
Pagi datang, secepat kilat Aku beranjak dari tempat tidur bergegas mandi dan bersiap untuk menjemput Vina dan mengantarnya kesekolah,
Motor melaju mengarah kerumah Vina, sampai disana,
"Assalamualaikum....."
salamku begitu sampai didepan pintu rumah Vina yang masih tertutup rapat.
"Walaikum salam"
Jawaban dari dalam rumah, tak lama Tante Yuni menyembul dan membukakan pintu untukku, menyuruhku masuk, namun Aku lebih memilih duduk diluar menunggu Vina,
Tak lama, Vina keluar dengan memamerkan senyum manisnya, membuatku terkesima.
"Benarkan... si Kakak Mahasiswa.."
Ujarnya mendekat kearah kami.
"Dasar Anak Sma!!"
Balasku,, membuat Tante Yuni tersenyum.
"Ya udah yuk berangkat"
Ajak Vina yang sudah terlihat rapi, kemudian menarikku.
"Loh..loh gak sarapan dulu Agungnya Vin?!"
Pekik Tante Yuni.
"Tenang aja Ma.. Dia udah sarapan dijalan..hahhha"
Balas Vina sedikit berteriak, membuat Tante Yuni menggelengkan kepala
"Apaan sih, Aku sebenernya laper loh, sengaja pagi-pagi kesini mau minta sarapan!!"
ujarku dengan muka menyedihkan.
"Oh... Kamu serius?? ya udah,, yuk masuk dulu.. maaf ya..."
Wajah ceria Vina berubah sedih, dan menarikku untuk kembali masuk kedalam rumah.
"Bercanda ding..... wkwkwkkw"
mendengar itu, Vina cemberut dan melengos kesal, Aku memandangnya tertawa.
Motor melaju meninggalkan rumah Vina, sepanjang perjalanan, hatiku berbunga-bunga indah sekali pagi ini Tuhan.... Bisik ku.
Beberapa kali Aku memandang wajah Vina melalui kaca spion yang sengaja ku setel mengarah ke wajahnya.
Dari spion Aku melihat Vina tersenyum diam-diam.
Astaga!!!
Ini bukan mimpikan? Aku sedang menangkap basah Vina tengah senyum-senyum sendiri, apakah mungkin Vina merasakan Apa yang tengah Aku rasakan,,? sebahagia inikah Vina berjumpa kembali denganku?
Ya Tuhan,, jika dugaanku ini benar,, Aku tak tau lagi betapa girang dan luar biasa bahagianya Aku.
Tiba-tiba terlintas ideku, untuk berbuat iseng terhadap Vina
Pletak!!!!
sengaja ku benturkan helm ku ke helm Vina, hal itu membuat Vina kaget bukan main.
"Astagaaa....!!! Apaan sih Gung, kaget tau!!"
Melihat ekspresi kagetnya, gelak tawaku pecah, hal ini semakin membuat Vina jengkel, beberapa kali tepakan telapak tangannya mendarat di punggungku.
"Lagian ngapain senyam-senyum sendiri gitu?! Hah?? suka ya ketemu Aku lagi?? Bahagia ya Aku jemput?? Ngomong aja jangan malu-malu..huahahhha"
Tanpa malu-malu dan penuh percaya diri Aku utarakan semua pertanyaan yang ada di dalam kepalaku.
Sesaat terdiam, lalu..
"Ihh... udah deh,, jangan ge er ya... gak usah kepedean!! Aku tu lagi mikirin sesuatu tapi bukan kamu! dan gak ada kaitannya sama Kamu!!"
Jawab Vina kesal.
Sungguh jawaban yang tidak pernah kuharapkan, hatiku terasa berdenyut, namun sebisanya kutahan dan coba kusembunyikan, Aku tak ingin merusak kebersamaanku dengan Vina, hanya karena rasa kecewa.
"Kamu yakin???"
ujarku coba menggoda Vina untuk mencairkan suasana.
Namun Vina diam tak menjawab.
Motor tiba didepan sekolah,
"Mas bro.. Aku masuk ya... Bye....."
Vina dengan cepat turun dari Motor dan bergegas meninggalkanku, namun secepat itu pula tanganku mencegahnya berlalu dari hadapanku
"Eiitttss... tunggu dulu, nanti siang jadikan?"
Tanyaku.
"Iya... oke... oke udah ya... Aku buru-buru... dahh...."
Jawab Vina, lalu berlari meninggalkanku.
Sebenarnya, apa yang tengah dipikirkan Vina tadi, jika bukan karena Aku, lantas apa yang membuat rona bahagia yang tergambar jelas di wajahnya tadi..?
Hal menyenangkan apa yang membuat Vina sampai senyum-senyum sendiri,, ? lalu.. kenapa Vina terburu-buru masuk kelas meninggalkanku,,?
Ah,, memang tak seharusnya Aku terlalu percaya diri,, harusnya Aku sadar diri bahwa Aku dihatinya Vina mungkin tak lebih dari sebutir pasir, mana mungkin bisa menggeser Dirga yang posisinya nyaris menenuhi seluruh ruang hati Vina.
