Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 120 Dirga Bohong!


__ADS_3

Di kantor,


Kesibukan kembali menghampiriku setelah satu minggu kutinggalkan.


Larut dalam semua pekerjaan yang menunggu, membuatku sejenak melupakan tentang hati dan sekelumit cerita kisah cintaku.


Hingga jam makan siang tiba,


Aku duduk bersandar pada kursi, berpikir tentang makan siang yang pas untuk hari ini, yang sepertinya Aku sedang tidak berselera untuk makan di kantin kantor hari ini.


"Vin,, makan siang yuk..."


Ajak salah satu dari tiga teman kantor yang menghampiri meja kerjaku.


"Kalian ada ide, enaknya makan siang dimana?"


"Kami mau ke pondok bakar lesehan yang ada di simpang 4 tak jauh dari sini"


jawab mereka.


"Katanya sih,, bakar-bakaran disana enak"


celetuk yang lainnya.


"Ehm... pondok bakar lesehan itu, tempat makan yang baru buka itu kan?"


Aku mencoba menebak dan mengingat-ingat.


"Iya bener.... mau ikut?"


"Oke deh,, yuk..."


Aku beranjak dari kursi, dan bersama mereka menuju tempat yang dimaksud.


Sampai di parkiran kantor,,


"Pakai mobil Aku aja ya ...."


Tawarku.


"Oke deh,,!!"


Seru mereka kompak.


Mobil melaju menuju simpang 4 yang tak jauh dari lokasi kantor.


Begitu sampai lokasi,,


"Waduhh... rame banget,, masih ada tempat markir gak nich,,?"


Aku menghentikan mobil, celingak celinguk memperhatikan dan mencari adakah parkiran kosong.


Tak lama, muncul seorang juru parkir yang menghampiri mobil kami dan memberi arahan untuk memarkirkan mobil pada tempat kosong yang tersisa.


Kami turun dan masuk kedalam berjalan mencari meja kosong, rata-rata penuh pengunjung.


"Eh... itu..tu,, kosong!!"


Seru salah satu temanku menunjuk meja di pojok ruangan.


"Oh... Iya yuk...."


Senyum sumringah mewarnai wajah kami ketika dapat menemukan tempat yang kosong.


Namun, begitu hampir mendekati tempat itu, mataku malah tertuju pada pengunjung di depan meja tersebut.


"Ayumi,, Edgar..."


ujarku pelan sembari memperhatikan mereka berdua yang tengah melahap makan siangnya.


"Kenapa Vin? siapa??"


tanya salah seorang dari temanku.


"Ohh,, itu.. adiknya temanku.


"Ayumi..."


Sapaku begitu sampai di mejaku dan duduk dengan posisi berada di belakang Ayumi dan Edgar.


Ayumi menoleh dan sedikit kaget ketika tau Aku yang menyapanya.


"Eh.. Bu Vina??!"


"Ah,, gak usah panggil Ibu,, panggil aja Kakak"


Ujarku tersenyum.


"Oh iya Kak,, ehm... Udah masuk kerja lagi ya?"

__ADS_1


Tanya Ayumi, Aku mengangguk.


"Berdua aja?"


Tanyaku.


"Iya,, coba aja ya.. Pak Dirga tadi mau ikut sama kita,, pasti ketemu deh sama Ibu eh kakak"


Celetuk Ayumi yang buru-buru lengannya disenggol Edgar seolah memberi kode, melarang Ayumi berbicara seperti itu.


"Dirga?"


Aku menyabut ulang nama yang selalu saja bisa menggetarkan hatiku tiap kali mendengarnya atau menyebutnya.


"Iya,, tadi kami nawarin makan disini, tapi katanya bentar lagi ada meeting, jadi takut gak keburu, ya... maklum lah.. Dia satu-satunya atasan super sibuk,, yang terkenal ontime dan tak mau membuat orang menunggu"


Sedikit terkejut, ketika Ayumi bilang Dirga atasannya, bukankah Dirga bilang posisinya di sana sama seperti Edgar,, apa Edgar atasan Ayumi?? Tapi,, kenapa Edgar memakai seragam yang sama seperti Ayumi,,?? Sementara Dirga, dan Jas itu...?? pikiranku kembali tertuju pada jas yang kutemukan di kursi belakang mobil pada waktu itu,,


"Kak... "


Sapa Ayumi menyadarkan Aku.


