanjut ke SMA mana kalian??"


Tanyaku memancing yang lain.


"Aku mau ke merdeka raya"


Jawab Tari yang memang letak rumahnya lebih dekat ke SMA Merdeka raya.


Sementara Elza terlihat berpikir dan Diki cuma diam.


"Kita ke Putra Bangsa aja yuk,"


Tawarku.


"Ogah!! Jauhhhhh...!!!"


Tolak Tari.


"Iya jauh,, ntar kalau Aku diculik gimana??"


Elza mencebikkan mulutnya.


"Dik, lu gimana??"


Tanyaku menunggu dukungan dari Diki yang dari tadi hanya diam.


"Aku sudah bulat mau mondok!"


Mendengar penuturan Diki, Aku sedikit kaget, kini Aku Elza dan Tari saling pandang merasa tak percaya.


"Seriussss??!"


ujarku, Elza dan Tari kompak.


Diki hanya mengangguk mantap.


Harapanku tinggal pada Tari dan Elza.


"Hey...Kalian berdua! Kita lanjut di SMA putra bangsa aja ya... kan biar kita bisa sama-sama Vina lagi, emangnya kalian gak rindu Dia??"


Bujukku mulai mempengaruhi.


Ada sorak gembira didalam hatiku, ketika melirik Elza yang tiba-tiba terdiam nampak sedih, begitupun dengan Tari yang tertunduk.


Sepertinya ideku menghasut mereka berhasil.


"Lagiankan Tar, kamu juga bawa motor"


Lanjutku meyakinkan Tari.


"Trus, Aku gimana???"


Rengek Elza.


"Kalau kamu mau ikut Aku masuk Putra Bangsa, Aku rela 3 tahun antar jemput kamu!!!"


Elza terperangah mendengar tawaranku.


"Yang benerrrrrrr???"


Serunya girang.

__ADS_1


Aku mengacungkan jempol.


Dan Taraaaaa...... Aku berhasil!!!


Mereka termakan bujuk rayuku untuk kembali satu sekolah dengan Vina.


"Neng Vina, Abang datang!!!!"


Teriakku dalam hati.


Gayung bersambut, keinginanku untuk satu sekolah kembali dengan Vina sudah didepan mata, orang tuaku menyetujui, dan 2 teman perempuanku positif ikut saranku.


Hatiku gembira bukan main, rasa tak sabar hati menunggu hari itu tiba.


...****************...


Pagi itu datang, dengan semangat berlipat-lipat ganda, Aku memanaskan sepeda motorku, senyumku tak henti terkembang, bahkan rasanya sudah tak sabar ingin cepat-cepat sampai di sekolah baru itu.


Dengan seragam putih abu-abu yang masih terang benderang seterang hatiku,


Aku masuk dan bergegas menghabiskan sepiring mi goreng buatan Ibuku agar Aku bisa cepat-cepat pergi kesekolah baru bertemu dengan gadis pujaanku.


Selesai sarapan, Aku memacu sepeda motor menuju SMA Putra bangsa namun sebelumnya sesuai janjiku bahwa Aku harus menjemput Elza, bukan sehari dua hari melainkan 3 tahun,


Uhhh... sungguh pekerjaan tambahan yang sebetulnya menyita waktu, dan sedikit membosankan! tapi bagaimana lagi, itu sudah menjadi janji yang harus kutepati, Aku tak ingin gelar cemen, pengecut dan payah yang ada padaku akan bertambah lagi dengan gelar ingkar janji.


Bisa-bisa reputasiku sebagai pria sejati semakin menyusut.


Gerbang sekolah sudah nampak didepan mataku, menjulang gagah seolah tersenyum menyambut kami para Siswa baru.


Mataku berkeliling mengamati setiap siswi baru yang tengah bergerombol disekitar gerbang.


Tak sabar rasanya bertemu Vina, dimana Dia?seperti apa Dia sekarang?


Aku yakin, melihat kami ber 3 akan menjadi momen surprise buatnya, itu karena Vina tak mengetahui bahwa kami akan masuk di SMA yang Dia pilih.


Elza menarik lenganku, begitupun Tari.


"Itu Vinaaaa..... !!!"


Mataku mengikuti arah telunjuk Elza,


"Ya Tuhan..... sungguh ini seperti mimpi, bisa kembali melihat Vina setiap hari seperti dulu,"


Batinku.


Vina yang mendengar seruan Elza sontak menoleh, matanya membulat dan mulutnya menganga tak percaya.