"Dirga,, ya... Dirga,, apa mungkin senyum itu ada kaitannya dengan Dirga? dan surat yang di bicarakan Vina kemarin?"
batinku.
Cukup lama mematung di depan gerbang sekolah,
__ADS_1
Aku menarik nafas dalam-dalam, kemudian membuangnya kasar, lalu menyalakan motor dan berlalu meninggalkan gerbang sekolah.
Baru saja motor melaju, di jalan tak jauh dari sekolah Aku berpapasan dengan seorang yang sepertinya Aku kenal, dan benar itu Tari, gadis mandiri yang dikenalkan Vina kemarin,, Sempat Motorku berhenti sesaat untuk menolehnya, entah mengapa.. hatiku terasa lain,, Aku sendiri tak paham perasaan apa ini,,sedang Aku saja baru mengenalnya, dan itupun tak ada obrolan panjang didalamnya.
......................
Sejak pulang dari sekolah Vina tadi, Aku hanya rebahan diatas tempat tidur menunggu siang untuk kembali menjemputnya untuk mengajaknya nongkrong sesuai janji yang telah kami sepakati.
Bahkan Aku sampai memasang alarm, jaga-jaga kalau saja Aku tertidur.
Dan benar saja,
Suara alarm baru saja membangunkanku dari keadaan terlelap.
Segera bangkit dari tempat tidur, mencuci muka, merapikan rambut dan kembali menyemprotkan parfum ke seluruh bagian tubuh,
Aku kembali memacu sepeda motor sewaanku menuju sekolah Vina.
Dan Kedatanganku tepat waktu...
Sampai di depan gerbang sekolah, terlihat Vina berjalan bergerombol.
"Hai.. "
Sapaku, melambaikan tangan pada mereka.
"Hai kak Agung.... ya ampun makin kece.... masih ingat Aku gak?"
sapa salah seorang teman Vina yang mengulurkan tangan padaku, dan tanpa harus bersusah payah mengingatnya, Aku tau itu Nina, gadis bongsor yang selalu bersama Vina waktu SMP.
"Masih donk... sigemoy Nina kan??"
Aku menyambut tangan Nina dan tersenyum hangat.
"Ohh... so swiiittt, makasih ya masih inget Aku,, pake dipuji gemoy pulak... hati Aku jadi meleyottt Kak."
Ujarnya.
Mataku beralih menatap Tari, dan rasa itu muncul lagi.
"Hai Tari... dan ehmm... ini...."
Aku menunjuk Elza, gadis cantik yang belum ku ketahui namanya.
"Oh... Aku Elza Kak,, siswi tercantik dan termodis tahun ini versi mata para siswa siswi satu sekolahan"
Aku tersenyum mendengarnya, sekaligus salut dengan sikap percaya dirinya, tapi memang dia cantik sih,, hehehe.
"Sipp... kerennn..kerenn... "
Pujiku terhadap Elza.
"Ehm... guys, Aku duluan ya... bye Gung..."
Tari meninggalkan Kami.
Lagi-lagi gadis mandiri ini tak banyak bicara dan buru-buru pergi.
Susul Nina tak lama setelah kepergian Tari.
Baru beberapa langkah Nina berjalan, ia kembali lagi.
"Oh.. Iya, za... kamu masih hutang sama Aku ya..."
Ujarnya menunjuk muka Elza.
"Hah.. Hutang?! Hutang apaan ihh"
"Ya hutang buat ceritain gimana kalian dulu dan tentang si Daniel tadi!! Aku gak mau tau besok datang lebih pagi, Oke!!!"
"Owhh.. itu, Oke... beres... kamu juga ya.. ceritain gimana Si Dirga!? sampe membuat Kamu hampir menjadi pagar makan tanaman!! Hahhah"
Gelak tawa Elza pecah.
Tak kusangka, Dirga begitu populer, hingga teman-teman Nina di SMA aja sampai segitu penasarannya terhadap sosoknya.
"Elza gak mau tau nih tentang Aku?"
Untuk mengusir rasa tak enak hati, sengaja kugoda Elza.
" Ehm... emangnya boleh?"
Tanya Elza ragu.
"Boleh dong... Hahaha!"
"Kakak udah punya pacar?"
Tanya Elsa cekikikan lalu menutup mukanya malu-malu.
"Ahhh... pertanyaannya...... langsung skak mat"
"Jawab dong "
"Oke... Dijawab, Aku belum punya pacar meski dari dulu punya gebetan"
"Hah.... serius?? kok bisa? kenapa?"
Gak berani nembak ya??"
"Ohhh.. tentu saja bukan itu za... sebab gebetan Aku udah terpikat dengan satu nama yang tak bisa Aku geser!"
Jawabku sembari melirik Vina, yang buru-buru membuang muka.
"Waduhhh, kasian... padahal cakep ya... tapi.. mungkin satu nama yang dimaksud itu lebih cakep kali ya..."