"Ehm maaf.. maaf,, jadi melamun,, ya udah,, lanjut aja makannya ya..."


"Iya kak.."


Ayumi kembali berbalik melanjutkan makan siangnya,


Tak lama kemudian, ayam bakar dan es jeruk pesanan kami tiba, sembari makan Aku terus berpikir apa sebaiknya kutanya saja pada Ayumi,, siapa sebenarnya Dirga dan apa posisinya disana?


Tapi,, nanti malah Aku terkesan kepo? tapi jika tidak ditanya,, selamanya Aku akan penasaran, atau kutanya saja melalui Nina,, biar Nina yang cari tau tentang Dirga.


Aku melanjutkan makan.


Selesai makan, kulihat Ayumi meninggalkan mejanya, sementara Edgar masih duduk memainkan ponselnya.


Perasaan kebelet pingin buang air kecil membuat Aku ingin ke toilet.


"Aku ke toilet dulu ya..."


Pamitku pada ketiga temanku.


Aku berjalan cepat menuju toilet, namun di belokan jalan menuju toilet Aku berpapasan dengan Ayumi.


"Kakak, mau ke toilet?"


Tanyanya yang sempat berhenti sesaat ketika bertemu denganku.


"Ehm... Ayumi tunggu!!"


Seruku, ketika baru saja Beberapa langkah Ayumi berjalan meninggalkanku.


"Ya Kak,, ada apa?"


Ayumi kembali membalik badan.


Aku berjalan mendekatinya,


"Ehm... Ayumi, Aku boleh nanya gak?"


Ucapku agak ragu.


"Tanya? tanya apa kak?"


Jawab Ayumi.


Dengan cepat Aku memutar otak, cara bertanya pasal Dirga yang tidak membuat Ayumi curiga, dan Tidak membuat Aku terkesan kepo.


"Ehm... kira-kira di tempat Ayumi kerja masih ada lowongan gak ya?


"Lowongan pekerjaan? buat siapa kak?"


Tanya Ayumi sedikit heran.


"Oh,, ini ada saudara jauh,, kebetulan lagi cari pekerjaan,, ditempatku kebetulan belum ada"


Jawabku berbohong.


"Owh... kalau untuk sekarang sih setau Aku belum ada kak,, tapi ntar Aku coba tanya-tanya siapa tau Aku aja yang gak tau info,, nanti kalu ada aku kasih tau lewat Kak Nina ya... buat cewek apa cowok kak?


Ujar Ayumi.


"Ehm,, buat cewek,, oh gitu ya,, boleh juga... ngomong-ngomong Ayumi disana bagian apa?"


Aku mulai melancarkan aksiku.


"Aku disana cuma staf biasa kak,, staf keuangan bagian produksi"


"Ohh disana banyak divisinya ya?"

__ADS_1


Tanyaku lagi setelah mendengar jawaban Ayumi tentang posisi Dia di pabrik, dan ternyata Dirga tidak berbohong.


"Iya kak,, banyak dan itu beda-beda staf nya.


Terang Ayumi.


"Kalo Edgar, satu Divisi sama Ayumi?"


Concongku lagi.


"He.. ehm... Satu Divisi, Dia bagian kepala operator produksi, mandor lah bisa disebut,,"


Jelas Ayumi lagi.


Aku manggut-manggut,, Dirga benar lagi batinku.


"Ehm... cinta lokasi lah ya.. berarti... he.. he"


Candaku yang ditanggapi senyum malu-malu dari Ayumi.


"Oh ya.. kalau Dirga?"


cetusku.


"Pak Dirga? emangnya Kakak gak pernah cerita-cerita sama Pak Dirga tentang kerjaan?"


Tanya Ayumi sedikit heran dan tatapan curiganya jelas sekali terlihat.