"Kalian??"


ucapnya melangkah mendekat.


"Sur...priseeeeee!!!!!!"


Teriak Elza merentangkan tangan.


Vina menutup mulutnya dengan tangan, matanya berbinar,


"Ini bukan mimpikan... Aku lagi enggak mimpikan Tar??"


Masih seakan tak percaya, Vina memeluk Tari dan Elza bergantian, lalu kemudian Vina mendekatiku, menatapku lama, tatapan yang memabukkan buatku.


Ahh, tatapan itu.. benar-benar membuat jantungku berdebar seperti mau pingsan.


Andai kulitku berwarna putih, mungkin saat ini wajahku sudah nampak rona merah jambu, untungnya kulitku gelap, itu membuat Vina tak melihat betapa Aku malu dan gugup ditatap olehnya.


Ingin rasanya kupeluk tubuhnya seperti yang Elza dan Tari lakukan, tapi bagaimana bisa melihat matanya saja jantungku sudah seperti ingin lepas.


"Daniel, gak nyangka deh... bisa sama-sama kalian lagi disini"


Vina menyambar lenganku dan mencengkramnya dengan keras membuatku tersadar dari biusan pesona Vina yang kini terlihat semakin manis.


"Cerita donk, kok bisa kalian kesini juga... apalagi kamu Tar, kan jauh banget"


Vina menoleh Tari.


"Iya, suka aja motoran pagi buta menikmati sisa embun dingin.., biar perjalanannya terasa, kalau sekolahnya deket tinggal seeettttt sampe kan gak seru!!"

__ADS_1


Jawaban Tari yang sebenarnya sudah di persiapkan dari jauh hari.


"Lalu.... Kamu Za??"


Vina merangkul Elza.


"Kalo Aku,, karenaaaaaa... ehm... karena apa ya?? gak tau deh lupa hehehe"


Elza cengar cengir.


Aku menepuk jidat, melihat kelakuan Elza.


Vina mengalihkan pandangannya padaku,


"Karena Kamu Vin"


Ujarku sebelum sempat Vina membuka suaranya.


"Ehm.... hem....hem....."


Elza dan Tari berdehem.


"Ehm... Maksud Aku, kita disini semua karena kamu... karena kita rindu kamu, karena kita pingin sama-sama seperti dulu"


Aku buru-buru merevisi ucapanku sebelum dua mahluk yang kadang suka brutal itu membongkar rahasia besarku.


"Makasih ya,, Aku senang banget, oh ya... bentar ya.. Aku mau kenalin kalian sama seseorang, tunggu disini!"


Vina berlalu.


Deg!!


Jantungku merespon kalimat Vina barusan,


perasaanku jadi tak karuan, hatiku panas tiba-tiba, melihat Vina berlari seperti tengah mencari- cari seseorang.


Mungkinkah Dia akan mengenalkan Dirga si ketua kelas yang pernah ia ceritakan pada waktu SMP dulu,


Nafasku tak beraturan, rasa kesal tiba-tiba saja hadir membuat atmosfer disekitarku berubah panas.


"Niel, kamu kenapa? kok gelisah gitu?"


Tari menyenggol bahuku.


Aku menggeleng dan buru-buru bersikap biasa.


Dan Ah....Akhirnya Vina kembali, Dia datang berdua, tapi tunggu...!!


Itu bukan laki-laki dan tentunya pasti bukan Dirga! Dia datang dengan menggandeng Beruang kutub, bukan laki-laki seperti yang kupikirkan.


"Huffthh"


Aku bernafas lega,


"Heyyy... kenalin, ini teman yang pernah Aku ceritain dulu Nina"


Vina begitu antusias mengenalkan si Beruang kutub cantik ini pada kami.


Ya, walaupun Dia bulat, chubby, mata segaris, tapi Aku akui Nina cantik.


Mungkin ini yang dinamakan BIG IS BEAUTIFUL.


"Hai... semua, salam kenal dari Aku, Nina manis hehehe"


Sapa ramah Nina pada kami.


"Hai juga Nina...Aku Daniel, ini Elza kalu yang ini Tari"


Aku mewakili Tari dan Elza untuk berkenalan.


"Hai... Nina......."


sambung Tari dan Elza kompak.


Awal yang bagus, setelah ini harapanku cuma satu, semoga Aku dan Vina bisa satu kelas, yang lain terserah deh...


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2