Aku tertawa mendengar jawaban polos Elza, begitupun Vina
Sementara Elza menatap kami bingung.
"Udah ah.. ceritanya nanti lagi, trus kamu gimana pulangnya, naik apa za?"
__ADS_1
Tanya Vina pada Elza.
"Nah... itu dia Vin, ahh lagian Daniel bisa-bisanya ninggalin cewek kece kayak Aku. Ngambeknya sama siapa, Aku yang jadi korban, ngebete in banget ihh, awas aja besok!!"
Elza menggerutu.
"Apa mau Aku pesanin ojek?"
Tanya Vina,
"Ah gak usah Vin, Aku naik Bis aja, paling kalau Aku sampe digoda-godain sama abang kernetnya, Daniel orang yang paling bersalah!"
Gerutu Elza lagi, kali ini disertai cemberut.
"Loh... kok gitu za??"
Tanyaku yang berpikir jika Daniel adalah kekasihnya.
"Abisnya siapa suruh ninggalin Aku!! ya udah, Aku pulang ya...Bye... sampe ketemu lagi Kakak Kece..."
Elza berlari meninggalkan kami ketika sebuah Bis terlihat muncul berjalan pelan dan Akhirnya berhenti di depan gerbang.
"Yuk Vin..."
Aku lalu menyerahkan helm padanya,
"Sini Aku bantu"
Aku membantu Vina memakaikan helm dikepalanya, lalu kurapikan poninya yang berantakan.
Hampir setengah Jam, Kami tiba di sebuah Kafe, lalu memilih tempat duduk di pojokan.
"Vin.. teman-teman kamu Asyik ya..."
Aku mulai membuka obrolan setelah duduk dan memesan makanan.
"Ah... apa Dir?"
Jawaban spontan dari Vina seperti menusuk hatiku, Vina sedang bersamaku, namun pikirannya tengah bersama Dirgantara,, segitu tak bernilaikah Aku dimata Vina..
Batinku.
"Apaan? Dir? Dirga maksudnya? Kamu lagi mikirin Dirga ya?"
Meski hati ini sakit, Aku berusaha untuk bersikap biasa saja didepan Vina, bahkan memaksa untuk tetap tersenyum.
"Ah.. sorry.. sorry Gung.. Hehe.. Aku gak fokus, tadi kamu ngomong apa,?
Tanya Vina kikuk.
"Santai... gak papa, jangan tegang, tadi Aku bilang teman-teman kamu asyik"
Ulangku sambil tersenyum
"Ehm... Iya.. hehhe emang asyik"
Jawabnya.
"Apalagi Elza, lucu ya..."
"Ahhh.. Iya, Dia emang gitu orangnya, suka ceplas ceplos, lemot, lucu, tapi seru cocok banget sama Nina"
"Oh iya, tadi yang Dia maksud Daniel itu siapa? Pacarnya ya...?"
Vina tertegun mendengar pertanyaanku.
"Tuh.. bengong lagi..."
kukibaskan tangan di depan wajahnya.
"Ih.. siapa yang bengong, enggak kok.. bukan, Daniel itu salah satu sahabat kami juga, sama Elza selalu bareng berangkat dan pulang sekolah,, cuma tadi Danielnya ngambek trus pulang duluan deh ninggalin Elza."
terang Vina.
"Ohh... gitu,, Emangnya kalian berlima ini semuanya jomblo ya, kasiannnn"
Ledekku.
"Ahhahhah... iya ya, kok Aku baru nyadar.."
Vina tertawa.
"Tapi Aku yakin banget, diantara kalian berempat ada yang disukai Daniel, mustahil banget gak ada yang nempel dihatinya"
Aku sedikit Kaget saat Vina tersedak ketika mendengar tanggapanku tentang mereka.
"Pelan-pelan dong Vin!"
Buru-buru kuseka bibirnya dengan tisu yang berada tak jauh dariku
Vina menatap mataku tak berkedip, entah apa yang ada dipikirannya.
"Eh tapi Vin, siapa tau kamu yang malah ditaksir Daniel hahah, gimana? Apa kamu mau? gimana orangnya, apa tampan mengalahkan Aku?? "
Ujarku sambil tertawa
"Ya ampunnn pedenya bilang tampan hahh"
Cibir Vina.
"Kalau sampai kamu menerima Daniel, ahh hatiku sakit sekali Vin, mungkin hatiku akan patah bukan cuma sekali tapi dua kali masak iya, lagi-lagi Aku kalah saingan!! "
Tak kusangka, Aku berani mengucapkan ini pada Vina, sungguh ini diluar kendaliku.
Hingga sebuah sedotan melayang kearahku seiring tawa kami berdua.
Aku tak kan menyerah Vin,, meski cinta ini sama sekali tak pernah kau anggap.. izinkan Aku memperjuangkannya hingga Aku benar-benar tak bisa lagi mengharapkanmu.
Ujarku dalam hati sembari menatap matanya mesra.
Bersambung***
__ADS_1