"Ehmm... gak pernah bahas kerjaan sich kalau sama Dirga"


Jawabku berharap Ayumi segera memberitahuku tentang posisi Dirga Di pabrik, dan jika ternyata Dirga berbohong,, apa tujuannya.


"Pak Dirga itu, manager di divisi kami,, tepatnya manager produksi"


Deg!


Jantungku berdetak, mendengar jawaban Ayumi bahwa Dirga seorang manager produksi, jabatan yang lumayan tinggi, disebuah pabrik pupuk yang terkenal di kota ini, lantas... untuk apa Dia berbohong dengan mengatakan bahwa Dia adalah operator produksi? dan mobil itu,, Aku yakin bukan punya saudaranya.


"Kak... kok melamun?"


Sapa Ayumi menyentuh pundakku.


"Ehm... enggak,, cuma kaget aja,, kalian akrab banget sama Dirga"


Ujarku.


"Iya,, Pak Dirga itu orangnya humble banget, ramah dengan bawahan gak ada jarak,, mau duduk, istirahat, makan siang,, ngebaur pokoknya, suka bercanda juga,, baik hati banget pokoknya,, tapi ya itu... jomblonya akut he.. he... he."


Mendengar itu, Aku jadi kagum sama Dirga, dan Kata-kata terakhir Ayumi sebagai jomblo Akut,, membuat hatiku bagai teriris,, karena Aku tau alasannya,,


"Hah? jomblo akut? Maksudnya... Dia gak pernah ada pacar? Masak sich... emangnya pabrik segede itu, gak ada satupun perempuan yang suka sama Dia?"


"Yang suka sich banyak kak,, tapi ya itu... Pak Dirga menganggap semuanya hanya teman, makanya pertama kali lihat pak Dirga sama Kakak di Mall 21,, Aku sama Edgar senang banget,, bayangan kita waktu itu,, akhirnya Pak Dirga gak jomblo lagi,, tapi ternyata Kakak nikah sama yang lain, padahal cocok banget loh"


Aku menelan ludah mendengar ucapan demi ucapan dari mulut Ayumi.


Segitunya Dirga menutup hati demi Aku,, tapi Aku malah memutuskan bertunangan dengan Agung.


"Kak... kok melamun lagi"


Ayumi melambai-lambaikan tangannya didepan wajahku, membuat Aku terkesiap.


"Iya ya... haduhh kok jadi ngelamun,, ya udah Ayumi.. jadi lama kita ngobrolnya, kasian Edgar nungguin kamu lama, kakak juga ditunggu teman-teman,, yuk kita balik ke mereka"


Ajakku pada Ayumi.


Niat ingin ke toilet ku urungkan, rasa ingin buang air kecilku tiba-tiba saja menghilang.


"Loh, Kakak gak jadi ke toilet?"


Tanya Ayumi heran.


"Keasyikan ngobrol, kebeletnya tiba-tiba ngilang"


Kami berdua tertawa sembari melangkah bersama kembali ke meja masing-masing.


Jam makan siang, hampir habis..


Ayumi dan Edgar lebih dulu meninggalkan tempat makan setelah lebih dulu berpamitan pada kami, tak lama kami pun bergegas meninggalkan tempat makan menuju kantor lagi.


Di perjalanan menuju kantor,


pikiranku kembali tertuju pada Dirga tentang pertama kali kami bertemu,, dengan menggunakan sepeda motor, Dia mengaku sebagai buruh pabrik,, apa maksudnya? apa jangan-jangan kebohongannya tak cuma tentang pekerjaannya saja?


Apa masih ada yang lain? tentang Tari misalnya, tentang syintia dan Bella bahkan mungkin tentang perasaannya selama ini terhadapku.


Huffth....


Aku menghembuskan nafas pelan.

__ADS_1


Tapi,, ah.. sudahlah,, untuk apa kucari tau tentang semua itu,, toh Aku sudah menjadi tunangan Agung, dan Dirga harusnya bukan lagi menjadi pikiranku.


Bersambung***


__ADS_2